Dari
Kecerobohan Menuju Iman: Rasul Petrus
(Markus
14, Yohanes 18 & 21)
Agen-agen
Pengharapan: Pelajaran 8
Copr.
2008, Bruce N. Cameron, diterjemahkan oleh Debbie Jacobs. Semua referensi
Alkitab dikutip dari Alkitab Terjemahan Baru ©1974 Lembaga Alkitab Indonesia,
kecuali disebutkan lain. Saran jawaban terdapat di dalam tanda kurung. Pengajar
diasumsikan menggunakan papan tulis atau alat peraga lainnya dalam membawakan
pelajaran. Pelajaran ini dapat dilihat di http://www.GoBible.Org/indonesian.
Pendahuluan:
Apakah saudara bisa menyebutkan seorang Kristen yang tidak begitu baik sebagai saksi
bagi Yesus? Maksud saya bukanlah orang yang berbicara tentang menjadi Kristen
hanya dalam kata. Yang saya maksudkan adalah seorang Kristen yang
sungguh-sungguh namun tidak cukup pintar bergaul. Dunia menyebut kesanggupan
untuk berinteraksi dengan orang lain sebagai “kecerdasan emosi,” Alkitab
menyebutnya “hikmat.” Pelajaran kita pekan ini adalah mengenai rasul Petrus yang
perlu banyak mendapatkan pembenahan dalam kecerdasan emosinya. Mari selami
pelajaran Alkitab kita dan lihat apa yang kita bisa pelajari tentang Petrus dan
bagaimana meningkatkan kecerdasan emosi kita!
- Setia
sampai Mati: Janji
- Pekan
lalu kita belajar bagaimana Simon Petrus dan Yohanes saat pertama kali
menjadi murid Yesus. Sekarang kita beranjak ke hari-hari terakhir
kebersamaan mereka dengan Yesus di atas bumi. Baca Markus 14:26-29.
Mengapa Yesus mengatakan apa yang Dia lakukan dan mengapa Petrus mengatakan
apa yang ia lakukan? (Yesus sementara mengutip Alkitab (Zakaría 13:7) and
menerapkannya kepada diriNya sendiri dan murid-muridNya. Petrus membantah
kalau nubuatan ini (dan pernyataan Yesus) berlaku bagi dirinya. Ia yakin
dirinya lebih baik, lebih setia dari yang lainnya.)
- Baca
Markus 14:30. Apa yang Yesus katakan untuk menekankan kebenaran
kata-kataNya? (Yesus menambahkan nubuatan yang bersumber dari diriNya
sendiri dan Ia membubuhkan kerangka waktu yang sempit dan detil khusus –
hari itu juga, sebelum ayam berkokok dua kali, Petrus sudah menyangkal
Yesus tiga kali.)
- Baca
Markus 14:31. Apa ciri-ciri tabiat Petrus yang kita dapati di sini? (Angkuh.
Tekad bulat.)
- Emosi
apa yang kita temukan?
- Ayat
ini merupakan salah satu dari ayat tentang kecerdasan emosi berdasarkan
Alkitab. Aturan apa yang saudara dapati di sini dan bagaimana Petrus
melanggarnya? (Sudah dua kali Yesus memberi nasihat kepada Petrus
mengenai masa depan dan Petrus menampiknya. Petrus seketika itu juga
menunjukkan kejengkelannya.)
- Apa
kira-kira perbedaan yang akan terjadi andai Petrus mengatakan, “Tuhan,
bagaimanakah hal ini bisa terjadi, dan apa yang harus saya lakukan agar
terhindar darinya?
- Baca
Amsal 13:10. Bagaimanakah keangkuhan dan kecerdasan emosi dalam hal
menerima nasihat saling bertentangan satu sama lain? Bagaimana kasus
Petrus membuktikan hal ini? (Karena keangkuhan dan arogansi Petrus
menghalanginya untuk berpikir bahwa ia bisa menyangkal Yesus, maka ia
tidak bisa menerima saran Yesus.)
- Mari
lanjutkan kisah ini dengan kitab lainnya. Baca Lukas 22:35-36. Ini
merupakan sambungan dari percakapan Yesus dengan Petrus tentang
ketidak-setiaannya kelak. Mengapa sekarang pedang lebih penting daripada
jubah?
- Setia
sampai Mati: Pertarungan
- Baca
Yohanes 18:1-3. Perkataan Yesus kepada Petrus tentang ketidaksetiaannya
baru berusia beberapa jam. Kira-kira apa yang ada yang terlintas di benak
Petrus manakala ia melihat Yudas dan prajurit-prajurit tersebut?
(Pemandangan ini menegaskan prediksi Yesus bahwa Ia akan dikhianati oleh
salah seorang muridNya. Tak sangsi lagi Petrus berpikir “Inilah ujian
itu!”)
- Baca
Yohanes 18:10. Siapa yang benar soal kesetiaan Petrus: Yesus ataukah
Petrus? (Tampaknya Petrus membuktikan apa yang dikatakannya – ia rela
mati bagi Yesus. Ia ada di sana, tidak menyangkal Yesus. Ia menghunus
pedangnya agar ia dapat bertarung bagi Tuhannya dengan menyerang utusan
dari imam besar!)
- Setia
sampai Mati: Bingung
- Baca
Yohanes 18:11. Apa yang berkecamuk di benak Petrus sekarang? (Ia tentunya
kebingungan. Ia baru saja membuktikan betapa Yesus salah tentang
kesetiaannya dan kini Yesus mengecamnya! Ia ingat nasihat Yesus tentang
pedang, dan ia kini bukan saja memilikinya namun juga menggunakannya!)
