<-- The Voice From Heaven

Suara Dari Surga

(Kejadian 3, Yesaya 39, Amos 3, Yoel 2, Ibrani 1)

Alkitab untuk Masa Kini: Pelajaran 1

 

Copr. 2007, Bruce N. Cameron, diterjemahkan oleh Debbie Jacobs. Semua referensi Alkitab dikutip dari Alkitab Terjemahan Baru ©1974 Lembaga Alkitab Indonesia, kecuali disebutkan lain. Saran jawaban terdapat di dalam tanda kurung. Pengajar diasumsikan menggunakan papan tulis atau alat peraga lainnya dalam membawakan pelajaran. Pelajaran ini dapat dilihat di http://www.GoBible.Org/indonesian

Maukah saudara bercakap-cakap dengan Allah? Secara abstrak, saya tentunya mau. Ada sejumlah pokok pembicaraan yang saya ingin diskusikan dengan-Nya. Mengapa sampai kita tidak bisa mengadakan percakapan dengan Allah? Apakah karena “kesalahan kita?” Sepertinya hati saya yang egois dan suka memberontak lebih suka kalau Allah bersikap mendua pada saat-saat tertentu. Ada manusia-manusia yang telah berkomunikasi dengan Allah dan beberapa dari percakapan mereka tercatat dalam Alkitab. Kuartal ini kita memulaikan suatu seri pelajaran baru dan topiknya adalah Alkitab. Oleh karena kebanyakan dari pembaca pelajaran ini pertama kali menemukan pelajaran ini di situs GoBible.org, tentu saudara sudah tahu bahwa misi kami adalah memperkenalkan pelajaran Alkitab. Karenanya mari selami pelajaran kita dan pelajari lebih dalam tentang bercakap-cakap dengan Allah!

  1. Siapa Mencari Siapa?

    1. Baca Kejadian 3:1-3. Menurut Hawa, apa standar yang Allah tetapkan bagi Hawa terkait dengan pohon ini? (Jangan makan atau pun jamah buah pohon ini.)

    2. Baca Kejadian 3:4. Apa godaan yang Hawa hadapi? (Mempercayai Allah. Keangkuhan. Akankah ia mati kalau ia makan, atau akankah ia menjadi seperti Allah?)

    3. Baca Kejadian 3:6. Apakah ini sebuah ketidak-sengajaan ataukah kesengajaan untuk melanggar standar yang Allah tetapkan bagi Hawa? (Kesengajaan. Ia memilih untuk menyangsikan Allah dan mempercayai si ular.)

      1. Andai saudara Allah, apa reaksi saudara terhadap dosa Hawa dan Adam? (Istilah halusnya saya jengkel. Paling tidak, Hawa tidak mempercayai saya dan mematok bahwa saya akan mendustainya.)

      2. Seberapa berpengaruhnya tindakan Hawa ini? (Sangat. Tindakannya membuat kita semua tercebur ke dalam dosa!)

    4. Baca Kejadian 3:8-11. Berdasarkan apa yang Allah lakukan terhadap Adam dan Hawa, menurut saudara bagaimana reaksi Allah terhadap dosa yang dilakukan dengan sengaja, yang membuat hidup berubah? (Kita dapati bahwa Allah datang mencari Adam dan Hawa. Ia ingin membahas dosa mereka.)

    5. Baca Yesaya 59:1-2. Saat saya masih anak-anak, kepada saya diajarkan bahwa jika saya berbuat dosa maka Allah tidak akan mendengarkan doa saya. Benarkah demikan menurut saudara?

      1. Jika saudara mengatakan, “tidak, menurut saya hal itu tidak benar,” apa yang salah dengan konsep tadi? (Konsep tersebut sepertinya merupakan variasi dari konsep dibenarkan oleh perbuatan. Sebagai ganti dari berusaha memperoleh keselamatan, kini menjadi berusaha memperoleh ‘jalan’ menuju telinga Allah.)

