Buah Roh: Intisari Karakter Kristen
(Matius 6, 2 Korintus 3, Yohanes 15)
Buah Roh: Pelajaran 13
Copr. 2010, Bruce N. Cameron, diterjemahkan oleh Debbie Jacobs. Semua referensi Alkitab dikutip dari Alkitab Terjemahan Baru ©1974 Lembaga Alkitab Indonesia, kecuali disebutkan lain. Saran jawaban terdapat di dalam tanda kurung. Pelajaran ini dapat dilihat di http://www.GoBible.Org/indonesian. Berdoalah minta tuntunan Roh Kudus sementara saudara mempelajari pelajaran ini.
Pendahuluan: Pernahkah saudara mendengar tentang “penyakit terburu-buru” (hurry sickness)? Di Amerika ada begitu banyak penyakit yang tidak termasuk kategori penyakit tradisional. Penyakit terburu-buru ini adalah salah satu dari penyakit semu, dan saya mengalaminya. Saya selalu terburu-buru menyelesaikan apa pun yang sedang saya kerjakan. Tuntaskan, beralih mengerjakan tugas lain. Apabila menyetir mobil, saya tergesa-gesa. Kami berkendara menuju airport untuk menjemput seseorang dan istri saya meminta saya untuk pelan-pelan saja karena kita akan tiba kepagian. Saya tahu ia benar, namun sukar untuk menerima sarannya. Ini merupakan bagian terakhir dari seri pelajaran kita tentang buah Roh. Pelajaran Alkitab kita pekan ini mengutarakan bahwa yang paling penting adalah kualitas perjalanan kita, bukannya tergopoh-gopoh pergi ke surga. Mari selami pelajaran kita dan temukan apa obat untuk penyakit terburu-buru rohani!
Dahulukan
yang Utama
Baca
Matius 6:31-33. Apakah orang yang tidak mengenal Allah mengidap
penyakit terburu-buru? (Ya! Mereka mengejar perkara-perkara
duniawi.)
Apakah
yang ayat ini katakan untuk dilakukan orang Kristen dan apa yang
tidak boleh dilakukan (Tidak perlu kuatir akan kebutuhan
sehari-hari. Namun, cari “kerajaan dan kebenaran-Nya.”)
Apakah
kedua hal ini (kerajaan-Nya dan kebenaran-Nya) ada kaitan?
Apakah
urutan pencariannya penting? Jika ya, apa artinya mencari lebih
dulu kerajaan Allah, bukannya kebenaran Allah? (Ini mencerminkan
gagasan tentang keselamatan oleh iman lebih dahulu, baru
kemudian menetapkan tujuan untuk menghidupkan kehidupan yang
benar.)
Coba
mundur dan renungkan ayat-ayat ini. Apa yang dijanjikan di sini?
(Bahwa jika kita menerima keselamatan oleh iman, dan mengejar
kebaikan, kita tidak harus mengejar perkara lainnya.)
Dari
waktu ke waktu saya suka membaca tulisan seorang pendeta yang
teologia-nya menurut saya mencurigakan. Suatu hari ia menulis
bahwa ia akan menangguhkan pekerjaan penginjilanya, mengambil
jeda untuk mencari uang sebagai jaminan di masa pensiun. Karena
saya tidak menyukai teologianya, saya menganggap gagasannya
canggih sekali! Selaraskah gagasan ini dengan Matius 6? (Bertolak
belakang.)
Pernahkah
terpikir oleh saudara bahwa jika saudara menjadikan hal mempercepat
kedatangan kerajaan Allah sebagai tujuan utama, bahwa hal tersebut
tidak saja menghasilkan buah Roh, namun juga memberi saudara
hal-hal yang begitu terburu-buru ingin diperoleh oleh orang yang
tidak mengenal Allah?
Di
Jalan Kemuliaan
Baca
2 Korintus 3:7-8. Huruf-huruf yang diukir di atas loh batu adalah
Sepuluh Hukum. Kemuliaan apa, sebagaimana terlihat pada wajah Musa,
yang datang bersamaan Sepuluh Hukum? (Baca Keluaran 34:29-30.
Berada di hadirat Allah menjadikan muka Musa menyinarkan kemuliaan
Allah.)
Baca
2 Korintus 3:13-18. Apakah ada peluang bagi wajah saudara untuk
memancarkan kemuliaan Allah? (Ya!)
Mengapa
Musa harus mengenakan selubung sementara saudara tidak harus?
(Taurat tidak menuntun orang-orang di sekeliling Musa kepada
kebenaran. Karenanya mereka tidak sanggup bertahan di hadapan
kemuliaan Allah. Namun, kasih karunia yang menyelamatkan
menyingkirkan kebutuhan akan selubung – karena wajah saudara
juga mencerminkan kemuliaan Allah.)
Sekali
kita melihat kemuliaan tersebut “bersinar” dari wajah
kita, apakah kita telah mencapai tujuan kita? (Sama sekali tidak!
Kita “diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam
kemuliaan yang semakin besar.”)
Sobat,
apakah engkau ingin orang-orang tercengang melihat kemuliaan Allah
terpancar dari wajahmu?
Bagaimanakan
perubahan itu dimungkinkan? (Perhatikan kembali bagian terakhir
dari 2 Korintus 3:18 “datangnya dari Tuhan yang adalah Roh.”
Ini merupakan pekerjaan Roh Kudus dalam hidup kita. Barangkali
judul pelajaran ini seharusnya adalah: Buah Roh adalah wajah yang
bercahaya.)
