<--

Buah Roh ialah Kesabaran

(Keluaran 34, Roma 15, Yakobus1)

Buah Roh: Pelajaran 5

 

Copr. 2010, Bruce N. Cameron, diterjemahkan oleh Debbie Jacobs.  Semua referensi Alkitab dikutip dari Alkitab Terjemahan Baru ©1974 Lembaga Alkitab Indonesia, kecuali disebutkan lain. Saran jawaban terdapat di dalam tanda kurung. Pengajar diasumsikan menggunakan papan tulis atau alat peraga lainnya dalam membawakan pelajaran. Pelajaran ini dapat dilihat di http://www.GoBible.Org/indonesian

Pendahuluan: Galatia 5:22 menyatakan bahwa buah Roh Kudus yang lain adalah kesabaran. Ada banyak sekali yang saya harus lakukan dan saya tidak suka membuang-buang waktu kecuali kalau tujuan saya adalah untuk bersantai dan “membuang” waktu. Bagaimana dengan saudara? Apakah saudara memandang waktu saudara yang terbuang percuma sebagai pemberian dari Allah? Bagaimana kalau saya beritahu saudara bahwa kata “menderita” merupakan cara lain untuk menerjemahkan kata sabar? Apakah saudara mau menderita? Sementara menyelidiki lebih lanjut akan apa yang Alkitab maksudkan dengan “kesabaran,” yang saya temukan adalah ayat-ayat tentang ketabahan hati. The New Bible Dictionary mendefinisikan kesabaran sebagai “bertahan di hadapan lawan atau tekanan.” Kedengarannya merupakan persilangan antara penderitaan dan ketabahan, bukan sebagai buang-buang waktu. Mari selami pelajaran Alkitab kita dan pelajari lebih lanjut mengenai Allah dan pemikiran-Nya mengenai karunia kesabaran!

  1. Allah dan Kesabaran

    1. Baca Keluaran 34:5-7. Apakah “tidak lekas marah” merupakan satu bentuk kesabaran? (The Interlinear Bible mengungkapkan bahwa bahasa Ibraninya berarti “menderita.” Jadi, apa yang Allah sebutkan mengenai diri-Nya sangat mirip dengan kata “kesabaran” yang digambarkan sebagai buah Roh di dalam Galatia 5:22.)

      1. Ada hal yang sangat penting yang disebutkan dalam Keluaran 34:6. Perhatikan bahwa saat Allah menggambarkan diri-Nya, “panjang sabar” adalah ungkapan ketiga yang Ia gunakan dan Ia menempatkan kata tersebut sebelum kasih. Apakah tidak cepat marah lebih penting dari kasih?

      2. saudara melihat konteksnya, dalam cara apa Allah itu tidak cepat marah? Dalam cara apa Ia sabar? (Semua gambaran ini tampaknya berkenaan dengan bagaimana Allah berurusan dengan manusia yang berdosa. Jadi, tidak cepat marah artinya tidak cepat marah dengan dosa-dosa kita.)

        1. Apa keuntungan yang saudara temukan dalamnya? (Jika membicarakan dosa-dosa saya (bukan dosa saudara), maka saya bersyukur Allah tidak langsung menghukum (atau membinasakan) saya. Memberi saya waktu merupakan hal yang saya sangat syukuri.)

      3. Terus terang, saya tidak terlalu peduli soal Allah memberi jeda bagi dosa saudara. Jika Allah menunjukkan panjang sabar terhadap dosa-dosa saudara, apakah saya juga perlu menunjukkan panjang sabar terhadap dosa-dosa saudara?

        1. Haruskah saya menganggap hebat bisa menderita (menderita lama!) karena dosa-dosa saudara terhadap saya?

      4. Kita semua paham mengapa kita ingin Allah menunjukkan kesabarannya kepada kita saat kita berbuat dosa. Namun, mengapa Ia harus melakukannya? Apa faedahnya menunggu? (Jika jika membaca ayat dalam Keluaran tadi, setelah dosa ada penghukuman. Jadi, tampaknya Allah bersabar sembari berharap bahwa kita akan berpaling dari dosa-dosa kita dan luput dari hukuman.)

