<-- The Wisdom of His Teachings

Hikmat dari Pengajaran-Nya

(Matius 5)

Yesus yang Ajaib: Pelajaran 4

 

Copr. 2008, Bruce N. Cameron, diterjemahkan oleh Debbie Jacobs. Semua referensi Alkitab dikutip dari Alkitab Terjemahan Baru ©1974 Lembaga Alkitab Indonesia, kecuali disebutkan lain. Saran jawaban terdapat di dalam tanda kurung. Pengajar diasumsikan menggunakan papan tulis atau alat peraga lainnya dalam membawakan pelajaran. Pelajaran ini dapat dilihat di http://www.GoBible.Org/indonesian.

Pendahuluan: Kebanyakan dari email saya belakangan ini diakhiri dengan salam penutup “Blessings” [Berkat]. Menurut saudara apa tepatnya arti ungkapan ini? Yang ada di benak saya adalah agar Allah memberkati orang yang saya kirimi email. Namun, hal tersebut tidak menjawab pertanyaan: “Apakah berkat itu? Apa yang saya harapkan terjadi pada orang tersebut? Ketika mempelajari kata Gerika yang diterjemahkan sebagai “diberkati,” saya dapati bahwa kata itu artinya (menurut kamus Strong) “berbahagia”, “mujur” dan “beruntung.” Apakah saudara ingin diberkati? Pekan ini kita arahkan perhatian kepada hikmat yang Yesus sedang ajarkan kepada kita. Mari kita mulaikan dengan ajaran-Nya mengenai bagaimana caranya menjadi berbahagia!

  1. Kebahagiaan

    1. Menurut saudara apa yang membawa atau akan membawa kebahagiaan kepada saudara? (Tuliskah hal-hal tersebut.)

    2. Baca Matius 5:1-3. Dikatakan bahwa rute pertama menuju berkat (kebahagiaan) adalah dengan menjadi miskin di hadapan Allah. Hal ini tidak ada dalam daftar saudara! Mengapa tidak?

      1. Kata Gerika untuk “miskin di hadapan Allah” artinya adalah “merundukkan badan” “membungkukkan badan.” Kata ini mungkin akan membuat imajinasi saudara melayang kepada seorang pengemis jujur yang datang meminta uang kepada saudara. Apakah sikap seperti itu secara logis akan membawa kebahagiaan kepada saudara?

      2. Menurut saudara apa sebenarnya yang dianjurkan sebagai jalan menuju kebahagiaan saat Yesus membicarakan mengenai orang yang “miskin di hadapan Allah?” (Maksudnya adalah bahwa saudara datang kepada Yesus sambil menyadari bahwa secara rohani saudara miskin, telanjang dan seorang pengemis. Saudara mengatakan “Allah, saya memerlukan Engkau!” Orang yang menunjukkan sikap seperti ini kepada Allah adalah orang yang mujur, berbahagia dan diberkati.)

      3. Menurut saudara seberapa seringkah seseorang akan tiba pada titik di mana ia menyadari bahwa dirinya seorang pengemis? (Beberapa dari situasi terberat dalam hidup ini sebenarnya merupakan berkat karena situasi-situasi tersebut membawa kita kepada titik di mana kita menyadari betapa kita benar-benar adalah pengemis rohani. Saya membaca selembar poster yang menuliskan bahwa kita dapat memaafkan orang-orang yang melakukan hal-hal yang tidak masuk akal terhadap kita karena Yesus telah memaafkan hal-hal yang tidak masuk akal yang kita telah lakukan!)

      4. Apakah hasil akhir yang diperoleh oleh orang-orang yang memiliki sikap rohani ini? (Matius 5:3 mengatakan orang-orang ini masuk surga! Ada berkat yang tertinggi, kebahagiaan yang tertinggi.)

    3. Baca Matius 5:4. Ini juga tidak terdapat dalam daftar saudara! Mengapa tidak?

      1. Kata Gerika untuk “berdukacita” merujuk kepada ratapan yang amat sangat. Lebih dari rasa sedih yang biasa. Bahagia dan dukacita saling berseberangan, bukan?

