Pelajaran
Lebih Lanjut tentang Pemuridan
(Markus
4 & 6, Matius 12)
Pemuridan:
Pelajaran 11
Copr.
2008, Bruce N. Cameron, diterjemahkan oleh Debbie Jacobs. Semua referensi
Alkitab dikutip dari Alkitab Terjemahan Baru ©1974 Lembaga Alkitab Indonesia,
kecuali disebutkan lain. Saran jawaban terdapat di dalam tanda kurung. Pengajar
diasumsikan menggunakan papan tulis atau alat peraga lainnya dalam membawakan
pelajaran. Pelajaran ini dapat dilihat di http://www.GoBible.Org/indonesian.
Pendahuluan: Saat
mengemudikan mobil ke mana arah pandang saudara? Hal yang paling buruk adalah
memandang ke bawah saat saudara disibukkan oleh radio, telepon seluler atau
sistem navigasi. Namun, sekadar menatap jalan tidaklah cukup. Saudara perlu
memandang cukup jauh untuk mengantisipasi masalah. Apakah pemuridan itu seperti
berkendara? Jadi masalahkah di mana fokus kita berada? Mari mulaikan pelajaran
Alkitab kita dan temukan jawabnya!
- Badai yang
Tiba-tiba
- Baca
Markus 4:35-36. Menurut saudara apa arti ayat ini manakala disebutkan
bahwa murid-murid membawa Yesus dalam perahu “di mana Yesus telah duduk?”
(Kelihatannya, naik perahu tidak sama seperti naik mobil. Biasanya perlu
persiapan. Apakah frasa ini merujuk kepada perlengkapan perahu, makanan
atau pakaian, tidak disebutkan dalam ayat ini. Tampaknya ada persiapan
yang kurang.)
- Baca
Markus 4:37. Salah satu tafsir Alkitab (Barneys’ Note)
menuliskan tentang badai yang melanda danau Galilea. Danau tersebut
berada 20 meter di bawah permukaan laut. Daratan sekelilingnya terdiri
dari ngarai dan jurang yang menanjak sampai ke dataran yang lebih tinggi.
Komposisi ini menjadi semacam terowongan yang mengantar angin dingin
turun dari ketinggian menuju danau. Hasilnya adalah badai hebat yang datang
sekonyong-konyong. Apakah para murid ini sudah terbiasa dengan badai
semacam ini? Apakah mereka piawai dalam mengendalikan perahu di atas
danau? (Tentunya demikian karena banyak dari mereka merupakan nelayan
komersil dulunya.)
- Apa
arti “perahu itu mulai penuh dengan air?” (Begitu banyak air yang masuk
sehingga perahu itu hampir tenggelam.)
- Kesejajaran
apakah yang saudara lihat antara berada di dalam perahu dengan hidup
Kristiani? (Saya suka air. Saya gemar berlayar. Salah satu hal yang saya
sukai dalam hidup ini adalah berlayar dengan perahu katamaran. Saat
angin bertiup diperlukan ketrampilan dan kekuatan untuk mengarahkan
layar agar menghasilkan kecepatan maksimum. Perahu akan meluncur
melewati dan menembus ombak. Sekalipun olah raga ini cukup aman, saudara
bisa saja tenggelam. Menurut saya air itu laksana dunia. Ada sensasi di dalamnya, namun kita beranggapan bahwa dengan ketrampilan kita dapat
mengendalikannya tanpa takut tenggelam. Sayangnya, pendekatan seperti
itu sangat berbahaya dalam menjalani hidup.)
- Baca
Markus 4:38. Apakah murid-murid ini dengan segenap ketrampilan dan kekuatan
dan keperkasaan mereka bisa menantang badai? (Tidak. Mereka mengira
sedang menghadapi bahaya tenggelam.)
- Perhatikan
pertanyaan yang diajukan murid-murid kepada Yesus. Apa yang ganjil dalam
pertanyaan tersebut? Begitukah cara yang akan saudara gunakan saat
meminta bantuan? (Sebenarnya permohonan mereka adalah “Tolong kami, atau
kami tenggelam!” Namun, mereka meragukan kasih dan kepedulian Yesus
terhadap mereka. Bagian baiknya adalah bahwa mereka beranggapan bahwa
Yesus seharusnya mempedulikan mereka. Bagian buruknya adalah bahwa
mereka memberi kesan bahwa Yesus tidak peduli.)
- Baca
Markus 4:39-40. Yesus menyindir secara tak langsung bahwa murid-murid
tidak akan gentar andai mereka memiliki iman. Apakah mereka tak perlu
takut saat badai melanda?
