<-- Experiencing Discipleship

Mengalami Pemuridan

(Matius 16 & 24, Markus 8, Roma 8, 1 Korintus 9)

Pemuridan: Pelajaran 8

 

Copr. 2008, Bruce N. Cameron, diterjemahkan oleh Debbie Jacobs. Semua referensi Alkitab dikutip dari Alkitab Terjemahan Baru ©1974 Lembaga Alkitab Indonesia, kecuali disebutkan lain. Saran jawaban terdapat di dalam tanda kurung. Pengajar diasumsikan menggunakan papan tulis atau alat peraga lainnya dalam membawakan pelajaran. Pelajaran ini dapat dilihat di http://www.GoBible.Org/indonesian.

Saya senang mempelajari hal-hal baru. Dan saya pikir saudara pun demikian. Hal yang hebat dari Alkitab adalah bahwa ia merupakan sumber layaknya sumur tanpa dasar yang berisikan wawasan-wawasan baru. Saudara dapat melihat cerita sederhana yang sama lusinan kali dan tetap menemukan sesuatu yang baru. Pelajaran kita pekan ini mengemukakan bahwa sukacita dalam mempelajari Alkitab tidaklah cukup. Kita diharapkan untuk benar-benar mempraktekkan apa yang telah kita pelajari. Cara hidup kita perlu diubah. Kita bahkan perlu menolak untuk melakukan sesuatu yang benar-benar kita ingin lakukan! Apakah gagasan ini berlaku bagi kita semua? Apakah tidak masalah jika saya semata mempelajari perkara-perkara baru dalam Alkitab dan membagikannya kepada saudara? Dapatkah saya membiarkan orang lain saja yang mengurusi perkara “mengalami” ini? Mari mulaikan pelajaran Alkitab kita dan temukan jawabnya!

  1. Penyangkalan Diri

    1. Seberapa besarkah kepala Petrus saat kejadian ini? (Sangat besar! Petrus mengenali Yesus sebagai Mesias dan Yesus mengatakan kepada Petrus bahwa Allah yang memberinya wahyu ini dan “alam maut tidak akan mengusainya.” Saya yakin Petrus melihat sekeliling dengan penuh kemenangan kepada murid-murid yang lain dan mulai sedikit mengangkat dagunya. Petrus adalah pesuruh Allah!)

    2. Baca Markus 8:31-33 sebagai lanjutan kisah ini dari injil yang lain. Bisakah saudara mendengar desis angin yang berebutan keluar dari kepala Petrus yang besar? Ia beralih dari pesuruh Allah Bapa menjadi pesuruh Setan. Apa sebenarnya yang jadi masalah? (Markus 8:33 mengatakan bahwa dalam benak Petrus adalah “apa yang dipikirkan manusia” bukannya “apa yang dipikirkan Allah.”)

      1.  “Pikiran manusia” yang mana yang Petrus utarakan saat ia mengatakan bahwa Yesus tidak akan dibunuh? (Kita semua ingin berhasil. Kita ingin agar segala sesuatu berlangsung baik. Petrus sementara mengharapkan Yesus mendirikan kerajaan mulia di bumi yang (sebagaimana baru saja didengarnya) akan tahan melawan alam maut sekalipun. Yesus tampaknya sekarang mengatakan bahwa alam maut akan melakukan suatu kerusakan besar. Yesus akan dibunuh.)

    3. Baca Markus 8:34-35. Apa yang harus mereka sangkal? Uang, kuasa dunia, kemuliaan? (Kenyataannya, kalau saudara bandingkan apa yang ada di benak murid-murid (lihat Kisah 1:6 & Matius 20:20-21), dengan apa yang mereka peroleh, mereka kehilangan segala perkara ini selama mereka hidup di atas bumi.)

      1. Bagaimana dengan kita? Haruskah kita menolak uang, kesenangan dan kemuliaan untuk mengikut Yesus? (Seingat saya tidak ada cerita di mana murid-murid mengatakan, “Jangan beri saya uang, jangan beri saya kemuliaan, beri saya penderitaan.” Namun, mengikuti misi yang Yesus susun untuk mereka jalankan berujung pada hal tersebut. Perbedaan antara apa yang mereka harapkan dan apa yang mereka peroleh sangatlah besar.)

