(Pengkhotbah 6)
Pengkhotbah: Pelajaran 7
Copr. 2007, Bruce N. Cameron. Semua referensi Alkitab dikutip dari Alkitab Terjemahan Baru ©1974 Lembaga Alkitab Indonesia, kecuali disebutkan lain. Saran jawaban terdapat di dalam tanda kurung. Pengajar diasumsikan menggunakan papan tulis atau alat peraga lainnya dalam membawakan pelajaran. Pelajaran ini dapat dilihat di http://www.GoBible.Org/indonesian
Pendahuluan: Apa
yang paling saudara sukai dalam hidup ini? Bagi saudara, apa yang membuat hidup
bermakna? Apakah saudara menikmati kekayaan saudara? Lagi-lagi Raja Salomo
berkoar-koar soal betapa muramnya kehidupan, namun tujuan kita minggu ini
adalah memerhatikan apa kata Salomo dan menyingkap apa yang bisa kita pelajari
dari kata-kata Salomo tersebut untuk memperbaiki kehidupan dan pandangan kita
terhadap kehidupan. Mari selami pelajaran kita!
1.
Menikmati Harta Benda
1.
Baca Pengkhotbah 6:1-2.
Salomo berkata ada suatu kemalangan, kemalangan yang membuat banyak orang
tertekan. Kemalangan apakah itu? (Allah memberi seseorang kekayaan, harta benda
dan kemuliaan, namun ia tidak bisa menikmati semuanya itu.)
1.
Ayat di atas
menyebutkan orang lain yang menikmati semuanya itu. Bagaimana bisa orang lain yang
menikmati kekayaan, harta benda dan kemuliaan milik saudara? (Orang ini pasti
tidak memiliki seorang anak pun. Barangkali orang lain mengambil alih
perusahaan dan menikmati reputasi dan keuntungan perusahaan.)
2.
Jika orang ini tidak
kekurangan apapun dari segala yang didambakannya, mengapa ia tidak bisa
menikmati berkat-berkatnya? (Kematian, penyakit, ketidak-warasan.)
3.
Apakah saudara sepakat
dengan Salomo bahwa perkara-perkara tadi merupakan kemalangan?
1.
Apakah perkara-perkara
tersebut membuat saudara tertekan?
2.
Jika demikian, apa
jawaban jawaban bagi kita agar terhindar dari hal-hal yang menekan ini? (Hidup
kekal.)
2.
Baca Pengkhotbah 6:3.
Apa yang menyebabkan orang ini tidak dikuburkan dengan selayaknya? (Ia memiliki
seratus anak, namun mereka tidak cukup mencintai dan tidak cukup peduli untuk
memastikan agar ia dikuburkan dengan selayaknya.)
1.
Siapa yang salah di
sini? Sang ayah ataukah anak-anaknya? (Ada yang salah dengan sang ayah, jika ia
tidak bisa membina hubungan yang berarti dengan satu atau dua orang saja dari
anak-anaknya yang seratus itu. Bagaimana mungkin kita menjadi ayah dari seratus
anak yang jahat? Ketika Salomo mengatakan seratus anak, ia melebih-lebihkannya
untuk menekankan maksud.)
2.
Salomo menggunakan
istilah “menikmati” kekayaan. Menurut saudara apa yang Salomo maksudkan dengan
istilah ini?
1.
Apakah ia sedang
berbicara tentang rasa senang?
2.
Apakah ia sedang
berbicara tentang menyisihkan waktu untuk menikmati keindahan sementara kita
menjalani hidup?
3.
Apakah ia sedang
berbicara tentang memberi perhatian terhadap hal yang penting dalam hidup:
misalnya anak-anak saudara yang 100 itu?
4.
Apakah ia sedang
berbicara tentang pribadi yang puas?
5.
Apakah ia sedang
berbicara tentang seseorang yang memahami rencana Allah bagi hidupnya, dan
karenanya “memahami” apa artinya hidup?
3.
Baca Pengkhotbah 6:4-6.
