<-- The Word in Our Lives

Firman dalam Hidup Kita

(2 Korintus 5, Mazmur 19, 2 Raja-raja 23)

Alkitab untuk Masa Kini: Pelajaran 7

 

Copr. 2007, Bruce N. Cameron, diterjemahkan oleh Debbie Jacobs. Semua referensi Alkitab dikutip dari Alkitab Terjemahan Baru ©1974 Lembaga Alkitab Indonesia, kecuali disebutkan lain. Saran jawaban terdapat di dalam tanda kurung. Pengajar diasumsikan menggunakan papan tulis atau alat peraga lainnya dalam membawakan pelajaran. Pelajaran ini dapat dilihat di http://www.GoBible.Org/indonesian.

Pendahuluan: “Iman vs Perbuatan” sudah lama diperdebatkan. Tak soal berapa lama sudah perdebatan ini, pemahaman yang benar mengenai peran “perbuatan” dalam kehidupan seorang Kristen sangatlah penting. Bertahun-tahun yang lampu seseorang yang baru saja menjadi Kristen mengatakan pada saya bahwa ia telah bebas sepenuhnya dari Sepuluh Hukum. Hidupnya tidak lagi dikekang oleh hukum. Beberapa tahun kemudian, saya kembali bertemu dengannya. Saya mengingatkan dia tentang percakapan kami mengenai peran hukum dalam hidupnya. Ia tersipu dan mengakui bahwa ia kini paham bahwa orang-orang yang diselamatkan oleh iman semata juga memiliki minat untuk memelihara hukum Allah. Mari mulaikan pelajaran kita minggu ini dan pelajari lebih banyak bagaimana seharusnya dampak firman Allah dalam hidup orang Kristen!

  1. Ciptaan Baru

    1. Baca 2 Korintus 5:17-19. Manakala Alkitab mengatakan “yang lama sudah berlalu,” apakah pernyataan itu merupakan acuan untuk memelihara Sepuluh Hukum? (Tidak. Berada “di dalam Kristus” menjadikan kita suatu ciptaan baru dan menyingkirkan kita “yang lama.”)

      1. Apa arti ayat ini saat menyebutkan “dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka?” Saat menjadi “ciptaan baru” dapatkan kita melakukan dosa tanpa menjalani hukuman?

    2. Baca 2 Korintus 5:20-21. Disebutkan bahwa kita adalah utusan-utusan – orang yang mewakili Allah. Sebagai perwakilan Allah, haruskah kita memberitahu orang lain bahwa tindakan mereka tidak jadi soal? Kita menjadi orang benar karena Yesus telah membayar hukuman atas dosa? Apakah kedua pertanyaan ini berbeda? (Bagian dari surat kepada orang-orang Korintus ini menyebutkan bahwa dosa kita tidak diperhitungkan kepada kita karena Yesus menerima hukuman bagi dosa-dosa kita. Dengan itu kita boleh dibenarkan. Dalam pengertian itu, perbuatan kita di masa lalu bukan soal lagi.)

      1. Gaya hidup kita tidak jadi soal? Begitukah akibat logisnya? (Kelihatannya tidak demikian.)

    3. Ayo ikuti terus alur argumentasi ini. Baca 2 Korintus 6:14-17 . Kita disuruh melakukan (atau tidak melakukan) apa di sini? (Sepertinya jauh melampaui perintah untuk mematuhi hukum. Kita disuruh untuk tidak “terkena kuk bersama” [Alkitab TL] dan untuk memisahkah diri dari orang-orang tak percaya.)

      1. Berpisah sejauh mana yang Alkitab anjurkan?

      2. Apa artinya “terkena kuk bersama?”

      3. Lebih penting lagi, mengapa dianjurkan demikian? Apakah yang menjadi alasan agar kita memisahkan diri? (Allah peduli terhadap hidup kita setelah kita menjadi pengikut-Nya.)

    4. Kita teruskan membaca alur nasihat ini. Baca 2 Korintus 6:18-7:1. Apa yang Allah harapkan dari orang percaya terkait dengan “perbuatan?” (Kekudusan.)

      1. Motif apa yang diberikan kepada kita dalam ayat ini? (Takut akan Allah!)

      2. Masuk akalkah bagi saudara – bahwa perbuatan masih jadi soal setelah diselamatkan oleh iman? (Yesus mati bagi dosa saudara dalam cara yang teramat menyakitkan. Surga memberikan pemberiannya yang terbesar bagi saudara! Allah adalah Allah yang Suci. Karena penghormatan kita kepada siapa diri-Nya dan apa yang telah dilakukan-Nya, kita perlu mengupayakan kekudusan. Kita perlu “menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah.”)

  2. Perintah Baru

    1. Baca Mazmur 19:7-8. Apa yang ditegaskan Allah tentang hukum-Nya? (Bahwa hukum-Nya itu menyegarkan jiwa, memberikan hikmat kepada kita (sekalipun kita orang bersahaja) memberi sukacita dan memberi tuntunan  dalam hidup.)

    2. Baca Mazmur 19:10-11. Saya ingat seorang teman yang mengatakan bahwa ia telah diselamatkan oleh kasih karunia, dan bahwa kini ia merasa sangat luar biasa karena telah terlepas dari hukum. Saya tahu persis apa yang ia maksudkan. Bagaimanakah perasaan seperti ini dapat disandingkan dengan ayat kita sebelumnya yang mengatakan titah Tuhan itu “menyukakan hati?”

