Menafsirkan Tulisan-tulisan Nubuat
(Kisah 8 & 10)
Karunia
Nubuat Dalam Alkitab: Pelajaran 11
Copr. 2009, Bruce N. Cameron,
diterjemahkan oleh Debbie Jacobs. Semua referensi Alkitab dikutip dari
Alkitab Terjemahan Baru ©1974 Lembaga Alkitab Indonesia, kecuali disebutkan
lain. Saran jawaban terdapat di dalam tanda kurung. Pengajar diasumsikan
menggunakan papan tulis atau alat peraga lainnya dalam membawakan pelajaran. Pelajaran ini dapat dilihat di http://www.GoBible.Org/indonesian.
Pendahuluan: “Itu kan interpretasi saudara!” Pernahkah
seseorang mengatakan hal itu manakala ia tidak sepaham dengan saudara? Para
pengacara sangat piawai dalam mengemukakan bahwa sesuatu harus
diinterpretasikan begitu rupa sehingga akhirnya sangat melenceng apa yang
dimaksudkan pada mulanya. Di Amerika ada Mahkamah Agung yang mengacu pada “living constitution”, konstitusi yang
hidup [suatu konsep dalam interpretasi hukum Amerika yang mengatakan bahwa
Konstitusi harus dipandang sebagai sesuatu yang senantiasa berkembang
bersama-sama dengan masyarakat yang mengimplementasikannya]. Jika saat ini
saudara sudah berada di “usia senja” dan penampilan saudara sama sekali sudah
berbeda dengan saat saudara berumur 18 tahun, maka saudara akan paham betul
konsep “living constitution”, tentang
perubahan arti semula. Bagi sebagian orang “menafsirkan” Alkitab menjadi dalih
untuk mengabaikan apa yang secara gamblang Allah ucapkan. Pada saat yang sama,
ada sejumlah ayat Alkitab yang tampaknya bertabrakan dengan ayat-ayat lainnya.
Ada bagian-bagian yang sulit dimengerti. Apa yang yang diperbuat
oleh umat Kristen yang jujur dan rendah hati pada situasi demikian? Mari selami
Alkitab dan lihat apa yang yang perlu kita lakukan!
- Ilmu Hermenetika
- Pernahkah saudara menemukan benda yang indah di
dalam benda yang buruk? Berikan contohnya? (Batu yang diasah. Logam yang
murni. Harta karun yang ditemukan di dasar samudra.)
- Kata Gerika “hermeneuein,” dari mana kita memperoleh
kata “hermenetika” berarti “mengartikan.” Hermenetika, mengartikan,
adalah suatu cara untuk membersihkan atau melucuti penghalang dalam
pemahaman.
- Mari kita gunakan nalar. Jika saudara
memiliki suatu benda yang saudara tahu sangat indah, namun benda
tersebut tertutup oleh sesuatu yang buruk, apa yang saudara perlukan
untuk dapat melihat keindahannya. Daftarkan apa-apa yang diperlukan
menurut saudara.
- Apakah saudara perlu memiliki kerinduan
untuk melihat keindahan di dalamnya?
- Perlu memanggil tenaga
ahli dalam melucuti bagian luar yang buruk?
- Perlu kerja keras di pihak
saudara?
- Perlu kehati-hatian dalam
bekerja agar keindahan aslinya tidak rusak?
- Apakah hal-hal di atas
setara perbandingannya dengan apa-apa yang kita perlukan untuk dapat
secara benar membuang penghalang-penghalang bagi kita untuk memahami
Alkitab dengan benar? Coba tengok beberapa contoh.
- Pelajaran dari Sida-sida
- Mari kita baca Kisah 8:30-31. Apakah yang diinginkan
oleh orang yang berada dalam kereta ini? (Ia ingin memahami apa yang
dikatakan nabi Yesaya.)
- Langkah apa yang telah diambil orang ini
untuk memahami perkataan Yesaya? (Pertama, ia memiliki
kerinduan untuk mengerti. Kedua, ia sementara membaca perkataan tersebut
agar ia memiliki peluang untuk memahaminya. Ketiga, ia meminta seseorang
yang dianggapnya cukup ahli untuk menolongnya.)
