Dilahirkan oleh Seorang Perempuan—Penebusan
dan Penjelmaan (Lukas 1, Matius 3, Matius 4)
Penebusan
dan Salib Kristus: Pelajaran 8
Copr. 2008, Bruce N. Cameron, diterjemahkan oleh
Debbie Jacobs. Semua referensi Alkitab dikutip dari Alkitab Terjemahan
Baru ©1974 Lembaga Alkitab Indonesia, kecuali disebutkan lain. Saran jawaban
terdapat di dalam tanda kurung. Pengajar diasumsikan menggunakan papan tulis
atau alat peraga lainnya dalam membawakan pelajaran. Pelajaran ini dapat
dilihat di http://www.GoBible.Org/indonesian.
Dua pekan lalu
kita pelajari bahwa kekristenan merupakan “agama dari orang yang
berakal”—yang menggunakan pikirannya. Yang kita tidak bahas adalah
seberapa keras kita harus berpikir! Di satu sisi, adalah mudah dan logis untuk
menyejajarkan sistem penghapusan dosa dalam Perjanjian Lama dengan kehidupan,
kematian, kebangkitan dan pelayanan Yesus di surga. Semuanya secara logis
benar-benar cocok. Di lain sisi, tidaklah sebegitu mudah untuk memahami
bagaimana Allah Pencipta merendahkan diriNya untuk menjadi manusia. Bahkan
seluk beluk mekanis dari “Allah yang lahir dari seorang perempuan” untuk
mewujudkan Allah/manusia sangatlah sukar dimengerti. Mari kita cari tahu seluk-beluknya
dengan menyelami pelajaran Alkitab kita!
- Perawan Maria
- Masih ingatkah saudara akan
saat pertunangan saudara dulu? Bagaimana perasaan saudara? (Meluap-luap.
Bukan saja karena romantisme tapi juga karena peluang hidup yang
terbentang di hadapan saudara.)
- Apakah saudara senang
mendapat salam seperti ini dari Allah yang disampaikan lewat Gabriel?
- Baca Lukas 1:29. Bagaimana
reaksi Maria terhadap salam ini? Mengapa dia bereaksi seperti itu? (Ini merupakan
salam yang mencengangkan bagai seorang perempuan muda. Mengapa sampai dia
pantas menerima ucapan ini?)
- Menurut saudara apakah
Maria mengira bahwa salam ini merupakan sanjungan yang tidak pada
tempatnya dan malaikat tersebut menginginkan sesuatu darinya?
- Apakah sapaan tersebut
merupakan sanjungan? (Tidak! Sebagaimana yang akan kita lihat, Allah
Bapa mempercayakan Yesus kepada seorang manusia – dan Maria
adalah orang yang Ia pilih. Ini bukanlah sanjungan.)
- Baca Lukas 1:30-34. Dari
semua perkara ajaib yang Gabriel sampaikan, mana yang menarik perhatian
Maria? (Maria langsung terhenti pada hal pertama yang Gabriel sampaikan
– bahwa ia akan memiliki seorang anak laki-laki sekalipun ia belum
menikah.)
- Baca Lukas 1:35-37. Apakah
ini menjawab pertanyaan saudara andai saudara adalah Maria?
- Apakah saudara paham akan
apa yang dijelaskan oleh malaikat tersebut?
- Hal penting apakah yang
disampaikan oleh Gabriel yang membantu saudara agar paham? (Gabriel tahu
bahwa yang dikatakannya merupakan hal yang sama sekali tidak bersesuaian
dengan pengalaman manusia. Ia menunjuk kepada mujizat lain (kehamilan
Elisabet) dan mengatakan “Bagi Allah tidak ada yang mustahil.” Apakah
menurut saudara ini merupakan hal yang tidak biasa bagi Allah? Bayangkan
bagaimana dunia tercipta dari perkataan-Nya.)
- Mari kita kembali dan
perhatikan lebih saksama bagian dari pengumuman tersebut yang tidak
menjawab pertanyaan Maria karena ia masih berkutat di bagian pertama.
Baca ulangi Lukas 1:31-33. Apakah yang dikatakan tentang Yesus? Apakah
disebutkan dengan jelas bahwa Yesus itu Allah?
- Mengapa ayat tersebut
mengatakan “disebut Anak Alah” bukannya “adalah Anak Allah?” (Status
Yesus tidak akan dengan begitu saja dipermaklumkan oleh Gabriel,
melainkan oleh pengakuan dari manusia.)
- Baca Roma 1:1-4. Mengapa manusia
harus menyebut Yesus “Anak Allah?” (Bukan semata karena nubuatan
Perjanjian Lama, bukan semata karena Ia dikandung dengan cara yang tidak
biasa. Kebangkitan-Nya dari kematian menunjukkan kuasa-Nya. Ada banyak
alasan untuk menyebut Yesus “Anak Allah.”)
