Juruselamat
Yang Penuh Kasihan
(Markus
5 & 12, Yohannes 9)
Agen-agen
Pengharapan: Pelajaran 6
Copr.
2008, Bruce N. Cameron, diterjemahkan oleh Debbie Jacobs. Semua referensi
Alkitab dikutip dari Alkitab Terjemahan Baru ©1974 Lembaga Alkitab Indonesia,
kecuali disebutkan lain. Saran jawaban terdapat di dalam tanda kurung. Pengajar
diasumsikan menggunakan papan tulis atau alat peraga lainnya dalam membawakan
pelajaran. Pelajaran ini dapat dilihat di http://www.GoBible.Org/indonesian.
Pendahuluan:
Sikap seperti apa yang kita harus miliki sebagai misionaris bagi dunia?
Pertanyaan yang mudah kelihatannya. Jawabnya adalah bersikap baik dan mengasihi
dan mengabarkan injil, bukan? Namun, barangkali persoalannya sedikit lebih
kompleks. Saat
beranjak besar, saya mendengar adanya masalah dalam program misi gereja.
Tampaknya para misionaris Amerika sulit memahami di manakah budaya Amerika
mereka ditanggalkan dan pekabaran injil dimulaikan. Untuk mengatasi masalah
ini, diusulkan agar para misionaris Amerika pergi ke negeri asing, melatih
penduduk setempat tentang injil, dan kemudian membiarkan mereka mengabarkan
injil dengan dukungan finansial dari Amerika. Bayangkan bagaimana konsep yang
saya peroleh di masa muda tersebut lenyap ketika musim panas ini kepada saya
diajukan rencana kedatangan misionaris-misionaris dari Brazil dan Eropa ke
daerah saya untuk mengabarkan injil. Berakhir sudah cita-cita untuk membiarkan
orang pribumi menjadi pekabar injil. Sekarang yang pribumi itu saya! Pelajaran
kita bukanlah tentang hal khusus ini, namun tentang beragam cara kita bekerja
sebagai misionaris bagi Yesus. Mari segera mulaikan pelajaran Alkitab kita!
- Menetapkan
Prioritas
- Baca Markus 5:21-23. Andai saudara misionaris, lalu Yairus
datang meminta bantuan, akankah saudara membantu?
- Akankah
saudara menempatkannya pada urutan pertama?
- Ingat
bahwa orang lain berada di sana untuk mendengarkan Yesus. Akankah
saudara tetap pergi bersama Yairus dan untuk sementara waktu
mengabaikan kerumunan orang banyak tersebut? (Yesus tidaklah biasa
mengabaikan orang banyak, namun Yairus orang penting. Saya mungkin akan
beranggapan bahwa saya akan memperoleh keuntungan kalau menyembuhkan
putri orang penting.)
- Baca
Markus 5:24-32. Yesus telah mengiyakan untuk menolong Yairus, apakah Ia
kini mengambil risiko digusari orang penting karena berlambat-lambat
untuk urusan sepele?
- Bukankah
lebih baik tidak mengiyakan untuk menyembuhkan putri Yairus ketimbang
mengiyakan namun kemudian membiarkan perhatian teralih? (Jika karena
Yairus itu orang penting yang menjadi alasan mengapa Yesus bersedia
menolongnya, maka tampaknya nekat kalau berlambat-lambat. Tindakan Yesus
menimbulkan tanda tanya apakah memang itulah yang memotivasi Yesus.
Boleh jadi Yesus setuju untuk menolong orang yang menunjukkan iman.)
- Baca
Matius 5:33-35. Perlukah seorang misionaris memiliki prioritas?
- Prioritas
apa yang tercakup di sini? (Pertama, menolong orang yang memiliki
pengaruh lawan menolong orang yang bisa disebut “gembel” (Saya bukannya
kasar kalau menyebut gembel. Standar agama ketika itu menetapkan
perempuan ini sebagai orang najis.) Kedua, menolong kasus darurat lawan
kasus bukan darurat.)
- Mengapa
di sini Yesus sepertinya tidak punya prioritas?
- Ataukah,
Yesus memiliki urutan prioritas yang berbeda?
- Jika saudara menjawab “ya” untuk pertanyaan kedua, sebutkan
bagaimana susunan prioritas Yesus tersebut. (Yesus bekerja
berdasarkan strategi yang berbeda dari kebanyakan kita. Kita akan
membantu orang penting lebih dahulu dengan anggapan bahwa ia dapat
membantu kita, dan kita secara logis akan menangani kasus darurat
lebih dahulu. Menurut saya jelas bahwa Yesus membantu Yairus bukan
karena ia orang penting. Ia menolong Yairus karena ia memiliki
iman. Dalam hal itu, perempuan yang mengalami pendarahan memiliki
pernyataan iman yang sebanding.)
- Apakah Yesus memandang waktu dengan cara yang berbeda dengan
cara kita – bahkan pada saat Ia hidup di bumi ini?
- Jika saudara tahu kelanjutan ceritanya (Markus 5:36-42),
apakah yang kita pelajari tentang kesadaran Allah akan waktu? (Bahwa waktu
tidak jadi soal. Apakah anak tersebut meninggal karena waktunya telah
habis atau bukan karena itu, Yesus dapat membawa hasil yang persis
sama.)
- Pelajaran
apa yang kita tarik dari sini untuk kegiatan misionaris kita? Haruskan
kita mengutamakan orang-orang yang memiliki kekuasaan? Haruskan prioritas
waktu yang dunia pegang menjadi prioritas kita? (Satu hal: kita perlu
mengabarkan injil kepada seseorang sebelum ia meninggal! Saya tidak tahu
pasti berapa orang yang mengalami mujizat kebangkitan kemudian bertobat.