      5. Baca Yoel 2:13 dan 2 Petrus 3:8-9. Mengapa Yoel dan Petrus sama-sama meminta kita berpaling dari dosa-dosa kita? (Maksudnya adalah bahwa Allah bukannya sementara menunggu untuk “memancung kepala kita.” Ia bukannya sementara menanti-nanti saatnya membinasakan kita. Sebaliknya, Allah memberi waktu dengan harapan saudara akan berpaling kepada-Nya.)

  2. Saudara dan Kesabaran

    1. Allah sabar terhadap kita. Jadi, apa alasan bagi kita untuk bersabar dengan orang lain? (Baca Matius 18:32-33. Jika saudara belum tahu cerita ini, baca Matius 18:23-35. Sederhananya, jika Allah menunjukkan kesabaran kepada kita agar kita bisa berpaling dari dosa, maka kita wajib memberikan kesempatan yang sama kepada orang lain.)

      1. Renungkan hal ini sejenak. Dosa seperti apa yang Allah ampuni dari saudara? Bandingkan dengan dosa dari orang-orang yang menguji kesabaran saudara.

      2. Apakah syarat ini berlaku bagi orang tua dalam menangani anak-anak mereka? Dengan anak-anak dalam menghadapi orang tua?

    2. Baca Roma 15:5. Alasan apa yang diberikan oleh ayat ini untuk kita menjadi sabar (menunjukkan ketekunan) terhadap sesama orang Kristen? (Kerukunan. Ketekunan membantu meningkatkan persatuan.)

      1. Pernahkah saudara bertemu seseorang yang berniat menunjuk dosa orang lain?

      2. Bagaimana perasaan saudara jika sesama anggota menunjuk dosa-dosa saudara? (Pertimbangan memang diperlukan. Namun jelas bahwa Allah kita menunjukkan kesabaran (ketekunan) terhadap kita dan kita perlu menunjukkan kesabaran yang sama terhadap sesama anggota jemaat. Sikap sabar meningkatkan persatuan dalam jemaat.)

    3. Baca Efesus 4:1-3. Paulus menekankan apa yang baru saja kita pelajari: bahwa tujuan untuk mencapai kesatuan dalam jemaat didukung oleh sikap sabar dan “menunjukkan kasih dalam hal saling membantu.” Namun, Paulus menambahkan gagasan baru. Ia menulis tentang rendah hati dan lemah lembut. Apa kaitan kerendahan-hati dan kelemah-lembutan dengan kesabaran?

      1. Berapa banyak orang Kristen “mengoreksi” anggota jemaat lainnya karena angkuh dan tidak menunjukkan kelemah-lembutan?

      2. Coba ingat-ingat kali terakhir saudara mendengar seorang anggota (bukan pendeta atau pengurus gereja yang terpilih) mencela anggota lainnya? Apakah celaan itu terkait dengan hal yang diperbantahkan dimana “sang pencela” (karena keangkuannya) yakin dirinya benar?

    4. Baca Roma 14:1-4. Peluang apa yang kita dapati di sini untuk menyalahkan anggota jemaat yang lain? (Pertama, mereka yang vegetarian (yang tidak ingin menyantap daging yang telah dipersembahkan kepada berhala) tidak boleh menyalahkan orang yang tidak memandang hal ini dengan cara yang sama. Kedua, oran yang menganggap para vegetarian bersikap menggelikan, tidak boleh menyalahkan mereka.)

      1. Apa?! Tidak ada tolok ukur?! Bukankah perlu menegakkan standar? (Perhatikan bahwa topiknya adalah “hal-hal yang diperbantahkan” Namun, perlu memastikan bahwa keangkuhan saudara tidak mengubah “hal-hal yang diperbantahkan” menjadi suatu tolok ukur.)

      2. Bagaimanakah anjuran Paulus untuk kita menangani perdebatan terkait hal-hal yang diperbantahkan? (Baca Roma 14:22-23. Kita harus terapkan hal tersebut pada diri sendiri. Kita perlu menunjukkan kesabaran terhadap mereka yang tidak meyakini hal yang sama, bukan menyalahkan mereka. Pada saat yang sama, jika kita yakin bahwa suatu perkara merupakan dosa, kita perlu mengikuti kata hati kita.)