Dalam
perjalanan hidup kita, kita tidak dipanggil untuk mengejar harta
benda; kita dipanggil untuk bercahaya!
Penjaga
Garis
Beberapa
mobil modern telah dilengkapi dengan alat yang akan membunyikan
alarm jika saudara menyimpang dari jalur. Baca 2 Korintus 13:5-6.
Apakah kita perlu memiliki alat semacam itu untuk memonitor
kegiatan kita sehari-hari? (Alkitab mengatakan bahwa kita harus
“menguji diri kita” untuk melihat apakah kita di dalam
iman.)
Bagaimana
seharusnya posisi awalnya? Dengan kata lain, apakah kita
mengawalinya dalam iman ataukah tanpa iman? (Orang-orang kepada
Paulus menulis ini adalah orang-orang Kristen. Jadi Alkitab
mengatakan bahwa posisi awalnya adalah “Kristus Yesus ada di
dalam diri kamu.” Kalau tidak, tentunya, “kamu tidak
tahan uji.”
Apa
jadinya jika kita tidak tahan uji? (Ayat-ayat ini menyiratkan
bahwa kita tidak “di dalam iman.”)
Baca
2 Korintus 13:7-9. Apakah yang Paulus ungkapkan tentang apa yang ia
alami? (Katanya ita tidak dapat berbuat apa-apa melawan kebenaran,
namun orang mungkin menganggapnya tidak tahan uji.)
Apakah
itu artinya Paulus tidak di dalam iman? (Sepertinya yang Paulus
maksudkan adalah “Tak seorang pun sempurna, termasuk saya,
namun tujuan kita adalah kesempurnaan.”)
Baca
2 Korintus 13:11. Apakah tujuan hidup kita? (Berusaha “supaya
sempurna.” Menghidupkan kehidupan yang memancarkan kemuliaan
Allah.)
Konsep
penting apa yang terangkum dalam kata “usahakan?”
(Berusaha adalah tindakan yang diniatkan, keputusan yang diambil
dengan sadar. Berusaha juga berarti kita belum tiba.)
Baca
Yohanes 15:1-4. Apakah kita bisa hilang jika kita tidak berada di
jalan menuju kesempurnaan? (Jika kita tidak “berbuah”
(buah-buah roh yang kita sementara pelajari), maka kita akan
dipotong.)
Apa
rahasia agar dapat berbuah? (Tinggal di dalam Yesus. Dari cara
Yesus mengutarakan hal ini, kelihatannya hal tersebut sederhana.
Bagaimana bisa satu bagian tanaman menghasilkan buah kalau tidak
tinggal melekat pada pohon utama?)
Baca
Yohanes 15:9-10. Ujian macam apa yang kita dapati di sini? Kapan
alarm penjaga garis kita reda bunyinya? Kapan kita tahu kalau kita
tidak lagi memancarkan cahaya dan mulai terburu-buru?
Tadi
kita telah membahas (2 Korintus 3:14) bagaimana Sepuluh Hukum
membuat pikiran orang “tumpul.” Apakah Yesus tidak
sependapat dengan Paulus?
Apakah
Yesus sementara menganjurkan cara baru untuk memelihara hukum?
(Saya tidak yakin kalau ini hukum baru. Namun, memang berbeda
dengan cara yang dilakukan di Gunung Sinai. Jika kita mengertakkan
gigi dan turut Sepuluh Hukum, kita melakukan pendekatan dengan cara
“pikiran tumpul.” Kita tidak benar-benar mengerti apa
yang sedang terjadi. Di lain sisi, jika kita merenungkan bagaimana
Yesus begitu mengasihi kita sehingga Ia mengalami kematian yang
menyakitkan menggantikan kita, dan bahwa Ia mati seperti itu untuk
memenuhi tuntutan hukum saat kita tidak bisa memenuhinya, maka hal
tersebut akan mengobarkan dalam hati kita kerinduan untuk mengasihi
dan menunjukkan kasih kepada orang lain oleh menuruti
perintah-perintah Allah.)
Dapatkah
saudara melihat perbedaan praktis antara kedua pendekatan ini?
Apakah
yang terungkap dari pembicaraan Yesus mengenai hamba dan sahabat
ini? (Seorang hamba sama halnya dengan anak kecil – kita
cukup memberitahu mereka apa yang harus dilakukan. Tidak perlu
penjelasan. Kita tidak bisa mengatakan apa yang harus dilakukan
kepada seorang sahabat atau rekan. Kita perlu menjelaskannya
supaya mereka sama-sama mengetahui tujuan kita. Kita tidak boleh
memperlakukan Sepuluh Hukum seperti sekumpulan peraturan yang
perlu dijalankan supaya bisa memperoleh upah surga. Gantinya, kita
harus memperlakukannya seperti penuntun dari dalam untuk mencapai
hubungan penuh kasih dengan Allah dan sesama.)
Sobat, hubungan kita sekarang ini dengan Allah adalah melalui Roh-Nya. Maukah engkau hari ini berdoa agar Roh Kudus turun ke atasmu dalam kuasa dan mengaruniakan kepadamu sikap yang baik agar buah-buah yang telah kita bahas dalam seri pelajaran ini dapat terlihat dalam hidupmu? Maukah engkau berdoa agar hidupmu akan berjalan maju di jalan menuju kesempurnaan? Maukah engkau bertekad untuk memancarkan kemuliaan Allah gantinya tergopoh-gopoh menjalani kehidupan?
Pekan depan: Kita mulaikan seri pelajaran baru mengenai kesehatan.