<-- The Birdcage

Sangkar Burung
(Keluaran 14)
Api Tukang Pemurni Logam: Pelajaran 3

Copr. 2007, Bruce N. Cameron, diterjemahkan oleh Debbie Jacobs. Semua referensi Alkitab dikutip dari Alkitab Terjemahan Baru ©1974 Lembaga Alkitab Indonesia, kecuali disebutkan lain. Saran jawaban terdapat di dalam tanda kurung. Pengajar diasumsikan menggunakan papan tulis atau alat peraga lainnya dalam membawakan pelajaran. Pelajaran ini dapat dilihat di http://www.GoBible.Org/indonesian.

Pendahuluan: Hidup ini kadang kala membuat kita kecil hati. Minggu yang baru lewat ini saya mengajukan pembelaan terhadap suatu kasus kebebasan beragama. Sang hakim tidak bersedia mendengarkan argumen yang telah saya persiapkan berjam-jam lamanya. Sebagai gantinya ia ingin agar saya menjawab “ya/tidak” atas serangkaian pertanyaan yang akan merugikan klien saya semata. Parahnya lagi, pertanyaan-pertanyaan tersebut mengandung sanggahan dari pihak lawan yang sebelumnya tidak pernah diangkat - dan, menurut pendapat saya, tidak layak dijadikan bagian dari perkara tersebut. Banyak yang mendoakan saya dalam kasus ini – yang saya anggap sebagai bencana. Saudara melakukan hal yang benar namun petaka tak ayal hadir juga. Mengapa? Mari kita selami Alkitab dan renungkan cerita yang menggambarkan masalah ini!

  1. Salah Belok?

    1. Ingat bukan, bahwa umat Allah selama berabad-abad lamanya berada dalam perhambaan di Mesir. Allah, melalui Musa dan Harun, memaksa Firaun untuk membebaskan umat Allah. Mari kita lanjutkan kisah tersebut dengan membaca Keluaran 13:17-18. Apa yang ada dalam benak umat Allah? (Mereka mengira harus berperang sebelum tiba di negeri perjanjian. Mereka mempersenjatai diri, siap menghadapi pertempuran.)

      1. Apa yang ada dalam benak Allah? (Ia berpikir umatNya mungkin saja berubah pikiran jika menghadapi peperangan. Karenanya, strategi Allah sepertinya adalah menghindarkan pertempuran.)

    2. Baca Keluaran 13:20-22. Apa yang memberikan keyakinan kepada orang banyak bahwa arah yang mereka tuju sudah benar?

      1. Apakah saudara berharap bahwa Allah akan sejelas ini ketika menuntun saudara dalam hidup ini?

    3. Baca Keluaran 14:5-9. Umat Allah sudah sedia berperang. Apakah mereka siap bertempur melawan kekuatan sebesar ini dengan armada militernya yang canggih?

      1. Tidakkah aneh kelihatannya, bahwa Allah berkata Ia memimpin mereka agar menghindari peperangan, lalu kemudian mengijinkan orang Mesir mengejar umatNya selagi mereka berusaha meloloskan diri?

    4. Baca Keluaran 14:10-12. Apakah benar prediksi Allah mengenai bagaimana orang banyak akan bereaksi?

      1. Posisikan diri saudara pada tempat umat Allah. Mereka telah mengikuti tuntunan Allah. Allah tahu mereka tidak akan bertahan menghadapi orang Mesir. Mengapa Allah mengijinkan peristiwa menakutkan ini terjadi? Mengapa Allah mengijinkan mereka berpikir bahwa mereka akan mati?

      2. Baca Keluaran 14:13-14. Apakah ini yang menjadi jawaban atas pertanyaan mengapa Allah mengijinkan hal ini terjadi di saat Ia tahu mereka tidak siap menghadapi pertempuran?
        1. Apakah jawaban yang sama berlaku juga bagi kita ketika mengalami situasi yang menciutkan hati?
      1. Apakah ini yang menjadi jawaban atas pertanyaan kita tentang mengapa Allah mengijinkan hal ini – bahwa orang banyak perlu belajar mempercayai Allah dan membiarkan Ia yang menangani pertempuran? (Baca Keluaran 14:1-4 dan Keluaran 14:15-18. Jawaban utamanya adalah bahwa situasi sulit dan menakutkan ini akan membawa kemuliaan bagi Allah.)

        1. Renungkan sejenak: Berapa banyak dari situasi sulit dan menciutkan hati yang saudara hadapi yang merupakan serangan terhadap “kemuliaan saudara?” Bukan kemuliaan Allah tapi kemuliaan saudara?

