Yahwe
dan Israel: Pemenuhan Melampaui Kegagalan
(Yesaya 54,
Yehezkiel 24, Yeremia 31)
Dalam
Susah atau Senang: Pelajaran 13
Copr.
2007, Bruce N. Cameron, diterjemahkan oleh Debbie Jacobs. Semua referensi
Alkitab dikutip dari Alkitab Terjemahan Baru ©1974 Lembaga Alkitab Indonesia,
kecuali disebutkan lain. Saran jawaban terdapat di dalam tanda kurung. Pengajar
diasumsikan menggunakan papan tulis atau alat peraga lainnya dalam membawakan
pelajaran. Pelajaran ini dapat dilihat di http://www.GoBible.Org/indonesian.
Pendahuluan: Ini
merupakan bagian terakhir dari seri pelajaran mengenai perkawinan-perkawinan
yang dicatat dalam Perjanjian Lama. Mengapa sampai kita temukan begitu banyak
ilusi dalam perkawinan pada zaman Perjanjian Lama? Salah satu jawabannya adalah
bahwa Allah kerap menggunakan perkawinan untuk menceritakan sisi pandanganNya
terhadap hubunganNya dengan umatNya. Bilamana Alkitab membicarakan mengenai
hubungan pribadi kita dengan Allah, Ia kerap disebut sebagai Bapa. Manakala
Alkitab membicarakan mengenai hubungan Allah dengan umatNya sebagai suatu
kelompok, hubungan tersebut kerap dikaitkan dengan perkawinan. Dari segala
jenis hubungan yang ada, mengapa Allah menggunakan perkawinan sebagai
ilustrasi? Mari selami pelajaran kita dan temukan jawabnya!
- Pasangan
Kita
- Baca
Yesaya 54:5. Mengapa Allah memutuskan untuk menyebut kita istriNya? Apa
atribut perkawinan yang berlaku dalam hubungan Allah dengan kita?
- Menurut
hemat saya, kita perlu melihat konteks di sini. Baca Yesaya 54:4. Apa
atribut perkawinan yang Allah bawa dalam hubungan kita denganNya? (Ia
melindungi kita. Ia memberi nama baik kepada kita. Ia menggantikan suami
kita yang hilang entah ke mana. Ia membuang aib kita.)
- Aib
apa? (Ini mencerminkan pertentangan antara kebaikan dan kejahatan.
Allah adalah pelindung dan penebus kita.)
- Coba
kita lihat latar belakang dari ayat kita yang berikut ini. Babel telah
menyerbu Yehuda dan menawan umat Allah. Orang Yahudi banyak yang tinggal
di Babel. Andai saudara seorang Yahudi di Babel, apa yang akan menjadi
kerinduan hati saudara? (Kembali ke kampung halaman saya.)
- Dari
semua hal yang mewakili kampung halaman, hal apa yang paling penting?
(Anggota keluarga yang lain masih tinggal di sana. Kota Yerusalem dan kaabah
yang megah.)
- Dalam
konteks ini, bacalah Yehezkiel 24:20-21. Apa yang akan terjadi atas
Yerusalem dan orang-orang yang masih tersisa di sana? (Kehancuran
total.)
- Baca
Yehezkiel 24:15-17. Hal mengerikan apa yang Yehezkiel lihat? (Allah
mengambil “kenikmatan matanya.”)
- Baca
Yehezkiel 24:18-19. Siapa yang menjadi kenikmatan mata Yehezkiel?
(Istrinya. Allah mengatakan istrinya akan meninggal.)
- Mengapa
Allah memperlakukan Yehezkiel demikian keras? (Yehezkiel tidak saja
kehilangan istrinya. Ia tidak boleh menangisi kepergiannya, begitu
perintah Allah. Kedengarannya kejam, namun coba renungkan kejadian ini.
Ayat 19 menyebutkan bahwa orang banyak bertanya kepada Yehezkiel kenapa
ia berbuat demikian. Ia lalu mengatakan kepada mereka bahwa peristiwa
tersebut merupakan gambaran dari apa yang akan terjadi pada umat Allah.
Situasi tersebut begitu serius, dan orang yang memiliki akal sehat
seharusnya menaruh perhatian terhadap hal ini.)
- Mengapa
harus istri Yehezkiel? Bukan anjingnya? (Allah tidak hanya ingin menunjukkan
kepada orang banyak betapa seriusnya hal yang akan terjadi atas nyawa
mereka. Ia sedang mengilustrasikan hubunganNya dengan kita.)
- Kita
biasa mengatakan “Allah mengasihi saya.” Bagaimana jika kita
menambahkan, “Allah mengasihi saya seperti seorang suami mengasihi
istrinya?” Apakah penambahan ini manambah kedahsyatan pernyataan
tersebut?
- Yehezkiel
adalah utusan Allah. Ia seorang yang taat dan seorang jurubicara Allah.
Dari kisah ini, apakah orang benar tidak akan mengalami penderitaan?
