<-- Abram and Sarah: Faith Tested and Tried

Abram & Sarah: Iman Diuji dan Dicobai

(Keadian 12, 15-17)

Dalam Susah atau Senang: Pelajaran 2

 

Copr. 2007, Bruce N. Cameron, diterjemahkan oleh Debbie Jacobs. Semua referensi Alkitab dikutip dari Alkitab Terjemahan Baru ©1974 Lembaga Alkitab Indonesia, kecuali disebutkan lain. Saran jawaban terdapat di dalam tanda kurung. Pengajar diasumsikan menggunakan papan tulis atau alat peraga lainnya dalam membawakan pelajaran. Pelajaran ini dapat dilihat di http://www.GoBible.Org/indonesian.

Pendahuluan: Ibrani 11:11-12 memuji-muji iman Abraham terhadap janji bahwa ia akan memperoleh keturunan yang banyak. Realitas perkawinan Abram dan Sarah, dan hubungan mereka dengan Allah, tampaknya agak berbeda dengan gambaran iman yang sempurna. Apa yang bisa kita simpulkan? Penulis kitab Ibrani sedang mengenakan kacamata kuda? Ataukah, bahwa Allah itu lebih baik hati dan murah hati dari yang kita sangka terkait keputusan-keputusan yang kita ambil dalam perkawinan dan dalam hubungan kita dengan-Nya? Mari selami pelajaran kita minggu ini dan temukan jawabnya!

  1. Penantian

    1. Baca Kejadian 12:2-3. Usia Abram 75 tahun (Kejadian 12:4) saat pertama kali menerima janji dari Allah bahwa ia akan menjadi “bangsa yang besar.” Tempatkan diri saudara pada posisi Abram: kapan saudara mengharapkan kegenapan janji tersebut? (Segera, dengan mempertimbangkan usia!)

      1. Menurut dugaan saudara, seberapa pentingkah janji seperti ini di lingkup budaya Abram? (Sangat.)

    2. Baca Kejadian 15:1-3. Andai saudara berhutang pada seseorang, apakah saudara menyadari hal tersebut manakala saudara bertemu mereka? Apakah hal itu yang pertama terlintas dalam pikiran saudara?

      1. Abram kini berusia 85, sepuluh tahun sudah berlalu sejak Allah berjanji bahwa ia (waktu berusia 75 tahun) akan “menjadi bangsa yang besar.” Mengapa Allah, yang tak sangsi lagi tentunya ingat akan janjiNya, berkata kepada Abram bahwa karena ia setia kepada Allah maka “upahnya besar?”

      2. Coba evaluasi respons Abraham: apakah respons-nya menunjukkan imannya? Abram serta merta mengatakan Allah tidak menepati janji-Nya dan telah diatur bahwa kepala pelayannya yang akan mewarisi “upah besar” milik Abram. (Ada dua tingkatan iman. Yang pertama adalah menerima dan menunggu dengan sabar. Yang kedua adalah menuntut Allah agar menepati janji-Nya. Dua-duanya sama-sama memandang Allah sebagai Oknum yang sanggup melakukan. Respons “nir-iman” dengan mudahnya akan mengabaikan Allah karena Ia tidak lagi dianggap sebagai faktor penentu.)

    3. Baca Kejadian 15:4-6. Apa firman Allah kepada Allah yang menghidupkan kembali imannya terhadap janji tersebut?

    4. Kejadian 17:15-17. Berapa tahun telah berlalu tanpa penggenapan janji Allah? (25 tahun!)

      1. Pada tahapan “iman” yang bagaimana Abram kini berada? (Ia sudah mulai menganggap sepi Allah. Ia menertawakan janji tersebut karena tampaknya janji itu tak berarti.)

      2. Apa dampak janji yang diingkari terhadap perkawinan?

      3. Mengapa Allah menunggu demikian lamanya? Apa maksud dari penundaaan selama 25+ tahun. (Ini merupakan salah satu dari sekian perkara di mana sulit (setidaknya bagi saya) untuk memahami pemikiran Allah. Seorang putra, Ishak, lahir bagi mereka. Nama Ishak berarti “tertawa,” dan oleh karena itu nama tersebut menjadi peringatan yang terus-menerus bagi Abraham dan Sarah (yang juga mengeluarkan tawa cemooh (Kejadian 18:10-12)) mengenai bagaimana handalnya (walau tidak segera terjadi) janji Allah kepada mereka.

