<-- Extreme Heat

Panas yang Tinggi
(Kejadian 22, 2 Korintus 1)
Api Tukang Pemurni Logam: Pelajaran 5

Copr. 2007, Bruce N. Cameron, diterjemahkan oleh Debbie Jacobs. Semua referensi Alkitab dikutip dari Alkitab Terjemahan Baru ©1974 Lembaga Alkitab Indonesia, kecuali disebutkan lain. Saran jawaban terdapat di dalam tanda kurung. Pengajar diasumsikan menggunakan papan tulis atau alat peraga lainnya dalam membawakan pelajaran. Pelajaran ini dapat dilihat di http://www.GoBible.Org/indonesian.

Pendahuluan: Ada kisah-kisah di dalam Alkitab, sebagaimana halnya juga peristiwa-peristiwa sedih dalam kehidupan, yang tidak saya pahami. Sudah barang tentu ada penjelasan atas peristiwa-peristiwa tersebut dan, mudah-mudahan, ada bagian yang bisa saya pahami. Namun dengan kepintaran manusiawi saya (lihat 1 Korintus 13:12), saya tidak bisa melihat persoalannya dengan jelas. Salah satu dari kisah ini adalah kisah Ishak yang hendak dikorbankan. Saya berencana menghabiskan sebagian waktu kita pekan ini untuk cerita ini. Apakah nanti pikiran kita akan diterangi mengenai bagaimana Allah menguji kita? Mari selami pelajaran kita.

  1. Apa Maksudnya?

    1. Baca Kejadian 22:1-2. Menurut saudara, apakah Abraham mengira Alah sungguh-sungguh? (Jika saudara membaca Kejadian 21:9-14, saudara akan dapati bahwa Allah sebelumnya telah memerintahkan Abraham untuk menyuruh pergi anaknya yang lain, Ismael)

      1. Apakah Allah bersungguh-sungguh? Akankah Allah menyuruh Abraham membunuh anakNya dengan cara yang sama dengan upacara korban orang kafir? (Baca Yeremia 32:35. Tidak. Allah tidak pernah berencana membunuh Ishak. Malahan, Allah mencanangkan hukuman mati bagi siapa saja yang mengorbankan anaknya (Imamat 20:1-5).)

    2. Pelajaran kita berjudul “Panas yang Tinggi.” Tak sangsi lagi perintah ini menimbulkan “panas yang tinggi” pada Abraham. Perhatikan lagi Kejadian 22:1. Apa yang dikatakan di sana mengenai maksud dari perintah ini? (“Allah mencoba Abraham.”)

      1. Ujian macam apakah ini? Allah tidak pernah memaksudkan Abraham untuk mengikuti perintahNya ini. Perintah tersebut benar-benar berlawanan dengan karakter Allah. Menurutinya (atau membunuh anaknya) adalah sama dengan menuruti kehendak Setan!)

      2. Pernahkah saudara menghadapi ujian seperti ini? (Saya menyangsikannya. Saya tidak bisa lulus ujian yang menyuruh saya melakukan hal-hal yang harus lakukan. Hal-hal yang saya tahu harus saya lakukan. Bagaimana mungkin pemikiran logis saya berharap akan lulus “ujian” yang menyuruh saya melakukan sesuatu yang sepengetahuan saja benar-benar bertentangan dengan kehendak Allah dan bertentangan dengan kehendak saya sendiri?)

      3. Apakah ada perbedaan antara “cobaan” dan “godaan?” (Sebuah buku komentar Alkitab, Be Obedient, memiliki penjelasan yang menarik mengenai hal ini. Dikatakan bahwa godaan – keinginan untuk mengikuti dorongan jahat – sepertinya benar-benar logis. Godaan-godaan ini digunakan oleh Setan untuk memunculkan hal yang paling buruk dari dalam diri kita. Di lain sisi, cobaan/ujian berasal dari Allah. Ujian-ujian ini tampak tak masuk akal, dan dimaksudkan untuk memunculkan hal yang terbaik dari dalam diri kita.)