Bagaimanakah penggambaran ayat ini mengenai anak yang lahir mati (keguguran,
digugurkan)? (Anak tersebut datang dan pergi dalam kegelapan. Ia tidak pernah
mendapatkan kesempatan untuk memiliki makna kehidupan. Ungkapan tentang nama
yang ditutupi kegelapan merujuk kepada adat bangsa Yahudi yang tidak memberi
nama pada bayi-bayi yang gugur dengan asumsi bahwa oleh tidak memberi nama maka
para orang tua akan lebih mudah mengatasi rasa duka.)
1.
Mengapakan orang malang
ini disamakan dengan anak yang “gugur?”
2.
Salomo berkata dua
mahluk tersebut memiliki tujuan yang sama. Sepakatkah saudara?
3.
Salomo bahkan berkata
(Pengkhotbah 6:3) bahwa anak yang gugur itu lebih baik? Setujukah saudara?
(Kata Salomo hidup tak bermakna, atau bermakna negatif, lebih buruk daripada
tidak pernah hidup. Tak pernah hidup membuat saudara bisa “istirahat.” Saya
akan menanyakan pada Salomo: “Kau perlu istirahat berapa lama? Orang yang
dilahirkan memiliki setiap kesempatan untuk menghidupkan kehidupan yang
bermakna.”)
1.
Baca Pengkhotbah 6:7.
Benarkah demikian bagi saudara? (Di beberapa tempat di dunia ini, tujuan utama
dari bekerja adalah untuk memberi makan diri sendiri. Namun, hanya sedikit
prosentasi penghasilan saya yang digunakan untuk membeli makanan dan hal
seperti ini berlaku di banyak tempat di dunia ini.)
2.
Coba tambahkan otak
kita ke dalam pernyataan Salomo. “Segala jerih payah manusia adalah untuk mulut
dan otaknya.” Apakah pernyataan yang sudah dimodifikasi ini berlaku bagi
saudara? (Semua pekerjaan dilakukan demi kepuasan diri, dan diri kita tidak
pernah terpuaskan.)
1.
Jika semua pekerjaan
adalah untuk memuaskan keinginan – yang tak kunjung terpuaskan, apa yang salah
dengan hal itu? Bukankah dengan bekerja kita menjadi warga negara yang
produktif? (Saudara tidak akan tiba pada titik di mana saudara mengatakan,
“Alangkah senangnya, saya telah mencapai tujuan saya.”)
3.
Baca Pengkhotbah 6:8.
Apa alasan saudara untuk berperilaku baik di hadapan orang yang beradab? (Saudara
tidak ingin dipermalukan karena terlihat lebih rendah dalam: golongan,
pendidikan atau budaya. Bahkan seandainya jika saudara benar-benar lebih rendah
dalam perkara-perkara ini, saudara tidak ingin kekurangan tersebut nampak jelas
karena hal tersebut akan menyebabkan orang lain menganggap remeh saudara.)
1.
Sekarang jawablah
pertanyaan Salomo: Apa untungnya jika saudara menunjukkan perilaku sosial yang
benar?
1.
Memangnya kenapa?
Mengapa saudara memerlukan persetujuan dari orang-orang yang “lebih tinggi”
pendidikannya atau tingkatan sosialnya? (Menurut saya, yang Salomo maksudkan
adalah bahwa jika kita berdamai dengan diri sendiri dan “tingkatan” kita dalam
kehidupan, maka kita tidak akan berupaya keras untuk memberi kesan baik pada
orang-orang yang berada pada tingkatan yang “lebih tinggi.”)
4.
Baca Pengkhotbah 6:9.
Apakah ayat ini memperbandingkan apa yang kita lihat dengan apa yang kita ingin
lihat? (Pernyataan ini merupakan versi Salomo dari ujaran lama “harapkan burung
terbang tinggi punai di tangan dilepaskan.” Apa yang bisa kita lihat sekarang
ini lebih baik daripada apa yang kita ingin lihat.)
1.
Apakah ini jawaban
Salomo terhadap pertanyaan dalam Pengkhotbah 6:8? (Ya. Ia berpesan agar kita
berpuas diri dengan apa yang kita miliki.)
2.
