Mengikuti
Sang Guru: Tindakan Pemuridan
(Lukas
5 & 12, Matius 28)
Pemuridan:
Pelajaran 9
Copr.
2008, Bruce N. Cameron, diterjemahkan oleh Debbie Jacobs. Semua referensi
Alkitab dikutip dari Alkitab Terjemahan Baru ©1974 Lembaga Alkitab Indonesia,
kecuali disebutkan lain. Saran jawaban terdapat di dalam tanda kurung. Pengajar
diasumsikan menggunakan papan tulis atau alat peraga lainnya dalam membawakan
pelajaran. Pelajaran ini dapat dilihat di http://www.GoBible.Org/indonesian.
Pendahuluan:
Setiap pagi kita mengawali hari baru di mana kita dapat mempercepat kedatangan
Kerajaan Allah. Apakah
saudara memikirkan adanya kemungkinan untuk melakukan “pekerjaan sebagai murid”
tiap pagi? Apa peluang yang ada? Cukupkah hanya dengan tetap membuka mata kita
untuk melihat apa yang kita bisa lakukan untuk mengabarkan pekerjaan Allah?
Ataukah, kita perlu lebih aktif dan mencari tahu peluang-peluang yang ada?
Apakah mungkin bahwa pada suatu ketika kita siap hendak melakukan sesuatu dan
ternyata hal tersebut merupakan hal yang salah? Mari selami pelajaran kita
untuk melihat beberapa tindakan pemuridan!
- Orang
Lumpuh dan Sahabat-sahabatnya
- Baca
Lukas 5:17. Seandainya ini saudara bukannya Yesus, akankah saudara merasa
gugup? (Para
petinggi penting dari segala penjuru ini telah datang untuk
mengamat-amati Yesus.)
- Mengapa mereka hadir di sana? (Beberapa komentar Alkitab yang saya baca
mengatakan mereka hadir untuk mengkritik dan memergoki Yesus melakukan
sesuatu yang salah. Komentar lain menyebutkan bahwa mereka memiliki hak
dan kewajiban untuk memastikan bahwa tidak ada penghujatan dan ajaran
palsu. Jadi mereka sedang menjalankan tugas semata.)
- Apapun
komentar yang betul, elemen apa yang sama-sama disepakati oleh
komentar-komentar ini? (Bahwa para petinggi ini hadir di sana untuk memperhatikan dengan cermat apa yang Yesus katakan. Ini bukan kunjungan
silaturahim.)
- Bagaimana dengan saudara? Apakah perlu mewaspadai orang-orang
yang ingin mencelakakan saudara karena saudara mengabarkan injil? (Ya.
Saudara perlu meminta hikmat dan akal sehat dari Allah dalam
melaksanakan pekerjaan saudara.)
- Dua pekan lalu kita membahas masalah “wewenang” untuk
mengadakan mujizat. Manakala ayat tersebut menyebutkan ”Kuasa Tuhan menyertai Dia,
sehingga Ia dapat menyembuhkan orang sakit,” apakah itu berarti bahwa
Yesus harus diberikan “wewenang” untuk mengadakan mujizat dan wewenang
tersebut tidak Ia punyai setiap saat? (Komentar Alkitab “Word Picture
in the New Testament” menyebutkan bahwa kata Yunani sukar untuk
diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Ayat tersebut tidak berarti bahwa
kuasa Yesus untuk menyembuhkan hanya berlaku sebentar-sebentar.
Sebaliknya, dalam ayat ini kata “Yahwe” dan “dinamit” disandingkan.
Menurut hemat saya, “Yesus yang siap meledak” hadir di sana di hadapan
para memimpin yang sangat berkuasa ini. Yesus yang “sarat” kuasa!.)
- Baca
Markus 2:2. Coba lihat apa yang Markus tambahkan dalam kisah ini. Menurut
saudara apa prioritas pertama Yesus: mengajar atau menyembuhkan?
(Mengajar. Saya menduga bahwa penyembuhan yang Yesus lakukan timbul dari:
1) Rasa hatiNya terhadap orang-orang yang menderita.; 2) KerinduanNya
untuk menarik orang banyak mendengarkan ajaranNya; dan 3) “Bukti”
kuasanya sebagai Mesias bagi orang-orang skeptis macam para pemimpin
Yahudi. Pengajaran injilNyalah yang menjadi prioritas utamaNya.)
- Bagaimana
dengan upaya saudara? Haruskah saudara memulainya dengan berkhotbah?
Ataukah, menolong orang-orang di sekitar merupakan cara terbaik bagi
saudara untuk memulai? (Bayangkan bagaimana injil bisa dirugikan jika
saudara seorang yang tidak menyenangkan yang jahat dan suka mendominasi
lantas saudara berkeputusan untuk mengabarkan injil.)
- Baca
Lukas 5:18-19. Apakah saudara senang diinterupsi ketika sedang berbicara?
