<-- 06-Faith and Healing

Iman dan Penyembuhan

(Amsal 17 & 18, Roma 5, Markus 8 & 9)

Kesehatan dan Penyembuhan: Pelajaran 6

 

Copr. 2010, Bruce N. Cameron, diterjemahkan oleh Debbie Jacobs.  Semua referensi Alkitab dikutip dari Alkitab Terjemahan Baru ©1974 Lembaga Alkitab Indonesia, kecuali disebutkan lain. Saran jawaban terdapat di dalam tanda kurung. Pelajaran ini dapat dilihat di http://www.GoBible.Org/indonesian.  Berdoalah minta tuntunan Roh Kudus sementara saudara mempelajari pelajaran ini.

Pendahuluan: Alkitab, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, bercerita tentang banyak orang secara ajaib disembuhkan. Namun Alkitab tidak menjelaskan bagaimana mekanismenya sampai hal ini bisa terjadi. Terkadang Yesus menggunakan lumpur, saat lain ludah, adakalanya Yesus menyembuhkan dari kejauhan. Apa yang bisa kita simpulkan? Kesimpulannya adalah bahwa lumpur dan ludah tidak ada kaitannya dengan penyembuhan tersebut. Jadi, mengapa Yesus menggunakan hal-hal tersebut?

Hal lain: Para dokter sebenarnya tidak menyembuhkan penyakit. Mereka semata meningkatkan kondisi tubuh agar dapat menyembuhkan dirinya sendiri. Apa yang bisa kita simpulkan dari sana? Kesimpulannya adalah Allah menciptakan tubuh kita untuk menyembuhkan dirinya sendiri. Karenanya, pertanyaan tentang penyembuhan dengan iman adalah ini: bagian apa dari proses penyembuhan yang terhubung dengan pikiran? Baru-baru ini saya membaca sebuah buku mengenai cara kerja otak yang mengutip beberapa penelitian ilmiah yang menunjukkan bahwa plasebo (tablet gula) punya peranan dalam penyembuhan karena orang percaya bahwa tablet tersebut merupakan obat, bukannya gula. Apakah Allah merangkai otak kita untuk menyulut penyembuhan manakala kita percaya adanya kesembuhan? Mari buka Alkitab kita dan lihat apa yang diajarkan di sana!

1.      Pikiran dan Tubuh
 

1.      Baca Amsal 17:22. Apakah ini merupakan nasihat mengenai kesehatan? (Istilah-istilah yang digunakan ada kaitannya dengan kesehatan: “obat” dan “mengeringkan tulang.”)
 

1.      Manakala Alkitab menyebutkan “hati yang gembira,” apakah memang hati yang dibicarakan? (Tidak. Pokok pikirannya adalah bahwa hati merupakan tempat emosi kita bersemayam. Kita tahu bahwa emosi ada kaitan dengan pikiran. Apabila seseorang mengatakan “hati saya hancur,” kita paham bahwa mereka sedang berbicara tentang emosi.)
 

2.      Jika kita berbicara mengenai pikiran dan kesehatan dalam ayat ini, apa yang diajarkan oleh ayat ini mengenai hubungan antara emosi dan kesehatan? (Bahwa pikiran membawa dampak pada kesehatan.)
 

2.      Baca Amsal 18:14. Apa yang dikemukakan di sini mengenai sikap dan penyakit? (Bahwa pikiran membantu kita kala sakit.)
 

1.      Bagaimana bisa? (Alkitab mengatakan ada hubungan antara pikiran dan kesehatan.)
 

2.      Tatkala Amsal 18:14 mengatakan: ”tetapi siapa akan memulihkan semangat yang patah?” apa yang dimaksudkan di sana? (Jika pikiran cedera, peluang apa yang tersisa bagi tubuh?)
 

3.      Amsal 18:14 tidak menjawab pertanyaan tersebut. Jawabannya kira-kira adalah “kita tidak akan tahan saat sakit kalau semangat kita patah.” Jadi, apa jalan keluar bagi semangat yang patah?
 

3.      Roma 5:1-5. Di sini ada beberapa istilah “pikiran”: iman, damai sejahtera, bermegah (bersuka hati), pengharapan. Apa kaitan “bersuka hati” dan “pengharapan” dengan semangat kita? (Semuanya bertolak belakang dengan semangat yang patah.)
 