        2. Apakah saudara merasa nyaman dengan pemecahan masalah manapun yang membawa kemuliaan kepada Allah?

          1. Bagaimana jika kemuliaan Allah sepertinya mengorbankan saudara atau keluarga saudara?

    1. Coba kita baca ulang Keluaran 14:13-14. Jika tujuan utama saudara dalam hidup ini adalah membawa kemuliaan bagi Allah, bagaimanakah pengaruhnya terhadap rasa takut saudara? Bagaimana pengaruhnya terhadap keciutan hati saudara? (Sikap kitalah yang membuat perbedaan. Jika kita tahu tujuan hidup kita adalah membawa kemuliaan bagi Allah dalam setiap situasi, maka kita akan nyaman-nyaman saja dengan hasilnya. Terlebih lagi, dalam situasi ini kita lihat bahwa Allah menjanjikan perlindungan tanpa mereka perlu bertarung!)
      1. Apakah kesediaan Allah untuk bertempur, sementara umatNya “diam” saja menonton, merupakan sebuah situasi yang berlaku hanya dalam cerita ini? Ataukah berlaku dalam semua permasalahan hidup kita? (Inilah hebatnya “kemuliaan Allah.” Jika kemuliaan Allah, bukan kemuliaan kita, yang dipertaruhkan maka Allah yang akan bertempur membela kemuliaanNya. Jika saudara berhenti mencemaskan kemuliaan diri saudara dan mengijinkan Allah berjuang dalam pertempuran demi kemuliaanNya, maka “rasa gelisah” saudara akan reda. Hidup saudara akan kian damai sentosa.)

  1. Saksi Iman

    1. Baca Keluaran 14:19-20. Persamaan apa yang saudara lihat di sini yang dapat menjadi solusi terhadap masalah yang sedang saudara hadapi sekarang ini? (Jika kita ingin mengenal Allah, Ia akan memberi terang bagi hidup keseharian kita. Jika kita berseteru dengan Allah, kita akan tinggal dalam kegelapan. Hasilnya adalah “yang satu tidak dapat mendekati yang lain.” Kita akan jauh mendahului orang-orang yang jahat.)

    2. Baca Keluaran 14:21-22. Di tempat tinggal saya yang baru, jalan raya utamanya melewati sebuah terowongan yang besar di bawah air. Satu saat kita menatap permukaan air, saat berikutnya kita sudah berada di bawah permukaan air. Lalu-lintas di terowongan ini kerapkali padat. Manakala saya bercakap-cakap dengan seorang penduduk lokal mengenai hal ini, dia mengemukakan bahwa para pengendara mobil kebat-kebit akan “tercebur” ke bawah permukaan air. Perasaan seperti apa yang akan timbul dalam hati apabila saudara memandangi tembok air yang menjulang di kedua sisi saudara?

      1. Saya melukiskan umat Allah sebagai saksi dari pertempuran ini. Apakah gambaran saya tepat? (Hanya dalam kaitan dengan pertempuran tersebut. Mereka perlu “berjalan maju.” Mereka perlu mengamalkan iman mereka.)

      2. Apakah pengalaman keimanan kita sama seperti mereka – bahwa jika kita tidak berjalan maju, kita kelak akan disergap oleh “orang jahat?”

        1. Haruskah persamaan tersebut menjadi bagian dalam setiap keputusan iman kita?

    3. Baca Keluaran 14:23-25. Kepada siapa orang Mesir mengalamatkan problema mereka?

      1. Perlukah kita berdoa agar musuh-musuh kita “dikacaukan” dan upaya mereka seperti “roda kereta yang berjalan miring?”

    4. Baca Keluaran 14:26-28. Orang Mesir kini telah menjadi “ orang percaya” (Keluaran 14:25). Mengapa mereka ditenggelamkan? (Barnes’ Notes menyebutkan bahwa dalam setiap monumen peninggalan Mesir Firaun selalu dilukiskan sebagai pemimpin pasukan. Ia juga menyebutkan bahwa Mazmur 136:15 menuliskan bahwa Firaun tewas bersama pasukannya. Kebinasaan total Firaun dan tentaranya berarti bahwa kekuatan Mesir tidak lagi menjadi ancamana bagi umat Allah dalam perjalanan mereka menuju Kanaan.

      1. Apa yang diutarakan di sini mengenai kelepasan yang akhirnya akan Allah bawakan kepada umatNya? (Orang jahat, sekalipun percaya kepada Allah, akan sepenuhnya dan selamanya dibinasakan.)

    5. Baca Keluaran 14:29-31. Apa yang menjadi pembeda antara ayat-ayat ini dan Keluaran 14:10-12

      1. Apa yang diutarakan di sini sebagai alasan mengapa dalam hidup ini kita mengalami saat-saat sulit dan menciutkan hati? (Manakala kita melihat kelepasan yang Allah berikan, iman dan percaya kita kepadaNya dikuatkan.)

    6. Sobat, dalam setiap problema, setiap peristiwa yang menciutkan hati, kita memperoleh peluang untuk menaruh iman kita kepada Allah dan membiarkan Ia bertarung dalam pertempuran demi kemuliaanNya. Jika pertempuran tersebut demi kemuliaan kita, maka kita telah memilih pertempuran yang salah! Bilamana tujuan hidup kita adalah untuk meninggikan kemuliaan Allah, maka hidup kita akan memperoleh rasa damai dan keyakinan karena kita tahu bahwa Allahlah yang “berperang” dalam pertempuran tersebut.  

  1. Pekan depan: Melihat Wajah Sang Tukang Emas