      2. Mari sejenak kita uraikan ayat-ayat ini. Apa kaitan antara panjangnya tangan Allah (Yesaya 59:1) dengan berkomunikasi dengan-Nya? (Ini merupakan frasa yang umum digunakan dalam Perjanjian Lama, menunjuk kepada kuasa Allah. “Tangan”-nya cukup panjang (Ia cukup punya kuasa) untuk tugas apa pun yang ada di benak saudara. Tak ada yang salah pada kesanggupan Allah untuk mendengar atau menolong saudara.)

      3. Jadi apa sebabnya sampai Allah tidak bisa mendengar kita, menurut Yesaya? (Kesalahannya ada di pihak kita.)

        1. Kembali lagi pada pertanyaan awal, jika “kesalahan ada di pihak kita,” apakah berarti kalau kita berbuat dosa maka Allah tidak akan mendengarkan kita? (Antara ayat-ayat di kitab Kejadian yang telah kita lihat, dan komentar Yesaya tentang tangan dan telinga Allah, pokok yang diutarakan di sana adalah bahwa Allah sedia dan sanggup mendengarkan orang berdosa. “Kesalahan teknis” ada di pihak kita, Karena dosa, kita tidak ingin mendengar atau memahami Allah. Masih ingat di bagian pendahuluan saya mengatakan kadang kala hati saya yang egois dan suka memberontak tidak berkeinginan untuk memahami dengan jelas akan kehendak Allah? Menurut saya itulah pokok yang diutarakan Yesaya.)

    6. Baca Yohanes 12:37-40. Bagaimana caranya dosa menghalangi komunikasi antara Yesus dan pemuka-pemuka Yahudi? Apakah Yesus tidak bersedia untuk berkomunikasi? Apakah Allah telah membutakan dan membuat mereka tuli? (Yesus mengadakan mujizat di hadapan mereka! Merekalah yang memutuskan untuk tidak mau memahami komunikasi-Nya.)

  2. Nabi-nabi

    1. Di Taman Eden kita dapati bahwa Allah berkomunikasi langsung dengan manusia. Ketika Yesus datang ke bumi ini, Allah kembali berkomunikasi langsung dengan manusia. Menurut saudara apa yang menjadi alasan mengapa Allah tidak lagi berkomunikasi dengan kita muka dengan muka? (Nampaknya, berdasarkan ayat-ayat yang telah kita pelajari, hal ini ada kaitannya dengan dosa dan sikap kita.)

    2. Baca Amos 3:7. Mengapa Allah berkehendak untuk berbicara kepada nabi-nabi-Nya dan bukan kepada seluruh populasi secara umum? (Nabi-nabi tentulah merupakan orang istimewa, sekalipun ada cerita-cerita (seperti kisah Yunus) yang membuat kita bertanya-tanya apa yang istimewa dari mereka.)

    3. Baca Yoel 2:28-29. Apakah dosa menjadi satu-satunya penyebab dari terbatasnya komunikasi Allah dengan manusia? (Pada akhir zaman, Roh Kudus akan dicurahkan sehingga Allah kembali akan berkomunikasi dengan umatnya dalam skala besar. Ini mengindikasikan bahwa dosa kita bukanlah satu-satunya perkara. Penetapan waktu dari Allah juga jadi perkara.)

      1. Apakah saudara mengira bahwa ada beda antara jenis orang yang dibicarakan dalam Amos 3:7 dan yang dibicarakan dalam Yoel 2:28-29? (Dugaan saya adalah bahwa standar untuk menjadi nabi lebih tinggi pada zaman Amos – kecuali kalau yang dimaksud oleh Yoel 2 adalah bahwa prosentase orang-orang dengan “kualitas nabi” akan meningkat pada akhir zaman. Pada akhir zaman banyak orang memiliki Alkitab. Dengan demikian, akan berkuranglah kekhawatiran tentang ketepatan pekabaran karena bukan hanya satu sumber saja yang ada sekarang untuk memastikan kehendak Allah?)

    4. Baca 2 Petus 1:20-21. Bagaimana firman Allah diungkapkan lewat perkataan nabi-nabi yang dicatat dalam Alkitab? (Roh Kudus menuntun manusia untuk mencatat (mengungkap) kehendak Allah, bukannya kehendak manusia itu sendiri.)

