Kesimpulan
dari Segala Hal
(Pengkhotbah
12)
Pengkhotbah:
Pelajaran 13
Copr.
2007, Bruce N. Cameron. Semua referensi Alkitab dikutip dari Alkitab Terjemahan
Baru ©1974 Lembaga Alkitab Indonesia, kecuali disebutkan lain. Saran jawaban
terdapat di dalam tanda kurung. Pengajar diasumsikan menggunakan papan tulis
atau alat peraga lainnya dalam membawakan pelajaran. Pelajaran ini dapat
dilihat di http://www.GoBible.Org/indonesian
Dalam seri
pelajaran ini kita kerap dibuat risau oleh nasihat-nasihat Salomo yang kelihatannya
tidak sepenuhnya tepat karena ia seperti mengesampingkan Allah dan hidup kekal
dari pembicaraannya. Pekan ini, dalam pasal penutup, Raja Salomo benar-benar
menghimbau kita agar selalu menempatkan Allah di tengah-tengah pemikiran dan
perencanaan kita. Mari selami pelajaran kita!
- Ingatlah
akan Penciptamu
- Baca
Pengkhotbah 12:1. Agaknya ingatan kita akan makin bermasalah di usia tua
kita. Apa yang Salomo maksudkan manakala ia mengatakan agar kita “mengingat”
Allah saat kita muda usia? (Salomo mengatakan kepada kita agar menjadikan
Allah bagian dari rencana kita sedari awal.)
- Apakah
saudara masih ingat cerita tentang petani dan para pekerja yang datang
pada waktu yang berbeda-beda (Matius 20:1-15)? Apakah mereka mulai
bekerja di pagi hari atau baru memulai persis sebelum jam kerja
berakhir, semua pekerja mendapatkan bayaran yang sama. Andai saudara
tahu sebelumnya tentang skema pembayaran seperti ini, kapan saudara akan
mulai bekerja? (Semua akan menjawab, “Persis sebelum jam kerja
berakhir.”)
- Cerita
tentang petani dan para pekerja ini merupakan sebuah perumpamaan
mengenai keselamatan. Dengan mempertimbangkan jawaban saudara atas
pertanyaan tentang kapan saudara akan datang bekerja, mengapa kita harus
menetapkan bahwa kita akan “ingat” (bekerja bagi Allah) mulai dari saat
kita muda usia? (Raja Salomo kini sudah mendekati akhir hidupnya dan ia menyadari
betapa hidupnya akan lebih baik lagi andai ia berjalan di jalan Allah
sepanjang waktu.)
- Hampir
semua orang yang saya kenal (yang belum pensiun) membicarakan dengan
penuh harap akan masa pensiun dan “masa-masa keemasan” (golden years.)
Perhatikan paruh terakhir dari Pengkhotbah 12:1, bagaimana Salomo
menggambarkan “masa-masa keemasan” tersebut? (Ia menyebutnya “hari-hari
yang malang” di mana tidak ada “kesenangan” dalamnya.)
- Baca
Pengkhotbah 12:2. Salomo mulai menjelaskan mengapa ia menyebut
“tahun-tahun keemasan” sebagai “hari-hari yang malang.” Akankah tiba
masanya manakala matahari, bulan dan bintang-biontang menjadi gelap? Mengalami
kerusakan pada suatu ketika? (Salomo tidak sedang membicarakan tentang
terbakarnya matahari, ia sedang membicarakan penglihatan kita yang
bertambah rabun sejalan dengan bertambahnya usia.)
- Baca
Pengkhotbah 12:3. Aspek apa yang Salomo gambarkan di sini terkait masa
tua? (Gemetar karena usia, bungkuk dan tidak dapat melakukan kerja berat
yang dulunya sanggup dilakukan.)
- Saudara
lelaki kakek saya dulunya seorang yang perkasa. Saya ingat saat usianya
75 tahun ia memiliki pergelangan tangan raksasa dan lengan yang kekar. Kecuali
rambutnya yang menipis, ia kelihatannya tidak termakan usia. Akhirnya
umur dan penyakit menyergapnya dan ia pun menjadi rapuh dan uzur.
- Manakala
Salomo berbicara tentang “penggiling-penggiling,” apakah gigi kita yang
ia maksudkan?
