Memandang
Lewat Kaca Gelap
(Pengkhotbah
8)
Pengkhotbah:
Pelajaran 9
Copr.
2007, Bruce N. Cameron. Semua referensi Alkitab dikutip dari Alkitab Terjemahan
Baru ©1974 Lembaga Alkitab Indonesia, kecuali disebutkan lain. Saran jawaban
terdapat di dalam tanda kurung. Pengajar diasumsikan menggunakan papan tulis
atau alat peraga lainnya dalam membawakan pelajaran. Pelajaran ini dapat
dilihat di http://www.GoBible.Org/indonesian
Pendahuluan:
Seberapa pintarkah saudara? Cukup pintar, bukan? Apakah saudara cukup pintar
untuk menginginkan hikmat? Cukup pintar untuk menimbang apakah hikmat itu membawa
manfaat? Jika demikian, apa manfaat hikmat? Apakah saudara sepakat bahwa hikmat
menolong kita mengatasi masalah yang menghadang? Pekan ini Raja Salomo memberi
kita sekilas pandang terhadap pendapatnya soal manfaat hikmat.
- Terlihat
Pintar dan Hidup secara Pintar
- Baca
Pengkhotbah 8:1. Apa artinya memiliki hikmat? (Salah satunya, berarti
sanggup menjelaskan “perkara-perkara.”)
- Dapatkah
saudara menandai seorang lelaki atau perempuan yang memiliki hikmat?
- Jika
tidak, dapatkan saudara menandai seorang lelaki atau perempuan yang
bodoh? (Salomo mengemukakan bahwa hikmat akan tercermin dari wajah orang
yang memilikinya. Menurutnya hikmat mengurangi kesan keras dari wajah
kita dan menjadikannya lebih “berseri.” The New Bible Commentary
mengatakan bahwa “wajah berseri” merupakan pertanda baik budi.
- Taukah
saudara apa yang Salomo maksudkan? Pernahkah saudara melihat “wajah”
berhikmat seperti demikian? (Saya sepenuhnya mengerti apa yang
dituliskan Salomo.)
- Taat
pada Penguasa Bumi
- Baca
pengkhotbah 8:2. Apa sumpah saudara bagi raja? (Sebagai seorang
pengacara, saya mengangkat sumpah untuk menegakkan undang-undang negara
Amerika Serikat. Pejabat pemerintah mengangkat sumpah. Angkatan
bersenjata mengangkat sumpah. Orang yang menjadi warga negara Amerika
Serikat (orang yang terlahir bukan sebagai warga negara Amerika Serikat)
mengangkat sumpah untuk setia kepada negara Amerika Serikat.)
- Seberapa
pentingkah sumpah itu? (Kata Salomo jika kita telah mengucapkan sumpah,
maka untuk alasan itu kita patut patuh pada raja.)
- Baca
Pengkhotbah 8:3-4. Apakah nasihat ini berlaku juga saat kita berurusan
dengan atasan? (Nasihat ini berlaku berlaku bagi siapa saja yang memiliki
kendali penuh atas sebagian dari hidup kita.)
- Apa
artinya “janganlah bertahan dalam perkara jahat?” (Konteksnya adalah
bahwa jika kita melawan raja (atau atasan) maka hal tersebut menurut
definisinya adalah “perkara jahat.”)
- Bagaimana
halnya dengan gagasan tentang berdiri tegak demi hal yang benar? (Baca
Kisah 5:29. Kita harus taat kepada Allah lebih daripada taat kepada
manusia. Akan tetapi, kitab Kisah merujuk kepada perkara-perkara di
mana patuh pada “raja” menyangkut masalah moral. Kita bisa memaparkan
pada “raja” sudut pandang kita, namun jangan membangkang kecuali bila
sudah menyangkut dosa.)
- Apa
bedanya menjadi pembaru dan menjadi pembangkang dalam pekerjaan? (kadang
kala bedanya tipis sekali. Namun, adalah bodoh jika kita secara
langsung menentang orang yang memiliki wewenang.)
- Baca
Pengkhotbah 8:5-6. Jika dikatakan bahwa patuh kepada “raja” tidak akan membawa
celaka, mengapa Salomo melanjutkan dengan menunjuk kepada “saat dan cara
yang tepat?” (Ada saat dan cara yang tepat untuk mengutarakan bahwa raja
sedang menuju ke arah yang salah. Ratu Ester (Ester 7) merupakan salah
satu contohnya.)
- Pengkhotbah
8:6 menyebutkan “kejahatan manusia menekan dirinya.” Alkitab
versi King James menggunakan kata “misery” yang bisa diartikan
sebagai kesengsaraan. Mengapa Salomo, dalam konteks ini, menuliskan
tentang “kesengsaraan manusia menekan dirinya?” (Kita tidak bisa
bersenang-senang saat menunggu saat dan cara yang tepat untuk membuat
sang raja berubah.)
