<-- Rich Man, Poor Man

Orang Kaya, Orang Miskin

(Pengkhotbah 5)

Pengkhotbah: Pelajaran 6

Copr. 2007, Bruce N. Cameron. Semua referensi Alkitab dikutip dari Alkitab Terjemahan Baru ©1974 Lembaga Alkitab Indonesia, kecuali disebutkan lain. Saran jawaban terdapat di dalam tanda kurung. Pengajar diasumsikan menggunakan papan tulis atau alat peraga lainnya dalam membawakan pelajaran. Pelajaran ini dapat dilihat di http://www.GoBible.Org/indonesian

Pendahuluan: Apakah saudara senang dengan pekerjaan saudara? Berapa banyak yang saudara ingin dapatkan agar menjadi kaya? Apakah saudara ingin bisa mengatakan hal-hal yang tepat senantiasa? Berapa banyak waktu saudara habiskan untuk memikirkan masa lalu dan betapa saudara sebenarnya bisa berbuat lebih baik? Bagaimana saudara menyimpan harta? Mari tempatkan diri kita ke dalam pelajaran kita minggu ini karena Salomo membicarakan perkara-perkara ini dan lebih banyak lagi hal lainnya!

  1. Ucapan yang Gegabah

    1. Baca Pengkhotbah 5:1. Apa hubungan antara mendengarkan dan lekas-lekas mengeluarkan perkataan? (Kedua perkara tersebut sepertinya bertolak belakang.)

      1. Ketika Salomo memberi nasehat agar kita mendengarkan, apakah yang ia maksudkan adalah sekadar mendengar? (Sebagiannya, menurut saya ia sedang membicarakan perbedaan antara mendengarkan dan berbicara. Namun, pokok utamanya adalah penurutan. Maksudnya jika kita mendengarkan apa yang diucapkan di hadapan hadirat Allah kita akan menurutinya.)

    2. Baca Pengkhotbah 5:2. Lawan dari mendengarkan adalah berbicara. Apa yang dikatakan oleh Salomo soal berbicara di gereja? (Ia mengemukakan bahwa kita harus berhati-hati agar tidak bicara berlebihan.)

      1. Sesaat sebelum doa utama dilayangkan dalam acara kebaktian kami, ada waktu di mana orang-orang boleh membawakan puji-pujian dan permohonan untuk didoakan. Pekan lalu saya mengajar kelas Alkitab, membawakan cerita anak-anak dan menyampaikan khotbah. Saya jadinya berbicara (banyak) di gereja. Hal itu membuat saya agak enggan untuk mengeritik orang-orang lain yang berbicara sementara acara gereja berlangsung – namun waktu untuk puji-pujian dan permohonan untuk didoakan kerap membuat hati saya panas. Bukannya secara singkat menyampaikan pujian atau permintaan untuk didoakan, beberapa orang berdiri agar terlihat (isyarat pertama adanya gangguan) dan kemudian melanjutkannya dengan khotbah pendek tentang suatu topik atau catatan perjalanan mereka selama pekan terakhir ini. Menurut saya pesan yang ingin mereka sampaikan adalah “tataplah saya!” Apakah saudara sepakat dengan saya? Apakah menurut saudara Pengkhotbah 5:2-3 membicarakan hal ini?

      2. Sementara Salomo mengatakan dalam ayat 2 bahwa mimpi disebabkan oleh kesibukan kita, menurutnya apa yang dihasilkan oleh banyak perkataan? (Percakapan bodoh. Jika saudara mendengar seseorang berbicara terlalu banyak, kemungkinan orang tersebut seorang yang bodoh.)

      3. Bilamana Salomo menyebut seseorang itu “bodoh,” apa yang ia maksudkan? Apakah ia menggunakan istilah “bodoh” untuk mengatakan “goblok?” (Menurut saya tidak demikian. Secara umum, ia mengatakan orang-orang ini adalah mereka yang tidak menganggap serius akan Allah. Tidak ada kaitannya dengan kepintaran namun lebih kepada hikmat – terutama hikmat Allah.)