Apakah perbedaan antara
bersikap malas dan tak punya tujuan dengan bersikap puas? (Saya sudah tiba pada
titik dalam hidup di mana saya sedang menatap “akhir permainan.” Saya bisa
berhenti atau berleha-leha dan siapapun akan mengatakan bahwa saya telah
menjalani kehidupan yang produktif dan bermakna. Masalahnya, saya masih punya
harapan, impian dan tujuan. Salomo bisa saja menganggap hal ini sebagai
masalah, dan saya barangkali akan sepakat dengannya pada suatu hari nanti.
Namun sekarang ini saya senang karena pandangan saya tidak berubah sejak usia
saya 25 tahun.)
5.
Baca Pengkhotbah 6:10.
Salomo mengatakan bahwa segala sesuatu telah diberi nama. Benarkah demikian?
1.
Apa yang Salomo
maksudkan? (Bahwa jika saudara mengadakan eksplorasi dan ingin “menamai” temuan
saudara dengan nama saudara, hal seperti itu sudah pernah dilakukan. Lupakanlah
gagasan bahwa saudara bisa mencari nama bagi diri sendiri.)
2.
Mengapa Salomo
menuliskan tentang upaya melawan orang yang lebih kuat dari kita? (Lagi-lagi,
ini merupakan nasehat agar tidak berupaya keras untuk mencapai tujuan yang
besar.)
3.
Saya simpulkan
pernyataan Salomo sebagai “Jangan coba-coba merubah sesuatu. Terimalah apa
adanya dan berpuas dirilah.” Setujukah saudara? (Saya tidak setuju. Jika saya
sedang memberontak terhadap aturan Allah, saya akan sepakat dengan Salomo.
Namun, jika saya sedang berupaya untuk menjadikan dunia lebih baik, maka sikap
Salomo merupakan penyia-nyiaan terhadap hidup, uang, kuasa dan otaknya.
Tanyakan lagi pertanyaan ini pada saya menjelang ajal saya.)
1.
Baca Pengkhotbah 6:11.
Selama tahun-tahun praktek hukum saya, ada hal yang tidak biasa yang saya
perhatikan: sidang pengadilan sepertinya semakin tidak ingin mendengar banyak
dari para pengacara. Di dalam sidang pengadilan federal di Amerika, ada batasan
halaman untuk laporan pembelaan dan semakin lama semakin pendek. Mosi yang
diargumentasikan secara lisan makin sedikit. Sebuah kasus hukum mungkin saja
diputuskan tanpa bertemu hakim! Mungkinkah para hakim ini telah membaca
Pengkhotbah 6:11. Menurut saudara apa yang Salomo maksudkan? Setujukah saudara
dengannya? (Terpaksa mempersingkat sebuah laporan membuat kita berhati-hati
dalam susunannya. Diperlukan lebih banyak upaya untuk menulis sesuatu dengan
ringkas.)
2.
Baca Pengkhotbah 6:12.
Sebuah komentar Alkitab, Be Satisfied, mengutip penyair Inggris Joseph
Addison yang mengatakan “Hal-hal yang sangat dibutuhkan untuk mencapai hidup
bahagia adalah sesuatu untuk dikerjakan, seseorang untuk dicintai dan sesuatu
untuk diharapkan.” Apakah jawab terhadap pertanyaan Salomo: “Siapakah yang
mengetahui apa yang baik bagi manusia dalam hidupnya?” “Tn. Addison!”
1.
Apakah jawab atas
pertanyaan terakhir: “Siapakah yang dapat mengatakan kepada manusia apa yang
akan terjadi di bawah matahari sesudah dia?” (Karena kita baru-baru ini telah
mempelajari kitab Daniel, nabi Daniel adalah salah satu jawabannya.)
1.
Pentingkah apa yang
terjadi di bumi ini setelah saudara mati? (Jika saudara meninggalkan
orang-orang yang saudara kasihi, jawabnya adalah bahwa sebagaimana halnya
saudara mempercayakan hidup saudara pada Allah, demikian pula saudara dapat
mempercayakan pada Allah hidup dari orang-orang yang saudara kasihi dan
tinggalkan.)
3.
Sobat, Salomo
menyimpulkan agar kita berpuas diri dalam hidup ini. Menurut saya sedikit
ketidak-puasan, harapan untuk esok yang lebih baik, akan membuat kita lebih
semangat ketika bangun di pagi hari. Menurutmu bagaimana?