      2. Bagaimana mungkin kita berbahagia saat sedang meratap tersedu-sedan? Pernahkah sedu-sedan ratap membawa kebaikan bagi saudara? (Ada cerita unik dan menarik di Yehezkiel 9:1-5 yang paralel dengan penghakiman terakhir. Kisah ini bercerita tentang enam ksatria dan seorang juru tulis. Sang juru tulis ini mendatangi kota dan membubuhkan tanda di dahi semua orang yang “berkeluh kesah” (TL) atau “sigh and cry” (KJV) [mengeluh dan menangis] atas dosa-dosa yang diperbuat. Semua orang yang tidak memiliki tanda itu dibunuh oleh salah satu dari keenam ksatria tadi. Lolos tidaknya saudara ditentukan oleh “keluhan dan tangisan” saudara atas dosa yang diperbuat.)

    4. Lihat apakah kita bisa menyatukan semuanya. Matius 5:3 berbicara tentang orang yang miskin di hadapan Allah. Matius 5:4 merujuk kepada orang-orang yang menyadari dirinya miskin di hadapan Allah dan benar-benar prihatin dengan keadaan tersebut. Orang-orang yang merasa nyaman dengan keadaan mereka adalah orang-orang yang bukan saja tidak menyadari kebutuhan mereka, namun juga didukakan oleh jurang pemisah antara karakter mereka dan kesempurnaan. Kita datang kepada Yesus sebagai orang berdosa yang melarat. Kita meratapi kegagalan kita. Jiwa kita mendambakan pengampunan. Yesus menghibur kita dengan pengampunan dan janji hidup kekal. Hal ini menorehkan senyum di wajah saya!)

    5. Baca Matius 5:5. Apakah lemah-lembut ada dalam daftar kebahagiaan saudara?

      1. Saran bahwa saya perlu bersikap lemah-lembut bertentangan dengan kehendak saya. Bagaimana dengan saudara?

      2. Kata Gerikanya berarti “lembut,” dan kamus Strong menganjurkan “rendah hati sebagai artinya. Apakah menurut saudara ini berarti bahwa kita harus menjadi lembut dan rendah hati? Apakah ini berlaku bagi “lelaki sejati” juga?

      3. Menarik perhatian pada diri sendiri merupakan falsafah yang dianut oleh masyarakat sekuler. “Inilah yang telah kami lakukan.” “Inilah kepunyaan kami.” “Inilah pendapat kami.” Berdasarkan pengalaman hidup saudara, apakah pernyataan “Inilah yang telah saya lakukan” berpotensi mengundang masalah? (Ini seperti tantangan di depan publik. Saudara harus membuktikan bahwa saudara sanggup melakukan apa yang saudara ucapkan. Orang akan berusaha merontokkan saudara.)

      4. Saya suka bertanding karena saya ingin menang! Apakah saudara mau menang? Jika ya, apakah kita dikecualikan dari syarat mengenai kelembutan dan kerendahan hati? (Yesus menyodorkan falsafah hidup yang berbeda. Ia menganjurkan agar kita berpusat pada Allah dan kehendakNya, bukannya berpusat pada diri kita. Hal yang mencengangkan dan ironis tentang hal ini adalah bahwa orang yang tidak menempatkan diri mereka pada urutan pertama akan mewarisi segalanya—seluruh dunia! Sebagaimana halnya yang dikatakan oleh buku “Purpose Driven Life” , “Ini bukan tentang saya, ini semua tentang Dia.”)

    6. Baca Matius 5:6. Apakah lapar dan haus ada dalam daftar bahagia saudara? (Memang berat badan saya bisa berkurang sedikit. Namun, saya tidak pernah girang merasakah haus dan lapar.)

      1. Menurut saudara apa artinya “lapar dan haus akan kebenaran?” (Ungkapan ini memberikan sudut pandang yang agak berbeda mengenai gagasan tentang berduka cita karena keadaan kita yang berdosa. Kita sangat menginginkan kebenaran yang Yesus berikan ini.)

      2. Maukah saudara menjadi orang benar? (Ayat ini mengatakan bahwa orang yang sungguh-sungguh menginginkannya akan dipenuhi dengan kebenaran.)

    7. Baca Matius 5:7. Apakah kemurahan ada dalam daftar bahagia saudara?

      1. Bagaimana perasaan saudara ketika mendengar bahwa Eliot Spitzer (Gubernur New York dan mantan Jaksa di negara bagian New York) tertangkap basah sedang bersama dengan pekerja seks? Masyarakat bisnis New York pernah diteror oleh orang ini dengan dengan gugatannya yang tanpa ampun atas suatu kasus yang menurut sebagian orang merupakan dakwaan atas suatu perkara yang belum jelas.)

