Karunia-karunia Rohani dan Nubuatan
(Efesus 4, Roma 12, 1 Korintus 12
& 14)
Karunia
Nubuat Dalam Alkitab: Pelajaran 3
Copr. 2009, Bruce N. Cameron,
diterjemahkan oleh Debbie Jacobs. Semua referensi Alkitab dikutip dari
Alkitab Terjemahan Baru ©1974 Lembaga Alkitab Indonesia, kecuali disebutkan
lain. Saran jawaban terdapat di dalam tanda kurung. Pengajar diasumsikan
menggunakan papan tulis atau alat peraga lainnya dalam membawakan pelajaran. Pelajaran ini dapat dilihat di http://www.GoBible.Org/indonesian.
Pendahuluan:
Pernahkah saudara berpikiran bahwa “nubuat” itu merupakan karunia rohani
seperti halnya mengajar? Kita dapati ada beragam tipe guru, dari yang buruk
sampai yang hebat. Apakah hanya guru-guru yang hebat dan nabi-nabi yang hebat
yang memiliki karunia rohani? Ataukah karunia tersebut diberikan dalam kadar
yang berbeda? Kadang-kadang seseorang sadar akan karunia besar yang dimilikinya
dan ingin bertindak sekehendak hatinya. Apakah seharusnya demikianlah cara
kerja jemaat ? Jika Roh Kudus memang berbicara kepada mereka bukankah kita
seharusnya menurutinya? Dan bagaimanakah kita membedakan karunia rohani dan
karunia alami yang bisa saja tidak begitu rohaniah? Mari selami pelajaran kita
dan lihat apa yang dapat kita pelajari mengenai karunia rohani dan nubuat!
- Karunia Bagi Jemaat
- Baca Efesus 4:11-13.
Sementara saudara membaca ayat-ayat ini, kira-kira apa yang menjadi
tujuan bagi setiap umat percaya? (Ada tiga tujuan yang disebutkan: a) Satu
dalam iman; b) Satu dalam pengetahuan akan Yesus; dan c) Kedewasaan.)
- Bagaimanakah umat percaya
mencapai tujuan ini? (Kita dilatih untuk “pekerjaan pelayanan.”)
- Bukankah aneh –
bahwa mengajari kita bagaimana caranya bekerja meningkatkan iman,
pengetahuan dan kedewasaan kita?
- Apakah tujuannya bagi
jemaat? (“Bagi pembangunan tubuh Kristus.”)
- Jika tujuan pertama adalah
kesatuan, jika tujuannya adalah untuk membangun jemaat, mengapa kepada
orang yang berbeda diberikan karunia yang berbeda?
- Akankah karunia yang
berbeda memperkembang persaingan dan kecemburuan? (Tampaknya begitulah
yang terjadi di dunia.)
- Baca Roma 12:3-5. Contoh
cara kerja seperti apa yang Allah berikan bagi jemaat kita? (Bagian-bagian
dari tubuh manusia. Ia mengatakan kesatuan jemaat datang dari setiap
anggota yang menggunakan karunianya bersama-sama dengan anggota lainnya.)
- Sikap mental apa yang
menjadi kunci keberhasilan hal ini? (Tidak memandang berlebihan karunia
yang dimiliki.)
- Baca Roma 12:6. Bagaimana
karunia kita ditetapkan? (Bukan oleh kita. Karunia-karunia tersebut
merupaka “pemberian” yang berasal dari kasih karunia Allah.)
- Coba bersikap jujur. Apakah
kebanyakan pemimpin yang saudara lihat memiliki karunia alami alih-alih
karunia rohani? Dengan kata lain, apakah para pemimpin di jemaat saudara
juga menjadi pemimpin di tempat kerja mereka?
- Apakah hal ini merupakan
sifat khusus yang istimewa (Siapa yang memberi kita karunia alami?
Allah! Berapa banyak yang layak untuk pintar sejak lahir? Memiliki
bakat musik? Fasih berbicara? Semua karunia yang ada pada kita, apakah
alami atau rohani, berasal dari Allah dan diberikan berdasarkan kasih
karunia. Karenanya, seyogyanya tidak boleh ada kesombongan terkait
dengan karunia tersebut – yang ada mestinya adalah rasa tanggung
jawab.)
