Adam
dan Hawa: Yang Diharapkan Menjadi Pasangan Ideal
(Kejadian
1-3, 1 Korintus 11)
Dalam
Susah atau Senang: Pelajaran 1
Copr.
2007, Bruce N. Cameron, diterjemahkan oleh Debbie Jacobs. Semua referensi
Alkitab dikutip dari Alkitab Terjemahan Baru ©1974 Lembaga Alkitab Indonesia,
kecuali disebutkan lain. Saran jawaban terdapat di dalam tanda kurung. Pengajar
diasumsikan menggunakan papan tulis atau alat peraga lainnya dalam membawakan
pelajaran. Pelajaran ini dapat dilihat di http://www.GoBible.Org/indonesian.
Pendahuluan: Ada
tiga jenis manusia: mereka yang membaca buku petunjuk dengan seksama; mereka
yang tidak pernah membaca buku petunjuk; dan, mereka yang membaca buku petunjuk
manakala terpaksa. Saya tidak tahu dalam kelompok mana saudara berada, namun
pelajaran kuartal ini mengantar kita untuk menengok “buku petunjuk” bagi
perkawinan. Bagaimana hidup perkawinan saudara? Akan bermanfaatkah jika menaruh
perhatian pada “buku petunjuk?” Mengapa tidak mencobanya? Allah mencipta kita.
Ia mencipta perkawinan, dan minggu ini kita mulaikan dengan apa kata Allah soal
perkawinan perdana: Adam dan Hawa. Entah perkawinan saudara perlu sedikit
“setel ulang” atau sudah menjadi petaka sempurna, mari segera mulaikan dan lihat
apa yang diajarkan oleh “buku petunjuk.”
- Perkawinan
Diciptakan
- Baca
Kejadian 1:26. Bayangkan saudara sedang duduk di “panggung kehormatan”
sementara penciptaan berlangsung, memperhatikan Allah yang sedang merakit
dunia. Pertama-tama saudara melihatNya mencipta terang, kemudian langit,
kemudian memisah daratan dan perairan, kemudian mencipta tumbuh-tumbuhan,
kemudian matahari dan bulan, kemudian mahluk lautan dan akhirnya mahluk
daratan. Hasilnya adalah dunia yang indah ini. Lantas saudara mendengar
Allah mengucapkan apa yang tertulis dalam ayat 26. Apa pendapat saudara
tentang manusia? (Alangkah hebatnya! Akan menjadi sesuatu yang
menggetarkan hati. Saya tidak saja akan serupa dengan Allah – yang baru
saja selesai menciptakan perkara-perkara yang hebat dan dahsyat ini,
melainkan saya juga akan berkuasa atas ciptaan tersebut!)
- Baca
Kejadian 1:27. Bagaimana mungkin Allah mengatakan bahwa Ia mencipta
manusia menurut gambarNya bila kita menyebut Allah sebagai “Bapa” dan
“Putra,” dan Roh Kudus, dan Ia menciptakan “laki-laki dan perempuan?”
(Ada beberapa atribut “gambar” Allah yang terdapat pada manusia. Namun,
yang nyata adalah apa yang saudara baru lihat dari “panggung kehormatan”
tempat saudara duduk. Allah baru saja mencipta dunia yang menakjubkan ini
dan kini, dengan kombinasi laki-laki dan perempun, Ia memberi ciptaanNya
kesanggupan untuk selanjutnya mencipta. Bukan sekadar mencipta pohon
atau sapi, namun mencipta bagian yang paling canggih dari ciptaanNya:
manusia!)
- Siapa
yang Allah maksudkan manakala Ia berkata dalam Kejadian 1:26 “Baiklah
kita...?” (Tentunya Trinitas.)
- Baca
Kejadian 2:18. Apa yang memotivasi Allah untuk mencipta seorang penolong
bagi Adam? (Allah berkata tidaklah baik bagi Adam untuk seorang diri
saja.)
- Baca
Kejadian 2:19-20. Di manakah Adam dan Allah mencari penolong yang cocok?
(Di antara binatang-binatang!)
- Apakah
ini sebuah lelucon? Apakah Allah menyelipkan secuil humor dalam
ceritaNya? Ataukah ada sesuatu di sini yang tidak boleh kita abaikan?
