<-- A Pillar of Mission: The Apostle Peter

BUAH ROH

 

 

Buah Roh ialah Kesetiaan

(Matius 25, Yohanes 16)

Pelajaran 8

 

 

Copr. 2010, Bruce N. Cameron, diterjemahkan oleh Hetty Simatupang. Semua referensi Alkitab dikutip dari Alkitab Terjemahan Baru ©1974 Lembaga Alkitab Indonesia, kecuali disebutkan lain. Saran jawaban terdapat di dalam tanda kurung. Pengajar diasumsikan menggunakan papan tulis atau alat peraga lainnya dalam membawakan pelajaran. Pelajaran ini dapat dilihat di http://www.GoBible.Org/indonesian.

 

Pendahuluan: Bayangkan orang tua yang berulang-ulang ditolak oleh anak-anaknya. Anak-anaknya bahkan lebih jauh lagi mengatakan bahwa orang tua mereka sudah meninggal (padahal tidak) dan kemudian menyatakan bahwa mereka adalah anak-anak dari pasangan orang tua yang lain. Suatu hari orang tua yang asli kehilangan nyawa mereka menyelamatkan anak-anak mereka yang tidak tahu berterima kasih dari kebakaran. Itulah gambaran kesetiaan. Itulah gambaran apa yang Allah kita lakukan bagi manusia. Sebagai pengikut Allah, apakah yang Ia harapkan dari kita dalam hal kesetiaan? Apakah kita diminta untuk menjadi petugas pemadam kebakaran? Bagaimanakah kita mencapai titik dimana Allah memanggil kita (Matius 25:21) seorang “hamba yang baik dan setia”? Mari selami pelajaran Alkitab kita dan belajar lebih jauh!

 

 

I.           Kesetiaan Pernikahan

 

A.          Baca Matius 25:1. Kita mempunyai acara televisi dimana dua puluh wanita bersaing untuk menikahi seorang pria, atau dua puluh pria bersaing untuk menikahi seorang wanita. Apakah kita mempunyai sepuluh calon pengantin? Atau, ini adalah pernikahan poligami dan ada sepuluh calon pengantin? (Jamieson, Fausset, and Brown Commentary menyarankan bahwa mereka adalah pengiring pengantin. Pengantin pria akan datang ke rumah pengantin wanita untuk menjemput dia ke rumahnya untuk acara pernikahan. Oleh karena itu, para pengiring menanti bersama-sama dengan pengantin wanita akan kedatangan pengantin pria.)

 

B.          Baca Matius 25:2-4. Seberapa pentingkah bagi para pengiring ini untuk bersedia kapanpun pengantin pria datang? (Sangat penting! Mereka bukan saja teman, mereka adalah bagian dari pernikahan.)

 

C.          Baca Matius 25:5-9. Mari bicara soal pengiring yang “bijaksana” sejenak. Bagaimana mungkin mereka bijaksana dan jatuh tertidur?

 

1.          Siapakah yang membangunkan mereka? Seseorang yang lebih setia dari mereka?

 

2.          Apakah yang bijaksana mengasihi yang bodoh “seperti diri mereka sendiri” (Matius 22:39) ketika mereka menolak untuk membagi minyak mereka?

 

D.          Baca Matius 25:10-12. Pengiring yang bijasakan dan mementingkan diri masuk, dan yang bodoh terkunci di luar karena mereka berusaha untuk membeli minyak. Apakah ini kelihatannya adil bagi Anda?

 

E.          Baca Matius 25:13. Yesus mengatakan masalahnya adalah yang bodoh tidak “berjaga-jaga”. Apa pendapat Anda jika Anda adalah salah seorang pengiring yang bodoh (tetapi cerdas)? (Saya mau menekankan fakta (Matius 25:5) bahwa semua pengiring jatuh tertidur. Tidak satupun yang berjaga-jaga dengan sesungguhnya!)

