<-- Indestructible Hope

Pengharapan yang Tak Dapat Dihancurkan
(Roma 5, Ayub 1, 38-41, Yeremia 29)
Api Tukang Pemurni Logam: Pelajaran 7

Copr. 2007, Bruce N. Cameron, diterjemahkan oleh Debbie Jacobs. Semua referensi Alkitab dikutip dari Alkitab Terjemahan Baru ©1974 Lembaga Alkitab Indonesia, kecuali disebutkan lain. Saran jawaban terdapat di dalam tanda kurung. Pengajar diasumsikan menggunakan papan tulis atau alat peraga lainnya dalam membawakan pelajaran. Pelajaran ini dapat dilihat di http://www.GoBible.Org/indonesian.

Saya dan putri saya belum lama ini mendiskusikan depresi dan bunuh diri. Saya mengatakan bahwa andai saya tiba pada titik di mana masalah yang ada membuat saya terpikir untuk bunuh diri saja, maka saya akan pindah ke Florida dan melamar kerja sebagai jongos di kapal. Saya teringat hari-hari ketika pekerjaan saya masih sederhana – saya mau kembali merasakan hal seperti itu di tempat berlimpah curah matahari dan bercuaca bagus. Jawaban yang saya kemukakan tidak berterima di mata putri saya sebagai solusi yang mungkin bagi seluruh dunia untuk mengatasi depresi dan bunuh diri.  Tanggapan putrid saya adalah bahwa depresi menimbulkan semacam kabut pekat yang melingkupi diri saudara sehingga saudara tidak dapat melihat apa yang di balik sana. Saudara tidak akan bisa membayangkan kapal bermandikan matahari di Florida. Bagi saya tampaknya yang menjadi pembeda antara kedua pandangan ini adalah pengharapan. (Bukan berarti pemahaman saya tentang depresi itu realistis!) Solusi yang saya ajukan mengandung pengharapan sementara putri saya menggambarkan situasi tanpa pengharapan. Pelajaran kita minggu ini adalah tentang pengharapan, karena itu marilah kita dengan penuh pengharapan menyelami pelajaran kita!

  1. Dua Jenis Pengharapan

    1. Baca Roma 5:1-2. Dua ayat ini menunjuk jalan menuju sukacita. Jalan apa? (Jika kita mengerti dan yakin akan dibenarkan oleh iman dalam Yesus, maka hal itu (pertama) memberi kita damai sejahtera. Namun tidak berhenti di situ saja. Damai sejahtera tersebut menuntun (kedua) kepada “pengharapan akan menerima kemuliaan Allah.” Menurut saya, kemuliaan Allahlah yang menjadi dambaan kita di surga, hidup yang dijadikan baru, dan persekutuan kekal dengan Allah. Pengharapan rohani seperti itu memberi kita sukacita.)

    2. Baca Roma 5:3. Kelihatannya, pengharapan rohani bukanlah akhir dari gambaran hidup kita. Apa yang muncul dalam kehidupan kita dan menciptakan masalah? (Kesengsaraan.)

    3. Baca Roma 5:3-5. Apa yang dapat dihasilkan dari kesengsaraan? (Paulus menyebutkan bahwa kesengsaraan menimbulkan ketekunan yang akan menuntun kepada tabiat yang tahan uji, dan tahan uji akan menimbulkan pengharapan.)

      1. Pengharapan macam apa? Apakah sama dengan pengharapan rohani (“pengharapan akan menerima kemuliaan Allah”) yang kita pelajari dalam Roma 5:1-2? (Menurut saya, yang kita bahas ini adalah dua konsep yang agak berbeda. Dua ayat pertama dari Roma 5 mengajarkan bahwa sukacita dapat diperoleh dalam penantian akan upah kekal kita. Namun, sementara itu, kita sedang hidup dalam ayat ketiga dari Roma 5 – yakni “kesengsaraan” dalam setiap hari hidup kita. Penderitaan tersebut menuntun kepada pengharapan, namun nampaknya ini bukanlah pengharapan akan surga, tapi pengharapan yang timbul “karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita.”)

    4. ini masih terkait dengan Roma 5:3-5? (Ini merupakan penjelasan lanjutan. Pengharapan yang kita miliki dalam kesengsaraan kita adalah kasih Allah. Kasih Allah pada kita dinyatakan dalam kerelaanNya untuk mati bagi kita.)