- Karunia Nubuat
- Anggaplah saudara tidak
dilahirkan dengan begitu banyak karunia alami atau rohani. Dapatkah
saudara memperoleh lebih banyak karunia rohani dengan memintanya? (Baca 1
Korintus 14:1. Kita diminta untuk “mengejar” karunia rohani. Jika kita
tidak bisa memperolehnya (atau memperoleh lebih banyak), tidak akan ada
alasan untuk mengejarnya.)
- Perhatikan bahwa karunia
nubuat merupakan karunia yang terutama. Apakah karunia nubuat itu? Jika
kita diharapkan untuk mengejarnya, bagaimana kita tahu kalau kita telah
memperolehnya? Apakah dengan memberitahukan masa depan? (Apa yang telah
kita dapati dalam dua pelajaran terakhir ini adalah bahwa manusia
menyampaikan sebuah cerita atau pesan dari Allah. Pesan tersebut bisa apa
saja – termasuk pernyataan tentang masa depan.)
- Baca 1 Korintus 14:2-4.
Bagaimana ayat ini menolong kita untuk memahami karunia nubuat? (Karunia
ini sepertinya sangat luas. Nabi memberikan pekabaran untuk membangun,
menasihati dan menghibur jemaat.)
- Seperti itukah seorang pengkhotbah?
(Jika pemimpin jemaat saudara mendapat inspirasi dari Roh Kudus maka ini
merupakan pengamalan dari karunia nubuat.)
- Mari kita selidiki lebih
lanjut dengan membaca ulang Roma 12:6 di mana dikatakan bahwa jika
saudara memiliki karunia untuk bernubuat, saudara harus menggunakannya
“sesuai dengan iman[mu].” Apakah artinya?
- Apakah berarti bahwa
saudara bisa menjadi separuh nabi atau nabi “sekali-sekali” karena iman
yang terbatas?
- Apakah nabi yang “kurang
iman” akan menyampaikan nubuatan yang rendah kualitasnya? Nabi yang
“banyak iman” akan menyampaikan nubuatan kelas atas? (Kita pelajari
minggu lalu dalam pembahasan tentang Musa, Harun dan Miriam bahwa ada
perbedaan tingkat kualitas para nabi. Tingkat kualitas tersebut mencerminkan
tingkat perjalanan hidup mereka dengan Allah.)
- Tengok kembali Roma 12:3.
Ini merupakan amaran terhadap kecongkakan, tapi tampaknya juga
menunjukkan bahwa karunia rohani bertumbuh bersama dengan iman. Apakah
ini menguatkan gagasan tentang “separuh” nabi atau nabi “kurang iman”?
(Ya. Bertindak sesuai dengan tingkat iman mencegah kita menjadi congkak.
Jika kita tumbuh sebagai nabi, kita perlu menahan diri dari mengaku
memiliki lebih banyak dari yang dikaruniakan kepada kita. Para pendengar
perlu memahami bahwa akan terjadi pertumbuhan.)
- Nabi Palsu dan Karunia Palsu
- Jika pemahaman kita benar
bahwa Alkitab memperkenankan adanya nabi-nabi yang “kurang iman,”
bagaimana kita bisa mempercayai mereka? Bagaimana kita membedakan
nabi sejati yang “kurang iman” dari nabi palsu atau karunia palsu? Apakah
nabi palsu dan karunia tiruan memang ada?
- Baca 1 Korintus 12:1-3.
Apakah di sini terkandung arti bahwa bisa saja “roh” yang berbicara
kepada kita bukan Roh Kudus? (Ya.)
- Apa ujian untuk memastikan
siapa yang sedang berbicara melalui seorang nabi? (Sepertinya sederhana
sekali – apakah nabi tersebut meninggikan Yesus. Jika mereka
meninggikan Yesus berarti mereka menggemakan Roh Allah.)
- Apakah ini berarti bahwa
saudara bisa menjadi nabi paruh-waktu yang “kurang iman” dengan
pekabaran yang kadang kala campur aduk namun “pro-Yesus” dan tetap
merupakan nabi sejati?