- Kita tadi memulai kisah ini
di bagian tengahnya. Coba kita mulai dari awal. Baca Kisah 8:26-29. Bagaimana sampai
Pilipus berada dekat dengan sida-sida Etiopia ini tepat ketika orang
tersebut membutuhkan bantuan seorang ahli? (Roh Kudus menuntun Filipus persis
ke tempat tersebut.)
- Pelajaran apa yang
diajarkan di sini mengenai pemahaman Alkitab? (Roh Kudus merupakan bagian
penting dalam penafsiran. Roh Kudus bekerja melalui orang lain untuk
membantu kita mengerti.)
- Kisah 8:32-33. Jika saudara
sida-sida tersebut, dan saudara sementara membaca ayat tadi untuk pertama
kalinya, apakah saudara akan memahaminya?
- Hanya dengan melihat apa
yang tertulis, menurut dugaan saudara apa kira-kira artinya? (Ini
seperti layaknya pembunuhan berdarah dingin.)
- Baca Kisah 8:34-35. Apa yang dijelaskan oleh Pilipus
kepada sida-sida tersebut. Jangan langsung mengatakan “jawabannya.”
Pikirkan hal ini, apakah yang Filipus sampaikan yang membuat
ketidak-pastian luruh dari Kitab Suci? (Filipus mengungkapkan dua hal. Pertama, konteks faktual. Kedua, pengetahuannya yang dalam
mengenai situasi tersebut. Fakta kehidupan Yesus, sebagaimana dijelaskan
oleh Filipus dengan piawai, menyingkap arti dari nubuatan yang diberikan
oleh Allah kepada Yesaya.)
- Pelajaran lain apa yang
kita pelajari di sini mengenai mengartikan Alkitab? (Konteks sangatlah
penting dalam memahami dengan sebenarnya akan Alkitab.)
- Perlajaran kita kerap kali
adalah mengenai sebuah topik, bukannya sebuah kitab dalam Alkitab. Apa yang jadi masalah
dengan pendekatan topikal terhadap Alkitab? (Konteksnya kurang. Saudara
perlu melihat konteksnya manakala seseorang menyodorkan “ayat bukti.”
Saya berusaha untuk memasukkan konteks sekalipun kita sedang mempelajari
sebuah topik.)
- Pelajaran dalam Kain
- Baca Kisah 10:9-10. Petrus
sebentar lagi akan mendapatkan pekabaran dari Allah. Apa yang saudara
dapati dalam kisah ini yang menurut saudara akan menolong Petrus untuk
paham akan pekabaran tersebut? Petrus berdoa. Sebagaiman dalam kisah yang
tadi, meminta bantuan Roh Kudus merupakan hal yang sangat penting untuk
memahami Alkitab.)
- Baca Kisah 10:11-14. Ingat bahwa Petrus sedang
lapar. Menurut anggapan Petrus, siapakah yang menyediakan hidangan
tersebut? (Allah! Ia mengatakan “Tidak, Tuhan, tidak.”)
- Apabila Allah menyuruh melakukan sesuatu,
apa dalih saudara untuk mengatakan “tidak, sama sekali tidak?” (Jika
saudara membaca Imamat 11:2-31 atau Ulangan 14:3-20 saudara akan dapati
bahwa Alkitab tak pelak lagi mengatakan agar jangan makan benda-benda
yang berada dalam kain tersebut.)
- Apa masalah yang dihadapi
Petrus? (Ia
melihat bahwa perkataan Allah saling berbenturan. Pekabaran Allah di
masa lampau berbenturan langsung dengan pekabaran Allah sekarang ini.)
- Apakah Petrus menggunakan prinsip-prinsip
mengartikan Alkitab? (Sejauh ini tidak. Ia semata menolak wahyu yang
baru ini karena tidak sesuai dengan yang lama.)
- Baca Kisah 10:15-17. Kira-kira kenapa sampai hal ini
diulangi sampai tiga kali? (Supaya Petrus tidak akan “mengartikan” hal
ini dengan mengaburkan apa yang disampaikan dalam pekabaran Allah yang
paling baru ini.)
