<-- API TUKANG PEMURNI LOGAM

Mati Seperti Biji Benih
(Filipi 2, 1 Samuel 13-14)

Api Tukang Pemurni Logam: Pelajaran 12

 

Copr. 2007, Bruce N. Cameron, diterjemahkan oleh Debbie Jacobs. Semua referensi Alkitab dikutip dari Alkitab Terjemahan Baru ©1974 Lembaga Alkitab Indonesia, kecuali disebutkan lain. Saran jawaban terdapat di dalam tanda kurung. Pengajar diasumsikan menggunakan papan tulis atau alat peraga lainnya dalam membawakan pelajaran. Pelajaran ini dapat dilihat di http://www.GoBible.Org/indonesian.

Pendahuluan: Negara Bagian Virginia mengiklankan diri dengan slogan “Virgina is for lovers” [Virginia, negeri para pecinta]. Ungkapan ini bisa jadi benar adanya. Namun, saya ingin menambahan “Virginia, negeri para pemikir.” Mengapa? Bertahun-tahun yang lalu banyak negara bagian di Amerika Serikat memutuskan untuk mengijinkan penduduknya menentukan apa yang akan tertera pada pelat nomor mobilnya. California memutuskan untuk menarik ongkos ratusan dólar untuk pelat nomor khusus. Berbeda dengan Virginia yang mengijinkan siapa saja memperoleh pelat nomor khusus dengan biaya $20.00. Alhasil, Virginia memperoleh pendapatan yang sangat besar dari keputusan ini (lebih besar dari California, sekalipun penduduk California jumlahnya lebih banyak.) Ratusan ribu kendaraan yang terdaftar di Virginia menggunakan pelat nomor khusus. Andai saudara tinggal di Virginia, nomor apa yang akan saudara gunakan? Kelihatannya salah satu putusan yang banyak diambil adalah menggunakan inisial nama dan angka 1. Contohnya, “BNC 1.” Banyak orang yang mengira dirinya nomor 1. Pelajaran kita pekan ini menganjurkan pelat nomor khusus yang berbeda: “BNC bontot.” Belum pernah saya lihat pelat nomor seperti ini. Mari selami pelajaran kita dan lihat apa yang sedang berlangsung!

  1. Apa yang Yesus akan Lakukan?

    1. Baca Filipi 2:5. Kita kerap membaca slogan yang terkenal, “What would Jesus do.” [Apa yang Yesus akan lakukan]. Sepertinya ayat ini merupakan salah satu variasi-nya: “Apa yang Yesus akan pikirkan?” Begitukah pemahaman saudara akan ayat ini?

      1. Begitu mengetahui apa yang Yesus akan pikirkan, sikap apa yang akan Dia ambil, apa yang dituntut dari kita? (Alkitab mengatakan sikap kita haruslah serupa dengan sikap Yesus.)

    2. Baca Filipi 2:6-7. Ayat yang baru saja kita baca mengatakan bahwa Yesus, yang “walaupun dalam rupa Allah,” telah memutuskan untuk “mengosongkan diri-Nya sendiri,” menjadi sama seperti kita. Bisakah sikap seperti itu diwujudkan dalam kehidupan kita?

      1. Haruskah kita menjadi seperti anjing atau kucing (atau kutu) untuk mewujudkan konsep tersebut ke dalam kehidupan kita?

      2. Ataukah perbandingan yang lebih mengena: bukankah kita tidak boleh “mencapai” “kesetaraan dengan Allah?”

        1. Baca Kejadian 3:1-5. Menurut saudara berapa lama Setan merenung-renungkan godaan yang dia lemparkan kepada manusia?

          1. Godaan apa? (Menjadi seperti Allah! Tidak ada alasan bagi kita untuk meyakini bahwa kita seharusnya setara dengan Allah. Namun sepertinya inilah kelemahan terbesar dalam diri manusia. Dalam masalah ini kita seharusnya memiliki sikap yang sama seperti Yesus.)

          2. Berapa sukarkah hal tersebut? Yesus itu Allah! Kita bukan.

    3. Baca Filipi 2:8. Segera setelah Yesus menjadi manusia, apakah Ia merendahkan diri lebih dari yang seharusnya? (Ia merendahkan diri sampai kepada titik di mana Ia mati bagi orang lain.)

      1. Apakah sekarang ada titik acuan yang dapat kita ikuti? (Jelas posisi kita “rendah” jika dibandingkan dengan Allah. Namun, kita dapat lakukan hal yang persis sama dengan yang Yesus lakukan saat Ia menjadi manusia.)

