Musa
dan Zipora: Berhubungan dengan Kerabat
(Keluaran
2, 4 & 18)
Dalam
Susah atau Senang: Pelajaran 5
Copr.
2007, Bruce N. Cameron, diterjemahkan oleh Debbie Jacobs. Semua referensi
Alkitab dikutip dari Alkitab Terjemahan Baru ©1974 Lembaga Alkitab Indonesia,
kecuali disebutkan lain. Saran jawaban terdapat di dalam tanda kurung. Pengajar
diasumsikan menggunakan papan tulis atau alat peraga lainnya dalam membawakan
pelajaran. Pelajaran ini dapat dilihat di http://www.GoBible.Org/indonesian.
Pendahuluan:
Saudara tentunya telah mengetahui latar belakang cerita Musa: Ia dilahirkan di
Mesir sebagai budak Ibrani. Lebih buruk lagi, Firaun telah bertitah bahwa ia,
seperti juga bayi lelaki Ibrani lainnya, harus ditenggelamkan ke sungai Nil.
Ibu Musa menaruh Musa di sungai Nil, namun di atas sebuah keranjang kecil yang
mengapung. Putri Firaun menemukan Musa di dalam keranjang kecilnya, dan
memutuskan untuk mengangkat Musa sebagai anaknya. Dan Musa pun tumbuh menjadi dewasa
sebagai Putra Firaun. Mari selami pelajaran kita dan pelajari lebih dalam
tentang Musa dan perkawinannya!
- Pelarian
- Baca
Keluaran 2:11. Emosi seperti apa yang saudara harapkan dari Musa?
Sekalipun di tahun-tahun awal kehidupannya ia dibesarkan oleh ibunya
sendiri yang berbangsa Ibrani (Keluaran 2:1-10), tak diragukan lagi ia
telah dididik dalam cara Mesir. Akankah ia menyamakan dirinya dengan para
budak atau dengan keluarga angkatnya yang berpendidikan?
- Baca
Keluaran 2:12. Ini menjadi jawaban dari pertanyaan kita tadi, ia
jelas-jelas menyamakan dirinya dengan orang Ibrani. Mungkin saja ia
semata tidak suka dengan ketidak-adilan. Apakah Musa mengira bahwa
tindakan membunuh orang Mesir tersebut itu benar adanya? Mengapa tidak
menengahi saja dan menghentikan pemukulan tersebut? (Alkitab
mengungkapkan bahwa Musa tahu kalau membunuh itu melanggar hukum, karena
ia memandang sekeliling untuk melihat apakah ada yang memperhatikan.
Ditambah lagi, ia menyembunyikan mayat orang tersebut.)
- Beginikah
seharusnya standar perilaku kita – apakah ada yang mengetahui atau
tidak?
- Baca
Keluaran 2:13-14. Emosi seperti apa yang menjalari pikiran Musa kini?
- Apa
yang ada dalam benaknya mengenai bangsanya sendiri? (Mereka tidak
berterima kasih atas apa yang telah ia lakukan.)
- Apa
yang ada dalam benaknya mengenai keluarga angkatnya? (Bahwa ia telah
mengkhianati mereka dan melanggar salah satu aturan dasar mereka.)
- Andai
Musa bukan dari bangsa Ibrani, menurut saudara apakah jadi soal jika ia
membunuh orang Mesir? (Saya tidak begitu tahu pasti seberapa kuat “aturan
hukum” di Mesir. Menurut perkiraan saya, secara umum hal ini tidaklah
akan jadi soal – anggota keluarga raja membunuh seorang budak – dengan
mempertimbangkan titak untuk membunuh bayi laki-laki Ibrani. Masalahnya di
sini adalah bahwa tindakan ini menunjukkan bahwa Musa tidak loyal kepada
Mesir dan menunjukkan loyalitas terhadap bangsa budak. Jelas hal tersebut
akan menjadi masalah bagi seorang pemimpin Mesir di masa depan.)
- Baca
Keluaran 2:15-16. Kita dapati bahwa membunuh orang Mesir merupakan
persoalan yang serius bagi Musa. Ia meloloskan diri dari kematian dengan
melarikan diri. Apakah saudara memperhatikan adanya sebuah pola dalam
beberapa pelajaran kita yang terakhir? Ke mana kita harus pergi jika
ingin bertemu perempuan? (Sumur.)
- Pekan
lalu kita membahas emosi Yakub saat bertemu Rahel, putri Laban.
Bagaimana perbandingannya dengan keadaan emosi Musa?
- Apa
persamaannya di zaman modern ini untuk sumur sebagai tempat untuk
bertemu dengan kaum perempuan? Pasar swalayan? Pompa bensin? Bar? Taman?