(Salah satu atribut utama Allah adalah kemitraanNya dengan kita. Ia
tidak sekadar bermitra dengan Adam ketika menamai binatang-binatang,
namun Ia juga mengijinkan Adam memutuskan sendiri siapa yang akan
menjadi “pasangan yang cocok” bagi Adam. Adam tidak mendapatkan
pasangannya di antara binatang-binatang. Gantinya, ia mendapati adanya
pola laki-laki dan perempuan di dunia binatang.)
- Renungkan
kata “penolong.” Apakah kata ini sama seperti seorang “asisten tukang
kayu,” seorang “pembantu dari tukang ledeng,” atau “pembantu dari
penjual martabak?” Apakah terkesan bahwa peran Hawa itu sekunder? (Baca
Mazmur 70:6. Ini adalah satu dari sekian ayat di mana Allah disebutkan
“menolong” kita atau sebagai “penolong” kita.)
- Baca
Kejadian 2:21-22. Ini merupakan salah satu dari kutipan paling menarik
dalam Alkitab. Renungkan pertanyaan-pertanyaan berikut ini”
- Kebanyakan
dari peristiwa Penciptaan terjadi dengan diucapkan. Nampaknya Hawa adalah
“buatan tangan” Allah. Mengapa?
- Mengapa
Allah menidurkan Adam sementara Ia menciptakan Hawa? Mengapa Ia “membawanya”
kepada Adam? Mengapa tidak membiarkan Adam menyaksikan bagaimana Hawa
diciptakan?
- Adam
juga “buatan tangan” yang berasal dari debu tanah (Kejadian 2:7).
Mengapa Allah membentuk Hawa dari bagian tubuh Adam? Mengapa ia
dijadikan dari sepotong tulang rusuk?
- Mengapa
pula manusia memiliki tulang rusuk? (Rusuk melindungi organ-organ
penting. Allah mengambil sesuatu yang menjadi pelindung bagi Adam dan
menggunakannya untuk menciptakan Hawa.)
- Baca
Kejadian 2:23. Apa sambutan Adam terhadap penciptaan Hawa? (Ia merasa
memiliki identitas yang sama dengan istrinya.)
- Pelajaran
apa yang bisa kita tarik dari sini mengenai perkawinan? (Bahwa Allah
memaksudkan agar suami dan istri memiliki identitas yang lekat satu sama
lain.)
- Baca
Kejadian 2:24. Siapa yang mengatakan hal ini? Konteksnya adalah soal Adam
dengan satu tulang rusuk yang dicabut dan Hawa yang diciptakan dari
tulang rusuk tersebut. Saya tidak melihat konsep ini dalam perkawinan
modern. Bagaimana caranya suami dan istri menjadi “satu daging?” (Menurut
saya yang mengatakan ini bukanlah Adam. Ini diucapkan oleh sang “narator”
– Allah yang berbicara melalui Musa. Suami dan istri secara harfiah
menjadi satu daging dalam diri anak-anak mereka.)
- Baca
1 Korintus 11:11-12. Bagaimana Paulus memahami makna dari Hawa yang
diciptakan dari rusuk Adam?
- Saya
sering bercanda dengan mengatakan bahwa laki-laki (dan juga
binatang-binatang lainnya) diciptakan dari debu tanah dan perempuan
diciptakan dari Adam. Menurut Paulus dari mana laki-laki dilahirkan?
(Perempuan! Kata Paulus laki-laki dan perempuan saling membutuhkan!)
- Baca
Kejadian 2:25. Menurut saudara apa maksud dari uraian ini? Umumnya
kisah-kisah di dalam Alkitab sudah diringkas. Mengapa detil ini demikian
penting sehingga dituliskan? (Ini sungguh merupakan bukti akan kedekatan
pribadi mereka dan kemurnian mereka: mereka merasa nyaman satu sama
lain.)
- Merosotnya
Kehidupan
- Baca
Kejadian 3:1-6. Matthew Henry, sepertinya juga beberapa komentator yang
lain, menafsirkan ayat ini dalam artian bahwa Hawa awalnya hanya berdua
saja dengan sang ular, baru kemudian Adam muncul. Saya percaya seperti
itulah siratan dari apa yang dituliskan di sini. Kapan pun itu terjadi,
siapakah yang menjadi “pemimpin,” menjadi “gembong” dalam perbuatan dosa
ini? (Jelas bahwa Hawalah sang gembong dalam dosa yang mengerikan ini.