    5. apa yang sedang terjadi di sini. Terkait dengan “pengharapan” dalam Roma 5:1-2, kita lihat solusi logisnya adalah surga – kehidupan di balik problema dunia ini. Namun, pengharapan dalam Roma 5:3-5, pengharapan dari orang-orang yang menderita sengsara sekarang ini, adalah bahwa Allah menderita bagi mereka – sebagai bukti kasihNya. Ini bukanlah jawaban “logis” bagi kesengsaraan. Sederhana saja (andai kesengsaraan membuat saudara ragu): Allah mengasihi saudara! Ia tidak meninggalkan saudara, Ia tidak membelakangi saudara, Ia mati bagi saudara.)

  2. Pengharapan Ayub

    1. Baca Ayub 1:1, 8-12. Bagaimana sampai orang yang saleh dan jujur ini terperosok ke dalam masalah? (Karena ia saleh dan jujur! Pertentangan antara Allah dan Setanlah yang mendatangkan kesulitan bagi Ayub.)

    2. Kitab Ayub berisikan pencarian manusia akan penjelasan terhadap kesengsaraan. Teman-teman Ayub menuduhnya melakukan kesalahan – yang menyebabkan ia menderita sengsara. Ayub menyangkal bahwa ia telah melakukan perbuatan yang membuatnya pantas menerima sengsara ini dan ia minta diperhadapkan dengan Allah agar ia bisa mengemukakan betapa tidak adilnya situasi yang ia hadapi. Baca Ayub 38:1-3. Allah akhirnya muncul, namun gantinya berdebat dengan Ayub, Ia mengatakan bahwa Ia ingin Ayub menjawab beberapa pertanyaan. Bagi saudara apakah ini menunjukkan keadilan dan kasih?

    3. Baca Ayub 38:4-7. Bagian selanjutnya dari pasal ini dan Ayub pasal 39-41 semuanya berada dalam alur logika yang sama. Argumen apa yang Allah utarakan kepada Ayub? (Saya ini Allah, engkau bukan! Siapa engkau, sampai-sampai mau mempertanyakan Saya!)

    4. Baca Ayub 40:1-2. Andai saudara adalah Ayub dan sedang menderita sengsara, apakah jawaban dari Allah ini membesarkan hati?

    5. Baca Ayub 40:3-5 dan Ayub 42:1-6. Nampaknya ini sudah cukup menjadi jawaban bagi Ayub! Bagaimana kecocokan antara jawaban ini dengan apa yang Paulus utarakan dalam Roma 5:3-6 bahwa pengharapan dalam kesengsaraan kita adalah bahwa kasih Allah dicurahkan ke atas kita? (Kedua ayat ini saling cocok karena dalam kedua kasus ini Allah tidak menjelaskan alasan bagi kesengsaraan. Dalam Roma 5 Allah berkata “Aku mengasihimu, dan Aku menjalani sengsara maut untuk kamu.” Dalam Ayub 38-41 Allah berkata “Aku ini Allah, dan engkau bukan. Coba pikir, pertimbangan siapa yang sedang engkau pertanyakan.”)

    6. Sederhana saja bagi Allah untuk menjelaskan apa tepatnya yang sedang terjadi pada Ayub ini. Namun Ia tidak pernah memberi penjelasan kepada Ayub. Mengapa? (Ayub merupakan pelajaran yang sempurna bagi kita. Layar tersingkap di hadapan kita dan kita melihat alasan mengapa Ayub mengalami sengsara yang hebat. Ini merupakan alasan yang tidak akan pernah masuk dalam perkiraan Ayub. Namun demikian, Allah tidak pernah mengungkapkan alasan-alasan tersebut kepada Ayub – Ia semata mengatakan “Percayalah kepadaKu, Aku ini Allah.” Karena kita mengetahui gambaran utuh dari situasi yang Ayub hadapi, kita dapat melihat bahwa Allah benar adanya. Namun, sebagaimana halnya Ayub, biasanya kita tidak mendapatkan gambaran seutuhnya mengenai sengsara pribadi kita. Yang memberikan pengharapan kepada kita adalah mengetahui bahwa tindakan Allah kepada Ayub memiliki alasan, Ia bertindak dengan kasih yang luar biasa tatkala Ia mati bagi kita.)

