Berjalan dalam Terang: Berpaling dari Dosa
(1 Yohanes 1)
Dikasihi dan Mengasihi –
Surat Yohanes: Pelajaran 3
Copr. 2009, Bruce N. Cameron,
diterjemahkan oleh Debbie Jacobs. Semua referensi Alkitab dikutip dari
Alkitab Terjemahan Baru ©1974 Lembaga Alkitab Indonesia, kecuali disebutkan
lain. Saran jawaban terdapat di dalam tanda kurung. Pengajar diasumsikan
menggunakan papan tulis atau alat peraga lainnya dalam membawakan pelajaran. Pelajaran ini dapat dilihat di http://www.GoBible.Org/indonesian.
Pendahuluan: “Apa
salahnya?” Pernahkah pertanyaan tersebut saudara tanyakan kepada diri sendiri
saat saudara hendak melakukan sesuatu yang mungkin akan dipertanyakan? Pernahkah
anak-anak saudara mengajukankan pertanyaan tersebut manakala mereka hendak
melakukan sesuatu yang dilarang? Alkitab mengajarkan bahwa ada keputusan yang
tidak ada sangkut-pautnya dengan dosa. Orang-orang Kristen mungkin tidak
sepakat mengenai apakah suatu perbuatan itu dosa, dan kedua pihak bisa benar.
(Lihat Roma 14.) Pada waktu yang bersamaan, Yohanes mengajarkan mengenai
pentingnya semua keputusan kita. Ia membandingkan hidup dengan berjalan. Apakah
semua keputusan dalam hidup ini membawa kita lebih dekat kepada kebenaran atau
lebih dekat kepada dosa? Mari mulaikan pelajaran kita dan temukan jawabnya!
Kita akan melihat apakah “Apa salahnya?” itu pertanyaan yang benar atau tidak.
- Terang = Allah
- Baca 1 Yohanes 1:5. Pekan
lalu kita membahas mengapa Yesus digambarkan sebagai “Firman Hidup.” Kini
dalam 1 Yohanes 1:5 kita mendapatkan istilah baru untuk Yesus, “Terang.”
Menurut saudara mengapa Allah digambarkan sebagai “Terang?” Mengapakah
istilah ini relevan atau merupakan penggambaran yang tepat mengenai
Allah?”
- Apa yang terlintas saat
saudara memikirkan tentang terang? (Kuasa. Kesanggupan untuk melihat.
Pencahayaan.)
- Yesus berkata, “Akulah
terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam
kegelapan.” Yohanes 8:12. Apa yang dikemukakan di sini mengenai sifat
dari “terang” Allah? (Bahwa terang itu menolong kita membedakan yang
benar dari yang jahat.)
- Pekan lalu kita membahas
bahwa salah satu alasan mengapa “Firman” merupakan penggambaran yang
tepat bagi Yesus adalah karena Ia menciptakan alam semesta dengan hanya
berucap, oleh sepatah “kata.” Coba ingat-ingat lagi saat penciptaan, apa
yang pertama kali diciptakan? (Allah berfirman lalu “terang” pun jadi.
Kej. 1:3)
- Apakah saudara melihat
keterkaitan antara aksi penciptaan Yesus yang pertama dan sebutan yang
dikenakan kepada-Nya? (Terang menggambarkan Allah. Ia menciptakan kita
dalam gambaran-Nya. Karenanya wajar jika saat Ia mulai mencipta dengan
“ucapan” Ia memulaikannya dengan terang.)
- Tengok kembali 1 Yohanes
1:5. Yohanes mengatakan bahwa sama sekali tidak ada kegelapan di dalam
Allah. Mengapa hal ini penting? Mengapa catatan ini ditambahkan? (Tiga
alasan: Pertama, ilah-ilah yang ada ketika itu memiliki “sisi gelap.”
Saudara perlu berhati-hati saat berurusan dengan mereka karena saudara
dapat memicu reaksi yang tidak berisikan kemarahan dan ketidak-adilan. Kedua,
kita perlu mengetahui hakekat persekutuan kita dengan Yesus. Kini kita
bergaul dengan “seseorang” yang sepenuhnya terang -- sepenuhnya baik.
Ketiga, kejahatan tidak berasal dari Allah.)
- Pilihan
- Baca 1 Yohanes 1:6-7.
Bayangkan diri saudara sementara berjalan di hutan dan tiba pada satu
persimpangan. Saudara
harus memilih jalan mana yang akan diikuti. Dalam kedua ayat ini Yohannes
menggambarkan persimpangan jalan hidup. Apakah kedua pilihan tersebut
menurut Yohanes? (Kita dapat memilih terang atau kita dapat memilih
gelap.)
- Apa lagi penggambaran
Yohanes? (Akhir dari ayat menyebutkan “kebenaran.” Jadi, ada opsi
“benar/salah.”