- Apa
yang Yesus bicarakan saat ia menyebutkan “cawan yang diberikan Bapa
kepadaKu?” (Yesus sudah menyebut-nyebut soal cawan (Markus 14:20-24)
pada saat yang sama ketika Ia berbicara tentang dikhianati dan
ketidaksetiaan Petrus. Bayangkan bagaimana pemikiran-pemikiran ini
berseliweran di kepala Petrus.)
- Baca
Matius 8:31-33. Apa yang membuat Petrus terlibat masalah di sini? (Kurangnya
kecerdasan emosi seperti yang ia tunjukkan di kemudian hari. Keangkuhan
dan arogansinya menyebabkan ia menepis pernyataan Yesus tentang masa
depan.)
- Apakah
peristiwa ini sudah Petrus lupakan dalam kebingungannya akan apa yang
harus ia lakukan agar tetap setia kepada Yesus? (Ini merupakan pelajaran
penting bagi kita. Petrus menolak gagasan bahwa Yesus datang untuk mati.
Ia ingin Yesus memerintah. Karena ia menolak membuang gagasannya
sendiri, ia beranggapan bahwa menjadi setia itu artinya bertarung agar
Yesus bisa memerintah.)
- Setia
sampai Mati: Gagal
- Mari
lanjutkan cerita kita dalam Yohanes. Baca Yohanes 18:12-16. Bagaimana caranya
Petrus masuk ke dalam halaman istana Imam Besar? (Murid “lain” (Yohanes) berbicara
dengan perempuan yang bertugas di situ dan membawa Petrus masuk.)
- Baca
Yohanes 18:17. Inikah cara yang Petrus harapkan sebagai cobaan yang akan
datang kepadanya untuk menyangkal Yesus? (Cobaan tersebut ada
bersama-sama dengan prajurit-prajurit yang bersenjatakan pedang, bukan
dengan seorang “petugas perempuan” yang tak bersenjata.)
- Dapatkah
Petrus mengatakan bahwa hal ini tidak adil? Saat ia menghunus pedang
untuk bertarung, bukankah artinya usai sudah perbincangan apakah ia akan
menyangkal Yesus atau tidak?
- Baca
Amsal 19:20-21. Bagaimanakah aturan tentang kecerdasan emosi ini dapat
menolong Petrus? (Andai saat pertama kali Yesus mengecam Petrus tentang
pandangannya akan masa depan (Markus 8:31-33), Petrus menerima nasihat
Yesus, ia akan paham rencana Yesus dan bagaimana ia dapat memainkan
perannya dalam rencana tersebut. Andai Petrus menerima nasihat Yesus
tentang penyangkalan yang tak lama lagi akan dia perlihatkan, ia akan
meminta nasihat tentang cara agar terhindar dari ketidaksetiaan. Ayat dalam
kitab Amsal ini mengajar kita bahwa apa pun rencana kita, maksud
Allahlah yang akan berlaku. Kita dapat menghindar dari berbagai masalah
dan kekisruhan oleh memperhatikan Allah.)
- Setia
sampai Mati: Penebusan
- Baca
Yohanes 21:14-15. Perbedaan apa, jika ada, yang saudara lihat dari sikap
Petrus? (Yesus memancing Petrus untuk membandingkan dirinya dengan
murid-murid lainnya dengan mengatakan ia mengasihi lebih dari murid-murid
lainnya. Bandingkan Markus 14:29. Petrus tidak mengatakan ia lebih baik
dari yang lainnya manakali mengasihi Yesus yang diperbincangkan.)
- Baca
Yohanes 21:16. Apa yang terkandung dalam fakta bahwa Yesus mengajukan
pertanyaan kepada Petrus untuk kali yang kedua? (Terkesan bahwa Yesus
tidak yakin akan kebenaran dari jawaban Petrus yang pertama.)
- Apa pikiran saudara andai saudara adalah Petrus? (Saya serta merta
akan merasa bersalah akan ketidaksetiaan saya yang lalu. Saya tahu Yesus
sementara mengingat-ingat kegagalan saya dan hal tersebut akan merobek
hati saya.)
- Baca
Yohanes 21:17. Ayat ini menegaskan bahwa Petrus merasa terluka dan
bersalah. Argumen
apa yang Petrus lontarkan untuk meyakinkan Yesus bahwa ia kini akan
setia? (Ia
sebenarnya tidak mencoba melemparkan argumen. Ia semata mengatakan
“Allah, engkau tahu segala sesuatu.” Karenanya, engkau tahu benar
tidaknya perkataan saya. Engkau tahu apakah saya akan setia atau tidak.
Saya mengasihimu dan saya hendak menjadi setia.)
- Baca
Yohanes 21:18-19. Di hari-hari sebelumnya kira-kira apa komentar Petrus
mengenai hal ini? (Sebagai petunjuk, baca ulang Markus 8:31-33. Yesus
memberitahu Petrus bahwa ia ada dibunuh orang. Pernyataan “engkau akan
mengulurkan tanganmu” mengandung arti penyaliban. “Tradisi gereja
mula-mula mendukung bahwa inilah cara Petrus mati.” Wycliffe Bible
Commentary. Petrus yang kemarin akan mengecam Yesus – tak seorangpun
akan mati – mereka semua akan memerintah!)
- Sobat,
bagaimana dengan engkau. Apakah engkau menaati aturan Alkitab tentang
kecerdasan emosi agar engkau menyingkirkan kesombongan dan menerima
nasihat? Apakah
engkau menerima perkataan Allah gantinya tujuan dan pilihanmu sendiri?
Ataukah, perlu ada kegagalan rohani supaya engkau belajar dari apa yang
Petrus pelajari?
- Pekan
depan: Tokoh Misi: Rasul Petrus.