Buah Roh ialah
Kelemahlembutan
(Matius 11, Efesus 4,
1 Petrus 3)
Buah Roh:
Pelajaran 9
Copr. 2010, Bruce N. Cameron, diterjemahkan oleh Debbie Jacobs.
Semua referensi Alkitab dikutip dari Alkitab Terjemahan Baru ©1974 Lembaga
Alkitab Indonesia, kecuali disebutkan lain. Saran jawaban terdapat di dalam
tanda kurung. Pelajaran ini dapat dilihat di http://www.GoBible.Org/indonesian.
Berdoalah untuk meminta tuntunan Roh Kudus sementara
saudara mempelajari pelajaran ini.
Raspberry merupakan buah kesukaan saya. Sekalipun saya suka semua buah-buahan
yang lazim, sepertinya ada buah eksotik yang tidak saya sukai karena ada rasa
pahitnya. Jika saya harus menggolongkan buah Roh, maka kelemahlembutan tidak
menempati posisi raspberry! Pikirkan
pernyataan Yesus dalam Matius 5:5 bahwa orang yang lemah lembut akan memiliki
bumi. Bagaimana bisa? Bukankah orang yang berhasil itu adalah mereka yang
agresif dan gigih? Saya belum pernah membaca buku pengembangan diri yang
menganjurkan kelemahlembutan sebagai jalan menuju sukses. Apa arti “lemah
lembut” saat berurusan dengan dunia? Apa arti “lemah lembut” saat berurusan
dengan para sahabat Kristen? Mari selidiki misteri ini dan buah yang tak
popular ini dengan menyelami pelajaran Alkitab kita!
- Allah yang Lemah Lembut?
- Baca Matius 11:28-30. Kita telah beberapa kali
membahas ayat ini selama seri pelajaran ini. Kata yang oleh NIV
diterjemahkan sebagai “gentle”—lemah
lembut diterjemahkan sebagai “meek”—lembut
hati dalam terjemahan Alkitab yang lain. Apakah meek memberi kesan baik di sini? Apakah saudara lebih suka
jika Yesus menggunakan istilah lain? (Saya suka istilah gentle atau meek di sini, karena Yesus sementara berurusan dengan saya!)
- Seorang komentator menulis
sebagai berikut: “Lemah lembut adalah sepenuhnya berhenti memperjuangkan
rencana kita dan meyakini bahwa Allah akan berjuang atas nama kita demi
terlaksanya rencana-Nya.” Apa pendapat saudara mengenai pernyataan ini?
(Reaksi pertama saya adalah, “Tidak masuk akal!” Reaksi berikutnya
adalah, “Jika rencana kita bukanlah rencana Allah, maka masuk akal juga
ya.”)
- Bagaimana jika kita berupaya
untuk menjadikan rencana Allah sebagai rencana kita – haruskah
kita berhenti berjuang?
- Perhatikan bahwa Matius 11:29
menawarkan “ketenangan” bagi jiwa kita. Apa yang terkandung di sini
mengenai belajar lemah lembut (rendah hati) dari Yesus? (Bahwa buah Roh
yang ini merupakan kunci untuk memperoleh buah lainnya. Sangatlah mudah
untuk beroleh ketenangan jika kita tidak sedang bertarung!)
- Ayat tersebut menganjurkan
bahwa kelemahlembutan Yesus menjadikan hidup kita lebih baik. Bagaimana
caranya? (Kita telah membahas mengenai Yesus yang menunjukkan
kelemahlembutan terhadap kita. Namun Yesus mengatakan “belajarlah
pada-Ku.” Ada sesuatu dalam kelemahlembutan Yesus yang akan memperbaiki
hidup kita. Kita akan lihat dalam bagian berikut.)
- Anda yang Lemah Lembut?
- Baru-baru ini saya membaca sebuah blog yang mengecam
jemaat saya. Penulisnya mengaku sebagai anggota jemaat, namun saya
perhatikan bahwa penulis tersebut selalu keliru menuliskan nama gereja.
