“Lalat
Mati dan Tukang Mantera Ular: Kehidupan di Bawah Matahari”
(Pengkhotbah
10)
Pengkhotbah:
Pelajaran 11
Copr.
2007, Bruce N. Cameron. Semua referensi Alkitab dikutip dari Alkitab Terjemahan
Baru ©1974 Lembaga Alkitab Indonesia, kecuali disebutkan lain. Saran jawaban
terdapat di dalam tanda kurung. Pengajar diasumsikan menggunakan papan tulis
atau alat peraga lainnya dalam membawakan pelajaran. Pelajaran ini dapat
dilihat di http://www.GoBible.Org/indonesian
Pendahuluan:
Pekan lalu, pelajaran kita diakhiri dengan kisah tentang orang yang membuat
kota terluput dari kekuatan militer yang besar. Penduduk kota melupakan orang
tersebut karena ia orang miskin. Hikmat yang ada padanya tidak dihargai oleh
penduduk kota. Pekan ini, Salomo melanjutkan desakannya pada kita untuk
memikirkan pentingnya hikmat dalam perkataan dan pekerjaan kita. Mari selami
pelajaran kita dengan penuh hikmat!
- Lalat
Mati dan Kaum Demokrat
- Baca
Pengkhotbah 10:1. Coba bayangkan lalat yang mati di dalam botol minyak
wangi yang terbuka. Apakah saudara akan memungut lalat itu dan
menggunakan minyak wanginya?
- Jika
saudara menjawab “tidak,” bukankah bau busuk dari lalat itu akan
menghilang saat saudara mengeluarkannya dari minyak wangi?
- Bukankah
dengan tidak membuang minyak wangi tersebut kita “berhemat?” (Minyak
wangi tersebut dikenakan pada badan saudara. Mengoleskan cairan yang
berasal dari bangkai lalat merupakan gagasan yang menjijikkan. Selain
itu, aroma ‘lalat mati’ mungkin saja akan tercium dari saudara.)
- Kini
setelah saudara bisa melihat dengan jelas permasalahannya, seberapa
hati-hatikah saudara kelak untuk senantiasa menutup botol minyak wangi
saudara?
- Seberapa
hati-hatikah saudara agar tidak melakukan kebodohan dalam hidup saudara?
(Pada saudara ada minyak wangi dalam botolnya dan pada saudara ada
hal-hal yang baik dan mulia. Sepertinya tidak logis jika saudara
membuang semua minyak wangi saudara karena sejumlah lalat mati, kendati
demikian saudara dapat menghancurkan hidup saudara dengan sejumlah
(bahkan mungkin saja hanya satu) tindakan bodoh. Ini menjadi kenyataan
yang menyedihkan.)
- Baca
Pengkhotbah 10:2. Saat saudara mengira bahwa Salomo sedang menuliskan
tentang waktu dan tempat yang berbeda, anggota partai Republik di Amerika
memahami kata-kata Salomo sebagai pesan untuk masa kini. Bukankah
demikian?
- Sebenarnya,
Salomo baru saja memberitahu kita betapa kebodohan kecil dapat merusak
hidup kita. Bagaimana saudara memahami nasehatnya agar menjauhi
kebodohan? Bagaimana agar hati kita condong pada arah yang benar?
Haruskah secara harfiah kita membelok ke arah kanan? (Penjelasan
Alkitab, Be Satisfied, menjelaskan “di masa purbakala tangan
kanan menjadi tempat bagi kekuasaan dan kebesaran, sementara tangan kiri
menggambarkan kelemahan dan penolakan.” Jika saudara memiliki hikmat,
pikiran saudara akan tertuju pada hal yang secara moral benar dan yang
cenderung mengarah pada kekuasaan dan kebesaran. Jika saudara orang
bodoh, maka saudara akan condong ke arah hal yang salah yang akan
menimbulkan masalah.)
- Baca
Pengkhotbah 10:3. Apakah orang bodoh sangat mudah dikenali? (Salomo
mengatakan bahwa dalam tugas-tugas sederhana pun – misalnya mengemudikan
mobil – saudara akan tahu jika orang yang melakukan tugas tersebut tidak
memiliki hikmat.)
- Saran
Praktis bagi Calon Orang Bodoh
- Baca
Pengkhotbah 10:4. Pernahkah saudara menyaksikan seseorang yang dengan
amarah meninggalkan sebuah pertemuan? Pernahkah saudara menyaksikan
seseorang yang mengundurkan diri dari pekerjaannya dengan perasaan gusar?