- Istilah lain apakah yang
akan saudara gunakan untuk menggambarkan kedua opsi ini? (Bagaimana
dengan “baik/jahat,” “betul/keliru,” “adil/tak adil,” “benar/berdosa?”)
- Tengok kembali 1 Yohanes
1:5. Menurut Yohanes, siapakah penggagas mengenai adanya dua pilihan
dalam jalan hidup? (Yohanes mencantumkan catatan kecil dalam ayat 5
mengenai sumber dari pekabarannya. Ia mengatakan, “Inilah berita, yang
telah kami dengar dari Dia, dan yang kami sampaikan kepada kamu.”
Siapakah “Dia” ini? Firman Hidup – Yesus!)
- Jika Allah merngatakan ada
dua pilihan dalam hidup, dan Allah secara khusus berada di “jalan
terang,” bukankah logikanya adalah bahwa setiap keputusan itu jelas-jelas
merupakan pilihan benar atau salah?
- Menguji “Jalan”.
- Mari kita lihat. Yohanes
mengawali bukunya (1 Yohanes 1:1-4) dengan mengatakan bahwa ia ingin kita
memiliki persekutuan dengan Allah. Selanjutnya, ia mengatakan bahwa hidup
itu seperti jalan setapak di hutan: saudara bisa pilih ke kiri atau ke
kanan. Hanya
satu jalan yang menuntun kita pada persekutuan dengan Allah. Baca ulang 1 Yohanes 1:6.
Bagaimana kita bisa tahu apakah kita sedang berada di jalan yang benar?
(Yohanes menyarankan “uji-diri.”)
- “Ujian” apakah? (Berjalan di
dalam kegelapan. Jika saudara hidup dalam kegelapan, saudara tidak
berada di jalan yang benar dan saudara tidak akan memiliki persekutuan
dengan Allah.)
- Tunggu. Menanyakan apakah
saya berjalan di dalam “kegelapan” tidaklah begitu membantu. Apa yang
dikatakan Yohanes untuk menolong agar kita paham apa artinya berjalan
di dalam kegelapan? (Yohanes menjelaskan bahwa sebagian orang berdusta
dengan mengaku berjalan di dalam terang. Saudara mengujinya dengan
melihat apakah mereka hidup di dalam kebenaran.)
- Baca 1 Yohanes 1:8 & 10.
Apa lagikah ujian untuk mengetahui jika kita berada di jalan yang benar?
(Jika kita mengaku tidak berdosa maka kita berada di jalan yang salah.
- Apakah ini ujian terkait
tindakan kita, seperti dalam 1 Yohanes 1:6? (Tidak. Ini ujian terkait
sikap kita, pemikiran kita. Sebagai ganti istilah “mengaku,” bagaimana
kalau kita menggunakan istilah “menganggap” untuk menjadikannya lebih
bersifat pribadi.)
- Apakah saudara menganggap
diri saudara tidak berdosa?
- Jika saudara tidak lulus
dalam ujian ini, apakah akibatnya? (Kita tidak mengatakan
yang sebenarnya. Ini menyebabkan kita berada di jalan yang salah
– jalan kegelapan.)
- Apakah saudara menganggap
orang-orang ini tahu kalau mereka berada di jalan kegelapan? Jika seseorang
mengaku tidak berdosa, saudara akan beranggapan bahwa ia orang “baik.” (Perhatikan lagi kata-kata
dari 1 Yohanes 1:8. Kita “menipu diri kita sendiri.” Orang-orang ini
sepertinya menipu diri soal kebenaran mereka.)
- Dalam situasi apakah orang
beranggapan atau mengatakan mereka tidak berdosa? (Saat merasa sempurna.
Saya pernah mendengar seorang wanita yang mengaku sebagai nabi modern
dan juga mengaku bahwa enam bulan terakhir ini ia hidup tanpa berbuat
dosa. Orang-orang yang mengaku bisa mencapai kesempurnaan dalam tindakan
perlu mencermati ayat ini.)
- Apakah ada situasi dimana
seseorang bisa menganggap dirinya tidak berdosa? (Yang sangat bertolak
belakang dari perfeksionisme adalah klaim bahwa dosa bukan lagi dosa
bagi orang benar. Gagasannya adalah bahwa kita bisa berbuat sekehendak
hati, karena dosa tidak lagi relevan bagi orang Kristen. Dosa tidak jadi
soal lagi karena telah berubah menjadi kebenaran. Yohanes mengatakan dosa
itu dosa dan kita perlu mengakui hal tersebut.)
- Tengok ulang 1 Yohanes 1:10.
