Melihat Wajah
Sang Tukang Emas
(Roma 8, Ayub 23, Daniel 12, 1 Petrus 2)
Api Tukang Pemurni Logam: Pelajaran 4
Copr.
2007, Bruce N. Cameron, diterjemahkan oleh Debbie Jacobs. Semua referensi
Alkitab dikutip dari Alkitab Terjemahan Baru ©1974 Lembaga Alkitab Indonesia,
kecuali disebutkan lain. Saran jawaban terdapat di dalam tanda kurung. Pengajar
diasumsikan menggunakan papan tulis atau alat peraga lainnya dalam membawakan
pelajaran. Pelajaran ini dapat dilihat di http://www.GoBible.Org/indonesian.
Pendahuluan: “A
bad day in paradise is like a good day anywhere else.” [Hari buruk di
Firdaus sama baiknya dengan hari baik di mana pun juga.] Saya tidak yakin
apakah kutipan ini telah saya tuliskan dengan benar. Petikan ini saya dengar
dari orang-orang yang meyakini bahwa mereka tinggal di tempat yang sangat
indah. Kesan yang saya dapatkan dari nukilan ini adalah bahwa mereka menyenangi
tempat di mana mereka tinggal, sekalipun ada hal-hal yang tidak sempurna.
Pelajaran kita pekan ini memiliki gagasan yang sama. Bahkan saat orang Kristen
menjalani “hari buruk”, karakternya sedang dimurnikan. Hari buruk sekalipun
tetaplah baik! Mari selami pelajaran kita dan pelajari lebih dalam tentang
“hidup di firdaus.”
- Berkeluh
kesah
- Baca
Roma 8:22-25. Apa kita saja yang mengalami “hari buruk” dari waktu ke
waktu? (Tidak, “segala mahluk” sedang berkeluh kesah.)
- Perhatikan
bahwa rasa “sakit” tersebut dibandingkan dengan sakit bersalin. Apa yang
terkandung dalamnya? (Rasa sakit bersalin ada batas waktunya, dan
hasilnya menakjubkan.)
- Apakah
“karunia sulung Roh” itu? Ayat-ayat ini menyebutkan kita telah
menerimanya. Apa itu? (Orang Kristen mengecap surga lewat pekerjaan Roh
Kudus dalam hidup mereka. Berlibur di firdaus (“mengecap,”) membuat kita
berharap bisa tinggal di sana. Memiliki Roh Kudus yang tinggal dalam
hidup kita membuat kita lebih menggebu-gebu berharap berada di surga.)
- Bagi
saya, hal ini kedengarannya lebih seperti mengeluhkan apa yang tidak
kita miliki dibandingkan dengan mengalami sakit yang sesungguhnya.
Benarkah demikian? (Persalinan adalah proses yang amat menyakitkan (begitulah
yang saya dengar!) Kesan yang saya dapatkan dari sini adalah bahwa jika
kita semata menderita di atas dunia yang sudah renta ini, kita akan terbiasa
dan merasa “puas” dengan penderitaan itu. Namun, karena orang Kristen
memiliki pengharapan akan hidup kekal, karena ada Roh Kudus yang
melakukan perkara-perkara besar dalam hidup kita, kita tidak puas dengan
kesusahan dunia ini.)
- Baca
Roma 8:26-27. Apa kaitan doa dengan kelemahan dan kegelisahan kita?
- Pernahkah
mobil saudara mengalami masalah dan saudara tidak dapat mengutarakan
dengan jelas masalahnya kepada sang montir? (Atau, seperti saya dengan
kebiasaan yang mengundang bahaya – menyuruh montir tersebut memperbaiki
bagian yang salah!) Bagaimana kaitan antara mengajukan permohonan yang
tepat dan memperoleh solusi yang paling baik? (Kitab Roma masih
membicarakan soal yang sama tentang “hari buruk” yang kita alami di atas
bumi. Salah satu bagian dari solusi adalah meminta Roh Kudus menuntun
kita dalam memahami masalah yang kita hadapi. Hal ini membantu kita
melayangkan permohonan yang tepat kepada Allah agar kita mendapatkan
solusi yang terbaik.)