      1. Apakah ini dapat diartikan bahwa tulisan nabi-nabi didiktekan kepada mereka, kata demi kata, oleh Allah? (Tidak. Kata “dorongan” nampaknya merupakan kerjasama antara manusia dan Roh Kudus untuk menuliskan kehendak Allah.)

  3. Yesus

    1. Baca Ibrani 1:1-3. Dalam cara-cara bagaimana Allah berbicara kepada kita melalui Yesus? (Ajaran Yesus dituliskan dalam kitab Perjanjian Baru. Fakta bahwa Allah telah menjadi manusia dan tinggal bersama kita, dan mati bagi kita, berbicara banyak tentang Allah. Yesus merupakan pernyataan tertinggi dari Allah.)

      1. Menurut saudara apa arti ayat di atas manakala disebutkan bahwa Yesus merupakan “gambar wujud Allah?” (Ia menunjukkan kepada kita seperti apa Allah itu. Jesus merupakan percakapan tentang Allah.)

      2. Manakala Ibrani 1:3 menyebutkan bahwa Yesus menopang segala yang ada dengan “firman-Nya yang penuh kekuasaan,” apa yang ayat ini ajarkan tentang Allah? (Satu kata saja dari Allah sudah cukup untuk menyelesaikan pekerjaan yang paling sulit.)

        1. Apakah ini mengindikasikan adanya ketimpangan serius dalam percakapan yang saudara ingin lakukan dengan Allah?

    2. Baca Yohanes 14:6-8. Apakah Filipus puas dengan pernyataan Yesus bahwa kalau kita mengenal Yesus maka kita akan mengenal Allah Bapa? (Tidak. Ia mengatakan, “Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami.”)

      1. ) Kalau seorang dari murid Yesus mempertanyakan hal Yesus sebagai pernyataan Bapa, apa yang seharusnya kita simpulkan dari soalan mengenai apakah Yesus merupakan pernyataan Allah? (Baca Yohanes 14:9-10. Yesus berkata kepada Filipus bahwa ia harus memperhatikan lebih saksama lagi! Allah Bapa berbicara dan bekerja melalui Yesus.)

      2. Kita telah bahas sebelumnya betapa Allah ingin berbicara kepada kita, namun dosa dan sikap kita membuat kita tak hendak mendengarkan. Hal lain apa lagi yang Filipus ajarkan kepada kita yang dapat menghalangi kita bercakap-cakap dengan Allah? (Tidak menaruh perhatian.)

  4. Alkitab

    1. Kalau Alkitab mencatat percakapan Allah dengan manusia, dan saudara ingin bercakap-cakap dengan Allah, apa anjuran yang terkandung di sini tentang saudara dan Alkitab? (Bahwa saudara harus membacanya!)

    2. Baca 2 Petrus 1:19. Apa yang ayat ini anjurkan agar menjadi sikap kita terhadap tulisan nabi-nabi? (Seperti halnya pernyataan Yesus kepada Filipus, ayat ini memberitahu kita agar memperhatikan.)

      1. Manakala ayat mengatakan bahwa firman yang diilhamkan adalah laksana fajar, apa yang terkandung di sini tentang jenis perhatian yang harus kita perlihatkan terhadap Alkitab? (Pertama, fajar itu istimewa. Jika kita benar-benar ingin menyaksikannya, kita memperhatikan dengan saksama sementara ia merekah menyambut hari. Kedua, saat fajar merekah cahaya menjadi lebih terang. Ini merupakan prinsip umum dari pembelajaran Alkitab – oleh mempelajari perkataan yang diilhamkan, kita makin dan makin mengerti kebenaran. Terang kebenaran akan lebih jelas terlihat. Jika saudara terus menggali maka saudara akan mendapatkan lebih banyak lagi harta karun.)

    3. Sobat, Firman Allah tersedia bagimu. Jika engkau mau mendengar firman Allah, engkau perlu membaca Alkitabmu. “Membaca” itu lebih dari sekadar kegiatan sambil lalu. Alkitab mengatakan bahwa dengan memperhatikan sementara membaca, menggali agar mengerti kehendak Allah, kita akan memperoleh terang yang lebih besar dan lebih besar lagi tentang Allah. Hari ini, maukah engkau mulai membaca dan menggali?

  5. Pekan depan: Firman Terakhir.