1.      Bagaimana kita dapat bersuka hati dan memiliki pengharapan? (Kita mengawalinya dengan iman di dalam Yesus. Jalan menuju semangat yang positif, yang memiliki dampak bagi kesehatan kita adalah iman di dalam Yesus.)
 

2.      Iman dan Yesus.
 

1.      Baca Matius 9:27-30. Jika saudara sementara mengamat-amati mujizat ini, menurut saudara apa unsur-unsur dari mujizat tersebut? (Keyakinan mental bahwa Yesus dapat menyembuhkan kebutaan mereka dan jamahan Yesus pada mata mereka.)
 

2.      Baca Markus 9:17-19. Apakah ada terjadi mujizat di sini? (Tidak.)
 

1.      Mengapa para murid tidak sanggup menyembuhkan anak dari orang tersebut? (Yesus tentunya sedang berbicara kepada murid-murid-Nya tatkala Ia mengatakan: "angkatan yang tidak percaya.” Jadi, para murid tidak cukup memiliki keyakinan mental.)
 

3.      Baca Markus 9:20-24. Menurut Yesus apa rahasia untuk memperoleh kesembuhan? (Keyakinan mental: “tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya.”)
 

1.      Apakah yang sang ayah ini anggap sebagai solusi andai ia tidak cukup memiliki keyakinan mental? (Bahwa Yesus dapat menolongnya untuk mengatasi ketidakpercayaan.)
 

1.      Apakah anggapannya benar? (Baca Markus 9:25-27. Yesus menyembuhkan anak tersebut. Ini tak pelak lagi memperkuat keyakinan si ayah.)
 

4.      Baca Markus 9:28-29. Ini merupakan bagian yang paling menarik. Para murid ingin mengetahui lebih lanjut mengenai mekanisme penyembuhan – mengapa mereka tidak bisa menyembuhkan anak ini. Apa yang Yesus sebut sebagai mekanisme penyembuhan? (Doa.)
 

1.      Bagaimana logikanya? Sejauh ini, kita telah pelajari bahwa keyakinan mental merupakan bagian yang paling penting. Apa kaitan doa dan keyakinan mental? (Ayat ini membuka wawasan baru mengenai keyakinan mental. Keyakinan mental merupakan hasil dari menghabiskan waktu bersama Allah.)
 

1.      Bagaimana bisa demikian sementara sang ayah diminta untuk seketika itu juga percaya? (Satu-satunya kesimpulan logis adalah bahwa tingkatan iman yang lebih tinggi (pemahaman, keyakinan mental) dibutuhkan oleh orang-orang yang melakukan mujizat dibandingkan dengan orang-orang yang meminta mujizat.)
 

2.      Kini pertanyaan pentingnya: Jika Allah menciptakan pikiran kita untuk membantu menyembuhkan tubuh kita oleh iman, bagaimanakah kaitan antara keyakinan mental dari si penyembuh dengan kesembuhan? (Ini menyatakan bahwa ada unsur supranatural di balik hubungan logis/ilmiah antara pikiran dan tubuh.)
 

5.      Baca Markus 8:22. Kira-kira apa yang orang-orang tersebut maksudkan saat mereka meminta Yesus untuk “menjamah” orang ini? (Mereka ingin Yesus menyembuhkannya dengan cara meletakkan tanganNya ke atas orang ini.)
 

1.      Pikiran siapa yang pertama terlibat dalam penyembuhan yang akan terjadi? (Pikiran dari teman-teman orang buta ini. Mereka percaya bahwa perlu ada jamahan.)
 

6.      Baca Markus 8:23-24. Yesus melakukan dua hal: menjamah orang buta tersebut dan meludahi matanya. Dalam penyembuhan dua orang buta di Matius 9, Yesus semata menjamah mereka. Menurut apa yang tertulis, tidak dibutuhkan ludah. Teman-teman dalam mujizat Markus 8 semata mengharapkan jamahan. Mengapa Yesus menambahkan ludah?
 