Dialah yang memberikan buah itu kepada Adam.)
- Baca
Kejadian 3:7. Pernahkah mata saudara “terbuka” melihat dosa saudara? Apa
saudara masih ingat perasaan ngeri yang datang setelah saudara melakukan
perbuatan dosa – saat saudara menyadari betapa buruknya perbuatan
saudara?
- Sekarang
kita kembali ke pertanyaan kita dalam Kejadian 2:25: Mengapa kini mereka
merasa telanjang? Mereka telah berdosa, namun mereka tetap terikat dalam
perkawinan! (Dosa menghadapkan saudara pada rasa malu dan hina dan rasa
bersalah. Jika saudara mengijinkan dosa memasuki kehidupan perkawinan
saudara, saudara akan mengalami kehinaan. Nampak jelas bahwa kitab
Kejadian tidak sedang membicarakan soal ketelanjangan semata. Yang
dibicarakan adalah dampak dosa terhadap manusia. Dosa melucuti martabat
kita, merampok sukacita kita.)
- Baca
Kejadian 3:16. Apakah peran Hawa sebagai pemimpin yang membawa dosa dalam
hidup manusia mengubah hubungannya dengan Adam?
- Apakah
hal itu mengubah hubungan antara semua pasangan suami-istri? (Akibat
dosa diteruskan kepada semua umat manusia. Allah nampaknya tidak
berbicara hanya kepada Hawa. Apa yang ditegaskan Allah berlaku bagi
semua perempuan.)
- Bukankah
hal ini sangat tidak adil? Mengapa dosa Hawa harus berdampak pada
perkawinan dari perempuan-perempuan sesudahnya? (Seluruh hal ini “tidak
adil,” dalam artian bahwa Adam dan Hawa menceburkan kita ke dalam dosa.
Ketidak-adilan ini bukanlah kesalahan Allah. Bukan Ia yang mencipta
dosa. Allah secara “tidak adil” telah mati ganti kita dan menanggung
dosa kita. Dalam ayat ini Allah nyatakan hasil dari dosa – hasil yang
lebih mengerikan bagiNya.)
- Baca
Kejadian 3:17-19. Televisi mengatakan saya harus mendengarkan perkataan
istri saya. Istri saya mengatakan saya harus mendengarkan kata-katanya.
Bukankah prinsip demikian itu Alkitabiah? (Tidak. Konteksnya di sini
adalah mendengarkan istri gantinya mendengarkan Allah. Ada hukuman yang
diberlakukan kepada Adam dan diteruskan kepada semua kaum lelaki.)
- Apakah
dosa mengubah hubungan perkawinan?
- Bagaimanakah
hal tersebut berdampak pada perkawinan saudara? Masuk akalkah jika kita
mengupayakan sebuah hubungan perkawinan seperti layaknya perkawinan
sebelum ada dosa? Ataukah hal tersebut tidaklah mungkin? (Sebelum jatuh
ke dalam dosa nampaknya peran sebagai pemimpin ada di tangan Adam.
Lihat, 1 Timotius 2:13-14. Oleh Alkitab kepemimpinan diberikan kepada
para suami, bukan sebagi tirani, namun peran kepemimpinan dalam
perkawinan yang meninggikan Allah. Akan tetapi, jika Allah tidak menjadi
pusat dari perkawinan, maka terjadilah penyimpangan.)
- Bagaimana
dengan istri-istri yang tidak bersuamikan suami yang tidak beriman?
(Baca 1 Petrus 3:1-2. Menunjukkan sikap yang baik di hadapan suami yang
tidak percaya membantunya untuk menjadikan sang suami tertarik kepada
Allah.)
- Terkadang
kepada saya ditanyakan apakah “tunduk” berarti tunduk kepada sikap yang
tidak pantas. Apa jawaban saudara? (Ayat ini menyiratkan bahwa jawabnya
adalah “tidak,” karena di sana yang disebutkan adalah “murni dan salehnya”
kehidupan dari istri yang beriman itu.)
- Sobat,
cita-cita Allah bagi perkawinanmu adalah suami dan istri sebagai satu
identitas. Jika salah satu mulai mengutamakan kebutuhannya, maka ikatan
perkawinan akan mulai melonggar. Maukah engkau berjanji untuk mendahulukan
kebutuhan pasanganmu?
- Pekah
depan: Abraham dan Sarah.