Kelemah-lembutan
dalam Pengujian
(Matius 5, Mazmur 37, Roma 12)
Api
Tukang Pemurni Logam: Pelajaran 10
Copr.
2007, Bruce N. Cameron, diterjemahkan oleh Debbie Jacobs. Semua referensi
Alkitab dikutip dari Alkitab Terjemahan Baru ©1974 Lembaga Alkitab Indonesia,
kecuali disebutkan lain. Saran jawaban terdapat di dalam tanda kurung. Pengajar
diasumsikan menggunakan papan tulis atau alat peraga lainnya dalam membawakan
pelajaran. Pelajaran ini dapat dilihat di http://www.GoBible.Org/indonesian.
Pendahuluan:
Masih ingatkah saudara saat masa pacaran dahulu kala? Saudara percaya betul apa
yang diutarakan oleh sang pacar tentang saudara. Terkadang saudara senang
mendengarnya, terkadang tidak. Saya ingat saat berpacaran dengan sang calon
istri berpuluh-puluh tahun yang lalu, ia menyanyikan lagu “My Guy” [Lelakiku]
untuk saya. Liriknya yang menarik perhatian saya adalah sebagai berikut “Tak
satupun lelaki kekar yang sanggup merenggut aku dari lelakiku. Paras rupawan tak
kan sanggup menggantikan tempat lelakiku. Ia memang bukan bintang film, namun
kami bahagia. Tak satupun lelaki lain yang dapat merebut diriku dari lelakiku.”
Bisa dibilang bahwa sebenarnya pesan yang terkandung dalam lirik lagu ini
campur aduk. Ini mengingatkan saya akan pelajaran kita pekan ini. Konon, kalau
orang menyebut kita “lemah-lembut,” maka itu artinya pujian. Lemah lembut
dijadikan sebagai tujuan, namun nilai yang terkandung dalamnya tidak jelas.
Oleh karena itu mari kita mulaikan pelajaran kita dan relajar lebih banyak lagi!
- Apakah
Lemah-lembut itu?
- Baca
Matius 5:5. Apakah kalimat ini yang saudara harapkan? Melihat pengalaman
saudara apakah akan lebih cocok andai Alkitab mengatakan “Berbahagialah
orang yang [sangat cerdas], [sangat perkasa], [sangat kaya dan meyakinkan]:
karena mereka akan memiliki bumi?”
- Andai
bukan kalimat itu yang saudara harapkan (atau dapati), mengapa sampai
orang yang lemah-lembut itu memiliki bumi? Apakah karena Allah yang
sangat cerdas, sangat perkasa, sangat kaya dan meyakinkan datang
mengintervensi untuk dan atas nama orang-orang yang lemah-lembut
tersebut?
- Ataukah,
ini merupakan pedoman hidup di mana tidak perlu adanya intervensi dari
pihak yang cerdas dan kuat?
- Barangkali
kita perlu mempertimbangkan apa sebenarnya arti kata “lemah-lembut.” Barnes’
Notes menyebutkan bahwa lemah-lembut itu “bersabar saat mengalami
cedera.” Kita bisa sama-sama sepakat bahwa seseorang yang lemah-lembut
mengalami pernah mengalami “cedera” dalam berbagai bentuk namun tidak
menanggapinya dengan marah. Apakah nasib si lemah-lembut berujung seperti
itu: menderita diam-diam?
- Dengan
menjadi lemah-lembut apakah berarti kita melepaskan hak-hak kita? (Baca
Yohanes 18:23. Yesus mengajukan keberatan secara hukum. Ia menyatakan
hak-hakNya di mata hukum.
- Apakah
ini berarti Yesus tidak lemah-lembut?
- Perihal
kelembah-lembutan, Barnes’ Notes menambahkan: Maksudnya bukanlah
“melepaskan hak-hak kita, atau menunjukkan sikat pengecut; namun
sebagai lawan dari amarah, benci, dendam kesumat.” Apakah saudara
setuju?