Apakah Allah membicarakan kita? Apa yang Yohanes maksudkan saat ia
mengatakan klaim bahwa pembawaan lahir manusia itu baik adanya “membuat
Dia menjadi pendusta?” (Allah dengan jelas menyatakan sifat alami hati
kita. Dalam Kejadian 8:21 Ia mengatakan bahwa “yang ditimbulkan hatinya
adalah jahat dari sejak kecilnya.” Dalam Yeremia 17:9 Ia mengatakan
“Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya
sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya?”)
- Baca ulang 1 Yohanes 1:8.
Ada masalah di sini, bukan? Bagaimana bisa orang-orang yang berada di
jalan yang benar, jalan “terang,” adalah orang berdosa, keinginan hatinya
jahat dan adalah jahat sejak kecil?
- Jika dalam Allah sama
sekali tidak ada kegelapan, dan kita sementara berada di jalan Allah,
bagaimana bisa ada dosa dalam diri kita?
- Ingat pertanyaan saya di
awal-awal mengenai apakah semua keputusan dalam hidup ini merupakan soal
“benar/salah?” Bagaimana bisa kita berada di jalan yang benar dan tetap
memilih dosa? Bukankah inilah “ujian” mengenai apakah kita berada di
jalan yang benar, yakni hidup dalam kebenaran (1 Yohanes 1:6)?
- Hakekat Perjalanan
- Untuk menjawab masalah
terakhir ini, coba kita renungkan baik-baik kata “berjalan.” Yohanes
memperlawankan berjalan di dalam terang dan berjalan di dalam kegelapan.
Menurut saudara apa yang dimaksud dengan “berjalan” di dalam terang atau
kegelapan? (Berjalan
artinya bergerak. Vines [Vines
Expository Dictionary] mengajarkan bahwa sekalipun arti kata ini
adalah berjalan secara fisik di banyak tempat dalam Perjanjian Baru, kata
ini tidak pernah dimaksudkan sebagai berjalan secara fisik dalam
surat-surat Yohannes. Vincent menambahkan bahwa Yohanes sementara
membicarakan “rangkaian kebiasaan hidup.” Dari sini saya paham bahwa yang
Yohanes katakan adalah “kebiasaan” kita adalah melakukan kejahatan atau
melakukan kebaikan.)
- Apakah keterangan ini
menjawab masalah logika soal bagaimana bisa kita berada di jalan terang
namun masih ada dosa dalam hidup kita? (Ya. Dosa adalah menyimpang dari
jalan. Namun tujuan kita adalah mengarahkan perjalanan kita, kebiasaan
hidup kita, untuk hidup dalam kebenaran.)
- Apa yang terkandung di sini
mengenai dosa dan setiap keputusan yang kita ambil? (Sebuah keputusan
mungkin tidak menyangkut dosa, tapi mungkin bisa menuntun kita menuju
atau menjauhi dosa. Inilah yang dimaksud dengan “berjalan.”)
- Sekarang ini yang jadi
masalah besar adalah menyebutkan kegelapan sebagai terang. Seberapa
seriuskan masalah ini menurut ajaran Yohanes? (Kita tidak bisa mengetahui
apakah kita sedang berada di jalan yang salah, kita tidak bisa melakukan
perbaikan kecuali kita mengakui bahwa dosa itu dosa. Jika kita menyebut
dosa sebagai kebenaran, kita akan tetap berada di jalan yang salah sampai
kita binasa karenanya.)
- Dilayakkan
- Baca 1 Yohanes 1:9.
Bagaimana bisa orang berdosa tetap berjalan di jalan terang? Jika Allah
itu tidak memiliki unsur gelap, bagaimana kita manusia yang berdosa
semata-mata dilayakkan untuk berjalan di jalan terang? (Allah akan
mengampuni dosa-dosa yang kita akui. Yesus akan melayakkan kita bagi
jalan terang!)
- Apakah orang-orang yang
berjalan dalam terang sadar betul akan keberdosaan mereka? (Ya. Ini
menjelaskan bahasan Yohanes mengenai orang-orang yang mengaku (dengan
salah) bahwa mereka tidak berdosa. Puji Tuhan karena ada solusinya! Kita
berada dalam jalan persekutuan sekalipun kita berdosa. Fakta bahwa
saudara berdosa dalam hidup saudara tidak membuat saudara tidak layak
untuk berada di jalan yang “betul.” Tapi ingat bahwa jika saudara
sementara berjalan di kegelapan saudara tidak berada di jalan yang benar.
Yang jadi soal adalah arah hidup saudara.)
- Bagaimana dengan engkau,
sobat? Apakah engkau siap mengaku dosa-dosamu? Ataukah engkau mengaku
tidak berdosa? Apakah engkau berada di jalan menuju persekutuan dengan
Allah ataukah di jalan menuju kegelapan kekal?
- Pekan depan: Berjalan di
dalam Terang: Menuruti Perintah-perintah-Nya.