- Saat
menyebutkan “yang melihat dari jendela,” apakah yang ia maksudkan adalah
penglihatan kita?
- Baca
Pengkhotbah 12:4. Mengapa menutup pintu hanya karena usia mulai menua?
(Salomo bisa jadi sedang menggambarkan dua perkara. Bisa jadi ia sedang mengatakan
bahwa kita menutup pintu karena merasa rentan saat usia menua.
Kemungkinan besar, ia sedang membicarakan tentang hilangnya pendengaran.
Pernahkah saudara perhatikan bagaimana “suara lalu-lintas” meredup saat
pintu rumah saudara ditutup? Karena Salomo mengatakan suara orang bekerja
dan kicau burung meredup sejalan dengan berlalunya waktu, menurut saya ia
sedang membicarakan hilangnya pendengaran pada masa tua.)
- Mengapa
orang tua bangun bersamaan waktunya dengan burung-burung sekali pun
mereka tidak dengar betul suara kicau burung? (Mereka bangun pagi karena
tidak bisa tidur.)
- Baca
Pengkhotbah 12:5. Apa lagi yang berlalu bersamaan dengan usia? (Kita
menjadi takut jatuh, kita takut kepada hal-hal yang tadinya tidak pernah
membuat kita takut. Kita kehilangan kesanggupan untuk melompat-lompat
(“belalang menyeret...”) dan hasrat menghilang. Tak heran jika Salomo menyebut
saat tua dengan, (Pengkhotbah 12:1) “Tak ada kesenangan bagiku di
dalamnya.”)
- Mengapa
Salomo menuliskan tentang pohon badam berbunga? (Bunga badam putih
warnyanya – sebagaimana warna rambut saudara. Yang akan saudara miliki,
jika beruntung.)
- Apa
babak terakhir dari kehidupan yang digambarkan dalam Pengkhotbah 12:5?
(Saudara meninggal dan orang-orang meratap sementara mereka membawa
saudara ke ladang pekuburan.)
- Pada
titik ini, apakah Salomo makin membangkitkan keinginan saudara akan “masa-masa
keemasan” itu?
- Jika
saudara sedang “mengangankan hari lain yang lebih baik,” lebih baik
saudara hentikan angan-angan tersebut dan nikmati hidup saudara
sekarang!
- Selain
membuat kita kecil hati menghadapi hari tua, apa lagi yang disampaikan
Salomo? (Saat kita masih muda, kita punya waktu, kekuatan dan kesanggupan
mental untuk menyiapkan kehidupan melayani Allah dan sesama. Betapa
banyak orang muda yang menyia-nyiakan masa muda, menempatkan kesenangan
di atas segalanya, dan tau-tau mereka sudah tua dan tak memenuhi syarat?)
- Akhir
dari Waktu Saudara
- Baca
Pengkhotbah 12:6. Rantai perak putus, pelita emas pecah, tempayan hancur dan
roda timba rusak. Pembicaran apa ini? (Salomo sedang menulis tentang
kematian kita. Pernahkah saudara perhatikan bagaimana caranya orang-orang
mengelak untuk mengatakan bahwa seseorang sudah mati? Mereka akan
menggunakan frasa-frasa seperti “pulang kepada Bapa.” Salah satu yang
menjadi favorit saya biasa dipakai oleh Bala Keselamatan. Mereka
menyebutkan, “diangkat ke dalam kemuliaan.” Salomo menggunakan sebagian
dari kata-kata pelembut (eufemisme) yang paling indah untuk menyebutkan
kematian.)
- Apa
yang Salomo ingin agar kita lakukan sebelum mati? (Ingat akan Pencipta
kita.)
- Apa
anjuran yang terkandung di sini bagi orang yang telah menyia-nyiakan
masa mudanya? (Bahwa tidak akan terlalu lambat untuk berpaling kepada
Allah. Salomo mengawali (Pengkhotbah 12:1) dengan mengatakan “ingat”
Pencipta kita selagi kita muda. Namun, jika kita gagal melakukan hal
tersebut, paling tidak “ingat” Dia sebelum kita mati.)
- Coba
tambahkan Pengkhotbah 12:7 ke dalam ayat 6 dan baca kedua ayat tersebut
bersama-sama. Dua komponen apa yang Salomo kemukakan sebagai pembentuk
keberadaan kita? (Tubuh kita kembali kepada tanah dan napas kita kembali
kepada Allah.)
