<-- API TUKANG PEMURNI LOGAM

Menanti dalam Ujian Berat
(Markus 5)

Api Tukang Pemurni Logam: Pelajaran 11

 

Copr. 2007, Bruce N. Cameron, diterjemahkan oleh Debbie Jacobs. Semua referensi Alkitab dikutip dari Alkitab Terjemahan Baru ©1974 Lembaga Alkitab Indonesia, kecuali disebutkan lain. Saran jawaban terdapat di dalam tanda kurung. Pengajar diasumsikan menggunakan papan tulis atau alat peraga lainnya dalam membawakan pelajaran. Pelajaran ini dapat dilihat di http://www.GoBible.Org/indonesian.

Kebanyakan pengacara menangani kasus di kota atau negara bagian yang mereka sukai. Tidak seperti banyak pengacara lainnya, kasus yang saya tangani kerap kali jarak terdekatnya beratus-ratus kilometer jauhnya bahkan banyak yang berjarak ribuan kilometer. Ini berarti harus melakukan perjalanan. Suatu hari seorang pengacara yang bekerja dengan saya mengumumkan bahwa ia “tidak akan lagi berdiri dalam antrian.” Bagaimana bisa. Saya senantiasa antri. Melewati sekuriti airport, naik pesawat, memesan mobil sewaan atau taxi, mendaftar di hotel: semuanya harus melalui antrian. Dan sementara saya dengan sabar (atau tidak sabar) berdiri dalam antrian, kata-kata sobat saya ini terngiang-ngiang. Ia menggambarkan dunia yang, berdasarkan pengalaman saya, tidak ada. Jika hendak menuju ke suatu tempat, saudara perlu mengantri. Pelajaran kita pekan ini mengemukakan bahwa ini merupakan prinsip Alkitabiah – menanti dengan sabar menolong kita untuk tiba di suatu tempat. Mari selami pelajaran kita dan pelajari lebih banyak mengenai apa yang Alkitab ajarkan kepada kita tentang mengapa menanti itu baik!

  1. Yairus dan Penantiannya

    1. Baca Markus 5:21-23. Misalkan saudara adalah “broker” dari Yesus, “agen penjualan”-Nya untuk membantu mengabarkan injil. Peluang apa yang saudara temukan di sini? (Ini merupakan peluang untuk membantu seseorang yang punya pengaruh besar di kota tersebut. Tentunya injil akan mudah dikabarkan disana. Saya akan bilang pada Yesus “Ayo!”)

    2. Baca Markus 5:24. Apakah Yesus menuruti saran saudara? (Yesus memutuskan untuk menolong Yairus.)

    3. Baca Markus 5:25-26. Dibanding Yairus, bagaimana posisi perempuan ini di masyarakat? (Ia miskin, ia sakit, ia “najis” (karena pendarahan terus menerus) dan ia perempuan.)

    4. Baca Markus 5:27-28. Mengapa perempuan ini memutuskan untuk mengambil langkah ini? Mengapa tidak mengatakan pada Yesus, “Sudah bertahun-tahun lamanya saya sakit, tidak punya uang, dan para dokter tidak bisa menyembuhkan – saya benar-benar membutuhkan pertolonganmu!” (Kita bisa yakini bahwa ia memiliki iman. Tidak jelas apakah ia terlalu malu untuk mengutarakan masalahnya ditengah kerumunan orang banyak ataukah ia pikir Yesus akan menampiknya karena status sosialnya yang rendah dan kenajisannya, ataukah ia tidak ingin “menyita” waktu Yesus.)

      1. Baca Imamat 15:19-23. Menurut saudara apa pengaruh peraturan ini terhadap pemikirannya untuk mengindap-indap dan menjamah Yesus! (Tak pelak lagi ia akan menjadikanNya “najis” hanya dengan sentuhannya! Ia mungkin tak kan suka! UrusanNya akan ternggangu.)

        1. Apakah ada yang diajarkan di sini mengenai datang menghampiri Yesus?

    5. Baca Markus 5:29-33. Bagaimanakah reaksi perempuan ini terhadap kesembuhannya dan terhadap pertanyaan Yesus?

      1. Apakah ia merasa bersalah?

      2. Bagaimana reaksi murid-murid ketika Yesus berhenti dan mencari tahu siapa yang telah menjamahNya?

      3. Dan yang paling penting, bagaimana reaksi saudara terhadap penundaan ini andai saudara adalah Yairus?

    6. Baca Markus 5:34. Saya yakin seluruh rangkaian peristiwa ini cukup menyita waktu. Tempatkan diri saudara pada posisi Yairus. Perempuan ini sudah 12 tahun lamanya sakit dan belum juga mati. Bagi anak perempuannya, hitungan detik sangat penting. Mengapa Yesus berhenti untuk berleha-leha dengan perempuan ini di saat suatu keadaan yang benar-benar darurat harus Ia tangani? Perempuan ini bisa menunggu. Tidak demikian dengan anak perempuannya.

      1. Bagaimana saudara menghadapi penundaan dan penantian ini?

    7. Baca Markus 5:35. Hal yang terburuk pun terjadi sudah. Penantian tersebut telah menimbulkan tragedi terburuk. Yesus benar-benar tidak bisa menentukan prioritas, bukan?

    8. Baca Markus 5:36-42. Bagaimana kini pandangan Yairus terhadap penundaan dan penantian tersebut?

      1. Misalkan Yesus menghabiskan waktu dua jam atau dua hari dengan perempuan yang telah 12 tahun lamanya sakit, apakah penundaan seperti itu jadi masalah SEKARANG bagi Yairus?