      2. Mungkin saudara tersenyum miring dan mengatakan, “Betapa munafik!” (Sebagian dari diri saya menyeringai. Namun pada saat yang sama saya sadar betapa buruk dan munafiknya sikap saya. Saya menyeringai melihat dosa orang ini ketahuan sedangkan saya juga akan merasa sangat malu andai semua orang mengetahui dosa saya. Siapa pula yang ingin dosanya dipublikasikan di halaman depan Koran, di televisi dan di radio?)

      3. Sikap apa yang Matius 5:7 anjurkan supaya kita miliki? (Kita harus murah hati.)

      4. Apa “sisi buruk”nya kalau kita tidak memiliki sikap ini? (Kita tidak akan beroleh kemurahan.)

        1. Sobat, apakah engkau membutuhkan kemurahan?

    8. Baca Matius 5:8. Apakah hal ini ada dalam daftar bahagia saudara?

      1. Kata yang diterjemahkan sebagai “hati” artinya akal budi, nurani. Menurut saudara, apakah menjadi “suci hati” berarti tidak berdosa?

      2. Mengapa Yesus tidak mengatakan: “Berbahagialah orang yang suci perbuatannya?” (Semua ini membawa kita kepada teori yang saya ajukan bahwa kebenaran itu masalah sikap. Motif kitalah yang terpenting, bukan tindakan kita. Yesus mencari orang-orang yang memiliki sikap-sikap yang kita telah bahas pagi ini. Mungkin tindakan mereka tidak sempurna, namun sikap mereka suci.)

      3. Kita kerap mengubah tindakan kita, seberapapun bulatnya tekad kita sebelumnya. Seberapa mudahkah kita mengubah sikap? (Hanya Roh Kudus yang dapat mengubah hati kita. Ucapan bahagia yang menuntun kita kepada ucapan yang satu ini memimpin kita di jalan menuju hati yang suci. Inilah langkah-langkah menuju kepada tindakan menghempaskan diri kita pada kemurahan Yesus.)

    9. Baca Matius 5:9. Apakah membawa damai ada dalam daftar saudara?

      1. Apakah ungkapan ini merujuk kepada orang-orang yang perkawinannya harmonis?

      2. Bagaimana dengan orang-orang yang membantu menyelesaikan masalah?

      3. Perhatikan bahwa ayat ini mengatakan bahwa mereka disebut anak-anak Allah. Coba kita turun ke bawah beberapa pasal dan baca Matius 10:34. Apa yang sebaiknya kita simpulkan dari dua pernyataan ini? Berbahagialah orang yang membawa damai dan berbahagialah orang yang membawa perang? (Tampak jelas bahwa Yesus tidak sedang membicarakan hubungan antar manusia. Kata-kata yang Yesus ucapkan adalah untuk membawa manusia kepada hubungan yang harmonis dengan Allah. Kristus datang untuk memperlihatkan bahwa Allah bukanlah musuh kita dan kita pun mengemban tugas itu.)

    10. Baca Matius 5:10-12. Ayat-ayat ini lebih membicarakan apa yang akan terjadi kepada kita dibandingkan dengan dengan sikap seperti apa yang perlu kita punyai.
      1. Apakah ada yang menuliskan hal-hal ini dalam daftarnya? Saya amat bahagia apabila dicela, dianiaya dan difitnah!

      2. Bagaimana bisa saudara berbahagia dalam situasi seperti ini? (Ada perang sedang berkecamuk antara Yesus dan Setan. Yesus mengatakan saudara bisa berbahagia di saat-saat seperti ini karena saudara tahu bahwa adanya celaan-celaan ini berarti saudara memiliki keanggotaan di Kerajaan Allah!)

      3. Saat mengingat kembali saat-saat sukar, apakah saudara merasa lebih baik atau merasa getir?

      4. Renungkan apakah saat-saat sukar yang saudara hadapi tersebut adalah “demi Dia” atau karena sesuatu yang saudara lakukan.

    1. Sobat, mungkin engkau perlu daftar baru dari hal-hal yang membuatmu bahagia. Jika engkau merasakan keinginan yang dalam namun belum terpenuhi untuk menjadi bahagia, bagaimana jika engkau menengok ajaran-ajaran bijak dari Yesus? Bagaimana kalau engkau menyerahkan hidupmu kepadaNya? Dan mengapa tidak melakukannya sekarang juga!

  1. Pekan depan: Keajaiban PekerjaanNya.