Elkana
dan Hana: Memenuhi Nazar
(1
Samuel 1 & 2)
Dalam
Susah atau Senang: Pelajaran 8
Copr.
2007, Bruce N. Cameron, diterjemahkan oleh Debbie Jacobs. Semua referensi
Alkitab dikutip dari Alkitab Terjemahan Baru ©1974 Lembaga Alkitab Indonesia,
kecuali disebutkan lain. Saran jawaban terdapat di dalam tanda kurung. Pengajar
diasumsikan menggunakan papan tulis atau alat peraga lainnya dalam membawakan
pelajaran. Pelajaran ini dapat dilihat di http://www.GoBible.Org/indonesian.
Pendahuluan:
Bagaimana kehidupan saudara sekarang ini? Apakah ada yang hilang dan hanya
Allah yang bisa memenuhinya? Apakah teman dan kerabat mempersulit hidup
saudara? Apakah pasangan saudara berusaha membantu namun ia tidak memahami apa
sesungguhnya kebutuhan saudara? Jika saudara menjawab “ya” pada satu saja dari
daftar pertanyaan ini, maka pelajaran ini untuk saudara. Jika saudara sedang
berupaya membantu mengatasi kesedihan seseorang, pelajaran ini mungkin
bermanfaat. Mari segera mulaikan pelajaran Alkitab kita!
- Keluarga
Elkana
- Baca
1 Samuel 1:1-2. Berdasarkan apa yang saudara ketahui mengenai budaya
Ibrani, sebutkan perasaan2 seperti apa yang akan ditemukan dalam keluarga
seperti ini? (Istri yang tak mempunyai anak akan merasa rendah diri
terhadap istri yang memiliki anak. Sang suami akan lebih menyukai istri
yang memberinya anak-anak, khususnya anak laki-laki.)
- Coba
loncat ke bawah dan baca 1 Samuel 1:6-7. Apakah saudara membayangkan
kejadiannya akan seburuk ini?
- Gambaran
utuhnya belum kita ketahui. Apa yang diceritakan di sini tentang Penina,
istri yang memiliki anak? (Untuk satu dan lain hal, ia merasa rendah
diri karenanya ia ingin mempersulit hidup Hana.)
- Apakah
menurut saudara emosi Hana sedang porak-poranda?
- Baca
1 Samuel 1:3-5. Mengapa tindakan Elkana berbeda dari anggapan kita? (Ini
menyiratkan bahwa Elkana seorang yang religius. Menurut saya tindakannya
mencerminkan hal ini. Alkitab mengatakan ia bersimpati terhadapa istriya
yang tidak memiliki anak. Ia juga mencintai Hana. Karena Hana tidak
memiliki anak, maka Elkana “mengimbangi”-nya.)
- Sekarang
kita sudah melihat gambaran besarnya. Sebutkan mengapa Penina menunjukkan
sikap sangat bermusuhan terhadap Hana? (Dalam benaknya ia pantas
memperoleh cinta dan penghormatan yang lebih besar karena ia yang
memiliki anak. Namun, ia tidak memperoleh apa yang menjadi haknya. Ia
akan menghukum Hana atas situasi “yang tidak adil” ini.)
- Baca
1 Samuel 1:8. Bagi para istri, apa pendapat kalian mengenai Elkana
sebagai seorang suami? Ia bertanya ada apa. Apakah ia tahu apa yang
sedang terjadi? Apakah ia berhasil membujuk istrinya, atau ia semata
“salah tingkah?” (Lelaki biasanya bersikap logis – dan menurut Elkana,
cintanya kepada istrinya (yang dua kali lipat) seharusnya bisa
menyelesaikan masalah.)
- Mengapa
cinta dan kebaikan hati Elkana tidak bisa menyelesaikan masalah? (Persoalannya
tidak terletak pada diri Elkana. Hana menganggap dirinya sendiri yang
jadi masalah. Elkana bisa saja senilai dengan “sepuluh anak laki-laki,”
tapi Hana tidak. Hana tahu itu. (Ia bahkan tidak memiliki satu anak
pun.) Yang lebih buruk lagi, ia yakin bahwa Allah berpendapat sama
dengan Penina – dirinya tidak berharga.)
- Apakah
Elkana merasa tak berdaya? (Ya. Ia tidak dapat “membenahi” persoalan.
Ia mengira cinta dan logikanya sudah cukup untuk mengobati duka lara
Hana. Ternyata tidak demikian. Siapa yang senang melihat istrinya
menangis dan bersedih sepanjang waktu? Elkana merasa punya andil dalam
kesedihan istrinya.)
