<-- Revelation of Hope

Wahyu Pengharapan

(Roma 15, 1 Yohanes 1, Amsal 24, Matius 6, 1 Korintus 15)

Alkitab untuk Masa Kini: Pelajaran 8

 

Copr. 2007, Bruce N. Cameron, diterjemahkan oleh Debbie Jacobs. Semua referensi Alkitab dikutip dari Alkitab Terjemahan Baru ©1974 Lembaga Alkitab Indonesia, kecuali disebutkan lain. Saran jawaban terdapat di dalam tanda kurung. Pengajar diasumsikan menggunakan papan tulis atau alat peraga lainnya dalam membawakan pelajaran. Pelajaran ini dapat dilihat di http://www.GoBible.Org/indonesian

Pendahuluan: Pengharapan. Kata ini membuat saudara bisa bangun tiap pagi, bukan? Dalam dunia yang penuh dosa ini, Alkitab memberi pengharapan, pengharapan akan dunia yang lebih baik dan kehidupan yang lebih baik. Apakah ada pengharapan akan hal yang lain? Apakah ada unsur “pengharapan” bagi kehidupan saat ini? Mari mulaikan pelajaran kita!

  1. Pengharapan dalam Sejarah

    1. Baca Roma 15:1-3. Apa kewajiban orang yang kuat terhadap orang yang lemah?

      1. Bisakah saudara memberikan contohnya?

    2. Baca Roma 15:4. Siapakah “orang” paling kuat yang saudara kenal? (Allah!)

      1. Pengharapan apa yang terkandung dalam ayat-ayat ini terkait dengan kelemahan-kelemahan kita? (Di saat kuat kita perlu membantu orang lain sebagaimana yang dicontohkan Yesus. Namun, pada dasarnya, ayat ini mengajarkan tentang sikap kuat yang Allah perlihatkan demi kita. Ia meyakini bahwa yang kuat harus “menanggung” kegagalan yang dilakukan oleh orang yang lemah, dan itulah sikapNya terhadap kita! Hal ini memberi pengharapan bagi kelemahan kita.)

        1. Atas dasar apa kita mengalaskan kesimpulan ini – berdasarkan apa yang Paulus tuliskan di sini? (Paulus mengarahkan kita kepada Alkitab. Berulang-ulang para pahlawan Alkitab menunjukkan kelemahan mereka. Allah bekerja dengan mereka lewat kelemahan-kelemahan tersebut. Hal tersebut memberi pengharapan pada kita.)

  2. Pengharapan dalam Pengampunan

    1. Baca 1 Yohanes 1:8-10. Berapa banyak orang yang tak punya dosa? (Tak seorang pun!)

      1. Perasaan apa yang dosa timbulkan dalam diri saudara? (Dosa memiliki tahapan-tahapan. Pada awalnya kita menikmatinya. (Mengapa melakukan dosa jika kita tidak menyukainya?) Kemudian, kita melihat kerusakan yang ditimbulkannya, kita menyadari bahwa dosa tidak menyenangkan Allah, maka datanglah rasa bersalah. Kemungkinan besar dosa tidak berakhir seperti yang kita bayangkan dan kita akhirnya merasa sangat buruk.)

      2. Akankah Allah mengampuni dosa-dosa kita? (Begitulah kata ayat ini.)

        1. Sulitkah menerima kenyataan bahwa kita telah diampuni? (Saya sangat bersyukur karenanya. Dan, ya, apabila dosa yang dilakukan cukup serius, kadang kala sulit untuk benar-benar menerima bahwa kita telah diampuni.)

      3. Ayat di atas mengatakan Allah itu “setia dan adil” untuk mengampuni kita. Apa yang “adil” dari pengampunan Allah? Sepertinya sangat “tidak adil” bahwa Yesus menderita dan mati bagi dosa-dosa saya menggantikan saya! (Kata “adil” ini mengandung arti kebenaran Allah. Allah itu setia dalam sikapnya yang menolong kita – orang yang lemah – dengan cara mati bagi dosa-dosa kita.)

      4. Apakah yang menjadi cita-cita Allah bagi kita? (Untuk “menyucikan” kita dari dosa-dosa kita.)

        1. Apakah cita-cita saudara juga demikian? (Kita memiliki pengharapan dalam wujud pengampunan dan harapan akan menghidupkan kehidupan yang lebih kudus.)

  3. Pengharapan dalam Karunia Hikmat

    1. Baca Amsal 24:13-14. Bagi jiwa madu itu ibarat apa? (Hikmat.)

      1. Mengapa hikmat itu baik untuk kita? (Hikmat memberi pengharapan, menjadikan hidup kita lebih manis.)

      2. Apakah berlaku kebalikannya, bahwa jika saudara tidak memiliki pengharapan saudara tidak berhikmat?

    2. Baca Amsal 24:15-16. Menurut saudara mengapa ayat ini menyebut tentang orang benar jatuh “tujuh kali?” (Tujuh merupakan angka sempurna. Bagi saya tampaknya ungkapan ini seperti malapetaka sempurna – suatu bencana yang sesungguhnya.)

      1. Mengapa orang benar bangun kembali? (Menurut saya ini merupakan kelanjutan dari perbincangan mengenai pengharapan. Orang yang benar bangun setelah mengalami malapetaka dahsyat karena ia memiliki pengharapan. Orang bijak percaya pada Allah dan menaruh keyakinan padaNya. Hal tersebut memberinya kesanggupan untuk melangkah maju setelah bencana mendera. Ia tidak sendiri.)