- Apakah
penggambaran mengenai “dibongkarnya” komponen keberadaan kita saat maut
tiba mengingatkan saudara pada ayat lain dalam Alkitab? (Baca Kejadian
2:7. Alkitab dengan jelas mengajarkan bahwa tubuh itu tidak punya arti
tanpa nafas Allah yang membuatnya hidup.)
- Pelajaran
Apa yang Bisa Ditarik?
- Baca
Pengkhotbah 12:8. Mengapa Salomo menyudahi bukunya dengan cara yang sama dengan
cara ia memulaikannya (Pengkhotbah 1:2)? (Pendapatnya bahwa segala
sesuatu merupakan “hebel” (sementara, hembusan nafas) belumlah
berubah, karena ia baru saja selesai menuliskan tentang kematian kita.)
- Baca
Pengkhotbah 12:9-10. Bagi saya ini kedengarannya seolah-olah terjadi saat
sang Pengkhotbah meninggal dan seseorang mengesahkan apa yang dituliskan
oleh Pengkhotbah tersebut. Namun, tak satu pun penjelasan Alkitab yang
saya baca sepakat dengan saya. Mengapa kita perlu mendengarkan Salomo, sang
Pengkhotbah? (Ia memiliki hikmat, ia menguji dan menimbang
ajaran-ajarannya, orang banyak belajar darinya, ia coba menulis dengan
cara menarik, dan apa yang ditulisnya benar adanya.)
- Baca
Pengkhotbah 12:11. Apakah saudara mau menginjak paku? Apakah saudara mau
dilecut? Mengapa Salomo membandingkan perkataannya dengan perkara-perkara
tadi? (Oleh mendengarkan hikmat, mendengarkan kebenaran yang disampaikan
dengan sangat meyakinkan, kita didorong untuk segera bertindak. Sekali
kita mengenal kebenaran dan memahami hikmat, dengannya kita dapat
merangkai kehidupan kita (layaknya paku). Hikmat memperteguh kita di masa
kesukaran.)
- Apa
yang dimaksud Salomo manakala ia menyebutkan “satu Gembala?” (Alllah.
Salomo mengakui adanya ilham ilahi dalam perkataannya.)
- Baca
Pengkhotbah 12:12. Setelah memberitahukan bahwa ia mengadakan pengujian
sebelum menulis bukunya, bagaimana bisa kini Salomo terkesan sangat
anti-intelektuil? Apakah ia sedang memberitahu kita untuk tidak membaca
dan belajar? (Tidak. Ia memberitahu kita agar waspada terhadap hikmat
yang tidak berasal dari Allah. Ada hikmat yang diilhamkan Allah dan ada
yang tidak. Jangan jemu mempelajari segala sesuatu.)
- Baca
Pengkhotbah 12:13-14. Apakah ini merupakan ringkasan dari keseluruhan
kitab Pengkhotbah? (Kata Salomo ya.)
- Apa
kesimpulannya? (Akui Allah dan taat kepada-Nya.)
- Mengapa?
(Akan datang penghakiman.)
- How
is this a summary of Ecclesiastes when so much of it seemed to ignore
anything beyond life here? (Solomon's point is that life is temporary.
It is not always logical. Bad things happen to good people sometimes.
Good things happen to bad people sometimes. During our brief time here
we should obey God for He has an ultimate judgment. Ultimate judgment
would make no sense without an ultimate reward!) Bagaimana mungkin ini
merupakan ringkasan dari kitab Pengkhotbah sementara sebagian besar
isinya seperti mengabaikan apa pun yang ada di balik kehidupan sekarang
ini? (Pokok yang diutarakan Salomo adalah bahwa hidup itu sementara dan
tidak selamanya masuk akal. Terkadang hal buruk menimpa orang baik.
Selama waktu kita yang singkat ini kita seharusnya taat kepada Allah
karena pada-Nya ada penghakiman terakhir. Penghakiman terakhir akan tak
bermakna tanpa adanya upah terakhir!)
- Sobat,
maukah engkau menerima nasihat Salomo? Apakah hari ini engkau sepakat
untuk mengakui dan menuruti Allah?
- Pekan
depan: “Suara dari Surga.” Kita mulai dengan seri baru tentang Alkitab.