<-- The Jobs: Living With Losses

Keluarga Ayub: Hidup dengan Kehilangan

(Ayub 1-2)

Dalam Susah atau Senang: Pelajaran 9

 

Copr. 2007, Bruce N. Cameron, diterjemahkan oleh Debbie Jacobs. Semua referensi Alkitab dikutip dari Alkitab Terjemahan Baru ©1974 Lembaga Alkitab Indonesia, kecuali disebutkan lain. Saran jawaban terdapat di dalam tanda kurung. Pengajar diasumsikan menggunakan papan tulis atau alat peraga lainnya dalam membawakan pelajaran. Pelajaran ini dapat dilihat di http://www.GoBible.Org/indonesian.

Isteri saya mengajar kelas-kelas awal di sebuah sekolah dasar. Pada suatu tahun ajaran seorang anak di kelasnya mengalami masalah. Ia menangis di depan istri saya, “Saya tidak tahu kenapa ini terjadi pada diri saya. Saya bayar perpuluhan!” Pernahkah saudara mengucapkan hal seperti ini di masa lalu: “Allah, saya tidak tahu kenapa hal ini terjadi pada diri saya. Saya setia kepada-Mu?” Tragedi membuat perasaan kacau. Reaksi dari pasangan sangatlah mempengaruhi kesanggupan kita menangani tragedi. Akankah pasangan saudara menghibur saudara atau menyalahkan saudara? Akankah saudara menjadi pasangan yang memberi hiburan ataukah yang melontarkan tuduhan? Mari mulaikan pelajaran kita dan menengok kisah tentang Bapak dan Ibu Ayub!

  1. Manusia Ayub

    1. Baca Ayub 1:1-3. Fakta penting apa yang kita pelajari tentang Ayub? Mari kita daftarkan hal-hal yang kita pelajari tentang dia.

      1. Dia adalah “yang terkaya dari semua orang di sebelah timur.”

      2. Ia tinggal di Uz (Edon, sebelah barat daya laut mati.)

      3. Ia seorang yang saleh. Kata Ibraninya secara harfiah berarti “sempurna.”

      4. Ia seorang yang jujur. Kata Ibraninya secara harfiah berarti “lurus.”

      5. Ia takut akan Allah (menghormati Allah.)

      6. Ia menjauhi kejahatan. (Secara harfiah “memadamkan” kejahatan.)

        1. Berapa banyak dari kita yang bisa mengatakan kita “memadamkan” dan bukan “menyalakan” kejahatan?

      7. Ia seorang yang kaya (7,000 domba, 3,000 unta; 500 pasang lembu; 500 keledai).

      8. Allah memberkatinya dengan tujuh orang anak laki-laki dan 3 orang anak perempuan. (Angka yang sempurna. Perhatikan hal yang sama berlaku pada jumlah binatangnya yang merupakan kelipatan angka 10.)

    2. Baca Ayub 1:4-5. Orang tua macam apa Ayub itu? (Ia benar-benar memperhatikan keselamatan rohani keluarganya—seorang yang percaya pada “nilai-nilai keluarga.”)

      1. Apakah saudara berintervensi dengan Allah demi keselamat rohani anak-anak saudara?

    3. Maukah saudara menjadi seperti Ayub? Bukankah hidupnya hebat?

  2. Tragedi Menyerang

    1. Petaka apa yang diceritakan di sini?

      1. Menurut dugaan saudara bagaimana kabar ini berdampak pada Ayub? (Setengah dari ternaknya baru saja lenyap. Lembu dan keledai sudah tidak ada lagi dalam daftar.)

      2. Apakah ada petunjuk di sini tentang anak-anak Ayub manakala disebutkan bahwa mereka mengadakan pesta pada hari kerja? Bukankah seharusnya mereka ada di luar sana mengatur pekerjaan para pesuruh?

    2. Baca Ayub 1:16. Makna apa yang terkandung pada fakta bahwa reporter pertama masih sedang berbicara ketika reporter kedua tiba dengan reportasinya? (Ayub belum sempat pulih dari berita mengerikan yang pertama.)

      1. Petaka apa yang diceritakan di sini? Bagaimana kabar itu berdampak pada Ayub? (Domba dan hamba-hamba dihapus dari daftar. Ayub kini mungkin telah kehilangan lebih dari ¾ harta kekayaannya.)