- Apakah
penderitaan yang diceritakan di sini kadarnya terlalu tinggi? (Jika
kita benar-benar yakin bahwa Allah mengasihi kita seperti suami
mengasihi istrinya, maka penderitaan seperti inilah yang Allah rasakan
setiap kali kita menolaknNya dan mengikuti jalan kita sendiri.)
- Mengapa perceraian lebih buruk daripada ditinggal mati
pasangan? (Bilamana pasangan kita meninggal, mereka tidak menampik
kita. Penderitaan Allah lebih buruk dibandingkan penderitaan
Yehezkiel.)
- Apakah masih ada cerita lain dalam Alkitab yang berupa “sandiwara”
yang mengumpamakan penderitaan Allah? (Kejadian 22 – Allah
memerintahkan Abraham untuk mempersembahkan Ishak anaknya sebagai
korban.)
- Allah
Kita
- Baca
Yeremia 31:27-28. Apa yang Allah janjikan bagi umatNya di masa mendatang?
(Ia akan membangun kembali bangsa mereka.)
- Baca
Yeremia 31:29-30. Perubahan seperti apa yang Allah prediksikan akan
terjadi dalam hubungan kita denganNya?
- Apa
yang Allah maksudkan tatkala Ia berbicara tentang ayah yang makan buah
mentah dan anak-anak yang giginya merasa ngilu? (Perbuatan para ayah
akan membawa dampak bagi kehidupan anak-anaknya.)
- Apakah
‘menikahi’ suatu bangsa merupakan simbol yang tepat di masa-masa
mendatang? (Tidak. Hubungan Allah tidak lagi difokuskan kepada suatu
bangsa (pengantinNya). Sebaliknya, kini hubungan Allah difokuskan kepada
individu. Allah masih memiliki umat percaya sebagai tubuhNya (Kolose
1:24), namun penekanannya adalah kepada individu, bukan kepada suatu
bangsa.)
- Apakah
ini menjadi sumber sukacita kita? Ataukah, saudara lebih suka jika Allah
memperhatikan satu kelompok dan tidak secara khusus memperhatikan
saudara?
- Baca
Yeremia 31:31-32. Apa alasan sehingga Allah mengadakan perubahan dalam
hubungan kita denganNya? (Sekalipun ia merupakan “suami” orang Israel,
mereka melanggar kontrak yang pernah dibuat antara mereka dan Dia –
mereka tidak taat kepadaNya.)
- Baca
Yeremia 31:33-34. Apa beda perjanjian (kontrak) yang baru ini dengan yang
lama? (Hukum kini dituliskan dalam hati dan pikiran kita, bukan di atas
batu.)
- Apa
artinya? (Menurut saya hal itu merujuk kepada sikap kita.)
- Bagaimana
agar kita bisa memiliki sikap seperti itu? Bagi saya tidak masuk akal
rasanya kalau Allah mengatakan “Baiklah, sekarang sudah ada perjanjian
yang baru. Kali ini engkau akan menunjukkan sikap yang benar.” Bagaimana
sikap yang baru ini muncul? (Kuncinya ada dalam ayat 34. “Aku akan
mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka.")
- Baca
Matius 26:27-28. Bagaimana Allah mengampuni dosa kita? (Oleh mati bagi
kita.)
- Baca
Ibrani 9:15. (Saudara perlu menyisihkan waktu untuk membaca Ibrani pasal
8-10) Bagaimana sampai peristiwa ini (kematian Yesus) mengubah sikap
kita? (Ingat bagaimana terkejutnya kita melihat bagaimana Yehezkiel
kehilangan istrinya dan peristiwa ini menggambarkan apa yang Allah ingin
utarakan? Di sini, hubungan Allah dengan kita serta betapa mengerikannya
dosa itu dengan jelas diilustrasikan dalam kematian Yesus bagi kita.
Peristiwa tersebut selayaknya mengubah sikap kita terhadap Allah dan
terhadap dosa!)
- Baca
Ibrani 10:19-24. Kematian Yesus ganti kita dan peranNya kini sebagai Imam
besar kita menumbuhkan sikap baru yang seperti apa di dalam diri kita?
(Keberanian, tulus ikhlas, keyakinan iman, nurani yang bersih,
pengharapan, saling percaya dan kerinduan untuk saling mendorong dalam
kasih perbuatan baik.)
- Sobat,
dapatkah engkau melihat betapa Allah rindu memiliki hubungan yang
seerat-eratnya denganmu? Ia adalah pasangan hidup, Ia adalah Bapa, dan Ia
memberikan hidupNya bagimu! Maukah engkau menyerahkan hatimu kepadanya?
Maukah engkau mengubah sikapmu agar selalu rindu untuk menjalin hubungan
denganNya? Maukah engkau memilih hidup kekal?
- Pekan
depan kita akan mulaikan seri pelajaran baru yang berjudul “Api Tukang
Pemurni Logam.”