    9. Baca Mazmur 27:14. Bandingkan dengan Markus 5:36. Apakah pekabaran dari Allah kepada kita tentang menunggu itu konsisten?

    10. Apakah saudara sedang menanti-nantikan Allah sekarang ini? Apakah saudara sedang menantikanNya untuk membenahi suatu masalah? Apakah saudara sedang menantikanNya untuk menyembuhkan suatu penyakit? Apakah saudara sedang menantikanNya untuk memperbaiki suatu hubungan? Apakah saudara sendang menantikanNya untuk kembali?

      1. Jika ya, atas dasar logis apa kita dapat menyambut perintah Allah untuk bersikap kuat dan yakin, tidak gentar dan bingung? (Dalam kasus Yairus ini, “peristiwa iman” adalah saat putrinya bangkit hidup kembali. Bayangkan “garis waktu” di mana titik tengahnya adalah “peristiwa iman.” Saat Yairus berada di sisi kanan “peristiwa iman” (yakni setelah mujizat terjadi) penundaan yang terjadi di sisi kanan (sebelum peristiwa itu) kini tak berarti lagi. Sebagai orang Kristen yang beriman, kita perlu hidup seolah-olah sedang berada di “sisi kanan” dari peristiwa iman. Apakah peristiwa iman tersebut adalah Kedatangan Yesus Kali Kedua atau peristiwa lain sebelumnya, kini kita tahu bahwa pada akhirnya penantian tersebut sama sekali tidak jadi soal.)

  2. Pengaturan Waktu Peristiwa Iman

    1. Baca Galatia 4:4-5. Ayat ini mengemukakan bahwa Allah merencanakan waktu yang spesifik untuk kedatangan Yesus kali pertama. Apa yang terkandung di sini mengenai pengaturan waktu Kedatangan Yesus Kali Kedua?

    2. Apabila saudara merenungkan kisah Yairus, apakah Yesus yang menentukan waktu terjadinya peristiwa iman, ataukah peristiwa-peristiwa yang terjadi hari itu yang mengatur penentuan waktu yang Yesus ambil?

      1. Misalkan jawaban saudara adalah, “Peristiwa-peristiwa tersebut menentukan pengaturan waktu Yesus. Kita hidup di dunia yang penuh dosa. Karenanya pekerjaan Allah harus mempertimbangkan juga akibat dari dosa.” Penundaan yang terjadi dalam kasus Yairus berkaitan dengan bertemunya Yesus secara fisik dengan anak perempuan tersebut. Penundaan terjadi karena ada dua kebutuhan yang bertemu dalam ruangan yang sama.  Perlukah Yesus “memegang tangan [anak perempuan Yairus” (Markus 5:41) untuk menyembuhkannya? (Dalam Matius 8:5-13 ada cerita penyembuhan hamba seorang perwira. Yesus melakukan penyembuhan tersebut dari jarak jauh. Yesus memiliki kuasa untuk menyembuhkan anak Yairus sejak dari saat Yairus memohon bantuanNya. Yesus tidak tentunda karena adanya kejadian-kejadian lain.)

      2. Andai saya benar, bahwa Yesus memiliki kendali penuh atas pengaturan waktu dari peristiwa iman, mengapa Ia berlambatan? Mengapa Ia berlambatan membenahi masalah saudara? (Membaca pikiran Allah bukanlah ilmu pasti dan manusia tidak diperlengkapi untuk melakukan tugas semacam itu. Namun, wawasan tentang pemikiran Allah bisa kita peroleh dari Alkitab. Yesus tidak mengendalikan saat perempuan yang sakit itu datang kepadaNya. Penundaan tersebut memberi kesempatan kepada Yesus untuk melakukan yang terbaik bagi dua orang yang sakit. Penundaan tersebut juga memperbesar pekerjaan Yesus. Membangkitkan seseorang merupakan peristiwa luar biasa yang memberi kita iman bahwa Yesus dapat membangkitkan kita. Akhirnya, penundaan tersebut mengajar kita akan nilai dari menanti dalam iman.)

  3. Kesenangan dalam Penantian

    1. Baca Mazmur 37:1-2. Ayat ini menceritakan mengenai ketidak-beresan. Orang-orang jahat menimbulkan masalah. Allah mengatakan kita jangan apa? (Jangan marah, jangan gusar. Gusar artinya risau. Risau adalah kuatir bahwa segala sesuatu akan memburuk. Masih saudara sepupu dengan ketidak-sabaran terhadap penundaan.)

    2. Baca Mazmur 37:3-4. Andai selama berlangsungnya peristiwa penundaan tersebut Yairus sudah tahu akhir ceritanya, akankah ia menunjukkan ketidak-sabaran, gusar atau risau?

      1. Ayat ini menyingkapkan ujung peristiwa yang akan saudara hadapi. Apakah itu? (Tuhan akan memberikan apa yang saudara damba-dambakan!)

    3. Sobat, janganlah menggertakkan gigi apabila Allah tidak datang mengintervensi dan memperbaiki masalah menurut jadwal yang saudara susun. Jangan risau dan gusar terhadap kejahatan yang terjadi. Jangan kecewa kalau Allah sepertinya melakukan hal yang salah, atau kehilangan prioritas. Hiduplah di sisi kanan dari peristiwa iman, karena engkau tau bahwa Yesus “akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu.” Maukah hari ini engkau berikrar untuk membuang rasa kuatirmu?

  4. Pekan depan: Mati seperti Biji Benih