      2. Api dari langit yang bagaimana ini? Apakah ini penghukuman langsung dari Allah? (Pesuruh itu mungkin sedang melukiskan tentang kilat yang yang menyambar dan membakar rerumputan.)

        1. Alkitab King James Version menyebutkan api ini sebagai “the fire from God”—api dari Allah. Apakah api ini memang dari Allah? (Coba kita mengintip apa yang terjadi di belakang layar dan baca Ayub 1:6-12. Ini menunjukkan bahwa Setanlah, bukan Allah, yang membuat kilat ini menyambar.)

        2. Pikirkan kesanggupan Setan mengendalikan kilat. Berapa banyak kesanggupan yang ia miliki sekarang untuk menciptakan bencana alam?

        3. Perhatikan juga bahwa pekerjaan Setan dianggap sebagai pekerjaan Tuhan. Menurut saudara, seberapa banyakkah hal semacam ini terjadi di masa kini?

    3. Baca Ayub 1:17. Perhatikan bahwa reporter kedua masih sementara berbicara. Petaka macam apa yang digambarkan di sini? (Kini unta dicoret dari daftar; yang tersisa dari kekayaan Ayub.)

    4. Baca Ayub 1:18-19. Tadi kita telah menyimak daftar yang kita buat tentang Ayub and kita mengira-ngira apa rasanya menjadi orang seperti dia. Apa yang lenyap? (Hampir semua berkat-berkatnya. Harta bendanya dan anak-anaknya kini lenyap.)

      1. Sebutkan apa yang saudara yakini sebagai dampak dari hilangnya semua anak pada seseorang yang kebiasaannya adalah memberikan persembahan bagi setiap anaknya? (Jelas terlihat bahwa Ayub sangat menaruh peduli pada anak-anaknya. Kasih dan kepeduliannya tiap hari berlanjut terus bahkan hingga mereka dewasa. Ini merupakan tragedi yang sulit dipercaya.)

      2. Sekali lagi, perhatikan bagaimana mereka tewas—gangguan alam yang tampaknya dapat dikendalikan oleh Setan.

    5. Bayangkan bahwa dalam dua puluh menit terakhir saudara telah: kehilangan pekerjaan; kehilangan semua uang tabungan di bank; kehilangan semua sumber pendapatan lainnya; dan seluruh anak saudara terbunuh.

      1. Bagaimana reaksi saudara?

      2. Apa kata saudara tentang Allah jika banyak dari kehilangan yang terjadi sepertinya bersumber dari hal supranatural?

    6. Baca Ayub 1:20-21. Bagaimana reaksi Ayub? (Sungguh seorang yang menaruh percaya!)

    7. Ayub tidak mengatakan, “Sial betul kita hari ini: cuaca buruk dan tetangga gaduh pula!” Seberapa dekatkah Ayub dengan keadaan yang sebenarnya? Apa peran keberuntungan dan Allah di sini?

    8. Baca Ayub 1:22. Mengapa Alkitab mengeluarkan pernyataan ini?

      1. Apakah menyalahkan Allah merupakan hal yang paling wajar di dunia ini?

        1. Apakah Ayub menghubungkan kehilangan tersebut kepada Allah, namun semata bersikap “santun?” (Ia mengatakan “Tuhan yang memberi.”)

      2. Bukti apa yang ada pada Ayub, selain kilat dan angin, bahwa tragedi ini memiliki sumber supranatural? (Dalam keempat bencana yang menimpa Ayub, perhatikan ketepatan waktunya. Empat kali hanya satu orang saja lolos: tepat sejumlah yang diperlukan untuk menyampaikan tragedi tersebut kepada Ayub. Dalam peristiwa angin puting beliung, kesepuluh anak Ayub tewas, tiada satu yang lolos, tiada satu yang hanya cedera. Bagi saya ini bukanlah hasil kerja acak. Nampaknya, bencana menimpa Ayub dalam cara yang sama.)

      3. Kita tahu bahwa ini merupakan pekerjaan Setan, bukan Allah. Karenanya jika ketepatan waktu dari terjadinya bencana-bencana ini tidak membuat saudara merinding, saya sarankan agar saudara memeriksakan kepala saudara. Kita perlu benar-benar memastikan bahwa kita tidak dengan suka rela menempatkan hidup dan keselamatan kita di tangan Setan dengan melakukan kehendaknya.)