  3. Karakter dan Kesabaran

    1. Baca Yakobus 1:2-4. The New International Version menerjemahkan kata terakhir dari ayat 3 sebagai “kegigihan.” Terjemahan lain menyebut “kesabaran”, “ketegaran”, atau “ketabahan”. Ini merupakan aspek lain dari kesabaran. Sementara saudara memperhatikan konteksnya, kesabaran semacam apa yang digambarkan? (Kesanggupan untuk memandang ke depan dalam iman manakala kita melalui pencobaan.)

      1. Yakobus mengatakan bahwa ini menjadikan iman kita “matang dan sempurna”. Bagaimana sampai hal ini menjadi buah dari kesabaran? (Manakala kita mengalami hal yang tidak menyenangkan, jika kita bersandar pada Allah, and Ia menyertai kita saat kita menjalaninya, kita akan memperoleh keyakinan saat pencobaan yang berikut datang. Kita memandang ke belakang kepada apa yang Allah telah lakukan di masa lalu dan kita memiliki keyakinan bahwa Ia akan hadir dan kembali menolong. Iman seperti ini memberi kita sikap yang matang.)

    2. Coba lihat bagaimana kita harus menerapkan pelajaran rohani ini ke dalam realita kehidupan. Saat mengemudikan kendaraan apakah saudara sabar? Haruskah saudara berlaku demikian? Ataukah, para pengemudi lain membuang-buang waktu saudara dan tidak ada sangkut-pautnya dengan perkara rohani?

      1. Apa alasan mengapa pengemudi lainnya menahan saudara? (Seorang pengemudi yang tetap berada di jalur kanan, tidak mendahului, namun menghalangi jalan saya pastilah egois, mengabaikan atau tidak mengindahkan aturan lalu-lintas. Ini sama dengan berbuat dosa tampaknya. Saya sungguh yakin kalau ini perbuatan dosa)

        1. Sikap seperti apa yang kita perlu kita miliki dan tunjukkan terhadap orang berdosa lainnya? (Karena Allah sabar terhadap kita tatkala ia berurusan dengan dosa-dosa kita, kita harus sabar juga dengan orang lain.)

    3. Bagaimana dengan pekerjaan saudara? Apakah saudara tidak sabar menunggu kenaikan jabatan? Apakah saudara merasa bahwa saudara seharusnya diberi lebih banyak tanggung jawab, lebih banyak uang dan lebih banyak wewenang?

      1. Perhatikan kembali Yakobus 1:3-4. Apakah ayat ini memberi kita nasihat yang berguna mengenai kenaikan jabatan? (Ayat ini mengemukakan bahwa mungkin kita belum siap untuk dipromosikan saat ini. Dan bersabar dalam posisi kita yang sekarang akan meningkatkan kemahiran kita dan membantu kita menjadi matang dan sempurna.)

    4. Bagaimana dengan kesabaran sementara menunggu di antrian? Apakah mengantri itu murni buang-buang waktu? (Ini rahasianya agar saudara tidak akan pernah lagi membuang waktu dalam antrian – gunakan waktu tersebut untuk berdoa dan merenungkan kehendak Allah bagi hidup saudara. Saya menduga bahwa kebanyakan orang tidak menggunakan cukup waktu untuk berdoa. Saudara dapat menukar waktu yang terbuang dan juga membuat frustrasi ini menjadi waktu produktif bersama Allah.)

    5. Bagaimana dengan kesabaran saudara dalam menantikan kembalinya Yesus untuk membawa kita ke surga? (Baca Matius 24:45-46. Yesus mengatakan bahwa kita harus mengisi waktu saat menunggu-Nya dengan melakukan pekerjaan yang Ia berikan. Jika kita memusatkan perhatian pada tugas, bukan pada penantian, maka tidak akan terasa sebagai penantian.

    6. Sobat, apakah engkau merasa tidak sabar? Bagaimana kalau engkau memutuskan hal ini: mengisi waktu menunggu dengan pekerjaan yang produktif. Tunjukkan kemurahan apabila ada yang berlambat-lambat karena Allah telah bermurah hati kepadamu saat engkau berlambat-lambat melakukan kehendak-Nya. Maukah engkau memutuskan hari ini untuk mencarj bantuan Roh Kudus agar menjadi lebih sabar?

  4. . Pekan depan: Buah Roh ialah Kemurahan Hati