- Baca Lukas 1:38. Bagaimana
reaksi Maria terhadap berita menakjubkan dan belum pernah terjadi
sebelumnya ini? Arahkan pikiran saudara pada kenangan yang mengawali
pelajaran kita – bagaimana saudara memandang hidup ini pada saat
saudara bertunangan? Bagaimana peristiwa ini mengubah harapan, impian dan
rencana saudara? (Maria menyerahkan hidupnya pada kehendak Allah. Tak
heran bukan kalau Allah mengatakan hal-hal yang besar tentangnya.)
- Manusia Allah
- Berdasarkan pengantar ini,
saudara akan menyebut Yesus apa? Setengah manusia, setengah Allah? (Baca
Kolose 2:9. Alkitab mengatakan bahwa seluruh kepenuhan Allah tinggal di
dalam wujud manusia. Yesus itu sepenuhnya Allah.)
- Bandingkan Ibrani 1:1-3
dengan Ibrani 5:7-10. Dapatkah saudara menyelaraskan kedua penggambaran
tentang Yesus ini? Yang satu mengatakan Yesus adalah “cahaya kemuliaan
Allah dan gambar wujud Allah” dan yang lainnya mengatakan “Ia telah
belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya, dan sesudah Ia
mencapai kesempurnaan-Nya, Ia menjadi pokok keselamatan.” (Yang satu
benar-benar terkesan sebagai Allah dan yang lain benar-benar terkesan
sebagai manusia. Menurut saya itulah jawabannya – Yesus itu
sepenuhnya Allah dan sepenuhnya manusia.)
- Baca 1 Korintus 15:45-47.
Adakah hubungan logis antara Adam dan Yesus? (Baca 1 Korintus 15:48-49.
Hidup Kristiani mendemonstrasikan hubungan tersebut. Kita memulaikan
hidup kita sebagai manusia berdosa (Adam) dan kita dibangkitkan ke dalam
hidup yang kekal melalui Yesus.)
- Manusia yang Dibaptis
- Baca Matius 3:13-14. Argumen
siapa yang lebih baik, Yesus atau Yohanes? (Jawabannya jelas “Yohanes.”
Mengapa pula Yesus yang tidak berdosa perlu lahir kembali?)
- Baca Matius 3:15. Tunggu.
Apa argumen yang Yesus ajukan? Yohanes dapat diyakinkan. Apakah saudara
diyakinkan? (Masih ingatkah saudara akan konsep “penggabungan” yang kita
bahas dua pekan lalu? Saat Yesus mati, kita mati di dalam-Nya. Jadi, kita
mati bagi dosa-dosa kita melalui Yesus. Yesus sementara membicarakan
pokok yang sama ini. Saat Yesus dibaptis, kita sama-sama dibaptis. Dengan
demikian hal ini “menggenapkan seluruh kehendak Allah.”)
- Bukankah argumen tentang
penggabungan ini mengandung kekurangan? Mengikuti perintah Yesus (Matius
28:19-20), murid-murid-Nya kemudian membaptiskan setiap orang yang bisa
mereka baptiskan. Mengapa orang-orang yang baru bertobat perlu
dibaptiskan jika mereka “secara bersama-sama” sudah dibaptiskan bersama
Yesus? (Pertanyaan ini bukannya menciptakan celah, tapi menutupi celah
menurut saya. Jika setiap orang telah mati bagi dosanya melalui Yesus,
maka semua akan selamat. Pendapat tersebut tidak selaras dengan seluruh
Alkitab. Perintah Yesus agar membaptiskan menunjukkan bahwa konsep “sama-sama”
tersebut mengandung “syarat”. Saudara mati bersama-sama Yesus apabila
saudara dengan setuju menerima Dia sebagai Tuhan. Saudara secara bersama-sama
dibaptiskan dengan Yesus apabila saudara menerima baptisan.)
- Baca Matius 3:16-17.
Siapakah yang terlibat dalam baptisan Yesus (dan, secara bersama-sama,
baptisan kita)? (Allah Bapa dan Allah Roh.)
- Apakah sekarang saudara
sudah paham mengapa Yesus memberikan perintah tentang baptisan? (Lihat Matius
28:19. Baptisan-Nya benar-benar pas dengan baptisan kita.)
- Manusia yang Diuji
- Baca Matius 4:1-2. Kejadian
ini berlangsung segera setelah Yesus dibaptis. Mengapa Roh Kudus menuntun
Yesus ke dalam pencobaan?
- Bilamana saudara
mengingat-ingat saat-saat di mana rohani saudara “menjulang,” di bagian
manakah hari pembaptisan saudara berada?