      2. Menurut saudara apa artinya mati bagi orang lain? Teroris mati demi kelompoknya. Apakah konsepnya sama? (Tidak demikian. Teroris mati untuk membunuh orang lain. Orang Kristen menyerahkan hidupnya agar orang lain memperoleh hidup kekal.)

      3. Mari kita beranjak ke kisah lain dalam Alkitab untuk melihat bagaimana, dalam praktek, prinsip ini seharusnya diaplikasikan dalam hidup kita.

  2. Apa yang Seharusnya Saul Lakukan?

    1. Baca 1 Samuel 13:1-4. Apa latar belakang kisah ini? (Tampaknya Raja Saul telah memulangkan sebagian besar pasukannya. Namun, anaknya Yonatan meneruskan operasi militernya melawan orang Filistin. Orang Filistin kesal dan memutuskan untuk membereskan masalah ini. Saul lalu memanggil pasukannya dan kedua bangsa ini siaga untuk berperang sekuat tenaga.)

    2. Baca 1 Samuel 13:5-7. Bagaimanakah rata-rata tentara Israel mengukur kemampuan mereka? (Orang Israel tidak memiliki peluang. Mereka pun lari atau bersembunyi.)

      1. Andai saudara Raja Saul, apa yang akan saudara lakukan? Apa yang saudara rencanakan?

    3. Baca 1 Samuel 13:8-9, 12. Bayangkan diri saudara sebagai “penasehat hukum” Saul. Argumen apa yang akan saudara lontarkan atas nama Saul? (Saya tepat waktu dan dalam situasi krisis. Samuel terlambat. Ia tidak menepati janjinya kepada saya atau kepada negeri ini. Allah adalah pusat kehidupan saya. Saya tidak mau pergi berperang tanpa mencari perkenanan Allah. Saya menghadapi situasi kritis, pasukan saya melakukan desersi. Seseorang perlu mengambil langkah perbaikan karena Samuel gagal melaksanakan pekerjaannya – yakni memohonkan berkat dari Allah. Allah telah mengangkat saya jadi Raja, karenanya saya harus memimpin.)

      1. Apa pendapat saudara mengenai argumen ini? Apakah yang Saul lakukan ini sama dengan apa yang akan saudara lakukan?

      2. Berdasarkan pelajaran kita minggu lalu, apa yang salah dengan sikap Saul ini? (Ia tidak menantikan Allah!)

    4. Terkait argumen penasihat hukum, biasanya ada lebih dari satu argumen – yang saling bertentangan. Coba lihat sisi lain dari argumen ini. Baca 1 Samuel 10:8. Apa yang akan dilontarkan oleh penasihat hukum Samuel? (Samuel tidaklah terlambat. Saul telah diberitahu untuk menunggu “tujuh hari lamanya sampai waktu yang ditentukan Samuel.” Hari ketujuh belumlah berakhir dan Samuel belumlah datang.)

    5. Penjelasan Alkitab, Critical and Explanatory of the Old and New Testaments mengemukakan bahwa Samuel sengaja menunggu hingga hari ketujuh baru ia datang untuk “menguji karakter hukum sang raja.” Apa artinya penjelasan ini menurut saudara? (Yang disebutkan dalam buku ini mengenai “karakter hukum,” adalah gagasan mengenai pemisahan antara gereja dan Negara. Saul (wakil negara) melanggar wilayah Samuel (nabi Allah). Gantinya menantikan Allah, gantinya menunggu nabi Allah, Saul membereskan masalah ini dengan tangannya sendiri.)

      1. Apa kaitan peristiwa ini dengan godaan yang Hawa terima dan tema pelajaran kita tentang pengorbanan diri? (Hawa ingin “mengangkangi” sebagian dari “tempat” Allah – seperti halnya Raja Saul. Ia mengira dirinya dapat menjadi Raja juga Nabi. Apabila kita berkeinginan untuk mengutamakan diri kita sendiri, kita mengangkangi sebagian dari tempat Allah.)

      2. Sebentar! Bukankah di awal tadi kita mengatakan bahwa kita harus menjadi serupa dengan Yesus? Mengapa ribut soal berdesak-desakan dengan Allah? Mengangkangi tempatNya? Bukankah kita mestinya berlaku seolah-olah sedang diam di tempat Allah! Benar, bukan?

    6. Tengok lagi 1 Samuel 10:8. Apa yang akan Samuel lakukan bagi Saul? (Memberitahu apa yang Saul perlu lakukan.)

      1. Apakah Samuel melanggar batas wilayah gereja dan negara dan menerobos lahan Saul? (Apa yang disebut sebagai pemisahan gereja dan negara bukanlah konsep Alkitabiah sebagaimana yang umumnya ditetapkan di Amerika Serikat sekarang ini. Dalam contoh yang Alkitab berikan, ini berarti negara tidak boleh menginjak gereja. Sangat pas dengan gagasan bahwa manusia tidak boleh menganggap diri sebagai Allah. Israel dipimpin oleh Allah. Saul tidak boleh bergerak maju tanpa adanya perintah dari Allah.)