 

1.          Satu hal lagi mengganggu saya. Mengapa pengantin pria mengatakan kalau ia tidak pernah mengenal mereka? Mereka hanya terlambat!

 

2.          Ketika Yesus berkata, “berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya", apakah Ia berbicara tentang pernikahan? (Tidak. Matius 25:1 mengatakan ini adalah tentang “kerajaan sorga”. Orang-orang Kristen mengerti kalau Yesus sedang menceritakan perumpamaan tentang kedatanganNya yang kedua kali – sewaktu Yesus menjemput kita kerumah di sorga.)

 

F.          Mari simak kisah ini lebih dalam lagi untuk mengerti apa yang Yesus sedang coba ajarkan kepada kita. Apakah faktor yang paling penting untuk memberikan hasil yang diharapkan? (Memiliki persediaan minyak dan bersedia pada saat yang tepat.)

 

1.          Faktor-faktor apa yang tidak memberikan dampak kepada hasil akhir dari kisah? (Memiliki sejumlah minyak, memiliki pelita, jatuh tertidur, harus diingatkan oleh orang lain akan kedatangan pengantin pria.)

 

G.          Pelajaran kita adalah tentang kesetiaan. Sehubungan dengan perumpamaan Yesus, menurut Anda apakah artinya kesetiaan?

 

1.          Apakah minyak dan dimanakah kita mendapatkan persediaan minyak?

 

a.          Jawaban tradisional bahwa minyak adalah Roh Kudus (lihat Zakharia 4), tetapi bagaimanakah itu sesuai untuk pemikiran “persediaan ekstra”?

 

2.          Baca Yohanes 16:7-15, tetapi pusatkan perhatian pada Yohanes 16:13-15. Berdasarkan ayat-ayat ini, menurut Anda apakah artinya memiliki persediaan ekstra Roh Kudus? (Mengerti Allah dengan sepenuhnya. Semakin dalam pengertian kita akan Alkitab, semakin banyak “minyak” kita miliki.)

 

a.          Apakah dikatakan disini kalau benar pengiring pengantin yang bijaksana mementingkan diri sendiri? (Anda tidak dapat secara instan menjual atau membagikan pengertian yang dalam mengenai Allah. Setiap orang harus, melalui kuasa Roh Kudus, belajar untuk mengenal Allah.)

 

H.          Mengapa ketiduran tidaklah penting untuk hasil akhir? (Ini menunjukkan bahwa kita bisa saja membuat kesalahan, kita dapat saja tertidur, kita dapat gagal mengerti dengan sebenarnya, tetapi kalau kita memiliki pengertian yang dalam akan Allah, kalau kita mempunyai kerinduan untuk mengenal Dia, maka Ia akan membukakan kepada kita kebenaran pada saat yang tepat.)

 

Mengapa terpilih menjadi pengiring, menjadi bagian dari pesta pernikahan, memiliki minyak dan pelita tidak relevan terhadap hasil akhir? (Menjadi seorang Kristen, menjadi anggota gereja, memiliki sekedar Roh Kudus didalam hidup Anda, dan bahkan menjadi “terang” tidak menjamin hasil akhir. Allah mencari mereka yang bersikap serius terhadap Kekristenan mereka. Mereka yang memiliki kerinduan yang intens untuk mengenal dan melakukan kehendak Allah. Mereka adalah yang setia. Merekalah yang dikenal Allah. (Matius 25:12.)

 

 

II.         Kesetiaan Hamba

 

A.          Baca Matius 25:14-15. Apakah yang menjadi dasar dari sang tuan dalam memutuskan pembagian hartanya? (Sesuai dengan talenta yang dimiliki hamba-hambanya.)

 

1.          Saya percaya bahwa Allah dapat melakukan hal-hal luarbiasa melalui siapa saja. Murid-murid kelihatannya orang biasa. Sementara Musa dan Paulus, kelihatannya luar biasa. Apakah yang diajarkan oleh hal-hal tersebut mengenai kesetiaan? (Kalau Anda dilahirkan dengan talenta-talenta alamiah, Allah mengharapkan lebih banyak dari Anda. Apa yang dapat Anda lakukan dengan berkat-berkat yang Allah berikan adalah luar biasa.)