        1. Baca Ibrani 11:12. Allah menunggu sampai pasangan ini “mati pucuk” baru memberi mereka anak yang dijanjikan. Apakah fakta ini membantu menjelaskan ihwal penantian mereka? (Ini merupakan pola berulang yang terjadi saat Allah berurusan dengan manusia. Ia menunggu sampai suatu hal menjadi tidak mungkin, lalu kemudian Ia menjadikannya mungkin – agar tak seorang pun meragukan peran Allah dalam persoalan tersebut.)

    5. Baca Kejadian 17:18-21. Apa yang Allah perbuat di sini agar janji tersebut lebih nyata? (Ia benar-benar menamakan putra yang akan diperoleh Abraham dan Sarah dan Ia memberi suatu periode waktu yang tertentu.)

  2. Usaha

    1. Baca Kejadian 16:1-2. Abraham berusia 85 tahun, jadi ini terjadi sepuluh tahu setelah Allah menjanjikan seorang anak, dan lima belas tahun sebelum Ishak lahir. Apa pendapat saudara tentang pernyataan Sarah bahwa “TUHAN tidak memberi aku melahirkan anak?” (Sepintas lalu, pernyataan ini tidak sejalan dengan janji Allah. Namun, coba pikirkan kembali janji-janji yang sejauh ini Allah telah berikan kepada Adam.  Allah tidak menyebutkan siapa yang akan menjadi si sibu – Ia hanya menyebutkan Abraham sebagai bapak!)

      1. Mengingat bahwa Sarah tidak disebut sebagai si ibu, bagaimana kelihatannya tawaran Sarah ini? (Karena Allah tidak menggunakan dirinya untuk menggenapi janjiNya (begitulah Sarah menduga), “mungkin” di benak Allah ada perempuan lain yang akan menggenapi janji tersebut. Sarah sepertinya tidak mementingkan diri, tidak sabar, dan ingin membantu Allah.)

      2. Baca Amsal 3:5-6. Apakah usul Sarah berbenturan dengan amsal ini? (Buku penjelasan Alkitab berjudul “Be Obedient” menyatakan “iman adalah hidup tanpa rencana skematis.” Pola kerja Allah adalah bahwa Ia bermitra dengan manusia untuk melaksanakan pekerjaanNya di atas bumi. Garis yang memisahkan antara menjadi “pembantu Allah” dan “merencanakan secara skematis” tidak selamanya berupa garis yang jelas tegas.)

    2. Baca ulang Kejadian 16:2. Ingat bahwa minggu lalu Adam mendengarkan Hawa dan memakan buah tersebut. Pelajaran apa yang terulang di sini? (Mendengarkan saran istri mungkin saja bertentangan dengan kehendak Allah dan membahayakan kesehatan rohani.)

      1. Coba kita berbelok sedikit. Baca Kejadian 12:10-20. Siapa yang mengajukan gagasan hebat untuk membohongi Firaun? (Abraham!)

      2. Pelajaran apa yang bisa kita tarik dan gunakan dalam perkawinan kita dari usulan yang diajukan oleh kedua orang ini? (Pasangan kita merupakan penolong dan sahabat terdekat kita. Namun, hal tersebut bukan berarti kita tidak perlu menggunakan akal manakala mereka memberi saran. Kita perlu memastikan bahwa keputusan-keputusaan yang kita ambil itu sejalan dengan saran dari Teman tertekat, Teman surgawi kita!)

    3. Baca Kejadian 16:3-4a. Pada titik ini apakah Abraham dan Sarah berbangga diri karena telah melaksanakan kehendak Allah? (Usulan Sarah manjur. Tak sangsi lagi pada acara “pujian dan doa” di gereja mereka akan berdiri dan menceritakan bagaimana mereka bermitra dengan Allah untuk memperoleh anak yang hebat ini.)