      2. Tatkala Yesus memanggil kita untuk “memikul salibNya” dan mengikut Dia, apa yang Ia mintakan untuk saya dan saudara lakukan? (Baca Yohanes 3:14-15 dan Bilangan 21:8-9. Yesus mengaitkan peristiwa penyalibanNya dengan cerita ganjil yang terdapat dalam Bilangan 21. Jika saudara menggabungkan kedua pasang ayat ini, memandang kepada ular artinya berhadapan dengan dosa saudara. Yesus menghadapi dosa-dosa kita dan membayar penalti-nya oleh mati bagi kita. Tatkala Yesus mengatakan agar kita memikul salib kita, menurut saya Ia menyuruh kita untuk menghadapi dosa kita. Akui dosa-dosa tersebut. Mati bagi dosa.)

      3. Apakah saudara merasakan pedihnya penyangkalan diri dalam hidupmu kalau terkait dengan dosa? (Sobat, tak ada dosa dalam hidup saya yang sukar untuk dilaksanakan! (Bandingkan Roma 7:14-25.) Dosa yang dapat berujung pada kehancuran. Tak sangsi lagi pada akhirnya saya akan berharap belum pernah mendengar tentang dosa ini, tapi Alkitab pun mengakui tentang “untuk sementara menikmati kesenangan dari dosa.” Ibrani 11:25. Menurut saya di sinilah terjadinya pertempuran besar untuk menyangkali diri. Disinilah penyangkalan diri itu menjadi sukar.)

      4. Bagaimanakah perintah Yesus agar kita memikul salib dan menyangkal diri selaras dengan gagasan tentang pembenaran oleh iman? (Di sinilah tempat di mana banyak orang Kristen tersasar. Saya teringat seorang Kristen, saat ia menggambarkan sukacita dari pembenaran oleh iman, mengatakan “beban yang sangat berat telah terangkat dari pundak saya. Kini saya bebas.” Saya tahu bahwa yang ia maksudkan adalah bebas dari aturan. Memang benar bahwa ia telah terbebas dari beban untuk mengusahakan keselamatan dirinya. Namun mengikuti Kristus berarti menyangkali diri. Untungnya, Paulus mengajar kita dalam Roma 8 bahwa Roh Kudus membantu kita dalam pergumulan ini. Namun tidak selamanya mudah. “kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.” Roma 8:17)

    4. Baca Markus 8:35-37. Argumen apa yang Yesus lontarkan yang memihak pada penyangkalan diri? (Lihat gambaran besarnya. Saudara mungkin menikmati dosa untuk sekejap waktu lamanya, namun saudara kehilangan kekekalan. Tukar menukar yang sama sekali tidak imbang. Menyangkal diri artinya mendapatkan kekekalan.)

      1. Tatkala Yesus berkata dalam Markus 8:35 bahwa penyangkalan diri akan menyelamatkan hidup kita, apakah menurut saudara Ia juga menunjuk kepada kehidupan kita di atas bumi? (Itulah hasil pengamatan saya. Lihatlah apa yang berada di balik kesenangan semu dosa. Saudara akan temukan segala jenis kepiluan.)

  2. Pertimbangan Kritis

    1. Baca Matius 24:1-2. Kita sedang membicarakan tentang penyangkalan diri. Apakah ayat-ayat ini menyangkut penyangkalan diri? (Murid-murid diberitahu bahwa dunia mereka, sebagaimana yang mereka kenal, akan berubah habis-habisan.)

    2. Baca Matius 24:3. Mengapa murid-murid mendatangi Yesus untuk bercakap-cakap denganNya secara pribadi? (Yesus baru saja memberitahu mereka kabar yang amat dahsyat dan mencengangkan. Di antara gelegar berita ini dan aspek “sukar dipercaya”-nya, hal ini merupakan sesuatu yang harus dipahami secara pribadi.)

    3. Baca Matius 24:4-5. Mengapa ada yang akan tergoda untuk mengikut kristus-kristus yang lain? (Ada sesuatu tentang mereka yang membuat orang ingin ikut.)

    4. Baca Matius 24:6-8. Gantinya memperoleh sesuatu yang baik, Yesus mengatakan bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi. Mengapa Yesus mengatakan agar kita tidak perlu gelisah? (Ayat ini sejajar dengan Markus 8:35. Penyangkalan diri membawa saudara kepada hidup kekal. Sebelum Yesus datang dan memberi kita hidup kekal, kita akan melalui peperangan, kelaparan, gempa bumi dan orang-orang yang menarik kita dengan pernyatan-pernyataan palsu. Kata Yesus setialah maka engkau akan mendapatkan upahmu.)

