<-- Christ in the Crucible

Kristus dalam Ujian Berat

(Roma 3-5)

Api Tukang Pemurni Logam: Pelajaran 13

 

Copr. 2007, Bruce N. Cameron, diterjemahkan oleh Debbie Jacobs. Semua referensi Alkitab dikutip dari Alkitab Terjemahan Baru ©1974 Lembaga Alkitab Indonesia, kecuali disebutkan lain. Saran jawaban terdapat di dalam tanda kurung. Pengajar diasumsikan menggunakan papan tulis atau alat peraga lainnya dalam membawakan pelajaran. Pelajaran ini dapat dilihat di http://www.GoBible.Org/indonesian.

Pendahuluan: Apakah saudara rela berkorban? Memandang kepada seseorang yang rela berkorban merupakan pelajaran terakhir dari pembahasan kita tentang bertahan di masa sukar. Saya rasa kita semua lebih memilih untuk terhindar dari masa sulit. Sebagaimana yang telah kita pelajari, masa sukar biasanya mendatangi kita dalam dua cara yang berbeda. Bisa jadi karena kita melakukan suatu hal yang tidak bijak dan terperosok dalam kesulitan, atau karena terjadi sesuatu yang di luar kendali yang membuat kita menderita. Bagaimana dengan adanya gagasan tentang memilih untuk menderita? Andai diberi cukup waktu untuk berpikir, akankah saudara, memilih untuk menderita? Di balik rangkaian pelajaran ini terdapat fakta yang membuat takjub, bahwa Allah kita memilih untuk sangat menderita. Mengapa Ia melakukan hal itu? Mari mulaikan pelajaran dan lihat apa yang bisa kita pelajari tentang keputusan mencengangkan ini. Dan lihat betapa hal tersebut seharusnya membentuk sikap kita terhadap penderitaan dan terhadap Allah kita!

  1. Keadilan Allah

    1. Tempatkan diri saudara pada posisi Allah saat harus mengatasi masalah dosa. Sebagaimana yang kita pelajari pekan lalu, manusia telah menyangkal dan menolak untuk percaya kepada Allah karena rasa ingin untuk menjadi serupa dengan Allah. (Kejadian 3:1-6) Sepertinya manusia menganggap wajar untuk berkompetisi dengan Allah. Andai saudara Allah, bagaimana caranya saudara membawa manusia kembali pulang kepada saudara?

      1. Apakah saudara memang akan melakukannya?

      2. Hal-hal apa yang akan saudara jadikan bahan pertimbangan?

    2. Baca Kejadian 3:2-3. Di luar dari fakta bahwa Allah akan menghukum orang berdosa, apakah pernyataan ini benar? (Kita semua tahu pernyataan tersebut benar adanya. Kita bisa lihat di dunia ini bahwa dosa membuahkan maut. Semua jenis keputusan yang menuntun kepada maut berasal dari dosa.)

    3. Bagaimanakah pernyataan saudara (ingat, dalam diskusi ini saudara sementara berada pada posisi Allah) mengenai dosa membawa maut membendung solusi yang akan saudara ambil terhadap dosa? (Ini merupakan hal yang sangat menentukan. Kata Setan dosa tidak membawa kematian, saudara memberi tahu Adam dan Hawa hal yang sebaliknya. Setan secara khusus menantang saudara dalam perkara ini.)

      1. Jika pernyataan ini menghalangi saudara (Allah), mengapa saudara mengutarakannya? (Karena itulah yang sebenarnya. Yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana sampai dosa itu membawa maut? Apakah sebagai konsekuensi alamiah? Ataukah sebagai eksekusi atas hukuman yang Allah jatuhkan? Ataukah keduanya?)

    4. Kembali kepada peran kita sebagai manusia. Ingat upacara korban di kaabah (Imamat 1:4-5)? Apa maksud dari semua ini? (Bahwa dosa membawa maut – dalam hal ini binatang harus mati bagi dosa-dosa kita. Ini bukanlah Òkonsekuensi alamiah,Ó ini merupakan eksekusi. Upacara ini akan menuntun manusia untuk menyimpulkan bahwa dosa menuntun kepada eksekusi.)