- Pengharapan
bagi Orang yang Berkeluh-kesah
- Baca
Roma 8:28. Apa penghiburan yang kita bisa dapatkan manakala kita
mengalami “hari buruk?” (Allah bekerja untuk kebaikan kita.)
- Baca
Roma 8:29-30. Hal paling baik apa yang akan terjadi pada kita? (Menjadi
serupa dengan “AnakNya” (Yesus).)
- Apa
yang terkandung di sini mengenai makna “kebaikan kita?” (Bekerja untuk
mendatangkan “kebaikan” bagi kita bisa saja menyakitan. Akan tetapi,
hidup kekal yang menjadi tujuannya. Itulah perkara yang paling “baik.”)
- Selama
ini saya pikir kita diselamatkan oleh kasih karunia. Bagaimana sampai
ada konsep “no pain, no gain” [tiada hasil tanpa jerih payah]
dalam upaya memperoleh hidup kekal? Mengapa kata “bekerja” dan “sakit”
dapat saya gunakan sebagai bagian dari hidup kekal kita sementara masih
meyakini akan kasih karunia? (Roma 8:30 menunjukkan bahwa kita sedang
berada pada suatu jalan. Allah merencanakan hidup kekal bagi kita.
Allah memanggil kita untuk mengikutinya. Allah membenarkan kita dengan
memaku dosa kita di kayu palang, menudungi kesalahan kita dengan
darahNya. Kemudian Allah memanggil kita untuk dimuliakan oleh
menghidupkan kehidupan yang benar, dan yang paling utama, memperoleh
surga.)
- Baca
Roma 8:31-37. Apa perbuatan Allah di masa lalu yang membuat kita yakin
sepenuhnya bahwa Ia berada “di samping kita” saat kita menghadapi
kesukaran? (Bahwa Ia telah memberikan AnakNya bagi kita!)
- Apakah
saudara memperhatikan daftar masalah yang mungkin kita hadapi saat
menjalani “hari buruk?” (Masalah-masalah tersebut sangat serius, namun
Roma 8:32 menjanjikan bahwa dalam masalah tersebut Allah akan
“mengaruniakan segala sesuatu kepada kita.”)
- Melepaskan
Keluh-kesah.
- Ayub,
manusia besar dalam Alkitab, menolong kita memahami jenis masalah yang
menyebabkan kita “berkeluh-kesah” Baca Ayub 23:1-5. Siapa yang Ayub cari?
(Allah.)
- Mengapa
Ayub mencari Allah? (Ia ingin “memaparkan masalahnya di hadapanNya.”)
- Perkara
apa yang Ayub hadapi? (Ayub sementara menderita dan ia percaya Allahlah
yang membuatnya menderita. Karena ia tidak pantas mengalami penderitaan
maka Ayub ingin membela kebenarannya di hadapan Allah.)
- Bagaimana
mungkin seseorang berargumen bahwa ia benar? (Baca Ayub 1:8. Allah
menegaskan bahwa Ayub itu saleh dan jujur. Ayub memiliki sesuatu yang
bisa dibela di hadapan Allah!)
- Sebentar!
Jika Allah tahu bahwa Ayub saleh dan jujur, mengapa Ayub perlu membela
diri di hadapan Allah? (Ayub salah dalam kepercayaannya bahwa Allah
membawa penderitaan kepadanya oleh karena dosanya.)
- Baca
Ayub 23:6-7. Jika Ayub harus mengajukan perkaranya di hadapan Allah,
apakah menurutnya ia akan menang? Akankah ia dibebaskan dari tuduhan yang
diajukan kepadanya? (Ya, Ia berkata akan dilepaskan “dari hakimku.”)
- Menurut
Ayub siapakah “hakimnya?” (Ia tidak menyebutkannya, namun tentulah
Allah. Logika di balik ini tidaklah jelas. Kelihatannya Ayub mengira
bahwa Allah tidak mengetahui semua fakta atau tidak menaruh perhatian
benar pada situasi yang ia hadapi.)
- Baca
Ayub 23:8-9. Dapatkah Ayub menemukan Allah? (Tidak!)
- Apakah
ini masalah yang terjadi dalam penderitaan kita? (Kerap kali kita
menjadi kecil hati karena Allah sepertinya tidak mendengarkan doa-doa
kita. Ia tidak menjawab seruan meminta pertolongan yang kita layangkan.)