  4. Pengharapan dalam Kesusahan

    1. Baca Mazmur 33:16-17.  Bagi saudara benarkah demikian? Sepertinya ini bertentangan dengan apa yang baru kita pelajari.

      1. Baca Mazmur 33:18-22. Apa pokok yang Allah utarakan? (Kuda merupakan perangkat militer yang penting. Para prajurit yang mengendarai binatang besar ini (yang bergigi besar dan melesat dengan kecepatan tinggi) merupakan pemandangan yang menggentarkan di mata pasukan yang belum pernah melihatnya. Allah mengatakan bahwa bala tentara yang besar dan senjata mutakhir bukan lawan yang sepadan bagi orang-orang yang menaruh harap pada Allah.)

        1. Apakah berita pengharapan dari Allah hanya soal pemberian hidup kekal? (Tengok kembali Mazmur 33:19. Di sana disebutkan bahwa Allah memelihara hidup kita pada masa kelaparan.)

        2. Tengok kembali Mazmur 33:18. Apakah saudara ingin agar Allah menjaga saudara?

          1. Apakah yang menjadi dasar pengharapan kita? (“Kasih setia” Allah!)

    2. Baca Mazmur 37:25-26. Pernahkah saudara mendapati anak-anak dari orang benar meminta-minta roti?

      1. Apakah kedua ayat ini saling terkait? Ataukah, dalam setiap ayatnya terkandung pekabaran  tersendiri dari Allah bagi kita? (Sepertinya Allah berucap bahwa orang-orang benar itu murah hati dan mudah memberi pinjaman. Orang yang baik kepada orang lain tidak akan kekurangan makanan.)

        1. Mengapa anak-anak dari orang benar disebut-sebut? (Bisa jadi karena adanya warisan. Atau, banyak orang mengingat kebaikan hati orang tua dan sedia menolong anak-anak mereka.)

        2. Ingat bahwa kita baru saja mempelajari bahwa Allah menjaga kita dengan “kasih setia”-Nya. Kebaikan hati orang tua yang benar mencerminkan kasih yang demikian kepada orang lain.

    3. Baca Matius 6:19-21. Ini merupakan ayat yang lazim dibaca, tapi saya tidak yakin kalau lazim dimengerti. Kita diminta untuk menyimpan uang kita di bank surga. Tidak ada bank semacam itu di dunia. Bagaimana persisnya kita membuka deposito seperti itu? (Ayat ini sejalan dengan Mazmur 37:26. Orang benar itu murah hati dan mudah memberi pinjaman. Inilah yang disebut deposito di bank surga.)

      1. Apakah saudara mencari-cari cara untuk membuka deposito di bank surga?

    4. Baca Matius 6:24. Jesus masih membicarakan tentang membuka deposito di bank surga? Jika ya, pekabaran tambahan apakah yang Yesus berikan kepada kita? (Jika saudara terpaku untuk meningkatkan kekayaan saudara, maka hal tersebut tidak selaras dengan sikap murah hati.)

    5. Baca Matius 6:25-27. Mengapa ayat-ayat ini diawali dengan “karena itu?” (Ayat-ayat ini merupakan lanjutan dari pernyataan soal uang yang disampaikan Yesus sebelumnya.)

      1. Apakah Yesus mengatakan “Jangan khawatir, berbaringlah dan lanjutkan tidurmu?” (Tidak. Yang Yesus katakan adalah bahwa mengutamakan Kerajaan Surga, membuka deposito di bank surga, akan memungkinkan saudara  “menarik uang” dari bank surgawi dari atas bumi ini.)

      2. Baca Matius 6:33. Apakah ayat tentang memperoleh “uang” ini sudah bisa diterima oleh akal saudara?

      3. Apa kaitannya dengan pengharapan? (Saudara mendepositokan uang saudara dalam rekening saudara di bank surga karena pengharapan dan kepercayaan saudara pada sistem keuangan Allah.)

  5. Pengharapan Kekal

    1. Baca 1 Korintus 15:50. Apakah harta benda duniawi kita akan dipindahkan ke surga? (Manusia dan harta bendanya tidak akan dipindahkan ke surga.)

    2. Baca 1 Korintus 5:51-55. Bagaimana caranya kita pindah ke surga?

    3. Baca 1 Korintus 15:57-58. Siapa yang memberi kita kemenangan? (Yesus.)

      1. Sementara itu apa yang kita lakukan?

      2. Apakah saudara mendapati adanya pengulangan tema “deposito di bank surga” di sini? (Membaktikan diri sepenuhnya pada pekerjaan Tuhan bukanlah upaya yang sia-sia. Allah memberi kita kemenangan, namun Ia mengharapkan kita untuk membantu dalam upaya kita.)

    4. Baca 1 Tesalonika 4:13. Apa yang ingin Paulus sampaikan kepada kita (Pengharapan.)

    5. Baca 1 Tesalonika 4:14-18. Atas dasar apa kita mengalaskan pengharapan kita akan hidup kekal? (Firman dan kebangkitan Yesus!)

 

    1. Sobat, firman Allah memberi pengharapan. Ia memberi pengharapan dalam hidup kerohanian kita sehari-hari. Ia memberi pengharapan dalam hidup badaniah kita sehari-hari. Ia memberi pengharapan akan hidup kekal. Maukah engkau bergabung dengan orang-orang yang hidup dalam pengharapan?

  1. Pekan depan: Alkitab dan Kesehatan.