        1. Menurut saudara, apakah saudara bisa memisahkan kedua hal ini dalam pikiran saudara?)

    3. Penjelasan Alkitab The Bible Knowledge menyebutkan bahwa cobaan yang sesungguhnya akan bertabrakan dengan logika dan merupakan hal yang kita ingin tolak (seperti membunuh akan kita)! Apakah saudara setuju? (Saya tidak yakin kalau kita bisa menarik garis yang bagus dan rapih di antara cobaan (tidak logis dan kita tidak mau lakukan) dan godaan (logis dan kita mau lakukan). Contohnya, saat-saat terakhir hidup Yesus melibatkan motif yang berbeda – Ia ingin menyelamatkan kita, namun Ia tidak ingin disiksa dan dihina. Jelas ini merupakan cobaan sebagiannya, namun bagian terbesarya adalah godaan.)

    4. Sekiranya cerita tentang Abraham/Ishak belum akrab bagi saudara, baca Kejadian 22:3-8. Mengapa mengorbankan binatang menjadi praktek mereka? (Praktek ini memandang ke depan kepada pengorbanan Yesus ganti kita untuk menghapus dosa kita. Maksud pengorbanan binatang ini adalah untuk mengajar manusia tentang Mesias yang akan datang dan bagaimana Ia menjadi pengganti karena dosa-dosa mereka.)

    5. Baca Kejadia 22:9-12. Jika penjelasan Alkitab Be Obedient benar adanya bahwa ujian tersebut memunculkan yang terbaik dari dalam diri kita, apa “bagian terbaik” yang diharapkan akan muncul dari Abraham lewat ujian ini?

    6. Baca Kejadian 22:15-18. Kini kita kembali kepada hal yang logis menurut pemandangan saya. Apa hubungan antara janji ini dan ujian tersebut? (Allah berkata bahwa karena Abraham rela memberikan anaknya, Allah bersedia memberikan banyak keturunan – “keturunanmu sangat banyak seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut.”)

      1. Apakah ada persamaannya dengan Yesus yang memberikan nyawaNya agar Ia bisa “mendapatkan” kembali kita semua?

      2. Apa maksud Allah dalam hubunganNya yang khusus dengan Abraham dan keturunannya? (Untuk mengabarkan sifat Allah kepada dunia.)

    7. Apakah saudara kini sudah bisa melihat bagaimana potongan-potongan yang seperti mozaik ini mulai tersambung? Allah meminta Abraham melakukan sesuatu yang menggambarkan apa yang Allah lakukan bagi kita. Allah memberikan ujian tentang kehilangan anak ini kepada orang yang Allah akan percayakan dengan banyak sekali keturunan. Maksud dari hubungan khusus antara Allah dengan Abraham dan keturunannya ini adalah untuk membawa pekabaran bahwa Allah rela memberikan AnakNya bagi kita.)

    8. Jika Allah berniat memberikan ujian semacam ini kepada saudara, seperti apa kira-kira ujian tersebut? (Ujian ini berkenaan dengan cinta diri dan kepercayaan. Rela memberikan semua yang kita miliki; dan kita mengasihi Allah.)

    9. Jika Abraham yakin bahwa ia harus membunuh anaknya, menurut saudara bagaimana Abraham merasionalkan hal tersebut dengan pemahamannya tentang Allah dan kepercayaannya kepada Allah? (Baca Ibrani 11:19. Abraham berpikir bahwa Allah akan membangkitkan Ishak dari kematian. Sungguh suatu rasa percaya yang menakjubkan!)