      4. Alkitab King James Version menggunakan frasa “sacrifice of fools” [korban persembahan orang bodoh] dalam Pengkhotbah 5:1. Setelah membahas semua yang di atas, menurut sauidara apakah yang dimaksud dengan “korban persembahan orang bodoh” itu? (Baca Matius 6:5. Perbaktian yang munafik, dangkal dan yang bersifat “tataplah saya” merupakan korban persembahan orang bodoh.)

    3. Baca Pengkhotbah 5:3-6. Ada pendeta-pendeta yang mengumandangkan “panggilan” agar orang berjanji untuk melakukan perkara-perkara tertentu: menyumbangkan uang untuk gereja, menghadiri pertemuan, membaca Alkitab, atau mendoakan sesuatu yang spesifik. Seberapa sungguh-sungguhkah kita harus menanggapi undangan-undangan yang mengajak kita agar berjanji pada Allah bahwa kita akan melakukan sesuatu yang spesifik?

      1. Akankah Allah mengijinkan kita untuk menegosiasi ulang nazar kita?

  2. Kekayaan dan Keadilan

    1. Baca Pengkhotbah 5:7-8. Masalah apa yang menjadi fokus dari ayat-ayat ini? (Ketidak-adilan.)

      1. Apakah yang menjadi penyebab ketidak-adilan? Apakah yang Alkitab maksudkan ketika mengatakan tentang “pejabat tinggi yang satu mengawasi yang lain?” (Keputusan pejabat tersebut tidaklah didasari atas fakta-fakta dari kasus yang dihadapkan padanya, namun lebih kepada ketertarikan pejabat lain dan ketertarikan pribadinya sendiri.)

      2. Bisakan hal semacam ini terjadi di Amerika Serikat? (Suap langsung terhadap para jaksa sepertinya amat jarang terjadi. Namun, di beberapa negara bagian jaksa-jaksa tersebut dipilih. Sejumlah serikat pekerja mempromosikan pemilihan jaksa dengan secara langsung memberikan iuran untuk kampanye dan mempromosikan kandidat jaksa dalam artikel terbitan serikat pekerja. Misalkan saya menghadapkan kepada seorang jaksa sebuah kasus di mana saya mewakili seorang pekerja yang tidak setuju “iuran” wajib serikat pekerjanya digunakan untuk politik, politik mana bertentangan dengan kehendaknya. Sebuah peraturan yang menguntungkan klien saya akan mengurangi dana yang bisa dimanfaatkan oleh sang jaksa untuk mendukung kampanyenya di masa datang. Akankah jaksa ini menimbang semata-mata fakta-fakta yang dihadapkan padanya?)

    2. Baca Pengkhotbah 5:9-10. Apakah orang kaya memiliki lebih banyak uang untuk disimpan dibandingkan orang miskin?

      1. Sepertinya jelas bahwa jawabannya adalah:”ya.” Namun, bagaimana saudara mengartikan Pengkhotbah 5:11 “Dengan bertambahnya harta, bertambah pula orang-orang yang menghabiskannya?” Apakah Salomo mengatakan bahwa orang kaya itu gemuk-gemuk? (Yang ia katakan adalah bahwa orang kaya memiliki lebih banyak “kebutuhan.” Ujaran lama “lebih banyak yang kau dapatkan lebih banyak yang kau habiskan” secara umum benar adanya. Orang yang tinggal di rumah baru yang besar dan mengendarai mobil mewah kemungkinan terikat kewajiban membayar cicilan bulanan yang besar untuk rumah dan mobilnya. Mereka tidak memiliki lebih banyak penghasilan yang “bisa dihabiskan” dibanding dengan saat mereka jauh lebih miskin dahulu.)

      2. Apa keuntungan yang “sesungguhnya” dari memiliki uang? (Menurut Salomo, kita masih tetap bekerja keras untuk memperoleh lebih banyak kekayaan, kita tidak punya uang lebih karena telah dihabiskan untuk membeli lebih banyak barang, karenanya yang semata-mata menjadi keuntungan kita adalah memandang dengan puas akan apa yang kita miliki.)