- Apakah
“lemah-lembut” jika saudara menggugat seseorang di pengadilan, namun
tidak meninju orang yang berbuat salah terhadap saudara?
- Apakah
ada perbedaan antara kedua contoh di atas? (Bilamana saudara menuntuk
hak saudara di mata hukum, saudara meminta intervensi pihak ketiga.
Bilamana saudara meninju seseorang, saudara menangani sendiri perkara
tersebut. Jika pendapat Barnes benar adanya, maka memohonkan perkara
saudara di hadapan pihak ketiga itu masih sejalan dengan menjadi
lemah-lembut.)
- Orang
Lemah-lembut yang Berbahagia
- Tengok
lagi Matius 5:5. Apa artinya “berbahagia?” (Senang.)
- Andai
seseorang berbuat salah pada saudara dan saudara tetap sabar – tidak
balas meninjunya – bagaimana sampai hal itu membuat saudara senang?
- Baca
Mazmur 37:7-11. Dapat kita lihat bahwa Yesus tidak mengemukakan gagasan
baru. Ia mengutip Mazmur 37 manakala Ia mengatakan: “Berbahagialah orang
yang lemah-lembut: mereka akan mewarisi bumi.” Coba kita teliti lebih
saksama penjelasan yang lebih panjang dalam kitab Mazmur ini mengenai
upah bagi orang yang lemah-lembut.
- ulang
Mazmur 37:7. Apakah ayat ini menggambarkan sikap dari orang yang
lemah-lembut?
- Kepada
siapa orang yang lemah-lembut bergantung, memohon keadilan?
- Baca
ulang Mazmur 37:8. Ayat ini mengatakan agar kita berhenti marah – yang
menurut saya logikanya bisa kita pahami. Namun juga mengatakan jangan
panas hati karena hal seperti itu menuntun kepada kejahatan. Bagaimana
pemahaman saudara tentang pernyataan tersebut?
- Baca
ulang Mazmur 37:9-11. Apakah ayat-ayat ini merupakan solusi bagi masalah
pribadi saudara, atau merupakan solusi yang berlaku di seluruh dunia
bagi semua orang yang lemah-lembut? (Kedengarannya berlaku di seluruh
dunia, namun jika saudara baca Mazmur 37:14-15, sepertinya aturan
tersebut berlaku setidaknya untuk suatu masa, dan untuk problema yang
tertentu.)
- Dari
seluruh ayat-ayat ini, apakah saudara bisa menemukan landasan dari klaim
bahwa orang yang “lemah-lembut” akan berbahagia dan orang yang “suka
meninju” tidak akan berbahagia? Kalau saudara kesal dan marah, tak pelak
lagi saudara tidak bahagia. Di lain sisi, jika saudara percaya bahwa
Allah akan “melenyapkan” semua perusuh yang jahat, dan saudara (serta orang-orang
lemah-lembut lainnya) mendapatkan tanah perjanjian, maka saudara akan berbahagia
di masa yang akan datang.)
- Kuasa
dalam Kelemah-lembutan
- Baca
Roma 12:17-19. Di sini Paulus mengulangi gagasan yang sama. Ijinkan saya
mengulangi pertanyaan awal saya tadi: apakah orang yang lemah lembut itu
berbahagia dan berhasil karena menjadi lemah-lembut itu memang lebih
baik, ataukah karena Allah yang cerdas, perkasa dan berkuasa sementara
bersiaga untuk meluruskan segala sesuatu oleh kuasaNya?
- Di
manakah orang yang “lemah-lembut” berada tanpa Allah di sampingnya?
- Kita
lanjutkan dengan Roma 12 dan baca Roma 12:20-21. Ada gagasan baru dan
kontradiktif di sini: menjadi lemah-lembut dapat mengalahkan kejahatan.
- Perhatikan
penekanan dalam Roma 12:19 dan Roma 12:20-21. Yang satu mengatakan
“Bersabarlah, Allah yang akan mengalahkan mereka.” Yang lain mengatakan
“Jadilah lemah-lembut dan baik hati. Kebaikan akan mengalahkan mereka.”