Bagaimana
perasaan saudara manakala prioritas utama saudara diinterupsi oleh orang
lain
- Bayangkan saudara sementara berkhotbah dan mendadak ada suara
gaduh orang menggali dan membongkar atap, diikuti oleh serpihan-serpihan
yang jatuh menimpa kerumunan orang juga menimpa saudara. Lalu sekonyong-konyong
perhatian semua orang teralih kepada lelaki yang sedang diturunkan di
hadapan saudara dan para hadirin. Apakah saudara akan berpendapat bahwa
orang-orang yang membongkar atap ini tak punya pikiran dan tak tahu adat?
- Posisikan
diri saudara di tempat para sahabat orang yang lumpuh ini. Apakah setelah
melihat kerumunan orang tersebut saudara lalu memutuskan untuk kembali
besok saja?
- Apa
yang memotivasi mereka untuk tetap bersikeras?
- Apakah
saudara akan menilai mereka tidak punya pikiran dan tidak tahu adat?
Ataukah, penuh kasih, penuh perhatian dan penuh akal demi menolong
sahabat mereka?
- Baca
Lukas 5:20. Bagaimana reaksi Yesus? Apakah ketidak-sopanan mereka
membuatNya jengkel?
- Coba
mundur sejenak dan renungkan upaya pembongkaran atap tersebut dan
pengajaran Yesus. Apakah pembongkaran ini menjadi awal yang baik untuk
apa yang terjadi kemudian? (Ya. Perhatian orang banyak terpusat pada apa
yang Yesus katakan dan perbuat kepada orang lumput tersebut.
Pembongkaran tersebut menjadi berkat yang tak disangka-sangka bagi
pelayanan Yesus. Kita perlu melihat sisi positif dari interupsi ini.)
- Berdasarkan
apakah Yesus menyimpulkan iman “mereka” (Lukas 5:20)? (Iman mereka yang
gigih dibuktikan dalam pembongkaran – ditunjukkan oleh usaha mereka!
Saudara ingin menunjukkan iman saudara hari ini? Lalukan sesuatu!)
- Siapakah
yang dirujuk saat Alkitab menyebutkan iman “mereka?”
- Posisikan diri saudara pada tempat orang lumpuh ini. Saudara bisa berpikir,
melihat dan berbicara, namun saudara memiliki keterbatasan dalam
kesanggupan saudara untuk bergerak. Karenanya saudara akan diturunkan
lewat atap. Jika seseorang berbuat kekeliruan saat memegang tali saudara
bisa jatuh dengan kepala membentur lantai. Apakah saudara akan setuju
diturunkan?
- Bagaimana
jika mereka menjatuhkan saudara? Apakah saudara akan mengimani bahwa
bagaimanapun juga Yesus akan menyembuhkan saudara?
- Mungkin
saja pengalaman beriman kepada Yesus hari ini menuntut saudara untuk
keluar dari zona nyaman dan membuka peluang untuk saudara untuk “jatuh
dengan kepala di bawah.”
- Kita
tengok lagi Lukas 5:20. Sebentar! Masalahnya adalah bahwa orang ini
lumpuh. Posisikan
diri saudara di tempat para sahabatnya. Saudara baru saja menanggung rasa
malu dengan upaya saudara membongkar atap di hadapan mata orang banyak.
Bukannya menyembuhkan teman saudara, Yesus mengatakan “Dosamu sudah
diampuni.” Bagaimana perasaan saudara?
- Mengapa
Yesus berbicara tentang dosa? (Baca Yohanes 9:1-3. Persepsi yang umum
berlaku ketika itu adalah bahwa penyakit disebabkan oleh dosa. Beberapanya,
jelas iya. Apakah penyakit orang lumpuh ini disebabkan oleh dosa atau ia
semata mengira bahwa penyakit tersebut bersumber dari dosanya,
sepertinya dosanyalah yang menjadi kekhawatiran utamanya. Yesus menjawab
kekhawatiran utamanya tersebut.)
- Baca
Lukas 5:21. Para penguasa sementara menyimak! Apakah pemikiran mereka
betul? (Ya. Hanya Allah yang bisa mengampuni dosa.)
- Pokok
pikiran apa yang Lukas kemukakan kepada kita? (Yesus adalah Allah.)
- Baca
Lukas 5:22-23. Apa jawab atas pertanyaan Yesus? Mana yang lebih mudah
diucapkan?
- Jika
saudara menjawab “Dosamu sudah diampuni,” apakah saudara yakin?
- Baca
Lukas 5:24-25. Jika para ahli taurat tidak berpikir kritis, apakah orang
lumpuh ini akan disembuhkan? (Jangan lupa fakta bahwa Yesus mengetahui
apa yang ada di benak saudara.)
- Bandingkan
apa yang dilakukan oleh ahli-ahli taurat tersebut demi mengabarkan injil
dengan apa yang dilakukan oleh sahabat-sahabat dari orang lumpuh ini?
Mana yang lebih mirip dengan saudara dalam pemuridan yang saudara jalani
sehari-hari?