(Kawan saya dalam kemarahan sesaatnya berhenti dari pekerjaan yang
sebenarnya ia sukai. Hari berikutnya ia berubah pikiran namun atasannya
berkata kawan saya ini sudah mengundurkan diri. Bagi saya dunia kerja
kawan saya tidak tidak lagi sebaik yang dulu. Salomo berkata “Jika
atasanmu murka, tenang-tenang saja, tetaplah bekerja, jelaskan posisimu
dan engkau akan meluruskan kesalah-pahaman atasanmu.)
- Baca
Pengkhotbah 10:5-7. Apakah saudara yakin atasan saudara tidak melakukan
tindakan bodoh? (Tidak. Penguasa bisa khilaf dan menempatkan orang bodoh
pada posisi kunci. Jika hal demikian terjadi, terimalah dengan tenang dan
kerjakan tugas saudara dengan sebaik-baiknya.)
- Baca
Pengkhotbah 10:8-9. Andai saudara bekerja keras dan bekerja dengan
cerdik, adakah jaminan bahwa saudara akan berhasil? (Pesan yang
ditinggalkan Salomo adalah bahwa bertindak bijak dan bekerja keras,
senang melakukan hal yang benar, tidaklah serta-merta membawa keberhasilan.
Pertimbangan yang buruk dapat menjadi sebab kenapa saudara ditempatkan di
bawah wewenang orang yang bodoh. Kadang kala, kerja keras malah merugikan
saudara. Kehidupan di atas bumi ini sama sekali tidak bisa ditebak.)
- )
Baca Pengkhotbah 10:10. Apa yang akan saudara lakukan seandainya saudara
bekerja di bawah wewenang seorang yang bodoh? Apa ada kaitannya dengan
besi tumpul? (Salomo mengatakan bahwa andai pun saudara harus bekerja
dalam kondisi yang buruk (bekerja dengan besi tumpul), jika saudara
bekerja keras dan cekatan, saudara akan dapat mengatasi kondisi buruk tersebut.
Pesan yang terkandung dalamnya adalah bahwa hidup ini tidak bisa ditebak,
hidup ini penuh tantangan, namun dapat dikatakan bahwa hikmat dan cekatan
akan membawa keberhasilan.)
- Baca
Pengkhotbah 10:11. Bagaimana seandainya saudara sementara melakukan saran
yang Salomo kemukakan dalam Pengkhotbah 10:10, dan atasan “besi tumpul”
menggigit saudara sebelum saudara sempat menunjukkan hasil dari kerja
keras dan kecekatan saudara? (Dalam kasus demikian, saudara tidak akan
memperoleh apapun dari kerja keras saudara.)
- Salah
saudarakah jika saudara digigit oleh atasan saudara? Lagi pula, dalam
kisah ini saudara adalah “tukang mantera ular.” Mungkin “mantera”
saudara kurang manjur?
- Apakah
ada maksud Salomo yang terkandung dalam pernyataannya ini? (Salomo sepertinya
agak khawatir terhadap ular. Ia menyebut tentang digigit ular dalam ayat
ini dan dalam Pengkhotbah 10:8. Tukang mantera ular sepintas lalu
merupakan profesi berbahaya. Pendapat yang diutarakan Salomo dapat
diartikan bahwa jika saudara terlibat dalam pekerjaan beresiko tinggi
atau investasi beresiko tinggi, saudara bisa digigit.)
- Baca
Pengkhotbah 10:12. Apakah perkataan menarik itu? (Baca Amsal 25:11. Saya
senang dengan gambaran ini. Kita menghargai kata-kata menarik. Kita
diangkat oleh kata-kata menarik. Saya teringat seorang pekerja gereja
yang rajin yang menciptakan banyak ragam masalah dengan perkataannya. Ia
tahu kata-kata yang diucapkannya membuat orang tersinggung, namun ia
tidak mengubah perilakunya. Saya ingat ia (kerap) berkata, “Saya akan bicara
blak-blakan, karena begitulah adanya saya.” Sesudah itu ia akan mencabik
telinga saudara dengan kritik “blak-blakan”-nya. Kita dilahirkan berdosa,
tapi hal itu tidak menjadi alasan untuk terus-terusan melakukan dosa.
Pikirkan perkataan saudara
- Gambaran
menarik lainnya terdapat dalam Pengkhotbah 10:12: bibir orang bodoh
menelan orang itu sendiri. Bayangkan bagaimana bibir saudara menelan
saudara! Apa artinya? (Perkataan saudara menghancurkan kualitas hidup
saudara. Lihat Amsal 10:21)
- Baca
Pengkhotbah 10:13-14. Apa beda kebodohan dan kebebalan? Mengapa dikatakan
orang bodoh mengawali dengan perkataan kebodohan dan mengakhiri dengan
kebebalan yang membawa kecelakaan? (Semua kita pernah mengalami saat di
mana kita mengucapkan sesuatu dengan bodoh. Jika kita bijak, kita akan
belajar dari kejadian ini dan tidak akan mengulanginya lagi. Namun, jika
kita bodoh, tidak ada yang kita pelajari dan kita akan terus mencurahkan
omong kosong, sambil berharap sesuatu yang berbeda akan terjadi. Sebuah
pepatah modern mengatakan bahwa definisi dari kegilaan adalah
mengulang-ulangi tindakan yang sama dan mengharapkan hasil yang berbeda.)