Apakah kedua-duanya benar?
- Jika
ya, bagaimana bisa? (Contoh paling besar dari mengalahkan kejahatan
dengan kebaikan adalah hidup dan matinya Yesus sebagai ganti kita.
Namun, ada peristiwa Kedatangan Yesus kali Kedua di mana Ia datang
dengan “tinju terkepal.” Jawab atas dua hal yang kontradiktif ini
terletak pada pengaturan waktu dan pengaturan tugas. Pertama kali Allah
menghampiri kita dengan kebaikan dan kasih. Kita perlu melakukan hal
yang sama kepada orang-orang yang jahat. (Di sini pun Allah memiliki
tugas penting karena Roh Kudus lah yang “menumpukkan bara api.” Namun,
pada akhirnya ada juga “orang-orang jahat” di sekeliling kita yang akan
ditangani dengan “tangan keras”. Tugas tersebut, tugas untuk
menggunakan “tangan keras” untuk menyelesaikan masalah, bukanlah tugas
kita.)
- Penjelasan
tentang “Lemah-lembut” yang Sejati.
- Matius
5:43-48. Berapa banyak musuh saudara? Coba hitung.
- Berapa
banyak orang yang menganiaya saudara? (Kecuali bahwa ada yang salah
dengan kecerdasan emosi saudara, atau saudara tinggal di lingkungan yang
tidak biasa, jumlah orang yang betul-betul memusuhi dan yang menganiaya
saudara tentunya sangat sedikit.)
- Peluang
apa yang dibukakan oleh sedikit orang yang hadir dalam hidup saudara
untuk menganiaya saudara? (Saudara perlu menghargai orang-orang ini.
Mereka menghadirkan peluang bagi saudara untuk pertumbuhan karakter.
Mereka bisa mengajarkan hal-hal yang tidak dapat diajarkan oleh orang-orang
yang senantiasa baik hati terhadap saudara.)
- Saya
tidak yakin apakah bisa “mengasihi” musuh saya. Sepertinya tidak mungkin
di luar bantuan surgawi) jika “kasih” diartikan sebagai “sayang.” Lebih
lanjut lagi, saya tidak tahu apa yang didoakan manakala saya
diperintahkan untuk mendoakan mereka. “Mohon kalau mereka mematahkan
kaki saya, jangan banyak-banyak retaknya, supaya bisa sembuh kembali
seperti sedia kala.” Ada petunjuk mengenai apa yang Allah maksudkan
dalam contoh yang Allah berikan kepada kita. Perhatikan bahwa Matius 55
mengatakan Allah “menerbitkan matahari” dan “menjatuhkan hujan” bagi
orang yang tidak benar. Bagaimana bisa Ia tidak melakukan hal itu.”
- Dapatkah
kita mengartikan “mengasihi” musuh kita dengan berbuat sesuatu terhadap
mereka seperti yang kita perbuat kepada orang lain? Tidak menahan diri
untuk melakukan hal-hal baik untuk mereka? (Baca ulan Rma 12:20.
Setidaknya begitulah maksudnya.)
- Apa yang dianjurkan oleh Roma untuk menjadi doa kita bagi
musuh-musuh kita?
- Perlukah kita berdoa agar mereka mematahkan kaki kita?
- Perlukah kita mendoakan agar rencana mereka gagal? (Tak
sangsi lagi, “mengasihi” musuh kita artinya menolong kebutuhan dasar
mereka. Namun, menurut saya mendoakan agar mereka gagal sepertinya
sama dengan “menggugat” mereka, hanya saja lebih bagus istilahnya.
Apabila kita berdoa agar mereka gagal, kita membawa masalahnya kepada
Allah. Itulah artinya menjadi “lemah-lembut.”
- Sobat,
hati alamiah kita menolak untuk menjadi lemah-lembut. Maukah engkau
memohon agar Allah menjadikan engkau orang yang lemah-lembut?
- Pekan
depan: Menanti dalam Ujian Berat.