      1. Pikirkan bagaimana hal tersebut menjadi antisipasi bagi apa yang Allah perbuat bagi AnakNya dalam situasi yang sama.

    10. Bagaimana jika Allah tidak mencegah ketika Abraham hendak membunuh anaknya dan tidak membangkitkan Ishak dari kematian? Apakah nanti ada ujian iman yang berbeda, atau lebih lama? (Baca Ibrani 11:39-40. Sebagian latar belakang ayat ini adalah Ibrani 11:35-38, yang menceritakan pengikut-pengikut Yesus yang menderita amat sangat di atas di dunia ini dan tidak melihat adanya kemenangan di dunia. Mereka disebutkan dalam Ibrani 11 masih memiliki sebagian janji Allah yang belum digenapi. Kita mungkin saja harus melalui perkara-perkara di dunia ini yang tidak akan “dibereskan” menurut keinginan pribadi kita, sampai nanti kita masuk ke surga.)
    1. Dari semua kesukaran yang mendatangi kita, berapa persen darinya merupakan ujian dan berapa persen merupakan godaan?

      1. Menurut saudara berapa persen yang datang hanya dari Allah? (Kejadian 22:1 & 12 dengan gamblang menyatakan bahwa situasi yang Abraham hadapi merupakan ujian dari Allah. Dalam situasi yang saya hadapi, sepertinya dosa dan kesalahan yang saya buat, digabungkan dengan usaha Setan, menimbulkan segala kesukaran yang harus saya hadapi. Saya sangsi kalau Allah perlu menambahkan lagi beban saya untuk menguji karakter saya atau membuatnya bertumbuh!)
  1. Maksudnya
    1. Baca 2 Korintus 1:3-7. Apa makna positif dari kesukaran yang kita hadapi dalam hidup? (Paulus menuliskan bahwa ketika ia menderita, Allah menghiburnya. Hal itu kemudian mengajarkannya bagaimana menghibur orang-orang disekelilingnya yang menderita karena kesukaran.)

      1. Pernahkan saudara melihat hal seperti ini dalam hidup saudara? (Jika saudara pernah menderita sakit, saudara akan lebih bersimpati kepada orang lain yang mengalami sakit yang sejenis. Jika saudara menderita karena perkawinan saudara bermasalah, saudara akan lebih bersimpati kepada orang lain yang mengalami masalah dalam perkawinan mereka.)

      2. Kita sedang melukiskan sebuah gambar tentang “Allah sang penguji,” saat kita membicarakan Abraham dan Ishak. Gambaran Allah yang bagaimana yang Paulus lukiskan dalam ujian ini? (Allah sang penghibur yang berbelas-kasih.)

        1. Apakah gambaran-gambaran ini konsisten? “Sini, aku akan patahkan kakimu. Nanti aku perbaiki, kakimu akan diluruskan dengan gips. Aku akan mendoakan engkau dan mengirimkanmu kartu ucapan. Beritahu aku kalau kau butuh apa-apa.” (Menurut saya ilustrasi tentang mematahkan kaki ini menyesatkan karena tidak ada untungnya. Allah itu lebih seperti guru olahraga yang mengatakan “Ayo kita lari sama-sama sejauh 15 km – oh ya, air minumnya nanti aku yang bawa.)

    2. Baca 2 Korintus 1:8-9. Kesukaran membawa maksud lain apa lagi? (Membuat kita bersandar kepada Allah.)

      1. Cara Paulus menggambarkan Allah sangatlah menarik. Ia menyebutNya sebagai “Allah yang membangkitkan orang-orang mati.” Mengapa Allah disebutkan demikian? (Dalam kehidupan praktis, bahaya/kesukaran yang paling kita takutkan adalah kematian. Allah mampu mengatasinya. Apa lagi yang dikhawatirkan? Ingat bahwa alur pemikiran Abraham adalah seperti itu.)

    3. Sobat, apakah engkau sedang mengalami kesukaran? Apakah engkau merasa sedang diuji? Allah bukan saja memiliki maksud dalam ujian tersebut, namun Ia datang dengan hiburan dan belas kasih dan janji hidup kekal. Maukah engkau, seperti halnya Abraham, percaya kepadaNya?
  1. Pekan depan: Bergumul dengan Segenap Tenaga.