<-- "Whatever Your Hand Finds to Do

Segala Sesuatu yang Dijumpai Tanganmu untuk Dikerjakan

(Pengkhotbah 9)

Pengkhotbah: Pelajaran 10

                                                  

Copr. 2007, Bruce N. Cameron. Semua referensi Alkitab dikutip dari Alkitab Terjemahan Baru ©1974 Lembaga Alkitab Indonesia, kecuali disebutkan lain. Saran jawaban terdapat di dalam tanda kurung. Pengajar diasumsikan menggunakan papan tulis atau alat peraga lainnya dalam membawakan pelajaran. Pelajaran ini dapat dilihat di http://www.GoBible.Org/indonesian

Pendahuluan: Pernahkah saudara memikir-mikirkan kematian saudara? Beberapa tahun lalu, ada alasan medis bagi saya untuk meyakini bahwa tidak lama lagi saya akan meninggal. Meskipun tidak nyaman rasanya, pemikiran seperti itu menjadi pengalaman belajar yang sangat berharga. Pekan ini Salomo menuntun kita untuk memikirkan kematian kita. Dalam kasus saya, ternyata tidak ada yang fatal dengan kondisi kesehatan saya selain bahwa kita memiliki “kondisi kesehatan” yang fana. Kita akan selami pelajaran kita untuk menemukan apa yang bisa kita pelajari tentang kehidupan oleh merenungkan kematian kita!

  1. Kematian: Takdir yang Sama

    1. Baca Pengkhotbah 9:1. Tatkala Salomo berkata bahwa ia “memperhatikan semua ini,” ia mengacu pada akhir pelajaran pekan lau: kita tidak bisa mengerti sepenuhnya jalan Allah. Apa yang patut kita simpulkan dari ketidak-sanggupan yang ada di pihak manusia dan kesanggupan yang ada di pihak Allah? (Cara yang bijak adalah dengan menaruh percaya pada Allah.)

      1. Bagaimana mungkin dengan menaruh percaya pada Allah maka masa depan kita akan berubah? (Baca sekilasan Ibrani 11:32-40. Penulis kitab Ibrani mengemukakan bahwa tak satu pun dari kita menerima sepenuhnya apa yang Allah janjikan bagi kita di bumi ini. Apa yang sesungguhnya terjadi dalam kehidupan kita di bumi ini tidaklah dapat diramalkan. Yang dapat diramalkan adalah betapa iman pada Allah dapat mempengaruhi sikap kita dalam menghadapi peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kehidupan kita.)

    2. Baca Pengkhotbah 9:2. Saudara setuju? Apakah orang jahat dan orang baik sama-sama memiliki “takdir yang sama?”

      1. Bagaimana caranya mencocokkan Roma 6:23 dengan gambaran ini? (Orang jahat dan orang benar menghadapi takdir jangka pendek yang sama: maut. Perbedaannya adalah bahwa orang baik telah memperoleh pemberian yang mengubah takdir akhir mereka. Pemberian ini adalah hidup yang didasari oleh pertobatan dan penerimaan akan kehidupan dan kematian Yesus ganti kita.)

    3. Baca Pengkhotbah 9:3-4. Berdasarkan pernyataannya tentang takdir yang sama, bagaimana Salomo menyikapi hidup? (Ia menyebutnya celaka. Pemikiran bahwa kita semua akan mati membuat Salomo kecil hati.)

      1. Apakah ucapan Salomo terdengar seperti ucapan seseorang yang menginginkan kematian? (Baca Pengkhotbah 6:3. Salomo berlaku tidak konsisten – ini menunjukkan bahwa dalam tulisannya ia sedang “berpikir keras.” Pada suatu ketika ia berkata lebih baik tidak pernah hidup daripada mati tanpa martabat atau tanpa menikmati kemakmuran. Sesudah itu ia berbalik mengatakan anjing yang hidup malah lebih baik dari pada kematian. Menurut pendapat saya ia mengajak kita kita bergabung dalam ‘debat’ filosofis-nya tentang kehidupan dan kematian.)

  2. Kehidupan: Ada Faedahnya?

    1. Apakah saudara setuju bahwa anjing yang hidup lebih baik dari pada singa yang mati?

    2. Baca Pengkhotbah 9:5-6. Apa alasan Salomo mengatakan anjing yang hidup lebih baik dari pada singa yang mati?

      1. Benarkah bahwa orang mati tidak lagi menerima upah? (Baca Yohanes 11:25-26. Pernyataan Salomo tidaklah benar kalau dipahami dalam artian titik akhir. Jika diartikan bahwa kita tidak lagi akan menerima “upah,” dalam artian terus-terusan menikmati dunia ini, maka pernyataan tersebut benar adanya.)

        1. Jika Salomo keliru dalam artian titik akhir, apakah hal itu akan menyebabkan saudara berpikir ulang apa lebih baik menjadi anjing yang hidup atau singa yang mati? (Saya memilih singa yang mati. Jikalau Yesus memberi kita pengharapan dan janji hidup kekal, sungguh lebih baik menjadi singa daripada menjadi anjing.)