- Apakah
Allah benar-benar tidak hadir dalam kehidupan Ayub? (Sama sekali tidak!
Ayub 1 & 2 menunjukkan bahwa Allah sangat terlibat dalam peristiwa
yang terjadi dalam kehidupan Ayub.)
- Baca
Ayub 23:10. Atas penderitaannya ini, alasan apa yang berikutnya Ayub
reka? (Bahwa ia sedang diuji dan dimurnikan.)
- Apakah
ini selaras dengan argumen sebelumnya soal bagaimana ia tidak pantas dihukum?
Bahwa ia seorang yang jujur dan jika Allah mengetahui semua fakta atau
menaruh perhatian benar ia akan “bebas dari hakimku untuk
selama-lamanya?” (Ini merupakan pokok yang sangat penting. Ayub
jelas-jelas seorang yang besar – Allah mengatakan demikian. Namun,
ditengah-tengah penderitaannya, pikiran Ayub berpacu kemana-mana untuk
mencari tahu mengapa ia menderita. “Apakah karena saya pantas menderita?
Tidak! Saya akan mencari Allah dan meyakinkanNya bahwa saya tidak
bersalah.” “Di mana Allah? Saya tidak bisa menemukanNya. Ia tidak
mendengarkan saya.” “Mungkin apa yang sedang terjadi pada saya ini suatu
ujian? Mungkin Allah ingin melihat bahwa saya ini emas.” Inilah reaksi
kita saat mengalami penderitaan. Inilah tahap-tahap yang kita lalui
manakalah kita mengalami penderitaan.)
- Haruskan
kita bereaksi seperti Ayub? (Tak satu pun orang normal yang
menginginkan penderitaan. Namun, dalam setiap situasi sulit kita perlu
menanyakan diri kita sendiri jika penderitaak ini karena dosa-dosa
kita. Jika ya, kita perlu berpaling dari dosa-dosa itu. Jika kita tidak
secara langsung menderita karena dosa-dosa kita, dosa punya peran dalam
penderitaan kita. Salah satu: Karakter kita sedang dimurnikan oleh
penderitaan, atau kita menderita karena dosa dunia. Apapun penyebab
penderitaan kita, kita perlu melihatnya sebagai peluang bagi
pertumbuhan karakter kita.)
- Keluh-kesah:
Upahnya Sepadan!
- Baca
Daniel 12: 1-4. Apa yang dikaitkan dengan zaman akhir di dunia? (“Suatu
waktu kesesakan yang besar, seperti yang belum pernah terjadi sejak ada
bangsa-bangsa.” Masa kesesakan ini akan diikuti oleh keselamatan orang
benar! Orang benar akan dilepaskan.)
- Baca
Daniel 12:8-10. Apa yang membedakan orang jahat dan orang benar? (Orang
benar akan “disucikan dan dimurnikan dan diuji.” Sementara orang jahat
tetap jahat.)
- Baca
1 Petrus 1:3-9. Bagaimana kita diselamatkan? Daniel menuliskan tentang
kita yang tidak bercacat-cela. Apakah karakter yang tidak bercacat-cela,
hasil dari penderitaan kita, perlu bagi keselamatan kita? (Saya suka cara
Petrus menyimpulkan semua ini. Ia mengutarakan dengan sangat jelas bahwa
kita diselamatkan oleh kehidupan, kematian dan kebangkitan Yesus. Iman
kita kepada Yesus dimurnikan dalam api. Penderitaan menunjukkan apakah
iman kita murni atau tidak. Penderitaan tidak menjadikan kita sempurna
agar kita berhak masuk ke surga oleh jasa kita sendiri. Gantinya,
penderitaan menguji dan memurnikan iman kita kepada Yesus. Adalah oleh
jasa baik dari hidup dan kematianNya yang sempurnalah kita bisa memasuki
surga!)
- Sobat,
apakah engkau sedang mengalami penderitaan? Memang sukar, tapi pandanglah
penderitaanmu sebagai berkat yang akan memurnikan karakter dan imanmu.
- Pekan
depan: Panas yang Tinggi.