Saya menuliskan tanggapan yang pada dasarnya mengatakan “Jika saudara
bahkan tidak tahu bagaimana cara menuliskan nama gereja, bagaimana bisa
saudara mengaku cukup tahu untuk bisa mengkritiknya? Pesan saya yang
“lemah lembut dan rendah hati” adalah: kamu tolol namun tidak menyadarinya.
Penulis blog tersebut membalas dengan berang dan segala yang terjadi
tampaknya merupakan buang-buang waktu saja.
- Cara apa yang dianjurkan Efesus
4:1-3 untuk menghadapi orang yang mengecam keyakinan agama atau gereja saudara?
- Bagaimana jika saudara berurusan
dengan orang yang tidak menyadari ketololannya, dan pemahaman saudara
jauh lebih dalam dari orang-orang yang menyerang keyakinan saudara?
Apakah hal tersebut selaras dengan perintah untuk menjadi “rendah hati
sepenuhnya?” (Jika saudara menganggap diri jauh lebih pintar, sikap
seperti itu bukanlah rendah hati, bukan?)
- Yang paling gampang adalah
mengabaikan orang yang kekeliruannya sangat mengganggu. Bagaimana dengan
petunjuk untuk “tunjukkan kasih dalam hal saling membantu?” (Perlu
pertimbangan terkait “saling membantu” sesama. Mengabaikan seseorang
memang sering dianggap penghinaan, namun kadang-kadang itulah satu-satunya
cara untuk terhindar dari percekcokan yang tidak produktif.)
- Apakah Efesus 4:3 memberi alasan
bagi sikap yang saya tunjukkan di blog karena kita dipanggil untuk
menjadi rendah hati, lemah lembut dan mengasihi sesama anggota jemaat? Karenanya,
orang yang mengecam gereja dan orang kafir perlu waspada!
- Baca 1 Petrus 3:15-16. Kepada siapa kita memberi
jawaban – seorang anggota jemaat atau dunia luar? (Dunia luar!)
- Bagaimanakah kita harus
menjawab? (Dengan lemah lembut dan hormat!)
- Menurut Petrus bagaimanakah dunia
akan memperlakukan kita? (Mereka akan menjahati kita, namun kita harus
menjawab dengan cara yang lemah lembut. Jawaban yang lemah lembut akan
membuat mereka malu akan perbuatan jahat mereka.)
- Baca 2 Timotius 2:22-26. Dalam ayat ini apakah kita
berurusan dengan orang-orang yang mengenal kebenaran dan menggunakan akal
sehat? (Tidak. Mereka ini adalah orang-orang yang tidak mengenal
kebenaran dan gemar akan perdebatan yang sia-sia. Mereka ini adalah
orang-orang yang tidak sadar dan tidak terlalu pintar. Mereka
melemparkan argument yang menggelikan.)
- Bagaimanakah seharusnya kita
bersikap terhadap mereka? (Pengajaran yang lemah lembut!)
- Bagaimana saudara bisa menang dengan
cara seperti ini? Bagaimana saudara bisa menunjukkan betapa bodoh, tidak
sadar dan konyolnya mereka? (Perhatikan ayat 25, Allah memberi mereka
kesempatan untuk bertobat. Ayat-ayat ini menyadarkan saya betapa butanya
saya. Tujuan saya adalah untuk memperlihatkan betapa tidak masuk akal
dan menggelikan pandangan dari orang yang tidak mengenal Tuhan. Orang
yang berakal sehat akan menertawakan gagasan mereka. Namun beranggapan bahwa
saya dapat memenangkan hati dan pikiran mereka dengan membuat mereka
tampak bodoh sepertinya sama dengan anggapan bahwa saya dapat
mengupayakan keselamatan saya sendiri.)
- Ingat bahwa di awal kita membaca Matius 11:29 yang
mengatakan bahwa jka kita belajar lemah lembut dan rendah hati dari Yesus
kita akan memperoleh ketenangan? Bawa ingatan saudara kepada kali
terakhir saudara terlibat perdebatan panas mengenai iman saudara. Apakah
saudara merasakan ketenangan? (Saya terusik manakala seseorang menyerang
kekristenan khususnya iman saya. Namun, jika saya membalas dengan logika
yang meletup-letup, dan mereka membalas dengan amarah, saya akan lebih
terganggu dibanding jika saya hanya membaca kecamannya dan tidak berbuat
apa-apa.)