- Menerima
Apa yang Tidak Dapat Diubah
- .)
Baca Pengkhotbah 8:7-8. Selain sulit mengendalikan “raja,” aspek lain apa
dalam hidup kita yang berada di luar kendali kita? (Kita benar-benar
tidak bisa mengendalikan peristiwa yang akan terjadi di masa datang atau
saat kematian kita.)
- Manakala
Raja Salomo menunjuk pada “kesengsaraan” yang menekan, apa yang
terkandung dalamnya terkait dengan kesanggupan kita untuk mengendalikan
masa depan? (Beberapa aspek dari masa depan kita benar-benar di luar
kendali kita. Aspek lainnya masih bisa kita pengaruhi – setidaknya pada
satu ketika. Dengan menghindari kejahatan kita akan terhindar dari cengkeraman
setan – yang tidak lain tidak bukan ingin mencelakakan kita. Ada
manfaatnya jika kita hidup secara cerdas (secara pintar). Akan tetapi,
jika kita melakukan kejahatan maka kita membuka jalan bagi
peristiwa-peristiwa yang tidak bisa kita kendalikan. Jika saudara
mendambakan masa depan yang lebih menyenangkan, janganlah berbuat
jahat.)
- Baca
Pengkhotbah 8:9-10. Apakah kejahatan akan mengejar seseorang dalam
kehidupan ini? (Kadang-kadang ya, kadang-kadang tidak. Salomo menyebutkan
tentang orang jahat yang datang ke gereja secara teratur and
disanjung-sanjung pada saat pemakamannya.)
- Insentif
bagi Hidup yang Benar
- Baca
Pengkhotbah 8:11-13. Di Amerika Serikat, hukuman pidana sangat jarang
dilaksanakan dengan segera. Diperbolehkan untuk berkali-kali mengajukan
banding. Orang-orang yang dijatuhi hukuman mati karena melakukan
pembunuhan sadis kadang kala hidup bertahun-tahun lamanya di “death
row” (deretan orang-orang yang menunggu pelaksanaan hukuman mati atas
diri mereka). Bagaimanakah pengaruhnya pada tingkat kriminalitas, menurut
Salomo?)
- Sekalipun
orang jahat tidak ditangkapi, atau tidak dihukum dengan segera, apakah
kejahatan ada ganjarannya? (Salomo menegaskan bahwa pada umumnya orang
yang takut akan Allah memiliki kehidupan yang lebih baik.)
- Baca
Pengkhotbah 8:14. Bagaimana bisa Salomo mengatakan bahwa memperoleh
pahala yang keliru merupakan hal yang sia-sia? Jika kita orang baik,
namun menderita seperti orang jahat, apakah ada pesan penting di dalamnya
mengenai Allah kita? (“Sia-sia” dalam bahasa Ibrani adalah “hebel” yang
dapat diartikan, dari sekian banyak arti, sebagai “fana.” Jadi, di dunia
ini ada hal-hal yang tidak berlangsung dengan semestinya, namun Allah
akan meluruskannya di surga.)
- Baca
Pengkhotbah 8:15. “Makan minumlah dan bersukacita, karena esok kita akan
mati.” Apakah kalimat ini merupakan kesimpulan dari falsafah Raja Salomo?
(Tidak persis. Ia telah mengatakan bahwa, secara umum, kita akan hidup
lebih baik jika kita patuh pada Allah. Dalam konteks tulisan Salomo, saya
akan menguraikannya dengan kata-kata sendiri seperti berikut, “Percayalah
pada Allah, lakukanlah hal yang benar, makan, minum dan bersukacitalah
atas kehidupan dan kesempatan yang Allah telah berikan di sepanjang usia
yang Allah telah karuniakan.)
- Baca
Pengkhotbah 8:16-17. Apa yang kita harus katakan jika hidup ini rasanya
tidak masuk akal? Apa yang harus kita pikirkan tentang Allah jika hidup
ini tidak masuk akal? (Tema dari Alkitab adalah bahwa Allah itu Allah dan
kita hanyalah manusia semata – dan jangan lupa akan hal itu. Salomo
berkata, “Lihat, orang yang paling pintar, paling bijak pun tidak dapat
memaparkan seluruh kehidupan. Serahkan hidupmu pada Allah.)
- Sobat,
hikmat Allah membuat hidupmu lebih baik. Sebagian dari hikmat Allah
dikaruniakan-Nya kepada kita. Sebagian lagi, berada di luar jangkauan
kita. Maukah engkau mencari hikmat Allah dan dengan senang hati percaya
akan Allah sekalipun hikmat yang kita miliki tidak cukup untuk memahami
dan memecahkan semua masalah dalam hidup?
- Pekan
depan: “Segala Sesuatu yang Dijumpai Tanganmu untuk Dikerjakan.”