<-- The Bible and Happiness

Alkitab dan Kebahagiaan

(Yohanes 10, 1 Timotius 6, Roma 15)

Alkitab untuk Masa Kini: Pelajaran 10

 

Copr. 2007, Bruce N. Cameron, diterjemahkan oleh Debbie Jacobs. Semua referensi Alkitab dikutip dari Alkitab Terjemahan Baru ©1974 Lembaga Alkitab Indonesia, kecuali disebutkan lain. Saran jawaban terdapat di dalam tanda kurung. Pengajar diasumsikan menggunakan papan tulis atau alat peraga lainnya dalam membawakan pelajaran. Pelajaran ini dapat dilihat di http://www.GoBible.Org/indonesian

Kebahagiaan merupakan sebuah topik yang kompleks. Begitu banyak segi kehidupan Kristen yang sepertinya berseberangan dengan kebahagiaan. Kita bicara tentang penyangkalan diri dan pengorbanan diri. Kita menyebut-nyebut soal memikul “salib.” Namun, ketika saya melihat sahabat-sahabat Kristen di sekeliling saya (dan melihat pada diri sendiri), ketidak-egoisan seperti itu tidak tampak pada diri kita. Melihat orang lain memiliki “barang’ yang lebih baik dari yang saya punyai saya lantas berangan-angan “Saya akan memiliki barang yang seperti itu.” Apakah “barang kepunyaan” merupakan kunci menuju kebahagiaan? Apakah menolak “harta benda” merupakan jalan menuju sukacita? Apakah orang Kristen kehilangan kebahagiaan karena terlalu banyak memiliki harta benda? Mari selami Alkitab dan temukan apa cita-cita Allah bagi kita!

  1. Cita-cita Allah dan Uang

    1. Apa cita-cita Allah bagi kita? Agar jadi miskin? Kita menyebut Yesus sebagai teladan kita, dan Ia seorang “tunawisma” (lihat Matius 8:20).

      1. Tak satu pun orang Kristen yang saya kenal yang memilih untuk menjadi tunawisma. Apakah karena kita mengabaikan teladan yang Ia berikan?

    2. Baca Yohanes 19:9-10. Tatkala Yesus berkata bahwa Ia ingin pengikutNya “memiliki hidup ... dalam segala kelimpahan” apakah Ia sedang membicarakan hidup kekal yang abstrak, atau kehidupan di atas bumi ini? (Apapun yang Yesus maksudkan, menurut Strong kata Gerika yang diterjemahkan “kelimpahan” (perissos) berarti “amat limpah,” “berkelebihan.” Perhatikan bahwa Yesus mengawali ayat-ayat ini dengan pembicaraan tentang hidup kekal.)

    3. Baca Amsal 15:6. Apakah ayat ini merujuk kepada uang dan “barang” dalam kehidupan di bumi ini? (Ya.)

      1. Apakah juga ada konsep lain terkandung dalam ayat ini? (Ya. Orang benar maupun orang fasik sama-sama punya uang dalam ayat ini, namun uang menimbulkan masalah bagi orang fasik.

      2. Baca Amsal 10:22. Apa yang dikatakan di sini soal kekayaan dan masalah? (Dikemukakan bahwa uang dengan sendirinya membawa masalah. Jika Allah memberkati kita dengan uang, masalah tidak akan dibawaNya serta.)

    4. Baca Amsal 11:28. Apa yang dikatakan di sini soal uang dan kebenaran? (Salah satu masalah dengan uang adalah kita mempercayakan masa depan kita padanya. Orang benar, yang percaya pada Allah, bukannya pada uang, masa depannya seperti “daun muda!”)

    5. Baca 1 Samuel 2:7. Apakah uang disebutkan dari sudut positif atau dari sudut negatif? (Kemiskinan tampaknya merendahkan kita dan uang meninggikan kita.)

      1. Siapa yang berada di balik kehinaan dan kegembiraan ini? (Allah.)

      2. Apa yang membuat kebahagian saudara bertambah – direndahkan atau ditinggikan?
    1. Baca Yesaya 5:8. Apa yang diutarakan ayat ini soal menjadi kaya? (Saudara akan sendirian!)

    2. Baca Markus 4:18-19. Baca Markus 4:18-19. Apa yang ayat ini katakan soal kekayaan dan firman Allah? (Bahwa “tipu daya” kekayaan “menghimpit” firman itu.)

    3. Kita berhenti sejenak dan renungkan apa yang telah kita baca. Kita telah membaca ayat-ayat baik dari Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Biasanya, hidup “amat limpah” dan hidup “berkelebihan” cenderung samakan dengan uang. Namun secara keseluruhan apa yang ayat-ayat ini ajarkan kepada kita perihal uang dan hidup yang baik dan benar? (Uang itu sesuatu yang memperdayakan. Uang bisa membawa masalah – demikian yang sering terjadi. Hanya oleh menggabungkan kebenaran dan kekayaanlah kita bisa hidup lebih baik.)