    5. Perkataan dan perbuatan Allah secara alamiah akan menuntun kita untuk percaya bahwa dosa membawa maut lewat eksekusi. Artinya, ganjaran dosa adalah hukuman mati. Baca Roma 3:21-26. Ayat ini memberi kita satu alasan mengapa Yesus (dan BapaNya) sengaja memutuskan bahwa Yesus harus mengalami derita hebat. Apakah alasan yang dimaksud? (Keadilan.)

      1. Keadilan yang seperti apa? (Roma 3:25 mengatakan bahwa dosa menuntut penghukuman. Ini merupakan kesimpulan yang sama yang kita tarik dari perkataan dan perbuatan Allah sampai pada saat itu. Penghukuman atas dosa itu adil.)

        1. Jika Allah dapat menunda penghukuman atas dosa, mengapa tidak Ia lupakan saja hal itu? Mengapa Ia tidak bisa mengubah aturanNya agar dosa tidak perlu lagi mendapatkan hukuman setiap saat?

        2. Pernahkah sebelum ini saudara melihat adanya keadilan seperti yang digambarkan dalam Roma 3? (Hal ini mencengangkan. Allah mati bagi dosa untuk menunjukkan cap ÒkeadilanÓ-Nya. Ini bukanlah keadilan yang biasa saya temukan dalam dunia ini.)

      2. Bagaimana mungkin Roma 3:25 mengatakan bahwa Allah belum pernah sebelumnya menghukum dosa? Bagaimana dengan semua binatang yang mati? (Allah tidak bercanda saat berbicara dengan Adam dan Hawa di Taman Eden. Dosa membawa maut. Bukannya kematian binatang, tapi kematian kita. Korban binatang tidak memberi ÒpengampunanÓ kepada dosa-dosa yang dibuat manusia. Korban tersebut tidak memenuhi hukum namun semata menunjuk kepada hukuman di masa datang yang akan dibayar oleh kematian Yesus.)

      3. Bagaimana caranya Yesus memenuhi tuntutan hukum atas dosa? Itu bukanlah dosaNya. Mengapa Ia menjadi solusi yang lebih baik daripada menewaskan sekumpulan hewan? (Saya selalu disulitkan oleh logika ini, namun inilah penjelasan terbaik saya. Adam dan Hawa itu sempurna sampai mereka berdosa. Oleh dosa mereka kita semua menjadi orang berdosa (Roma 5:12-14) tak soal apakah kita benar berbuat dosa atau tidak. Allah bisa saja menjalankan penghukuman (keadilan) atas Adam dan Hawa saat mereka melakukan dosa. (Dengan demikian kita semua terhindar dari dosa mereka.) Atau, Allah bisa saja membiarkan hasil alamiah dosa itu terjadi. Saat Yesus datang ke dunia, Ia datang sebagaimana dulu Adam dan Hawa datang, yakni: sempurna. Ia menghidupkan kehidupan yang suci dan Dia mati sebagai pengganti Adam dan Hawa (Roma 5:15-17. Hasilnya adalah kehidupan bagi kita semua.)

        1. Apakah cukup kalau manusia lain yang melakukan hal ini? (Manusia lain, setelah Adam, bisa saja sudah terinfeksi dengan dosa Adam. Yesus adalah Pencipta kita (Yohanes 1:1-3), secara logika sang Pencipta bisa mati menggantikan ciptaanNya.)

          1. Coba lihat dari sudut pandang yang berbeda. Apakah gagasan tentang membayar tebusan kepada penculik cukup masuk akal? (The Bible Knowledge Commentary menyebutkan bahwa kata Gerika untuk ÒpenebusanÓ berasal dari akar kata Gerika untuk Òpembayaran uang tebusan.Ó)

    6. Saat memandang sisi ÒkeadilanÓ dari penderitaan Yesus, saya terkesan sekali dengan betapa sungguh-sungguhnya Allah memandang dosa. Dosa membawa maut, dan orang berdosa pantas dihukum. Orang Kristen yang meremehkan dosa-dosa dalam hidup mereka sesungguhnya telah kehilangan makna dari penderitaan Yesus.