    3. Baca Pengkhotbah 9:7-9. Sebelum ini kita telah membahas sebagian dari apa yang Salomo rasakan. Menurut saudara apa yang Salomo maksudkan manakala ia mengatakan agar kita senantiasa mengenakan pakaian putih dan membubuhkan minyak di atas kepala? Umumnya pendeta yang saya kenal mengenakan banyak unsur hitam dalam pakaiannya dan tidak pernah menggunakan minyak untuk memoles rambutnya. (Beberapa penjelasan Alkitab yang saya pelajari memiliki pemahaman yang agak berbeda tentang komentar Salomo soal pakaian. Penjelasan-penjelasan tersebut dapat saya ringkaskan sebagai berikut: mengenakan pakaian yang membawa sukacita, yang nyaman, yang membawa perasaan senang. Tampaknya secara harfiah Salomo mengenakan pakaian putih. Terjawablah sudah mengapa Yesus dalam Matius 6:28-29 membandingkan pakaian Salomo dengan apa yang dikenakan oleh bunga bakung.)

      1. Baca Mazmur 23:5-6. Apa yang terkesan dalam ayat ini soal arti dari mengurapi kepala dengan minyak? (Kembali, ini merupakan bagian dari kenikmatan dari hidup yang dijalani dengan sebaik-bainya.)

      2. Nasehat praktis apa yang bisa saudara temukan dari Pengkhotbah 9:7-9? (Nikmatilah keluargamu, pasanganmu, makananmun, pakaianmu dan wewangian (minyak)-mu. Temukanlah sukacita dari hal-hal kecil dalam kehidupan.)

    4. Baca Pengkhotbah 9:10. Bagaimana caranya kerja keras itu bersesuaian dengan menikmati hidup? (Salomo mengatakan bahwa kita mempunyai waktu yang terbatas di bumi ini. Raihlah sebanyak mungkin sukacita dan prestasi dari waktu kita di atas bumi.)

      1. Pernahkah saudara mendengar ucapan dari seorang pecandu kerja, “Saya akan istirahat saat saya mati?” Apakah itu yang dikatakan Salomo di sini? (Ia sepertinya mengatakan hal yang sama, namun komentar yang ia utarakan sebelumnya tentang menikmati hidup menunjukkan ia bukanlah seorang pecandu kerja. Salomo sepertinya suka kerja keras namun ia juga seorang penikmat kesenangan.)

    5. Baca Pengkhotbah 9:11-12. Argumen lain apa lagi yang Salomo lemparkan untuk mendorong kita agar sedapat mungkin menikmati setiap hari-hari kita? (Keberhasilan di masa datang di atas bumi tidaklah bisa dijamin dan maut datang tanpa disangka-sangka.)

  1. Orang Berhikmat dan Kota

    1. Baca Pengkhotbah 9:13-14. Apa peluang kota tersebut untuk berhasil melawan penyerangnya? (Buruk.)

      1. Atas dasar apa saudara mengukur kemungkinan tersebut? (Atas dasar kekuatan – jumlah petarung).
    1. Baca Pengkhotbah 9:15-16. Pernahkah saudara bermain “Gunting, Kertas dan Batu?” Apakah yang lebih hebat dari pada kekuatan militer? (Hikmat.)

      1. Apa yang lebih hebat dari hikmat? (Daya ingat yang buruk!)

        1. Hal penting apa dari orang ini yang tidak saya singgung? (Ia orang miskin. Salomo tidak sedang menerangkan hebatnya kealpaan, ia mengeluhkan persepsi kita. Kita memuji-muji kekuatan dan kekayaan. Orang miskin ini, sekalipun memiliki sesuatu yang lebih hebat dari pada kekuatan militer, telah dilupakan karena kemiskinannya.)

        2. Pelajaran apa yang patut kita tarik dari sini: jika kita orang berhikmat semestinya kita membaktikan iman kita untuk memperoleh kekayaan? (Tidak. Sekali lagi ingat keluhan Salomo (Pengkhotbah 6:3) tentang orang kaya yang anak-anaknya tidak menghargainya dan dia tidak menikmati kekayaannya? Salomo tidak sedang menganjurkan agar kita patut bekerja supaya menjadi kaya, ia menganjurkan bahwa kita patut mengharga talenta-talenta dari orang-orang yang tidak kaya.)

    2. Baca Pengkhotbah 9:17-18. Apa yang Salomo katakan soal mendengarkan pendapat mayoritas? Apa yang ia akan katakan soal berita sore? (Masalah dengan orang berhikmat adalah bahwa orang miskin yang menyelamatkan kota tidak cukup dihargai orang. Salomo mengemukakan bahwa hikmat tidak datang dari teriakan atas kekuatan. Hal-hal tersebut mungkin menarik perhatian kita (sebagaimana halnya berita sore), namun kewajiban kita adalah mencari tahu apa hikmat Allah itu.)

      1. Seberapa hebatkah dalil-dalil orang berdosa? (Dalil-dalil tersebut bisa menimbulkan banyak kerugian.)

    3. Sobat, maut itu tak bisa dihindari. Salomo mengemukakan bahwa hidup dalam konteks kematian akan menyebabkan kita menikmati kehidupan selagi kita hidup. Kita perlu bersenang-senang, kerja keras dan mempercayakan pada Allah hari esok kita. Maukah engkau memutuskan untuk percaya akan Allah dalam situasi apapun?

  1. Pekan depan: “Lalat Mati dan Tukang Mantera Ular: Kehidupan di Bawah Matahari.”