- Posisikan
diri saudara di tengah-tengah badai ganas ini; perahu sedang tenggelam
dan saudara telah melakukan segala sesuatu untuk mencegahnya agar tidak
tenggelam. Bagaimana perasaan saudara? (Saya menduga bahwa Yesus
sementara merujuk (setidaknya sebagiannya) kepada pertanyaan mereka. Ketakutan merupakan
hal yang wajar dalam situasi seperti itu. Masalahnya ádalah bahwa
mereka meragukan kepedulian Yesus terhadap mereka. Mereka tidak
mengarahkan pandangan mereka kepada kasih dan pemeliharaanNya. Yesus
mencela mereka karena menguatirkan bahwa Ia tidak peduli.)
- Baca
Markus 4:41. Murid-murid ciut hati tadi saat badai menerpa dan kini saat
Yesus telah meredakan badai mereka “sangat takut.” Mengapa mereka
berpindah dari rasa ngeri yang satu ke rasa ngeri yang lainnya?
- Kalau
mereka tidak mengharapkan Yesus untuk meneduhkan badai, apa yang ada
dalam benak mereka saat mereka membangunkanNya dan menanyakan “Engkau
tidak peduli kalau kita binasa?” (Barangkali mereka hanya ingin Yesus
merangkul mereka.)
- Apabila
berada dalam keadaan yang sangat sulit apakah biasanya saudara tahu
dengan tepat apa yang saudara inginkan?
- Mana
yang kita lebih inginkan: Seseorang yang peduli atau seseorang yang
akan menyelesaikan masalah? (Ada dua pelajaran bagi murid-murid. Pertama, kita
meremehkan kuasa Allah untuk menolong kita. Kita perlu memiliki
gambaran yang kokoh akan kuasaNya. Kedua, jika Allah mengijinkan kita
mengalami kesulitan, kita mulai menuduhNya tidak peduli. Kisah ini
mengajarkan bahwa lewat mata iman kita akan memiliki keyakinan bahwa Ia
peduli. Kita tidak akan meragukan hal tersebut. Kemudian biarkan Allah
mengurusi masalah tersebut dengan caraNya sendiri.)
- Markus
menceritakan kisah ajaib mengenai 5,000 orang yang diberi makan diikuti
oleh cerita tentang badai lagi. Jika saudara tidak tahu cerita tentang
memberi makan 5,000 orang ini (hanya dengan 5 ketul roti dan dua ekor
ikan) baca kisah tersebut dalam Markus 6:34-44. Kita lanjutkan dengan
membaca Markus 6:45-46. Sikap seperti apa yang akan ditunjukkan
murid-murid setelah peristiwa memberi makan 5,000 orang? (Sungguh luar
biasa! Yesus menunjukkan kuasanya untuk menciptakan makanan.)
- Baca
Markus 6:47. Apa yang berbeda dengan cerita di laut ini? (Yesus tidak ada
di atas perahu.)
- Baca
Markus 6:48. Setelah hari yang besar, sekarang situasi seperti apa yang
murid-murid hadapi? (Sukar. Ada badai dan mereka “bersusah-payah” untuk
bergerak maju. Saat itu kira-kira pukul 3 pagi. Mereka telah mendayung
selama delapan atau sembilan jam dan hanya sanggup menempuh setengah
jalan menyeberangi danau.)
- Apakah
kehidupan saudara kadang-kadang seperti ini? Pengalaman spiritual yang
sangat tinggi diikuti oleh pengalaman di mana saudara bersusah-payah.
- Apa yang
dilakukan Yesus? (Ia memperhatikan mereka.)
- Mengapa Ia tidak turun tangan?
Mengapa membiarkan mereka bersusah payah?
- Mengapa
mereka tidak meminta Ia agar turun tangan? Di manakah fokus “pandangan”
mereka?
- Tengok
kembali Markus 6:48. Saat akhirnya Yesus muncul untuk melakukan sesuatu,
yang kita baca adalah bahwa Ia hendak “melewati mereka.” Mengapa Yesus
berjalan mendahului mereka? (Yesus memperhatikan dan prihatin. Ia mulai
bertindak sebelum dimintakan bantuan. Namun, sepertinya ia tidak akan
benar-benar turun tangan tanpa diminta.)
- Apa
pelajarannya buat kita?
- Baca
Markus 6:49-50. Apakah murid-murid mengenali Yesus? (Tidak!)