(Tahulah kita sekarang kenapa agak sulit bertemu perempuan sekarang ini
– bekerja dan mengurusi air kini sudah dipisahkan. Kalau begitu jawabnya
adalah air mancur di kompleks perkantoran.)
- Baca
Keluaran 2:17. Kesan apa yang kita dapatkan tentang karakter dan
kecakapan Musa? Ia membunuh orang Mesir pembuat onar, ia melerai
pertengkaran antara orang Ibrani dan ia mengusir gembala-gembala yang
membuat onar. (Ia tidak saja memilihi rasa keadilan yang tinggi, ia
meyakini bahwa ia terbebani untuk turut campur tangan untuk memperbaiki
keadaan. Secara umum, orang yang kerdil dan lemah tidak akan melakukan
hal-hal seperti itu. Karenanya, saya menyimpulkan bahwa Musa, kalau pun
bukan seorang yang berbadan besar, tentunya seorang yang kuat dan terlatih
baik sebagai petarung.)
- Perkawinan
- Baca
Keluaran 2:18-10. Kelihatannya, putri-putri ini tidak sedang mencari
seorang lelaki di sumur. Ayah mereka lah yang sedang mencari. Apa yang
kita pelajari tentang ayah ini dalam rangkaian ayat ini? (Ia seorang ayah
yang beragama – seorang “imam di Midian.” (Keluaran 2:16) Ia memiliki
banyak putri dan mungkin saja tidak ada putra! Salah satu: ia memiliki
rasa terima kasih, atau ia sedang mencari seseorang untuk menolong
putri-putrinya dalam tugas mereka sehari-hari. (Sedikit catatan tentang
namanya. Keluaran 2:18 menyebut sang ayah ini “Rehuel.” Setelah itu,
dalam Keluaran 3:1 ia disebut sebagai “Yitro.” Jadi kita sebut saja ia
“Yitro Rehuel.”)
- Baca
Keluaran 2:21-22. Apa sikap Musa? Bagaimana saudara akan bersikap
seandainya saudara ada di tempat Musa? (Musa dulu tinggal di istana dari
sebuah negeri yang paling maju dan terkemuka di dunia. Ia kini seorang
pendatang di negeri asing – tinggal dengan para gembala. (Bangsa Mesir
secara historis membenci gembala. Kejadin 46:34.) Menurut saya komentar
Musa mencerminkan sikap ‘nrimo’ terhadap keadaannya yang
memprihatinkan.)
- Bagaimana
evaluasi saudara tentang peluang sukses Musa dalam perkawinannya dengan
Zipora? Faktor-faktor apa yang menurut saudara penting untuk
dipertimbangkan? (Ia memiliki latar belakang agama yang berbeda. Ia
memiliki latar belakang budaya yang berbeda. Ia memiliki latar belakang
ras yang berbeda. Ia memiliki latar belakang ekonomi yang berbeda –
sekalipun perbedaan-perbedaan tersebut mungkin tidak sebesar yang
terlihat. Sebuah buku penjelasan Alkitab berjudul Critical and
Explanatory on the Old and New Testaments, menyebutkan bahwa “imam
dari Midian” bisa juga diartikan sebagai “pangeran dari Midian” – dan
secara umum jabatan tersebut bisa digabungkan. Oleh karena itu, buku
tadi menganggapnya sebagai penguasa kaum Kush. Keyakinan saya adalah
bahwa lebih besar perbedaan latar belakang antar pasangan suami istri,
lebih sulit untuk “menjadi satu” adanya. Kedua orang ini tidak memiliki
persamaan.)
- Allah
memanggil Musa untuk melepaskan bangsa Ibrani dari perhambaan Mesir. Mari
lanjutkan cerita ini dengan membaca Keluaran 4:18-20. Bagaimana
perkawinan mereka? (Berbeda dengan perkiraan saya. Kisah 7:30 menyebutkan
bahwa Musa berada di Midian selama 40 tahun. Karena itu, sepertinya ia
telah menikah selama itu.)
- Apa
alasan yang Musa berikan kepada ayah mertuanya tentang rencananya pergi
ke Mesir? (Semacam “tur inspeksi” – untuk melihat apakah teman-teman
lamanya masih hidup. Reuni kelas dan sejenisnya. Sangat tidak berbahaya.)
- Apa
alasan sebenarnya bagi Musa untuk pergi? (Baca Keluaran 3:9-11. Ia
pergi, atas perintah Allah, untuk menghadap Firaun dan meyakinkannya
agar melepaskan para budak Ibrani.)
- Apakah
Musa sedang menunjukkan sikap rendah hati semata? Mengapa ia secara
serius tidak mengatakan kepada ayah mertuanya tentang alasan
kepergiannya?