- Jika
saudara salah satu dari orang-orang yang hadir ketika itu, akankah
saudara diyakinkan dengan logika Yesus? Apakah logis kalau kita meyakini
bahwa semua orang yang menyembuhkan juga dapat mengampuni dosa? (Memang benar
bahwa penyembuhan berasal dari kuasa Allah. Tapi tidak semua orang yang
menyembuhkan itu Allah. Menurut saya Yesus sedang melemparkan argumen
yang berbeda. Para pengeritik mengatakan, “Ini suasana panas (dan
menghujat) semata. Siapapun dapat mengatakan apa saja.” Yesus menunjukkan
bahwa perkataanNya memiliki kuasa. Manakala Ia mengatakan Ia dapat
mengampuni dosa, mereka perlu mencamkan kata-kataNya.)
- Baca
Lukas 5:26. Perhatikan bahwa orang banyak memuliakan Allah. Mengapa
mereka tidak memuliakan Allah? (Mereka percaya bahwa Yesus adalah Mesias.
Mereka percaya bahwa Yesus itu Allah.)
- Apakah
memuliakan Allah menjadi bagian dari pekerjaan kita sebagai murid?
- Api dan
Sahabat
- Baca
Lukas 12:47-48. Tidakkah saudara senang telah membaca pelajaran ini? Sekarang,
jika saudara tidak melakukan apa-apa, saudara akan mendapat lebih banyak
pukulan! Apakah itu yang Yesus utarakan? (Merupakan bagian darinya.
Menurut saya ada yang lebih dalam dalam pikiran Yesus. Berapa banyak dari
kita yang memandang sekeliling dan merasa puas dengan diri sendiri karena
adanya pemalas kafir di sekitar kita? Yesus mengamarkan kita akan sikap
semacam itu. Murid sejati bekerja untuk mempercepat kedatangan kerajaan
Allah bukannya melemparkan senyum mengejek kepada orang-orang yang kurang
beriman.)
- Baca
Lukas 12:49-51. Padahal saya sedang menyanyikan lagu “Putra Damai!”
Apakah ini merupakan contoh bagi kita? Membawa perpecahan di manapun kita
berada?
- Bandingkan
Yohanes 14:27. Bagaimana bisa Yesus mengatakan bahwa Ia membawa
perpecahan dan damai sejahtera?
- Bandingkan
Matius 17:27. Mengapa Yesus mau mengutarakan agar jangan menyinggung
perasaan orang-orang yang Ia ingin pisahkan?
- Kita
lanjutkan membaca Lukas 12:52-53. Mengapa Yesus hendak membawa perpecahan
di dalam keluarga?
- Coba
mundur dan tengok ulang Lukas 12:49-50. Mengapa Yesus harus berbicara tentang
“baptisan”Nya dalam konteks ini? (Menurut saya apa yang dihadapi Yesus
menjadi contoh bagi kita. Yesus tidak berusaha menciptakan musuh.
TujuanNya adalah damai sejahtera. Namun, di hadapanNya terbentang jalan
yang sukar untuk mencapai tujuanNya membawa damai sejahtera (bersama
Allah) kepada kita dan membawa damai (dalam kemenangan atas dosa) kepada
semesta alam. Kita tidak sedang berusaha menciptakan perpecahan. Akan
tetapi sampai tujuan kita tercapai, injil akan menciptakan perpisahan.
Saya memiliki seorang rekan kerja yang tidak begitu saya kenal. Ia
seorang Yahudi yang telah bertobat menjadi Kristen. Ayahnya meninggal baru-baru
ini dan saya menyaksikan acara penguburannya di sinagoge. Peristiwa ini
bercerita banyak kepada saya mengenai perpecahan dalam kehidupannya.)
- Perintah
Terakhir.
- Baca
Matius 28:18-20. Mengapa Yesus mengawali perintah ini dengan berkata
bahwa segala kuasa telah diberikan kepadaNya? (Ada hal mencengangkan yang
jadi bahan perbincangan murid-murid. Yesus telah menang atas dosa. Ia kini memiliki
segala kuasa. Ia pantas dituruti.)
- Apa
yang perlu kita lakukan menyambut kemenangan Yesus? (Memuridkan orang
lain.)
- Apa
yang kita lakukan dengan murid-murid ini? (Baptiskan lalu ajar mereka.)
- Jaminan
apa yang kita punyai dalam penugasan ini? (Bahwa Yesus akan beserta kita
sampai KedatanganNya yang Kedua saat ia membawa kita pulang ke rumah
bersamaNya.)
- Sobat,
tadi saya mengawali dengan pertanyaan bagaimana saudara menjalani hari
saudara. Sepertinya kita harus membuka mata kita untuk mencari tahu apa
yang dapat kita lakukan namun juga kita perlu berhati-hati dalam
mengabarkan injil. Kita perlu menjadi seperti para sahabat yang menolong
orang yang lumpuh tersebut bukannya seperti para pemimpin yang
mencari-cari kesalahan dalam diri Yesus. Kita harus menjadikan orang lain
murid, bukan mengkritisi mereka. Maukah saudara melakukan hal tersebut
hari ini?
- Pekan
depan: Pemuridan di bawah Tekanan