- Mengapa
Yesus bertindak demikian? Mengapa ia datang begitu dekat, tapi tidak
cukup dekat bagi murid-murid untuk mengenaliNya? (Saya yakin Yesus
menunggu mereka memanggilNya. Ia mungkin berlambat-lambat karena Ia
yakin mereka tidak akan berseru kepadanya untuk sementara waktu – mereka
akan terus bergantung pada diri mereka sendiri. Bahkan sekarang ini,
saat mereka lelah dan ketakutan, mereka tetap tidak berseru kepada
Yesus.)
- Atas
dasar apa Yesus menenangkan mereka? (Ia memiliki belas kasihan dan Ia
membantu murid-murid sekalipun mereka tidak secara khusus meminta
bantuanNya. Mereka tetap tidak memandang pada arah yang tepat untuk
mendapatkan pertolongan.)
- Kisah
Roti.
- Baca
Markus 6:51-52. Murid-murid belum juga mengerti mengenai peristiwa roti.
Apa yang mereka tidak pahami? (Perhatikan urut-urutannya. Yesus meneduhkan
badai saat ia sedang berada di dalam perahu. Ia kemudian melakukan
mujizat luar biasa (memberi makan 5,000 orang) di mana mereka menjadi
mitra kerja. Segera sesudahnya, mereka menemui masalah besar. Yesus
memperhatikan mereka, namun mereka bersusah payah mengatasinya. Mereka
tidak memanggil Yesus, kendatipun demikian Ia datang dekat. Akhirnya
mereka benar-benar sangat takut dan Ia menyelamatkan mereka. Mereka
terheran-heran karena mereka tidak mengerti akan peristiwa roti.)
- Apa artinya mengerti peristiwa roti? (Bahwa Yesus dapat
mengatasi semua masalah dalam hidup. Mereka seharusnya berseru kepadaNya
sejak awal masalah. Mereka seharusnya tidak heran bahwa Ia menjadi
solusi atas masalah yang mereka hadapi.)
- Bagaimana
dengan saudara? Kapan saudara memanggil Yesus untuk menolong? Hanya
setelah saudara “bersusah-payah” selama delapan atau sembilan jam?
Perlukah selama itu untuk memandang kepada Yesus?
- Apakah
Yesus menunggu untuk menolong karena Ia tahu saudara tidak akan
memandang kepadaNya lebih awal?
- Coba
kita lihat analogi roti yang lain lagi. Baca Matius 16:1-4. Apakah tanda
nabi Yunus itu? (Matius 12:39-41. Yesus mengatakan bahwa mereka tidak
ingin mempercayai bahwa Ia adalah Mesias, sekalipun hal tersebut sudah
jelas dari apa yang Ia lakukan. Mereka menolak untuk mempercayai
bukti-bukti yang mereka lihat. Tanda bagi mereka adalah kematian dan
kebangkitanNya.)
- Bagaimana
dengan saudara? Apakah saudara menolak ajaran Yesus? Apakah saudara
menolak Roh Kudus? Apakah saudara memandang ke arah yang salah?
- Baca
Matius 16:5-7. Tidakkah saudara gembira karena murid-murid menyatukan
kecerdasan mereka?
- Baca
Matius 16:8-11. Mengapa Yesus mengatakan “Hai orang-orang yang kurang
percaya” bukannya “Hai orang-orang yang kurang cerdas?” (Mereka mengira
Yesus sedang mengatakan agar mereka berhati-hati agar tidak membeli roti
yang raginya buruk dari orang Parisi dan orang Saduki. Yesus telah
memberi makan ribuan orang tanpa sesuatupun. Mereka tidak perlu ragu
tentang membeli roti saat berada bersamaNya. Jika memiliki iman, dalam
berpikir logis mereka tidak akan mengambil langkah pertama yang keliru.)
- Baca
Matius 16:12. Ragi (adonan asam) melambangkan ketidak-murnian atau
kerusakan. Bandingkan Imamat 2:11 dengan 1 Korintus 5:6-8. Murid-murid
akhirnya paham maksud Yesus. Apa pelajarannya bagi kita sekarang ini?
(Berapa banyak dari kita tiba pada kesimpulan yang salah karena tidak
menyikapi masalah lewat mata iman. Gantinya mengarahkan pandangan kepada
Allah, kita mengarahkan pandangan kepada hal-hal duniawi yang Ia akan
cukupi – seperti roti.)
- Sobat,
maukah engkau memutuskan untuk menyesuaikan pandanganmu agar bisa
memandang setiap masalah lewat mata iman? Maukah engkau memfokuskan
pandangan pada perkara rohaniah gantinya perkara jasmaniah?
- Pekan
depan: Misi dan Perbuatan