    7. Coba ringkaskan apa yang telah kita pelajari. Allah memberitahu manusia sejak awal mulanya bahwa hukuman atas dosa adalah maut. Namun mereka melakukan dosa dan menceburkan kita semua ke dalam dosa. Allah mengilustrasikan kaitan antara dosa dan maut lewat upacara kaabah – namun Ia tidak menghukum dosa ketika itu. Akhirnya, Allah menderita dan mati untuk membayar hukuman dosa kita. Sebagaimana halnya Hawa menceburkan kita ke dalam maut, demikian juga Yesus menceburkan kita kembali ke dalam kehidupan! Kita lihat di sini alasan ÒlegalÓ mengapa Allah mati. Yang kita tidak bisa lihat adalah mengapa Ia secara sukarela menyerahkan diri untuk menderita amat sangat. Kita akan lihat hal itu berikut ini.

  2. Kasih Allah

    1. Baca Roma 5:6-8. Alasan lain apa yang memotivasi Allah untuk menderita amat sangat ganti kita? (KasihNya!)

      1. Mengapa Paulus menekankan fakta bahwa Allah mati bagi kita Òketika kita masih berdosa?Ó (Dulu kita bukanlah sahabat Allah. Kita merupakan musuh karena dosa-dosa kita. Kita memberontak terhadapNya! Sungguh merupakan kasih yang luar biasa dan tak terperikan!)
        .
    2. Tekanan apa yang saudara lihat antara keadilan Allah dan kasihNya? (The Bible Knowledge Commentary mengomentari Roma 3:25-26 dengan menyebutkan ÒDilema yang Allah hadapi adalah bagaimana memenuhi kebenaranNya serta tuntutannya terhadap orang berdosa dan pada saat yang sama bagaimana menunjukkan anugerah, kasih dan kemurahan hatiNya dalam memulihkan ciptaan yang suka memberontak dan memisahkan diri ini agar kembali kepadaNya.Ó)

      1. Andai seorang polisi menghentikan kendaraan saudara karena saudara ngebut, bagaimana reaksi saudara?

      2. Andai saudara diseret ke hadapan pengadilan karena perbuatan saudara, bagaimana reaksi saudara?

      3. Andai seseorang melakukan tugas yang sulit untuk saudara (secara gratis), bagaimana reaksi saudara?

      4. Andai sesorang berkorban sangat banyak untuk saudara, bagaimana reaksi saudara?

        1. Satukan jawaban dari empat pertanyaan ini maka saudara akan bisa melihat bagaimana pemikiran Allah tentang kita (para pemberontak) dan bagaimana memecahkan masalah dosa kita.

  3. Hidup yang Penuh Ujian

    1. Sebagaimana yang telah kita lihat, Yesus menderita bagi kita karena keadilanNya dan kasihNya. Sejauh mana hal ini menjelaskan hakekat penderitaan kita?

      1. Coba kita adakan pemilahan. Berapa banyak dari penderitaan kita itu demi keadilan? Berapa banyak yang terjadi karena kesalahan yang kita buat?

        1. Berapa banyak dari penderitaan kita terjadi karena kesalahan orang lain?

      2. Berapa banyak dari penderitaan kita terjadi karena kasih kita kepada orang lain?

    2. Apakah Yesus merupakan contoh atas setiap situasi ini? (Ia telah berjalan menembusi api dalam setiap jenis penderitaan.)

    3. Sobat, ada banyak pelajaran yang bisa kita tarik dari apa yang Yesus telah lakukan bagi kita. Salah satunya adalah menyenai seriusnya dosa. Hal lainnya adalah: Jika engkau ingin mempersempit penderitaanmu, hindarkanlah dosa. Pelajaran lain adalah bahwa apabila engkau menderita karena turut Yesus, bersukacitalah! Pelajaran terakhir adalah tentang kasih Yesus yang mencengangkan, luar biasa, tak terperikan besarnya bagi kita! Maukah hari ini engkau memutuskan untuk mengikutiNya?

  4. Pekan depan: Kita akan mulaikan seri pelajaran baru tentang Pemuridan.