 

a.          Kalau Anda seperti saya, dan Anda melihat orang disekeliling Anda yang lebih bertalenta? (Allah mempunyai pekerjaan penting bagi kita. Kita tidak perlu iri hati terhadap mereka yang memiliki lebih banyak talenta-talenta alamiah.)

 

B.          Baca Matius 25:16-23. Perhatikan hasil akhir – seseorang dengan sepuluh talenta dan yang lain empat talenta. Seseorang memiliki 100% dan yang lain memiliki 40%. Empat puluh persen adalah nilai sangat gagal di kelas saya. Mengapa keduanya disebut “setia”?

 

1.          Bagaimanakah hal ini sesuai dengan pelajaran “persediaan ekstra” yang baru saja kita pelajari dari kisah pengiring pernikahan? (Semakin cerdas Anda, Anda memiliki kemampuan alamiah yang lebih dalam mengerti firman Allah. (Tetapi lihat 1 Korintus 1:20-21.) Talenta alamiah mungkin diartikan Anda memiliki lebih banyak kesempatan, tetapi itu tidak memainkan peranan dalam keputusan terakhir: “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang setia! . . . Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu”.

1.

B.          Baca 25:24-27. Kalau hamba menaruh talenta di bank dan mendapatkan bunga, apakah ia akan diberi pujian?

 

1.          Apakah hamba ini dikecualikan oleh sang tuan karena ia hanya memiliki satu talenta? (Tidak – paling tidak dari kewajiban untuk melakukan sesuatu untuk memajukan pekerjaan sang tuan.)

 

2.          Apakah yang harus kita lakukan untuk menghindari dari nasib hamba dengan satu talenta?

 

C.          Baca Matius 25:28-29. Mengapa yang satu talenta diberikan kepada hamba dengan sepuluh talenta dan bukan kepada hamba dengan empat talenta?

 

1.          Apakah yang diajarkan kepada kita disini tentang sifat dari talenta-talenta alamiah kita? (Talenta-talenta tidak statis! Saya memulai dengan membicarakan kemampuan-kemampuan alamiah, yang kita miliki dari lahir. Tetapi, ini menunjukkan rahasia penting Alkitab – bahwa Allah yang sama yang melengkapi kita dengan talenta-talenta alamiah sejak lahir dapat menambah dan meningkatkan talenta-talenta tersebut dalam masa hidup kalau kita menggunakannya untuk pekerjaanNya.)

 

D.          Dengan merenungkan kedua kisah ini, gambaran seperti apa yang sekarang Anda miliki tentang arti dari kesetiaan? (Pertama, itu berarti melalui kuasa Roh Kudus kita belajar untuk mengerti dengan lebih baik kehendak Allah. Kedua, itu berarti dengan menggabungkan pegertian itu dengan kemampuan alamiah kita, kita bekerja untuk memajukan kepentingan Allah kita. Kita memajukan Kerajaan Allah. Kita tidak akan dirisaukan oleh mereka yang memiliki lebih banyak talenta alamiah yang kelihatannya dapat melakukan banyak hal, tetapi kita tahu kalau kita rajin, Allah akan memberkati kita dengan tambahan talenta “alamiah”.)

 

E.          Sahabat, inilah tantangannya. Maukah Anda memutuskan, saat ini, untuk bersama-sama dengan Roh Kudus mencari untuk mengerti dengan sepenuhnya kehendak Allah? Dengan meningkatnya pengertian Anda akan kehendak Allah, maukah Anda menggunakan talenta alamiah Anda untuk memajukan kehendak Allah? Dengan demikian, berharaplah akan kata-kata ini: “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang setia! . . . Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu”.

E.

 

V      Minggu depan: Buah Roh ialah Kelemahlembutan