<-- The Shepherd's Crucible

Ujian Berat Sang Gembala

(Mazmur 23)

Api Tukang Pemurni Logam: Pelajaran 1

 

Copr. 2007, Bruce N. Cameron, diterjemahkan oleh Debbie Jacobs. Semua referensi Alkitab dikutip dari Alkitab Terjemahan Baru ©1974 Lembaga Alkitab Indonesia, kecuali disebutkan lain. Saran jawaban terdapat di dalam tanda kurung. Pengajar diasumsikan menggunakan papan tulis atau alat peraga lainnya dalam membawakan pelajaran. Pelajaran ini dapat dilihat di http://www.GoBible.Org/indonesian.

Pendahuluan: Bahwa Yesus adalah Gembala yang Baik dan saya domba yang dungu sudah saya dengar sepanjang umur saya. Saya sepakat. Saya tahu saya butuh dilindungi. Saya tahu bahwa saya bisa memutuskan hal-hal yang benar-benar bodoh. Pekan lalu untuk pertama kali terpikir oleh saya bahwa domba juga dicukur bulunya dan dagingnya dijadikan makanan! Gembala memelihara domba-domba ini agar kelak pada gilirannya mereka harus menyerahkan nyawa mereka untuk mahluk lain. Mengapa kita tidak membahas bagian analogi domba yang demikian? Apakah karena kita enggan ataukah karena fokus ilustrasi tersebut bukanlah di situ? Mari selami pelajaran kita dan temukan bagaimana Mazmur 23 bercerita tentang domba!

  1. Gembalaku

    1. Baca Mazmur 23:1-3. Siapakah yang menulis ayat-ayat ini? (Raja Daud – yang dibesarkan sebagai seorang gembala.)

      1. Manakala saudara memikirkan Raja Daud, apakah benak saudara menggambarkannya sebagai seekor “domba?” (Tidak. Saya membayangkannya sebagai raja-pejuang yang besar.)

      2. Menurut saudara mengapa ia menganggap dirinya sebagai domba milik Allah? Karakteristik hubungan gembala/domba yang bagaimana yang ia sebutkan dalam ayat-ayat ini? (Sang gembala mengurusi keperluan dombanya.)

      3. Penyebutan air dan rumput memberi pesan bahwa Allah mencukupi kebutuhan dasar kita. Mengapa Daud menyebutkan “jalan yang benar?” (Baca Yohanes 21:15-17. Tampaknya maksud Daud adalah makanan dan air rohani.)

        1. Apabila Daud merujuk kepada makanan rohani, apakah maksudnya adalah Allah akan menjadikan kita teolog besar jika kita tetap tinggal denganNya?

        2. Apa yang ia maksudkan tatkalaa menyebutkan “jiwa”nya disegarkan? (Perhatikan istilah-istilah yang digunakan: padang rumput “hijau,” air yang “tenang” dan “Ia menyegarkan jiwaku.” Daud sementara menuliskan aspek-aspek rohaniah yang memberi kita kedamaian, rasa percaya diri, perhentian dan sukacita.)

      4. Mengapa Mazmur 23:3 menyebutkan bahwa Allah melakukan perkara ini? (Oleh karena namaNya. Sikap kita yang tenang, percaya diri dan tenteram dalam menghadapi badai hidup membawa kemuliaan bagi Allah kita.)

        1. Apa yang dipertaruhkan oleh seorang gembala terhadap dombanya? (Seorang gembala yang membiarkan dombanya terluka dan kelaparan akan mendapatkan reputasi buruk. Allah peduli akan reputasiNya.)

      5. Perhatikan bahwa domba harus “dibuat” berbaring di padang rumput hijau dan “dibimbing” ke air yang tenang. Apa yang dikesankan di sini mengenai sikap kita dalam menjalani hidup? (Bahwa damai, rasa percaya diri, perhentian dan sukacita bukan hal yang alamiah.)

        1. Apa yang dikesankan di sini mengenai mengikuti keinginan alamiah hati kita?

      6. Apakah saudara pernah merasa sebagai satu-satunya orang yang menghadapi masalah emosi dan rohaniah seperti yang saudara telah jalani? Bahwa tidak ada orang lain yang bisa benar-benar memahami situasi yang saudara hadapi? Analogi tentang “jalan kebenaran” ini memberi kesan apa terhadap saudara yang merasa sebagai pionir atau orang pertama yang merasakan ketidak-bahagiaan? (Jika saudara “tersesat” dari jalan yang Allah rencanakan untuk saudara jalani, maka saudara bisa jadi sedang menapaki daerah baru. Akan tetapi, “jalan,” adalah tempat di mana orang lain pernah lintasi sebelumnya. Dalam menghadapi masalah, Allah menyediakan “tempat hijau” rohani bagi saudara sebagaimana juga yang telah dinikmati oleh banyak orang lainnya.)

    2. Baca Mazmur 23:4. Frasa “Lembah kekelaman” membawa gambaran apa dalam benak kita? (Lembah merupakan sebuah dataran rendah. Kelam artinya gelap, tak ada cahaya. Di lain sisi, bayangan bukannya hal yang sebenarnya. Bayangan saya adalah gambaran gelap diri saya semata. Ini tampaknya merupakan sebuah situasi di mana saya berada di tempat yang sangat rendah, sulit melihat terang, dan pemandangan saya yang gelap membuat saya mengira bahwa maut sedang menghadang, walau sebenarnya tidak demikian.)