    5. Baca Matius 24:9-11. Seberapa burukkah jadinya kelak? (Kematian, penganiayaan, kebencian dan pengkhianatan. Ini bukanlah penyangkalan diri dalam artian yang lazim. Namun, keputusan kita untuk mengikuti berakibat kerugian bagi diri sendiri.)

    6. Kita loncati beberapa ayat. Baca Matius 24:37-39. Apa salahnya dengan makan, minum dan kawin? (Tidak. Masalahnya adalah mereka “tidak tahu akan sesuatu.” Nuh ketika itu mengamarkan mereka. Lihat 2 Petrus 2:5. Masalahnya bahwa fokus mereka adalah pada perkara-perkara duniawi bukannya pada perkara-perkara Allah.)

    7. Baca Matius 24:40-41. Apa butir penyangkalan diri yang disebutkan dalam ayat-ayat ini? Apa butir pemikiran kritis yang disebutkan dalam ayat-ayat ini? Bukankah orang-orang ini sedang melakukan hal yang persis sama, namun yang seorang selamat dan yang lainya hilang? (Saudara dapat memiliki pekerjaan yang sama dengan seorang yang tidak percaya. Pertanyaannya adalah apakah tujuan hidup saudara? Apakah saudara menyangkali diri? Apakah saudara menghadapi dosa saudara? Apakah saudara percaya akan Yesus? Apakah saudara menyimak injil bukannya menyimak televisi, supaya saudara tidak terperdaya?)

  3. Sikap

    1. Baca Matius 24:42-43. Kita diberitahu agar berjaga-jaga. Berjaga-jaga dari apa? Jika seseorang meminta saya untuk melakukan pengamatan dari atas kapal, pertanyaan pertama yang saya akan ajukan adalah “Apa yang harus saya perhatikan? Lumba-lumba? Gunung es? Kapal selam? Ikan yang melompat?

      1. Jika saudara mengatakan, “Berjaga-jaga akan Yesus,” mengapa Yesus membandingkan kedatanganNya dengan pencuri yang mencoba menggasak harta kita?

      2. Jesus datang untuk memberi hidup kekal kepada kita! Mengapa dilemparkan gagasan tentang kita yang kehilangan sesuatu? (Ini merupakan argumen ampuh melawan pandangan “sekali selamat selamanya selamat.” Tidak mungkin Yesus membandingkan dirinya dengan pencuri. Sebaliknya, pencurinya adalah Setan yang ingin mendobrak masuk ke dalam “rumah saudara” dan mencuri keselamatan saudara. Jika saudara ragu akan hal ini, baca Matius 24:50-51.)

    2. Baca 1 Korintus 9:24-27. Paulus membandingkan hidup Kristiani dengan berlatih untuk suatu perlombaan. Ada teman saya, yang sejauh yang saya tahu, tidak memiliki keterlibatan dengan kelompok orang percaya yang manapun. Ia bersekolah di perguruan tinggi Kristen. Ia berpendapat bahwa semua yang perlu dia pelajari tentang Allah telah ia peroleh semasa masih di perguruan tinggi. Apakah teman saya terus menerus berlatih? Apakah saudara terus menerus berlatih?

      1. Perhatikan 1 Korintus 9:27. Apa aspek negatif dari tidak berlatih? (Didiskualifikasi dari hadiah hidup kekal!)

    3. Sobat, saya akui bahwa saya tidak tahu di mana Allah menarik garis batas terkait dengan jaminan keselamatan. Keyakinan saya adalah bahwa keselamatan bukanlah sesuatu yang saudara geser keluar atau masuk menit demi menit, hari demi hari atau bahkan minggu demi minggu. Di lain sisi, menurut saya Alkitab dengan tegas menyatakan bahwa tidak ada yang namanya “sekali untuk selamanya.” Sebaliknya, kehidupan pemuridan merupakan usaha terus-menerus untuk memahami dan melakukan kehendak Allah. Kita dipanggil untuk mempraktekkan pemahaman kita tentang Allah. Ini berarti menghadapi dosa-dosa kita. Menyangkal diri. Berpaling dari kepelesiran dosa. Sebagaimana yang dikatakan Paulus (1 Korintus 9:27), kita perlu melatih tubuh kita agar tubuh kita menjadi hamba kita, bukan sebaliknya. Maukah engkau melatih rohanimu – mulai hari ini?

  4. Pekan depan: Mengikuti Sang Guru: Tindakan Pemuridan