    4. Baca Kejadian 16:4-5. Apa yang jadi dengan sikap Sarah yang tidak mementingkan diri itu?

      1. Benarkah yang Sarah ucapkan? Apakah Abraham bertanggung jawab atas “ketidak-adilan” yang dipikul Sarah?

      2. Apakah saudara mengharapkan bahwa Allah akan menjadi Hakim antara mereka berdua?

    5. Baca Kejadian 16:6. Coba evaluasi tindakan dari pasangan ini sekarang. (Abraham ‘melarikan diri’ dari posisinya sebagai pemimpin. Sarah memperlakukan Hagar dengan kejam. Tak seorangpun dari pasangan ini yang bertindak sebagaimana layaknya pengikut Allah.)

    6. Baca Roma 4:18-21. Beginikah penggambaran dari rangkaian kejadian ini?

      1. Bagaimana saudara menjelaskan pernyataan Paulus? (The New Bible Commentary menyebutkan yang Paulus utarakan adalah “bukanlah bahwa Abraham seorang yang sempurna atau tanpa punya keraguan sedikit pun, tetapi bahwa sikap hatinya tetap satu dalam iman dan pengharapan akan janji Allah.”)

  3. Janji Digenapi

    1. Baca Kejadian 21:1-3. Ayat ini tentang kelahiran Ishak. Namun, fakta apa yang kembali diulangi dalam ayat-ayat ini? (Bahwa Allah menepati janjiNya!)

      1. Apakah yang hal ini ajarkan kepada kita tentang mempercayai Allah? (Jadwal Allah mungkin berbeda dengan jadwal kita. Namun, Allah menepati janji-janjinya.)

      2. Apakah yang hal ini ajarkan kepada kita tentang perkawinan? (Tetaplah setia kepada pasanganmu dan Allahmu. Tampak sulit mungkin, namun pilihan lain itu lebih buruk adanya.)

    2. Baca Kejadian 21:6-7. Sikap seperti apa yang Sarah miliki? (Ia merasa nama baiknya telah pulih. Dari segala ketidak-mungkinan, akhirnya ia mempunyai anak.)

  4. Diuji Kembali

    1. Baca Kejadian 21:8-10 [Terjemahan Lama]. Sikap seperti apa yang kita lihat dalam diri:

      1. Ismael? (Ismael cemburu dan mengolok-olok Ishak. Tak heran lah.)

      2. Sarah? (Bahwa ia kini memiliki seorang anak, ia tidak akan mengijinkan siapapun “mengeksploitasi anaknya” atau menghalangi jalannya.)

    2. Kejadian 21:10 menambah lagi saran Sarah. Andai saudara Abraham, akankah saudara menerima saran tersebut

    3. Baca Kejadian 21:11-13. Sekarang bagaimana rasanya andai saudara Abraham?

      1. Apakah menurut saudara ia berharap bahwa ia tidak pernah memiliki Ismael?

      2. Yang mencengangkan, Allah mendukung tuntutan Sarah. Apa kata-kata hiburan dari Allah bagi Abraham? (Bahwa Ismail akan hidup dan menjadi suatu bangsa yang besar.)

    4. Baca Kejadian 22:1-2. Tempatkan diri saudara pada posisi Abraham. Nasib Ismael berdampak apa pada jalan pikiran saudara? (Inilah kenapa nama Abraham pantas dipahatkan di atas batu dalam “pasal iman” (Ibrani 11). Saya akan sangat risau karena Allah telah membiarkan Ismael pergi. Hati saya hancur karenanya. Sekarang ada perintah ini pula!)

      1. Baca Ibrani 11:17-19. Bagaimana Abraham mereka-reka hal ini dalam benaknya? (Bahwa Allah akan membangkitkan Ishak.)

    5. Sobat, terkadang pasangan kita memberi saran yang baik. Terkadang tidak. Bapa surgawi kita senantiasa ada bersama kita – sekalipun tidak demikian nampaknya. Maukah saudara percaya kepadaNya?

  5. Pekan depan: Ishak dan Ribkah: Membesarkan Para Pesaing