- Coba
mundur sejenak: apa akar permasalahan dalam keluarga ini? (Akar masalah
adalah adanya dua istri. Tentunya saudara tidak ingin membawa roh
persaingan ke dalam perkawinan saudara. Pasangan saudara seharusnya
menjadi nomor satu – dan dia perlu mengetahui hal itu.)
- Janji
- Baca
1 Samuel 1:9-11. Apa pendapat saudara tentang janji Hana? Apakah saudara
pernah berjanji pada Tuhan bahwa jika saudara menang undian saudara akan
melunasi hutang gereja?
- Apa
arti “pisau cukur tidak akan menyentuh kepalanya?” (Ingat dua minggu
lalu kita membahas tentang Simson dan sumpah kenaziran? Hana berjanji
bahwa jika memiliki anak, anak tersebut akan menjadi Nazir – orang yang
diasingkan untuk melayani Allah. Lihat Bilangan 6:1-8.)
- Pikirkan
hal ini sejenak: Hana berjanji untuk memberikan kepada Allah apa yang ia
tidak miliki dan membaktikan hidup orang lain! Apa yang Hana serahkan di
sini? Berapa banyak janji kita terhadap Allah seperti ini – berikanlah
sesuatu kepada saya dan saya akan memberimu sesuatu yang tidak saya
miliki sekarang ini? Bagaimana dengan memberikan Allah sesuatu yang
memang saudara miliki?
- Siapakah
yang memperhatikan Hannah yang sedang berdoa? (Eli, sang Imam Besar.)
- Baca
1 Samuel 1:12:14. Saudara tentunya pernah melihat orang yang mulutnya
komat-kamit saat sedang membaca tanpa suara. Bibir Hana komat-kamit saat
berdoa tanpa suara. Apa yang diceritakan di sini tentang doanya?
(Umumnya, orang yang menggerakkan bibir saat membaca bukanlah pembaca
yang baik. Jadi, mereka berkonsentrasi pada apa yang sedang mereka baca
dan tidak sadar bahwa bibir mereka sedang komat-kamit. Hana sangat
berkonsentrasi dalam doanya tanpa mempedulikan bagaimana penampilannya.)
- Apa
kesimpulan Eli? (Perempuan ini sedang mabuk.)
- Apa
yang tersirat di sini soal mabuk di seputaran kaabah? (Tersirat bahwa
kejadian seperti ini cukup biasa sehingga Eli menyimpulkan seseorang
sedang mabuk, bukannya pertama-tama menganggap mereka sedang tertekan.)
- Eli
- Baca
1 Samuel 1:15-17. Apa pendapat saudara tentang jawaban Eli? (Ia tidak
menanyakan detil permasalahannya. Ia hanya berujar: pergilah dengan
selamat, semoga Allah memberi apa yang engkau minta.)
- Jawaban
seperti inikah yang saudara harapkan dari seseorang?
- Apakah
ada alasan untuk mengatakan bahwa ini merupakan jawaban yang baik? (“Derajat
kepekaan” saya memang tidak begitu baik, namun paling tidak saya akan
menanyakan duduk perkaranya. Dengan melakukan hal demikian siapa tahu
saya bisa menelurkan “ide cemerlang” untuk “membenahi” masalah tersebut.
Pendekatan saya ini memiliki kekurangan yakni saya bergantung pada diri
sendiri untuk menemukan solusi. Eli menyerahkan perkara tersebut
sepenuhnya kepada Allah.)
- Baca
1 Samuel 1:18. Bagaimana prediksi saudara dibandingkan dengan apa yang
terjadi? (Kata-kata Eli tentulah tepat karena Hana kembali ceria.)
- Baca
1 Samuel 2:12, 22-24. Berapa nilai yang saudara berikan kepada Eli
sebagai seorang ayah? (Eli menunjukkan sikap “tidak turut campur” terhadap
anak-anaknya seperti yang dia tunjukkan terhadap Hanna. Mestinya dulu ia
secara aktif melibatkan diri dalam hidup anak-anaknya untuk membentuk
sikap yang benar dalam diri mereka. Jika perilaku mereka tidak baik, ia
seharusnya melarang mereka melayani di kaabah.)
- Apakah
sudah jelas sekarang mengapa hal pertama yang terlintas dalam benak Eli
adalah bahwa Hana sedang mabuk? (Ia terbiasa melihat perilaku buruk
terjadi di seputaran kaabah oleh karena pengaruh anak-anaknya.)
- Baca
1 Samuel 2:13-17. Apakah anak-anak Eli itu tak punya moral semata? Apakah
mereka hanya “biang pesta” saja? Ataukah, ada masalah yang lebih dalam?