- Warisan bagi Orang Lemah Lembut
- Baca Filipi 2:5-7. Menurut saudara, mengapa Yesus
datang ke bumi dan “mengosongkah” diri-Nya sendiri? Dia memiliki semua
hak dan wewenang untuk paling tidak datang sebagai raja! (Baca Ibrani
4:15-16. Yesus datang ke bumi sedemikian rupa sehingga tidak seorang pun
dari kita yang dapat mengatakan bahwa Ia memiliki keunggulan duniawi
dibanding kita.)
- Baca Filipi 2:8. Saat memikirkan tentang menjadi lemah
lembut, pikiran saya tertuju pada pelepasan hak saya untuk dihormati.
Apakah ini yang Yesus lakukan? (Jelas sebagian orang tidak memperlakukan
Yesus dengan hormat. Namun menurut saya bukan itu tujuan-Nya. Tujuan-Nya
adalah untuk menjadi seperti kita – bukan untuk memiliki keunggulan
atas harta, jabatan dan kekuasaan yang tidak dimiliki oleh orang
kebanyakan. Kitab Ibrani menekankan pokok pikiran bahwa Yesus mengalami apa
yang kita jalani.)
- Bagaimana kita menerapkan konsep
ini dalam kehidupan kita? (Ketika kita beradu pendapat dan
mempertahankan iman dengan melihatnya dari sudut pandang superioritas:
bahwa pihak sana itu bodoh, tidak tahu dan jahat, kita menggunakan cara
yang sangat berbeda dengan yang Yesus gunakan saat Ia datang ke bumi.)
- Baca Filipi 2:9-11. Dia awal pelajaran ini, saya
mengemukakan bahwa setahu tidak ada satu pun buku pengembangan diri yang
menyarankan agar kita bersikap lembut untuk memenangkan adu pendapat.
Namun, Yesus berkata dalam Matius 5:5 bahwa orang yang lemah lembut akan
mewarisi bumi. Bagaimanakah hal tersebut terjadi pada Yesus? (Allah Bapa
turun tangan dan mengatur segalanya.)
- Bagaimanakah orang yang lembut dan rendah hati akan
mewarisi bumi menurut ayat ini? (Allah memenangkan pertempuran mereka. Ia
membinasakan orang jahat. Hanya orang yang lembut dan rendah hati yang
akan tetap tinggal.)
- Bagaimana dengan Para Pembela?
- Haruskah kita selalu menerima dengan lembut apa pun
ketidakadilan yang terjadi di atas bumi? Baca Mazmur 82:3-4 dan Matius
5:38-42. Dapatkah saudara mempertemukan kedua ayat ini? Haruskah kita
mengabaikan ayat Perjanjian Lama karena ayat tersebut telah dibatalkan?
(Kedua ayat ini dapat dipertemukan. Yang satu berbicara tentang membela
hak-hak kita, dan yang lain berbicara tentang membela hak orang lain yang
membutuhkan pertolongan. Jika pendapat saya keliru, maka saya harus berhenti
dari pekerjaan saya membela orang kecil.)
- Sobat, apakah engkau perlu mengubah caramu saat
berurusan dengan orang-orang yang menyerang dan mencemooh dirimu dan
imanmu? Saya telah sangat diyakinkan oleh pelajaran ini bahwa saya perlu
mengubah cara saya yang agresif dalam membela injil. Kini saya dapati
bahwa gagasan bahwa kita bisa mengalahkan musuh injil dan membuatnya
menyerah dengan menggunakan kepintaran kita merupakan pendapat yang
sia-sia dan arogan. Hanya Allah yang dapat mengubah hati. Maukah engkau bergabung
dengan saya dalam upaya baru untuk meminta Roh Kudus memberi kita sikap
yang lemah lembut dan rendah hati?
- Pekan depan: Buah Roh ialah Penguasaan Diri