      1. Bagaimanakah perasaan terbebas dari hukum ini dipertemukan dengan ayat kita yang terakhir bahwa hukum itu lebih manis dari pada madu dan lebih indah dari pada emas? (Jawabannya terdapat dalam ayat 12. Hukum itu memberi amaran kepada kita agar menjauhi perkara-perkara yang akan mencelakakan kita. Penurutan akan firman Allah akan membuahkan berkat-berkat dalam hidup kita – upah yang besar.)

    3. Baca Mazmur 19:13-14. Bagaimana perasaan saudara manakala saudara kecanduan melakukan suatu dosa? (Merasa buruk sekali. Tak berguna. Ayat ini menyebut bahwa dosa “menguasai” kita.)

    4. Bagaimana saudara  menjelaskan kontradiksi antara perasaan sukacita saat terbebas dari hukum dan perasaan sukacita saat mentaati hukum? (Ada keseimbangan di sini). Di sisi lain, sangat luar biasa terbebas dari tuntutan hukum – pengetahuan tentang apa yang dituntut oleh hukum dan pengalaman kita bahwa tidak bisa memelihara hukum secara sempurna. Di sisi lainnya, jika sukacita kita dikarenakan tidak lagi harus peduli pada hukum, maka setelah itu kita akan merasakan penderitaan yang disebabkan oleh hidup yang penuh dosa.)

    5. Baca Mazmur 19:14. Setelah menyanjung apa yang hukum perbuat terhadap kehidupan kita, mengapa Pemazmur mengakhiri dengan membicarakan tentang ucapan dan renungan – hal-hal yang sepertinya tidak menjadi bagian pokok dalam hukum?

      1. Kita diperintahkan untuk jangan berdusta dan jangan menyebut nama Allah dengan sia-sia. Kita diperintahkan untuk jangan mengingini. Namun, tidak ada perintah yang berlaku umum tentang ucapan atau pikiran kita. Mengapa kedua hal ini disebutkan dalam “kesimpulan akhir” Mazmur 19? (Dosa bermula dari “hati” (pikiran) dan dinyatakan pertama kali dalam perkataan kita. Yesus membawa arti yang lebih dalam dari hukum manakala Ia mengatakan bahwa keinginan untuk berbuat zinah merupakan pelanggaran terhadap larangan berzinah. Matius 5:27-28.)

  3. Perkataan yang Saudara Ucapkan

    1. Baca Yohanes 5:36-40. Yesus sementara mengajukan rasa ketidak-puasan terhadap pemuka Yahudi. Apa yang Ia keluhkan? (Mereka tekun menyelidiki Alkitab, tapi melalaikan fakta bahwa Yesus-lah yang dibicarakan oleh Alkitab.)

      1. Orang-orang yang mempelajari pelajaran ini mungkin tidak menghadapi masalah yang sama dengan yang dihadapi pemuka Yahudi. Coba tengok perkara ini secara umum. Mengapa menyelidik Alkitab dengan tekun tidak membuat mata pemuka Yahudi terbuka? Bagaimana mungkin?

      2. Yesus mengatakan bahwa pekerjaan-Nya mendapat kesaksian dari Bapa-Nya di Surga. Apakah saudara mengetahui orang-orang yang tidak menyelidiki Alkitab atau sepertinya tidak bisa memahami pekabaran dari Alkitab?

        1. Apa peranan perbuatan dalam perjalanan hidup Kristiani saudara terhadap orang-orang seperti ini? (Alasan lain mengapa perbuatan kita penting adalah bahwa perbuatan kita menjadi alat untuk membawa orang lain kepada iman. Orang-orang yang tidak mau membaca Alkitab, atau tidak mengerti Alkitab, dapat dibujuk untuk berbalik kepada Allah lewat hidup saudara. Hidup kita dapat menjadi bagian dari “Firman.”)

  4. Pembaruan

    1. Sejauh ini kita telah memperbincangkan bagaimana Alkitab akan merubah hidup kita. Asumsinya adalah bahwa kita mempelajari Alkitab. Mari baca 2 Raja-raja 22:8, 10-11. Apakah orang-orang ini memiliki banyak naskah Alkitab? (Tidak. Sepertinya mereka telah kehilangan satu-satunya naskah yang ada pada mereka dan menemukannya kembali di dalam kaabah saat sedang diadakan renovasi.)

    2. Baca 2 Raja-raja 23:1-3. Apa hasil dari pembacaan Alkitab di tempat umum? (Bangsa itu berikrar untuk mengikuti petunjuk Alkitab bagi hidup mereka.)

    3. Dahulu, saat kami senang bepergian dengan rumah-mobil [motorhome], kami perlu membawa serta uang tunai. Masalahnya adalah bagaimana menjaga uang tersebut agar tidak dicuri seandainya seseorang mendobrak rumah-mobil kami? Solusinya adalah dengan menyimpan uang tersebut “di tempat terbuka.” Gantinya menyembunyikannya di sudut-sudut, saya akan meletakkan uang tersebut di tempat yang teramat biasa yang akan segera terlihat oleh maling – dan akan diabaikannya. Apakah setan menyembunyikan Alkitab “di tempat terbuka?”

      1. Seberapa sering kah saudara membaca Alkitab saudara?

      2. Apakah saudara mendukung pendapat yang menyebutkan bahwa Alktiab itu sulit dipahami?

      3. Apakah saudara membaca dan mempelajari Alkitab yang bisa saudara pahami?

    4. Sobat, Allah menghendaki kita menuruti perintah-perintahNya. Kita menurut, bukan karena dengan melakukan hal itu kita memperoleh keselamatan, tapi karena Allah telah mati untuk memenuhi tuntutan hukum. Hal tersebut seharusnya membuka mata kita soal betapa penting hukum-Nya. Maukah saudara hari ini memutuskan untuk membaca, memahami dan menuruti firman Allah?

  5. Pekan depan: Wahyu Pengharapan.