- Baca
Keluaran 4:24-26. Alkitab tidak menyebutkan bagaimana sampai Allah
“berikhtiar untuk membunuh” Musa. Jelas Allah dengan mudah bisa
membunuhnya. Saya meyakini bahwa Musa jatuh sakit. Dalam keadaan sakit
parah, apa yang biasa dilakukan orang? (Memeriksa kembali hidup mereka.
Dalam kasus ini, Musa sedang berada dalam misi yang sangat penting dan
hidupnya perlu diselaraskan dengan kehendak Allah.)
- Mengapa
peristiwa penyunatan putranya menjadi “urusan penting” bagi Allah?
(Dalam Keluaran 3 Allah berulang-ulang menyebutkan bahwa Ia adalah Allah
Abraham dan Ia mengingat dan memenuhi janjiNya untuk menuntun keturunan
Abraham ke negeri perjanjian Kanaan. Kejadian 17:10-14 mengingatkan kita
bahwa lambang dari perjanjian antara Allah dan Abraham adalah ritual
penyunatan. Bagaimana bisa Musa menjadi pemimpin menuju penggenapan
perjanjian sementara ia mengabaikan lambang dari perjanjian tersebut?)
- Secara
logis kira-kira apa yang menjadi alasan sehingga Zipora menyebut Musa
“pengantin darah?” (Alkitab tidak mengatakannya, tapi saya membayangkan
Zipora menentang penyunatan anaknya. Tak seorang pun ingin anaknya
ditoreh. Di sini ia menunjukkan perasaannya tentang ritual tersebut.
Saya menduga hal ini menjadi sumber perselisihan antara mereka berdua.
Musa tunduk kepada istrinya. Namun kini ia sakit parah. Ia tersadar akan
kewajibannya namun terlalu lemah untuk melaksanakan ritual tersebut. Ia
memberitahu Zipora apa yang ia yakini sebagai penyebab sakitnya – lalu
Zipora dengan enggan melaksanakan ritual tersebut untuk menyelamatkan
nyawa suaminya. Ia tidak senang melakukan hal tersebut – dan ia
mengatakannya.)
- Setelah
perjuangan besar di hadapan Firaun, Musa menuntun bangsa Ibrani keluar
dari Mesir. Baca Keluaran 18:1. Menurut saudara berapa besar rasa
terkejut Yitro Rehuel terhadap peristiwa ini? (Bertentangan dengan
pernyataan Musa bahwa kunjungannnya semata untuk mengetahui kehidupan dan
kesehatan teman-temannya, Yitro Rehuel kini mendengar bahwa Musa telah
membawa seluruh bangsa Ibrani keluar dari perhambaan – dan menenggelamkan
bala tentara Mesir ketika proses tersebut sedang berlangsung!)
- Baca
Keluaran 18:2-5. Mengapa Musa menyuruh istri dan anak-anaknya pergi? Bukankah
terakhir kita melihat mereka mengadakan perjalanan bersama-sama menuju
Mesir? (Baca Keluaran 4:22-23. Allah menyuruh Musa untuk mengatakan
kepada Firaun bahwa Ia akan membunuh anak sulung Firaun kalau ia tidak
membebaskan bangsa Ibrani. Saya tidak akan membawa serta anak saya dalam
misi semacam itu. Saya tidak akan menempatkan mereka di dekat-dekat saya.
Menurut saya pikiran semacam itu terlintas di benak Musa dan membuat ia
mengirim istri dan anak-anaknya kembali kepada ayah mereka.)
- Baca
Keluaran 18:6-12. Bagaimana hubungan Yitro dan Musa?
- Apa
dampak dari kesetiaan Musa pada Allah terhadap kehidupan rohani Yitro
Rehuel?
- Apa
dampak dari kesetiaan Musa pada Allah terhadap kehidupan rohani Zipora?
(Tidak jelas apakah Yitro dan Zipora telah mengakhiri hubungan mereka
dengan ilah-ilah lain, namun mereka jelas telah diyakinkan tentang
Allahnya Musa – bahwa Ia adalah lebih besar dari ilah lainnya.)
- Sobat,
sekiranya engkau menikah dengan seorang yang tidak seiman, kesetiaanmu
terhadap Allah bisa mempertobatkan hati pasanganmu dan mertua serta
iparmu. Memang lebih baik tidak menikahi orang yang tidak seiman, namun
jangan menjadikan hal tersebut sebagai alasan untuk kehilangan imanmu.
Gunakanlah hal tersebut sebagai kesempatan untuk mempertobatkan keluargamu.
- Pekan
depan: Simson dan Para Wanitanya: Kebodohan Nafsu