      2. Sanggupkah saudara menerapkan perintah ini dalam hidup saudara? Segalanya berantakan dan Allah mau saudara menantikanNya? Apakah saudara bersimpati terhadap Saul?

    7. Baca 1 Samuel 13:13-15. Apa kesalahan Saul? (Kita diminta untuk memiliki sikap seperti Yesus – menyerahkan diri kita untuk orang lain – sikap ini bukan berarti bahwa kita punya hak untuk tidak taat kepada Allah dengan mengambil keputusan yang bertentangan dengan kehendakNya. Apabila kita berbuat demikian, kita melanggar wilayah Allah dan menjadikan diri kita “nomor 1.”)

      1. Apa akibat dari kesalahan Saul? (Kita tidak bisa melakukan perkara-perkara besar bagi Allah jika kita tidak turut perintah.)

  3. Apa yang Yonatan Lakukan?

    1. Ini gambarannya: Orang Filistin memiliki 3,000 kereta kuda, masing-masing dikendarai dua tentara. Ada pasukan berjalan kaki “sebanyak pasir di tepi laut.” (1 Samuel 13:5). Saul, setelah sebagian besar tentaranya melarikan diri atau bersembunyi, memiliki 600 orang yang tersisa. (1 Samuel 13:15) Lebih buruk lagi, tak seorangpun kecuali Saul dan anaknya, Yonatan, memiliki senjata yang terbuat dari besi. (Lihat 1 Samuel 13:19-22). Saul baru saja dimarahi dan dipecat. Sungguh kacau! Apa yang akan saudara lakukan andai saudara orang Israel?

      1. Apa yang akan saudara lakukan andai saudara putra Raja?

    2. Coba lihat apa yang Yonatan lakukan. Baca 1 Samuel 14:1-6. Bagaimana perbandingan sikap Yonatan ini dengan sikap Saul?

      1. Yonatan baru saja mengusulkan kepada pembawa senjatanya agar mereka berdua mendaki tebing menuju pos terdepan orang Filistin dengan kemungkinan bahwa mereka bisa menyerang pasukan Filistin. Hanya mereka berdua saja. Apa yang akan saudara katakan andai saudara adalah pembawa senjata Yonatan? (Baca 1 Samuel 14:7. Apakah saudara akan mengatakan bahwa dua orang ini sudah gila? Atau dua orang yang sarat iman?)

    3. Baca 1 Samuel 14:8-10. Coba kita analisa situasi ini sejenak. Apakah Yonatan duduk saja di atas batu menanti takdir? (Tidak.)

      1. Bagaimana Yonatan menempuh jalan menuju tujuan yang sama yang ayahnya, Saul, tempuh dengan cara yang sangat buruk? (Yonatan mencetuskan rencana tindakan yang bergantung sepenuhnya pada perkenanan Allah.)

    4. Baca 1 Samuel 14:11-12. Apakah Allah telah memberikan persetujuanNya? Apakah Yonatan sedang menguji Allah! Tidakkah ia memaksakan agar Allah turun tangan saat ia memutuskan untuk menjalankan ujian ini? (Mereka menghadapi masalah mendesak. Mereka perlu solusi segera. Jika Allah akan bertindak untuk mereka, Ia harus segera melakukannya. Menurut saya apa yang Yonatan usulkan pada dasarnya bergantung pada kehendak Allah. Yonatan tidak sedang melanggar batas wilayah Allah.)

    5. Baca 1 Samuel 14:13-15, 20. Bandingkan bagaimana Hawa, Saul dan Yonatan menyikapi tugas mereka. Bagaimana perbandingan ini cocok dengan gagasan tentang mati bagi orang lain? (Baik Hawa maupun Saul memutuskan untuk mengambil apa yang menjadi milik Allah. Hasilnya mengerikan. Yonatan bergantung sepenuhnya kepada Allah untuk melakukan perkara-perkara besar – dan hasilnya dahsyat.)

    6. Sobat, maukah engkau mengikuti teladan Yesus dengan mendahulukan penurutan kepada Allah? Artinya saudara bersedia dikorbankan. Yonatan tidak pernah menjadi raja. Gantinya, ia mati dalam pertempuran bersama ayahnya, Saul. (1 Samuel 31:1-2.) Yonatan menyerahkan hidupnya di bumi ini guna memenuhi rencana Allah untuk menjadikan Daud sebagai Raja.

  4. Pekan depan:  Kristus dalam Ujian Berat