      1. Saya baru saja melukiskan gambaran yang mengerikan. Mengapa domba yang menghadapi situasi seperti itu tidak perlu merasa takut? (Allah ada serta.)

      2. Sejauh yang saya tahu, Raja Daud mengemukakan ada dua batang kayu yang memberi kenyamanan kepada kita. Bagaimana saudara mengartikan konsep “dua batang kayu” ini?

        1. Baca Imamat 27:32. Apa salah satu kegunaan tongkat gembala? (Untuk menghitung domba. Allah mengenal saudara. Ia menghitung saudara sebagai bagian milikNya. Hal itu memberi rasa percaya dalam diri saudara ketika maut sepertinya menghadang).

        2. Baca 1 Samuel 17:40. Apa yang dibawa Daud ketika menghadap Goliat? (Tongkatnya dan lima batu. Tongkat adalah senjata yang bisa digunakan oleh seorang gembala melawan pengacau. Karenanya, konsep dua batang kayu itu adalah bahwa Allah menganggap kita sebagai milikNya, dan Ia siaga melindungi kita dari pengacau.)

      3. Coba kita berhenti sejenak untuk melihat kembali bagian pendahuluan. Domba-domba tersebut (paling tidak beberapa dari mereka) sudah barang tentu akan berakhir di kuali masak. Mengapa kita harus menaruh keyakinan pada gembala yang tidak mengawasi proses tersebut? (Baca Ibrani 13:5-6. Gembala yang Baik mengenal kita, Ia melindungi kita dan tak satupun hal bisa terjadi pada diri kita tanpa seijinNya. Dengan mengasihiNya dan percaya kepadaNya kita akan yakin menghadapi masa depan. Perhatikan bahwa Raja Daud ketika membandingkan Allah dengan gembala tidak membuang waktu untuk membahas aspek “kuali masak” dari cerita tentang domba ini. Gantinya, ia memfokuskan bahasannya pada penjagaan dan perlindungan yang diberikan oleh sang gembala.)

  2. Juru Masakku

    1. Baca Mazmur 23:5. Pernahkah saudara melihat bagaimana seekor anjing makan sementara ada anjing lain di depannya? Bagaimana tingkah anjing yang sedang menikmati makanannya? (Memang tak selalu seperti ini, namun umumnya anjing yang sedang makan akan menunjukkan sikap defensif dan cepat-cepat menghabiskan makanannya. Dengan demikian anjing yang lain tidak akan merebut makanannya.)

      1. Apa yang disampaikan Daud dalam ayat ini? Apakah kita makan dengan sikap defensif dan tergesa-gesa? (Tidak. Ini bukan lah hidangan yang dinikmati dengan terburu-buru. Allah menyiapkan “meja” – dengan beragam sajian makanan di atasnya – di hadapan musuh-musuh kita. Biasanya, hal ini akan membuat kita gugup. Namun yang digambarkan di sini adalah bahwa Allah menertawakan musuh-musuh kita. Ia menyediakan tempat bagi kita di mana kita bisa mengabaikan musuh-musuh kita sedemikian rupa sehingga dengan nyaman kita bisa menyantap makanan yang terhidang.)

      2. Baca Lukas 7:46. Ketika Daud menyebutkan bahwa Allah “mengurapi kepalaku dengan minyak”, adat istiadat apa yang ia sebutkan di sini? (Ini merupakan  tanda berkat dan perkenanan.)

      3. Sebagaimana yang saudara mungkin duga, domba tidaklah cakap menggenggam cangkir dengan mantap. Apakah itu pengertian dari “pialaku penuh melimpah?” (Tidak. Allah menambahkan berkat-berkat kepada kita dan kita bisa menanganinya dengan nyaman.)

  3. Masa Depanku

    1. Baca Mazmur 23:6. Mazmur 23 memiliki beberapa referensi negatif. Jiwa kita perlu disegarkan (ay.3), kita berjalan melalui “lembah kekelaman” (ay.4), ada “bahaya” di sekeliling (ay.4), kita membutuhkan hiburan (ay.4), dan musuh ada dekat (ay.5). Apa yang tersirat di sini mengenai kehidupan yang dijalani oleh sang domba tanpa adanya sang gembala?

      1. Kehidupan seperti apa yang akan dijalani oleh domba yang dengan yakin mengikuti sang Gembala yang Baik?

      2. Pada akhirnya, bagaimana nasib domba yang ikut serta dengan Gembala yang Baik? Berakhir di kuali masak? (Tidak! Kita menjadi tamu di rumah Allah untuk selama-selamanya!)

    2. Sobat, kita sedang melintasi perjalanan hidup. Di sekeliling kita ada masalah. Maukah engkau melakukan perjalanan ini bersama-sama Gembala yang Baik? Maukah engkau memperoleh damai sejahtera yang diperoleh dari kehadiranNya? Tahukah engkau bahwa di akhir perjalanan ini engkau akan tinggal besertaNya selama-lamanya? Tinggalkan dosa-dosamu dan serahkan hatimu kepadaNya hari ini. Ajukan dirimu untuk menjadi dombaNya – domba yang tidak akan berakhir di kuali masak!

  4. Pekan depan: Ujian-ujian Berat Yang Datang