(Ayat ini menunjukkan bahwa mereka menodai peribadatan di kaabah. Mereka
mengganggu jalannya ibadah. The Bible Knowledge Commentary menyebutkan
bahwa tatkala anak-anak ini melakukan hubungan seks dengan
“perempuan-perempuan yang melayani di depan pintu Kemah Pertemuan” (1
Samuel 2:22), mereka terlibat melakukan praktek ibadah bangsa Kanaan.
Orang-orang ini tidak saja tak bermoral, mereka merusak sistem
peribadatan di kaabah.)
- Samuel
- Baca
1 Samuel 1:19-22. Doa Hana kepada Allah dan permohonan berkat yang Eli
layangkan kepada Allah berujung pada seorang anak yang Allah berikan
kepada Hana. Mengapa ia tidak mau ikut pergi ke kaabah dan berterima
kasih kepada Allah karena telah memberinya seorang anak? (Dikatakan bahwa
Samuel belum disapih. Namun saya berkeyakinan bahwa Hana tidak ingin diingatkan
tentang nazarnya. Karenanya ia tidak kembali berkunjung ke kaabah.)
- Perhatikan
bahwa ayat 21 mengatakan bahwa Elkana pergi memenuhi nazarnya. Apa
nazarnya? (Seorang istri tidak bisa begitu saja berjanji untuk
“menyerahkan anak dari seseorang.” Tersirat bahwa Elkana sepenuhnya
sepakat dengan Hana dan menazarkan hal yang sama. Ia kembali ke kaabah
dan mengkonfirmasikan bahwa mereka akan membaktikan Samuel kepada
Allah.)
- Baca
1 Samuel 1:24-28. Hana memenuhi janjinya dalam tawar-menawar dengan
Allah. Ia mengingatkan Eli tentang siapa dirinya dan meninggalkan Samuel
untuk tinggal di kaabah. Menurut saudara bagaimanakah reaksi Eli terhadap
“penitipan” ini?
- Apakah
saudara akan memilih Eli untuk membesarkan anak saudara?
- Tentang
dua pertanyaan yang baru saya ajukan ini – apakah menurut saudara
pertanyaan-pertanyaan ini berkecamuk di dalam benak Hana? (Hana setia
memenuhi nazarnya kepada Allah. Ia bisa saja mengatakan “Eli akan lupa
atau tidak menginginkan anak saya.” Ia bisa saja mengatakan, “Eli tidak
layak menjadi “orangtua” bagi anak saya – lihat saja bagaimana
anak-anaknya!” Menurut saya Ia memikirkan namun menampik hal-hal ini.)
- 1
Samuel 2:18-21. Bagaimana Samuel, sebagai pemberian, membawa dampak bagi
Eli, Hana dan Elkana? (Eli berbahagia, karena ia memberi berkat khusus
kepada orangtua Samuel. Hana dan Elkana memperoleh beberapa anak lagi.
Samuel “besar di hadapan Tuhan.” Sepertinya Eli telah belajar dari
kesalahan-kesalahan yang diperbuatnya terhadap anak-anaknya sendiri.)
- Baca
1 Samuel 2:26. Apa yang diajarkan di sini tentang orang-orang yang
dibesarkan bukan dalam lingkungan yang hebat? (Eli sudah tua.
Anak-anaknya merupakan pengaruh buruk. Namun didikan awal yang Samuel
peroleh dari ibunya, dirangkai dengan kehadiran Allah di kaabah, memberi
Samuel kesempatan untuk bertumbuh dalam cara yang benar. Kita secara
pribadi bertanggung jawab terhadap pilihan-pilihan yang kita ambil. Di
hadapan Samuel terpampang contoh yang berbeda, ia memilih untuk menuruti
teladan yang benar.)
- Sobat,
Allah hadir bagi Hana. Ia memulihkan nama baiknya, Ia menjawab doanya
seperti yang dimintakan, Ia “mengalahkan” musuh-musuhnya. Dalam rangkaian
kejadian ini, Hana hanyalah seorang perempuan yang bisa dibilang kurang
penting. Namun, anaknya Samuel menjadi salah satu dari pemimpin yang baik
di hadapan Allah. Sungguh merupakan suatu berkat manakala Allah menjawab
“ya,” terhadap doa-doa pribadi kita dan pada saat yang sama menggunakan
jawaban-Nya tersebut untuk menjadi berkat bagi orang lain. Maukah engkau
percaya pada jawaban Allah, apapun jawaban tersebut?
- Pekan
depan: Keluarga Ayub: Hidup dengan Kehilangan