      1. Menurut saudara apa cita-cita Allah bagi kita terkait dengan uang? Akankah Allah memberi uang agar kita berbahagia?

      2. Jika kita mengatakan bahwa Allah akan memberkati kita dengan uang, haruskan kita menjadikan kebenaran sebagai sarana untuk memperoleh kekayaan? (Baca 1 Timotius 6:5. Kita akan selidiki konteks dari ayat ini, namun di sini jelas disebutkan bahwa hanya orang yang “tidak berpikiran sehat” dan yang “kehilangan kebenaran,” yang mengira “ibadah itu adalah suatu sumber keuntungan.”)

    4. Kita telah membaca apa yang Alkitab katakan tentang hidup yang berkelimpahan dan uang. Apakah perkara-perkara ini menuntun kepada kebahagiaan? Kita akan selidiki hal tersebut sesudah ini.

  1. Hidup yang Berbahagia
    1. Baca 1 Timotius 6:3-5. Kata-kata apa yang saudara temukan dalam ayat ini yang tidak akan terlintas saat saudara memikirkan kebahagiaan?

      1. Apa tampaknya yang menjadi sumber ketidak-bahagiaan ini? (Orang-orang yang tidak memiliki pikiran dan tidak memiliki kebenaran Allah.)

    2. Baca 1 Timotius 6:6-10. Bagaimana cara agar terhindar dari duka? (Ibadah yang disertai rasa cukup.)

      1. Kalau kita menghubungkan gagasan tentang kebahagiaan dengan kekayaan, apa yang salah dengan keinginan untuk menjadi kaya? (Alkitab dengan gamblang mengatakan bahwa keinginan akan uang merupakan jalan berbahaya yang dengan mudah membuat kita terperosok ke dalam kejatuhan dan kehancuran.)

    3. Tampaknya uang bukanlah jalan menuju kebahagiaan. Mari tengok beberapa ayat yang menyodorkan rute yang pasti menuju kebahagiaan. Baca Mazmur 133:1. Apakah sumber kebahagiaan di antara orang-orang yang mengikuti Allah? (Persatuan.)

    4. Baca Roma 15:13-14. Apa peran Roh Kudus dalam kebahagiaan kita? (Roh Kudus memenuhi kita dengan pengharapan – dan pengharapan memberi kita sukacita dan damai sejahtera.)

      1. Apa yang menjadi pengharapan kita? (Seluruh pasal ini berbicara tentang pengharapan. Namun, ayat ini mengatakan bahwa kita percaya kepada Allah. Kesimpulan logisnya adalah bahwa jika keadaan tidak begitu baik, kita berharap bahwa keadaan akan menjadi lebih baik dalam hidup kita. Jika keadaan berlangsung baik, kita percayakan masa depan pada Allah. Roh Kudus memberi kita kuasa untuk memiliki pengharapan yang demikian. Dan pengharapan memenuhi kita dengan sukacita dan damai sejahtera.)

    5. Baca Galatia 5:22-25. Berapa banyak kata-kata dalam ayat ini yang bisa saudara kaitkan dengan kebahagiaan?

      1. Apa yang menjadi sumber dari kebahagiaan ini? (Adanya Roh Kudus dalam hidup kita.)

    6. Baca Filipi 4:4-7. Jika seseorang mengatakan kepada saudarar “bersukacitalah,” atau “berbahagialah,” apakah saudara bisa melakukannya? Apakah yang melandasi pernyataan “bersukacitalah senantiasa di dalam Tuhan?” (Percaya kepada Allah. Jika kita melayangkan doa dan permintaan kita kepadaNya, dan jika kita percaya kepadanya, damai sejahtera akan memasuki hati kita.)

      1. Apakah damai sejahtera ini hal yang logis? (Tidak! Disebutkan dalam ayat ini “melampaui segala akal.” Allah dapat melakukan hal yang mustahil. Kita hanya perlu percaya padaNya.)

    7. 1 Tesalonika 5:16-18. Kembali kita dapati ayat yang mengatakan agar kita “bersukacita.” Apa yang ayat ini utarakan sebagai jalan menuju sukacita? (Bersyukur kepada Allah. Berhubungan dengan Allah lewat doa. Jika saudara senantiasa bersyukur kepada Allah atas berkat-berkatNya bagi, semangat saudara akan terangkat.)

    8. Baca Lukas 12:15. Ingat-ingatlah semua ayat yang telah kita baca dan pelajari dalam pelajaran ini. Apa asumsi awal kita tentang kebahagiaan? (Bahwa kebahagiaan itu ada kaitannya dengan kekayaan dan harta benda.)

      1. Dari apa yang telah kita pelajari, apa yang menjadi sumber sejati dari kebahagiaan dan sukacita? (Hubungan dengan Allah. Hidup ini tidak berpangkal dari apa yang kita miliki. Hidup yang dipenuhi Roh lah yang menjadi jalan menuju sukacita!)

    9. Sobat, maukah engkau memiliki kebahagiaan dan sukacita dalam hidupmu? Jalan menuju kebahagiaan bukanlah kekayaan, namun dengan menjalin hubungan dengan Allah. Maukah engkau mengundang Roh Kudus masuk ke dalam hidupmu sekarang ini dan mulai menapaki jalan menuju damai sejahtera, keyakinan dan sukacita?
  1. Pekan depan: Hikmat Sehari-hari.