- Mengapa Kisah 10:17 mengatakan bahwa Petrus
“bertanya-tanya di dalam hatinya, apa kiranya arti penglihatan yang
telah dilihatnya itu?” Bukankah sudah jelas? Ia sedang lapar dan Tuhan
katakan makanlah binatang melata. Apa yang begitu rumit dengan hal
tersebut? (Tidak ada yang rumit. Tidak menggugah selera, namun tidak
rumit.)
- Pernahkan seseorang mendatangi saudara dan
mengatakan “Ayat Alkitab ini jelas. Mengapa saudara tidak mengikutinya?”
- Apakah Petrus sudah mulai menelusuri jalan
untuk mengartikan Alkitab? (Ya. Petrus bertanya-tanya
– merenung – karena kini ada dua pekabaran dari Allah yang
berbenturan satu sama lain. Dalam kasus-kasus seperti itu kita perlu
melihat lebih dalam, dan iapun mulai meninjau.)
- Dalam hukum Amerika ada
prinsip penginterpretasian yang mengatakan bahwa dalam kasus
perbenturan langsung, hukum yang paling mutakhir yang lebih unggul. Apakah demikian juga
halnya dengan Alkitab? Pekabaran tentang “makan reptil” merupakan
pekabaran yang paling mutakhir. (Petrus tidak menganggap hal ini
sebagai prinsip yang sangat kuat dalam penginterpretasian. Jika ia
menganggap demikian maka ia tidak akan bertanya-tanya.)
- Baca Kisah 10:18-20. Mengapakan Roh Kudus perlu
menyuruh Petrus jangan ragu untuk pergi bersama-sama orang-orang ini?
Apakah mereka tampak sebagai orang-orang yang kasar dan berbahaya yang
mungkin saja akan merampoknya?
- Baca Kisah 10:27-29. Sudahkah Petrus memahami
penglihatan tentang kain yang berisikan binatang-binatang haram? (Ya.)
- Apakah penglihatan tersebut perlu diterima
apa adanya? Ataukah sebagai kiasan? (Petrus menghadapi benturan nyata
dalam pekabaran-pekabaran dari Allah. Manakala orang-orang suruhan
Kornelius tiba, Petrus sadar bahwa Allah tidak sedang berbicara tentang
makan binatang, tapi tentang berhubungan dengan orang bukan Yahudi.)
- Bagaimana Petrus menyadari hal tersebut? (Dua
hal. Pertama, konteks. Orang-orang yang muncul di rumahnya menolongnya
untuk mengerti. Kedua, Roh Kudus (Kisah 10:19-20) menolongnya untuk
mengerti.)
- Apa pelajaran baru tentang
mengartikan Alkitab yang kita dapati di sini? (Beberapa pernyataan
Alkitab yang kelihatan gamblang ternyata menimbulkan masalah manakala
kita membandingkannya dengan pekabaran lain dari Allah. Dalam kasus-kasus
tersebut kita perlu menggali lebih dalam. Beberapa pernyataan dari Allah
merupakan kiasan, bukan harfiah.)
- Berapa banyak kali saudara
menggali lebih dalam karena pekabaran Alkitab tidak berbenturan dengan
bagian lain dari Alkitab, tapi karena berbenturan dengan preferensi
saudara? Atau, berbenturan dengan kecenderungan saudara terhadap dosa? (Kita perlu menggali Alkitab
lebih dalam demi keyakinan kita. Namun, ada orang-orang yang membenturkan
Alkitab atau mengijinkan dosa dengan mengatakan “Saya dilahirkan seperti
itu.” “Orang tua saya selalu melakukannya seperti ini.” Tak sangsi lagi,
semua yang membaca pelajaran ini dilahirkan dengan, atau bertumbuh
kembang dengan kecenderungan yang amat sangat untuk berdosa. Saya tahu saya pun demikian. Umat Kristiani sejati akan melawan
dosa dan tidak merayakan atau mengijinkan dosa.)
- Sobat, apabila engkau
menemukan ayat-ayat Alkitab yang tidak engkau pahami, atau ayat-ayat
Alkitab yang sepertinya berbenturan, maukah engkau menggali Alkitab lebih
dalam? Maukah
engkau berketetapan untuk membuka selubung kebenaran dengan mencari
pertolongan dari Roh Kudus, mempelajari konteksnya dan berkonsultasi
dengan ahli Alkitab?
- Pekan depan: Berkat-berkat Karunia Nubuat.