- Baca 1 Korintus 12:7-12. Apakah
ada cara lain untuk menentukan mana nabi sejati dan mana nabi palsu; mana
karunia sejati mana karunia palsu? (Perhatikan bahwa ayat 10 mengatakan
bahwa membedakan “bermacam-macam roh” itu merupakan karunia rohani.)
- Apa yang dianjurkan di sini
untuk dilakukan manakala kita ragu-ragu akan sumber asal dari suatu
nubuat atau karunia? (Lihat apakah nubuat atau karunia tersebut
mengangkat Kristus dan minta bantuan seseorang dalam jemaat yang
memiliki karunia untuk membedakan bermacam-macam roh.)
- Ada perdebatan di gereja
Kristen ihwal apakah karunia lidah, selain daripada berbicara dalam
bahasa asing, merupakan karunia palsu. Mari kita putuskan hanya dengan
membaca Alkitab. Baca Kisah 2:1-4. Apakah ini karunia lidah? (Ya.)
- Baca Kisah 2:5-8. Apakah
karunia lidah ini merupakan kesanggupan untuk berbicara dalam bahasa
asing? (Ini jelas berbicara dalam bahasa asing.)
- Akankah karunia ini
membangun jemaat? (Tentu. Banyak orang tertolong untuk memahami
pekabaran injil yang disampaikan oleh para murid.)
- Baca kembali 1 Korintus
12:7-10. Apakah karunia rohani itu berupa kesanggupan berbicara dalam
bahasa asing?
- Jika itu berupa kesanggupan
berbicara dalam bahasa asing, mengapa diperlukan karunia rohani untuk
menafsirkan?
- Lagipula mengapa perlu
ditafsirkan. Jika saudara berbicara kepada sekelompok oran dan tidak
semuanya menggunakan bahasa yang sama, jika karunia lidah itu adalah
berbicara dalam bahasa yang dipahami oleh setiap orang, maka tidak
diperlukan penerjemah, bukan?
- Baca 1 Korintus 13:1. Bahasa
asing apa yang menjadi bahasa malaikat? Bahasa Itali mungkin? Perancis?
Spanyol? Portugis?
- Baca 1 Korintus 14:1-2. Allah
berbicara dalam bahasa apa? Apakah bahasa yang digunakan pada saat
Pentakosta di Kisah 2? (Tidak mungkin sama dengan karunia yang
diceritakan di Kisah 2 karena disebutkan “tidak ada seorang pun [kecuali
Allah] yang mengerti.”)
- Apakah artinya “mengucapkan
hal-hal yang rahasia” oleh roh yang ada pada saudara?
- Baca 1 Korintus 14:3-5.
Apakah karunia lidah ini dimengerti oleh orang lain? (Tidak. Karunia ini
“membangun” dirinya sendiri, bukan orang lain.)
- Jika saya berbicara bahasa
Italia saat tidak seorang pun dari bangsa Italia di dekat saya, apakah
hal tersebut bermanfaat bagi saya?
- Baca 1 Korintus 14:13-15.
Apakah artinya berdoa dengan bahasa roh, bukan dengan akal budi?
- Jika saudara berbicara
bahasa asing, apakah pembicaraan saudara tidak melewati pikiran saudara?
(Tidak. Bukan berarti bahwa kalau saudara berbicara dalam bahasa lain
maka otak saudara tidak bekerja untuk menyampaikan pesan tersebut.)
- Kita telah pelajari
sebelumnya bahwa karunia rohani dimaksudkan untuk membangun anggota
jemaat dan jemaat pada umumnya. Bagaimana bahasa yang “tidak dikenal,”
yang tidak dimengerti oleh orang lain, dan juga tidak dimengerti oleh
orang yang mengucapkannya, bisa membangun anggota jemaat? (Baca ulang 1
Korintus 14:2-4 dan 1 Korintus 14:14-15. Saya tidak tahu bagaimana cara
mengartikan ayat ini selain bahwa ada semacam bahasa doa antara roh kita
dan Allah. Karunia ini adalah untuk keuntungan pribadi dari orang percaya
tersebut.)
- Sobat, maukah engkau memohon
kepada Allah agar memberimu iman dan karunia-karunia rohani agar engkau
bisa menjadi berkat bagi jemaat?
- Pekan depan: Karunia Nubuat
dan Umat Allah yang Sisa.