Dugaan saya jumlahnya sedikit.)
- Mendapatkan
Perhatian
- Baca
Markus 12:35-37. Mengapa orang banyak senang mendengarkan Yesus?
- Apakah
mereka dihibur? (Menurut saya Yesus merebut perhatian mereka dengan
pertanyaanNya yang tidak biasa. Kita tahu bahwa Ia juga mengajar dengan
perumpamaan (Markus 4:2) dan Ia mengajar dengan penuh kuasa (Markus
1:22).)
- Pelajaran
apa yang perlu kita tarik dari cara Yesus menghadapi orang banyak bagi
kegiatan misionari kita? (Tidak ada tempat untuk kebosanan. Tidak ada tempat
untuk kejemuan. Tidak ada tempat untuk ketidakpastian atas hal-hal
mendasar. Ada tempat untuk hal yang unik, yang memikat hati dan yang
pasti.)
- Haruskah
cara ini kita terapkan dalam mengajarkan pelajaran ini? (Mungkin tidak
mudah, tapi manakala kita memaparkan injil dalam kelompok, kita harus
berupaya menjadikannya sebagai sesuatu yang unik, memikat hati dan
menimbulkan inspirasi.)
- Apakah
ketiga unsur ini semuanya dibutuhkan? Diinginkan? (Saya pernah
mengikuti kelas Alkitab di mana gurunya mengangkat topik yang
kontroversial lalu kemudian membiarkan kelas membahasnya. Cara itu lebih
baik daripada kelas yang datar dan membosankan, karena orang-orang
memikirkan masalah itu. Namun, cara seperti itu menjadi pekerjaan yang
belum selesai. Jika saudara seorang guru, maka saudara perlu
mengajar. Apabila menyangkut prinsip-prinsip dasar injil, saudara harus mempertahankan
apa yang saudara yakini sebagai kebenaran .)
- Memiliki
Belas Kasihan
- Baca
Yohanes 9:1-2. Apakah asumsi yang melatar-belakangi pertanyaan para
murid? (Bahwa
ada kesalahan orang lain yang menyebabkan orang ini menjadi buta.)
- Apakah
para murid tersebut sekumpulan orang sinting? Apakah mereka orang gila?
- Jika
saudara mengatakan, “tidak,” apakah yang bisa kita tarik dari kehidupan
orang buta ini? (Tak sangsi lagi, para murid tersebut mencerminkan
pandangan yang berlaku umum. Jadi, orang ini selain buta, juga dibebani
dengan rasa bersalah bahwa dirinya atau orangtuanya telah memperlakukan
seseorang begitu buruknya sehingga orang ini buta sejak lahir.)
- Baca
Yohanes 9:3. Mari kita bahas jawaban Yesus. Apakah jawaban tersebut
menunjukkan belas kasihan? (Jawaban tersebut mengangkat beban rasa
bersalah dari orang ini atau orangtuanya.)
- Saya
ingin bertanya kembali, apakah jawaban Yesus benar-benar menunjukkan
belas kasihan? Apa yang dikemukakan dari jawaban tersebut mengenai Allah
(dan Yesus itu Allah)? (Bahwa orang ini buta agar Allah dipermuliakan.)
- Jadi,
orang ini buta sejak lahir agar Allah terlihat baik? (Ini merupakan
cara yang sangat kasar untuk menyimpulkannya, namun saya pikir
tujuannya memang seperti itu.)
- Pelajaran
apa yang kita bisa tarik dari sini tentang pekerjaan misionari? (Hidup
kita adalah untuk kemuliaan Allah. Hidup ini bukan tentang kita, tapi
tentang Dia.)
- Baca
Yohanes 9:4-7. Kini setelah kita tahu bahwa kualitas hidup kita tidak
jadi soal, apa yang kita tarik dari ayat-ayat ini? (Bahwa kualitas hidup
kita jadi soal bagi Allah. Yesus adalah Terang Dunia oleh menunjukkan
karakter Allah. Allah ingin kita diberkati. Ia ingin kita sehat. Ia ingin
kita melihat. Itulah keinginanNya. Namun, terkadang ada hal-hal yang
terjadi demi alasan yang Allah ijinkan.)
- Mari
kita kembali kepada kisah pertama kita tentang anak perempuan Yairus.
Apakah Yesus dengan sadar mengambil keputusan untuk mengijinkan anak
perempuan tersebut meninggal? (Ya. Ia mengetahui tingkat kegawatan
penyakitnya.)
- Mengapa
Yesus mengijinkan hal ini terjadi? (Demi kemuliaan Allah.)
- Apakah keputusan ini kejam? Bisakah seseorang memaafkan Allah
karena membiarkan anak kecilnya meninggal?
- Apakah Yairus “memaafkan” Yesus? (Kisah Yairus merupakan
rangkuman contoh dari rencana Alalh bagi hidup kita. Fakta bahwa gadis
kecil tersebut meninggal tidak jadi soal bagi Yairus dan istrinya
tatkala Yesus mengembalikan nyawanya beberapa menit kemudian. Manakala
Allah mengembalikan nyawa orang terkasih kita, manakala Ia
menyembuhkan segala penyakit dari dunia yang sakit dan berdosa ini,
manakala Ia akhirnya membinasakan segala kejahatan, kesedihan dan kematian,
maka kita akan menjadi seperti Yairus. Penundaan tersebut tidak jadi
soal.)
- Sobat,
apakah engkau dapat menciptakan hal yang menggugah dan menarik tentang
kasih dan kemurahan Allah dari tindakan yang Yesus ambil? Jika ya, maukah
engkau melakukannya?
- Pekan
depan: Rasul Yohanes