- Apakah gunyanya berpuasa?
(Baca Esther 4:15-16. Esther setuju untuk menjadi pembela bangsanya dan
berusaha untuk mengalahkan Haman yang ingin membunuh bangsa Yahudi.
Untuk mempersiapkan diri bagi pertemuan penting dengan Raja ini, ia
berpuasa.)
- Andai saudara komandan
perang, apakah saudara yang akan memilih arena pertempuran ataukah
saudara akan membiarkan pihak lawan yang memilih? (Menurut saya
pertanyaan ini menuntun kita kepada penjelasan atas pernyataan ganjil
bahwa Roh Kudus menuntun Yesus ke dalam pencobaan. Dikokohkan oleh
baptisan dan puasa, Yesus dituntun oleh Roh Kudus untuk bertempur dengan
Setan. Roh
Kudus yang memilih waktu, tempat dan situasi bagi pertempuran tersebut.)
- Apakah ada pelajaran yang
bisa kita tarik dari sini? (Kita perlu bersiap menghadapi dosa dengan menuntun
pikiran kita. Kita perlu bersiap menghadapi dosa dengan pengenalan akan
firman Allah. Kita perlu dituntun oleh Roh Kudus. Jika kita tahu bahwa
pertempuran sudah dekat, kita perlu bersiap dengan cara berpuasa.)
- Baca Matius 4:3-4. Anggaplah
diri saudara Setan dan saudara ingin membuat Yesus berbuat dosa. Berapa
banyak waktu dan pemikiran yang saudara curahkan untuk menyiapkan cobaan
pembuka?
- Apakah menurut saudara
Setan kedapatan tidak mempersiapkan diri untuk pertempuran ini? (Ya.
Mereka kini terkapar di hadapan Yesus. Setan menggunakan apa yang ada
saat itu – rasa lapar – untuk menguji Yesus dalam hal
kesombongan dan percaya akan Allah. Sulit dipercaya bahwa mengubah batu
menjadi roti merupakan cara terbaik Setan.)
- Bagaimanakah
perbandingannnya dengan cobaan yang diterima Hawa dan Adam? (Adalah tentang
kesombongan (menjadi seperti Allah yang mengetahui yang baik dan yang
jahat) dan mempercayai Allah (Allah merahasiakah sesuatu yang baik dari
saudara).)
- Apakah yang diajarkan di
sini tentang kelemahan kita? (Kita diajar untuk mewaspadai kesombongan kita dan waspada
agar tidak lalai mempercayai Allah. Ini merupakan senjata utama yang
digunakan oleh Setan. Jika Setan menggunakannya saat berhadapan dengan
Yesus, maka ia tentunya akan menggunakannya saat berhadapan dengan
saudara.)
- Baca Matius 4:5-6. Jawaban
Yesus terhadap cobaan soal roti adalah dengan merujuk kepada Alkitab.
Cobaan Setan yang berikutnya adalah berdasarkan Alkitab. Apakah ada
kesejajaran antara cobaan ini dengan cobaan dalam hidup saudara? Apakah
ada kesejajaran dengan cobaan terhadap Adam dan Hawa? (Ini soal
berseberangan, yakni anggapan. Kita bergerak dari tidak mempercayai Allah
ke arah mengganggap Allah akan turun tangan untuk menolong kita tak soal
apa pun yang kita perbuat. Adam dan Hawa mengganggap Allah tidak akan
melakukan apa yang Ia katakan.)
- Baca Matius 4:8-10. Seberapa
beratkah pencobaan ini bagi Yesus, menurut saudara?
- Apa kesejajarannya dengan
cobaan-cobaan dalam hidup saudara? (Setan menawarkan jalan pintas kepada
Yesus. Ia akan terhindar dari segala macam kesulitan dan kesakitan jika
Ia mengambil rute yang Setan punyai. Pelajaran kita adalah tentang
kebenaran melalui Yesus, tapi kita tidak boleh lupa akan perintah Yesus
dalam Matius 5:48 bahwa kita perlu berusaha untuk memperoleh kesucian
– untuk menjadi sempurnya sebagaimana Bapa kita di surga sempurna
adanya. “Jalan pintas” menuju kesucian merupakan cobaan ketiga yang
Setan lemparkan kepada Yesus.)
- Sobat, engkau bersama-sama
ada dalam baptisan Yesus dan kematian serta kenaikan-Nya apabila engkau
memilih untuk beriman kepada-Nya. Maukah hari ini engkau memutuskan untuk
memilih hidup Yesus – menerima kuasa Roh Kudus dan menghidupkan
kehidupan yang menyenangkan Allah?
- Pekan depan: Kiasan-kiasan
Keselamatan.