- Mengapa
ayat ini diakhiri dengan komentar mengenai masa yang akan datang? Apa
hubungan perkataan bodoh dengan meramalkan masa depan? (Baca Amsal 27:1.
Kita senang membanggakan harapan dan angan-angan kita. Namun, hal ini
pun merupakan kebodohan karena kita tidak mengetahui apa yang akan
terjadi di masa depan. Masa depan ada di tangan Allah.)
- Baca
Pengkhotbah 10:15. Mengapa orang bodoh lebih penat dalam pekerjaannya
dibandingkan dengan orang bijak? (Orang bodoh bicara terlalu banyak,
tidak memperhatikan apa yang sedang terjadi. Ia membuang-buang waktu
dengan mengerjakan hal-hal yang tidak perlu. Penjelasan Alkitab, Be
Satisfied, mengemukakan penjelasan yang menarik bahwa orang bodoh
berbicara terlalu banyak hingga ia tidak memperhatikan rambu jalan yang
menunjukkan arah menuju kota. Saya harus mengakui bahwa saya suka
bercakap-cakap sementara menyetir dan tidak memperhatikan rambu yang
menunjukkan belokan yang harus saya ambil.)
- “Ia
tidak tahu jalan menuju gedung pengadilan,” adalah sebuah ujaran lama perihal
pengacara yang tidak cakap. Karena saya sepertinya senantiasa berperkara
di sidang pengadilan yang berbeda dari yang sebelumnya, saya kerap
mencari-cari gedung pengadilannya. Apakah ungkapan ini berlaku pada diri
saya? (Yang diucapkan Salomo dan ungkapan ini adalah bahwa jika kita
tidak bisa menemukan tempat di mana kita seharusnya bekerja, jelas kita
tidak bisa melakukan pekerjaan tersebut. Jika harus bekerja di kota
namun saudara tidak bisa menemukan jalan menuju kota, saudara menghadapi
masalah.)
- Apakah
wajar jika kita mengartikan “kota” sebagai Yerusalem Baru?
- Coba
loncati beberapa ayat dan Baca Pengkhotbah 10:18. Kemarin, saya merenung-renungkan
kehidupan saya dan saya dapati sesuatu yang menurut saya merupakan sebuah
kekurangan. Tak satupun barang di rumah saya diperbaiki kecuali saya
melakukannya. Orang-orang di kantor saya tidak tahu cara melakukan
hal-hal “praktis” yang saya biasa lakukan, karenanya mereka membayar
orang lain untuk melakukan hal-hal tersebut. Apakah fakta bahwa saya
melakukan sendiri sementara orang lain membayar agar yang rusak bisa
diperbaiki menjadi bantahan terhadap apa yang Salomo katakan? (Orang lain
bekerja mencari uang agar bisa membayar pekerja yang akan melakukan
pekerjaan yang mereka tidak bisa lakukan. Dengan satu dan lain cara,
orang-orang di kantor saya “bekerja” agar atap tidak bocor atau kaso
runtuh. Tujuan, yang tidak bisa saya capai, adalah mempekerjakan pekerja
lain untuk menghasilkan uang bagi saudara!)
- Baca
Pengkhotbah 10:19. Saudara setuju? Jika ya, bagaimana bisa demikian?
(Karena Salomo baru saja menuliskan tentang kemalasan, ia boleh jadi sedang
mengemukakan bahwa uang adalah “jawaban” bagi penguasa yang bodoh dan
malas.)
- Baca
Pengkhotbah 10:20. Apakah “burung di udara” itu? Andai saudara seorang
karyawan, akankah saudara menuruti saran bijak ini? (Ingat diskusi
mengenai atasan yang bodoh dan “besi tumpul?” Jika saudara memiliki
atasan yang demikian, saudara harus merahasiakan hal ini. Memikirkan
keluhan saudara tentang atasan saudara pun tidak membawa manfaat.)
- Selain
dalam hubungan pekerjaan, dalam hubungan apa lagi saran ini berlaku?
- Sobat,
kehidupan di atas bumi ini tidak sepenuhnya bisa diramalkan. Jika engkau
ingin meningkatkan peluang untuk mencapai keberhasilan, Salomo
menasehatkan agar fokus pada apa yang benar, menaruh perhatian pada
perkataan dan menunjukkan hikmat dalam setiap hal yang engkau lakukan.
- Pekan
depan: Jalan Angin