    3. Baca Pengkhotbah 5:11. Bagaimanakah pengaruh uang terhadap tidur kita? (Merugikan.)

      1. Baca Amsal 10:15. Bukankah kita akan tidur lebih nyenyak di dalam kota yang dibentengi? (Buku Penjelasan Alkitab, “Be Satisfied” mengutip seorang legenda tinju, Joe Louis, yang mengatakan, “Saya sebenarnya tidak suka uang, namun syaraf saya ditenangkan olehnya.” Ada tiga pokok pikiran di sini. Pertama, sang pekerja tidur nyenyak karena ia telah bekerja keras sepanjang hari. Kedua, orang kaya tidurnya tidak nyenyak karena ia tidak melakukan pekerjaan fisik, gantinya ia tetap terjaga sambil mencemaskan cara menjaga (atau mungkin menambah) uangnya. Ketiga, percaya akan uang tidaklah sama menenteramkan dengan percaya akan Allah. Orang miskin sekalipun dapat percaya akan Allah.)

    4. Baca Pengkhotbah 5:12-13. Salomo melihat adanya “kemalangan yang menyedihkan” dalam dua rangkaian fakta ini. Apa yang saudara dapati?

      1. Asumsi-asumsi apa yang saudara perlukan untuk melihat kemalangan dalam ayat ini? (Maksud Salomo adalah bawa uang seharusnya membawa keuntungan bagi pemiliknya. Sayangnya, uang ternyata bisa menyakiti pemiliknya – dan hal demikian menjadi suatu kemalangan besar. Atau, pemilik uang bisa kehilangan uangnya, dan hal seperti itu menyulitkan juga.)

    5. Baca Pengkhotbah 5:14-16. Apa yang menyebabkan orang ini menjadi sangat frustrasi sehingga ia makan dalam kegelapan dan merasa marah serta frustrasi? (Bahwa ia tidak bisa membawa uangnya ke dalam dunia yang berikutnya.)

      1. Jika saudara seorang penasehat keuangan bagi orang yang frustrasi ini, apa saran saudara? (Baca Lukas 12:33.)

  3. Kesimpulan atas Kehidupan

    1. Baca Pengkhotbah 5:17. Pernahkah saudara mendengar ungkapan “Inilah kartu-kartu yang harus saya mainkan?”

      1. Akankah Salomo setuju dengan pokok pikiran di balik ungkapan tersebut? (Manakala Salomo berkata bahwa ia telah menyimpulkan bahwa kita harus makan, minum dan mencari kepuasan dengan pekerjaan kita, ia mendasari hal ini atas fakta bahwa “inilah bagiannya [yang dikaruniakan Allah kepadanya].” Salomo berkata Allah telah menugaskan kita untuk menjalankan peran ini dan kita harus menerimanya.)

    2. Baca Pengkhotbah 5:18. Dapatkah semua orang menerima bahagiannya dalam hidup? (Tidak. Sanggup menerima hidup dan bersukacita dalam pekerjaan merupakan karunia pemberian Allah.)

    3. Baca Pengkhotbah 5:20. Pekan lalu kita menyebutkan bahwa Socrates memproklamirkan: “Kehidupan yang tidak diuji-periksa tidaklah pantas dijalani.” Kita sepakat bahwa ada baiknya menguji-periksa hidup kita. Apakah Salomo mengatakan bahwa tidaklah baik menguji-periksa hidup kita atau mengenang masa lalu kita? (Jika kita menikmati hidup kita sekarang ini, kita tidaklah perlu tinggal di masa lalu untuk demi kebahagiaan kita. Jika masa lalu kita tidak bahagia, kita tidak akan terlalu memikirkannya jika hari ini kita menikmati sukacita dan damai sejahtera.)

    4. Sobat, maukah engkau berbahagia dan dipuaskan? Salomo berkata inilah karunia dari Allah. Mengapa tidak memalingkan hatimu pada Allah hari ini dan mencari karunia tersebut dari-Nya?

  4. Pekan depan: Usaha Menjaring Angin.”