1.      Barnes Notes terkait Yohanes 9:6 (menyangkut mujizat lain yang menggunakan ludah dan lumpur) mengungkapkan bahwa orang Yahudi “menganggap air ludah sebagai obat kala mata sakit.” Apakah ada penonton yang percaya bahwa ludah dapat seketika itu juga menyembuhkan mata yang buta? (Tidak. Namun, itulah yang masuk akan untuk digunakan.)
 

2.      Tatkala orang tersebut mengatakan ia melihat pohon-pohon berjalan, apa yang ia maksudkan? (Setelah bertahun-tahun giat membaca di bangku kuliah, sekolah hukum dan praktek hukum, penglihatan jauh saya menjadi sangat buruk dan kemudian mata saya dioperasi. Saya tahu apa maksudnya jika dikatakan orang-orang tampak “seperti pohon-pohon yang berjalan-jalan.” Artinya, mujizat tersebut tidak berjalan sebagaimana mestinya. Penglihatan orang buta tersebut membaik, namun belum sempurna.)
 

7.      Baca Markus 8:25. Apakah meletakkan tangan ke atas seseorang untuk kedua kalinya (kali ini tidak meludah) merupakan “perbaikan” atas mujizat yang cacat?
 

1.      Mungkin saudara sekarang merasa gundah dengan penyembuhan iman ini. Mengapa Yesus harus menggunakan ludah satu kali, menjamah dua kali dan mengapa Yesus tidak langsung melakukannya dengan benar pada kesempatan pertama?
 

1.      Bahkan, mengapa Yesus bertanya pada orang tersebut “Sudahkah kaulihat sesuatu” – seolah-oleh hasilnya meragukan? Bukankah Yesus merupakan kuasa alam semesta?
 

8.      Jika saudara memulai dengan dua asumsi, bahwa Yesus memiliki kuasa untuk memberikan penglihatan kepada orang buta ini dengan berbicara, dan bahwa Allah bekerja melalui pikiran untuk menyembuhkan, dapatkah saudara menjelaskan semua fakta-fakta ganjil ini? (Pada mulanya, adalah iman dari orang lain yang membawa orang buta ini kepada Yesus. Tatkala Yesus menggunakan pengobatan “tradisional”, jamahan dan ludah, tujuanNya adalah untuk membantu menanamkan iman dalam orang buta tersebut. Tatkala orang buta tersebut pertama kali melihat dengan tidak sempurna, ia dikuatkan dalam imannya bahwa Yesus dapat berbuat sesuatu atasnya. Ludah, jamahan dan mujizat dua babak tidak ada kaitannya dengan Yesus. Semuanya terkait dengan iman orang buta tersebut.)
 

9.      Pelajaran apa yang kita dapatkan di sini bagi kita dan penyembuhan oleh iman? (1. Bahwa apabila tampaknya Allah tidak secara sempurna mengatasi masalah kita, barangkali itu dimaksudkan untuk memperkembangkan iman kita. 2. Teknik penyembuhan tradisional dapat menciptakan kemitraan iman dengan Allah untuk menyembuhkan tubuh kita.)
 

10.  Apakah penyembuhan dengan iman masih mungkin sekarang ini? Dapatkah pikiran kita menyembuhkan tubuh kita apabila kita percaya akan Yesus? Ataukah, perlu juga Yesus berada di sini? (Baca 1 Korintus 12:7-10. Sejauh mana Allah menciptakan pikiran kita untuk menyembuhkan tubuh kita, kepada kita diajarkan bahwa kuasa Allah (dalam wujud Roh Kudus) masih hadir untuk melakukan penyembuhan. Kita tidak perlu meragukannya.)
 

11.  Sobat, Allah telah menciptakan tubuhmu untuk menyembuhkan dirinya sendiri. Allah telah menciptakan pikiranmu untuk bekerja dalam kemitraan dengan kuasa Allah untuk menyembuhkan melalui iman. Apakah engkau telah mengabaikan senjata yang begitu ampuh untuk melawan sakit dan penyakit? Bagaimana kalau sekarang ini engkau menyerahkan pikiranmu untuk mempercayai Allah untuk melakukan mujizat dalam hidupmu?
 

3.      Pekan depan: Istirahat dan Pemulihan.