      4. Ahirnya, apakah pada ujung-ujungnya Allah yang bertanggung jawab karena Ia “mengijinkan” tragedi-tragedi ini terjadi?

        1. Berdosakah Ayub jika ia menyalahkan Allah? (Ayat ini menyiratkan demikian.)

  3. Ujian Kedua

    1. Ayub 2:7-8. Apa yang direnggut dari Ayub kali ini? (Kesehatannya.)

    2. Apa yang menyolok tentang penyakit kulit ini? (Menyakitkan.)

      1. Orangnya bisa berjalan?

      2. Tidur?

      3. Apakah Setan memiliki pengetahuan dan kesanggupan untuk menghancurkan kesehatan kita juga?

    3. Mengapa Ayub menggaruk-garuk tubuhnya dengan sepotong tembikar? Pengobatan seperti apa itu? Di manakah istrinya? (Matthew Henry, penjelasan Alkitab yang sangat tua, memiliki tinjauan yang menarik mengenai pengobatan Ayub. Buku tersebut mengatakan bahwa orang lain harus mengoleskan salep ke atas borok Ayub. Namun Ayub tidak sanggup membayar dokter; anak-anaknya dan pesuruh-pesuruhnya sudah tewas, dan istrinya tidak peduli. Ayub tidak cukup baik mengurus diri sendiri.)

  4. Sang Istri

    1. Apa yang masih Ayub miliki? (Hidupnya, istrinya, sahabat-sahabatnya.)

    2. Coba sejenak kita bahas “ketepatan serangan” Setan. Mengapa Ayub masih bernyawa? (Ayub 2:6 – Allah melarang Setan mengambil nyawanya.)

    3. Mengapa Ayub masih memiliki istriya? Apakah setan dilarang mengambil nyawa istrinya?

    4. Baca Ayub 2:9-10. Bagaimana istri Ayub dalam pemandangan Allah?

      1. Apakah saudara menyalahkannya? (Jika ia yakin (sebagaimana yang ia mungkin yakini) bahwa berkat-berkat mereka merupakan hasil dari penurutan Ayub akan Allah, ia akan menyimpulkan bahwa suaminya telah mengecewakannya (karena anak-anaknya jadi korban) karena gagal menuruti Allah, atau bahwa Allah mengecewakan mereka dengan mengijinkan tragedi-tragedi ini terjadi. Kalau tidak Ayub maka Allahlah yang ia salahkan.)

      2. Apakah Ayub mengecam asumsi-asumsi istrinya? (Ya. Ia mengatakan bahwa semata karena melayani Allah tidaklah berarti bahwa segala sesuatu akan berlangsung baik. Ia mengatakan istrinya bodoh karena memiliki asumsi yang bertolak belakang.)

      3. Apa gunanya mengutuk Allah? (Siapa yang salah pada akhirnya akan mendapat ganjaran. Mengutuk Allah itu ibaratnya “membalas dendam” kepada Allah. Mengutuk Allah mungkin juga akan mengakibatkan Ayub mati—sebagai “hukumannya” dan ia akan terbebas dari penderitaannya.)
         
      4. Perlukah saya kembali mengajukan pertanyaan mengapa Setan membiarkan istri Ayub hidup?

        1. Di dalam konflik kosmik ini, siapa yang ingin agar Ayub mengutuk Allah kemudian mati? (Setan! Baca Ayub 2:4-5. Inilah tepatnya apa yang akan dilakukan Ayub menurut prediksi Setan. Jika Ayub menuruti saran istrinya, ia akan melaksanakan kehendak Setan yang eksplisit.)

        2. Bagaimana perbandingan Ayub dan Adam menurut saudara?

        3. Apakah yang diajarkan untuk masa kini mengenai perkawinan dan pasangan kita? (Pasangan kita tidak selamanya memberikan saran yang saleh. Nestapa, prasangka, amarah dapat memuntir saran seseorang.)

    5. Baca Ayub 42:13. Apakah yang dikatakan di sini soal masa depan Ayub dan istrinya? (Bahwa mereka bisa melewati semua ini.)

    6. Sobat, dalam perkawinan Allah perlu didahulukan dan saran dari pasangan hidup perlu diuji apakah sesuai dengan kehendak Allah. Adam gagal dalam ujian seperti itu. Ayub lulus. Bagaimana dengan saudara?

  5. Pekan depan: Perzinahan dan Sesudahnya.