    7. Perlukah saudara memperoleh jawab atas sengsara yang saudara hadapi baru saudara memiliki pengharapan. Perlukah saudara mengetahui alasan khusus atas kesengsaraan saudara? (Mengetahui bahwa yang sedang memegang kendali adalah Allah yang mengasihi, peduli, dan logis tentunya sudah cukup.)

  3. Pengharapan yang Realistis

    1. Baca Yeremia 29:1-3. Tragedi dan penderitaan seperti apakah yang berada di balik perkataan ini? (Umat Allah dikalahkan oleh bangsa Babel. Kaabah dihancurkan, Yerusalem hancur dan sebagian besar penduduknya dibawa sebagai tawanan ke Babel.)

      1. Bayangkan negeri saudara kalah perang, rumah saudara hancur dan saudara dan keluarga saudara ditawan dan diseret ke negeri musuh.

        1. Bagaimana perasaan saudara? (Hidup saya tentunya akan porak-poranda! Tidak ada lagi kebahagiaan masa lalu yang menjadi bagian hidup saya sekarang.)

        2. Apa yang akan terpikir jika saudara percaya bahwa Allah adalah pemimpin negeri saudara – dan orang-orang yang baru saja menawan saudara adalah orang kafir (lihat Habakuk 1:1-7.) yang menentang Allah saudara? (Bagaimana bisa Allah mengijinkan hal ini terjadi? Tentunya, Ia akan memperbaiki situasi ini.)

    2. Baca Yeremia 29:4-9. Apa yang Allah maksudkan tatkala Ia mengatakan “Janganlah kamu diperdayakan oleh nabi-nabimu yang ada di tengah-tengahmu dan oleh juru-juru tenungmu?” (Beberapa orang mengatakan bahwa Allah akan segera memperbaiki masalahnya.)

      1. Bagaimana penggambaran saudara tentang “solusi” Allah mengatasi masalah mengerikan ini? (Manfaatkan sebaik-baiknya. Terimalah  situasi baru tersebut dan hiduplah senormal mungkin. Ketika Allah mengatakan “Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang,” Menurut saya yang Ia maksudkan adalah “Tataplah ke depan, bukan ke belakang. Jangan merindukan masa lalu, lakukan yang terbaik untuk membangun hari-hari baik di tempatmu yang baru.”)

      2. Apakah nasihat ini berlaku bagi penderitaan kita sekarang? (Beberapa orang merindukan keadaan yang terjadi di masa lalu. Dalam situasi khusus ini Allah berjanji untuk “membenahi” persoalan tersebut di masa depan dengan membawa pulang umatNya – 70 tahun lagi! (Yeremia 29:10). Ini jelas “terlalu lama” bagi orang-orang ini. Anak-anak atau cucu-cucu merekalah yang akan dilepaskan. Allah memiliki waktu yang tepat bagi segala sesuatu. Gantinya berkeluh-kesah dan memimpikan hari kemarin, kita perlu memanfaatkan hari ini sebaik-baiknya karena kita tahu bahwa Allah mengasihi kita dan Ia akhirnya akan memperbaiki segala sesuatu di dunia ini.)

    3. Sobat, sengsara dalam berbagai wujud akan menjadi bagian hidupmu pada suatu ketika. Allah menjanjikan hidup kekal bagi kita. Namun, Ia tidak menjanjikan bahwa Ia akan memberi penjelasan atau memperbaiki masalah kita sekarang ini. Terkadang Ia hanya mengatakan, “Aku mengasihimu sepenuhnya, percayalah bahwa Aku tahu apa yang sedang aku lakukan.” Terkadang Ia berkata, “Manfaatkan situasimu sebaik-baiknya.” Maukah engkau menyandarkan pengharapanmu bahwa Allah mengasihi dan peduli padamu? Tak soal apakah Ia memperbaiki masalah tersebut di dunia ini (dan dalam hidupmu) sekarang atau nanti, Ia akan selalu melakukan yang terbaik. Kita memiliki kepastian tentang hal tersebut karena Ia telah mati bagi kita. Tidak ada kasih dan belas kasih yang lebih besar dari peristiwa itu!

  4. Pekan depan: Melihat yang Tidak Kelihatan.