<-- Of Being and Time

Keadaan Hidup dan Waktu

(Pengkhotbah 3)

Pengkhotbah: Pelajaran 4

 

Copr. 2007, Bruce N. Cameron. Semua referensi Alkitab dikutip dari Alkitab Terjemahan Baru ©1974 Lembaga Alkitab Indonesia, kecuali disebutkan lain. Saran jawaban terdapat di dalam tanda kurung. Pengajar diasumsikan menggunakan papan tulis atau alat peraga lainnya dalam membawakan pelajaran. Pelajaran ini dapat dilihat di http://www.GoBible.Org/indonesian.

 

Pendahuluan: Istri saya dan Roh Kudus kadang kala sepertinya bermitra! Contohnya, saat saya mengemudikan mobil menuju gereja untuk mengajar pelajaran ini, saya ingin sekali menggunakan sesedikit mungkin waktu. Saya berangkat dari rumah tepat waktu, namun saya ingin segera tiba di tujuan. Jika ada dua pengendara mobil yang menghalangi saya dengan (misalnya) mengemudikan mobilnya bersisian sehingga tidak ada yang bisa lewat, saya menjadi jengkel dan merasa perlu cuap-cuap agar etika berkendara mereka diperbaiki. Jika pengaturan lampu lalu lintas tidak baik, saya akan membicarakannya juga. Sebagaimana kata istri saya, hanya dia yang mendengarkan kuliah tentang cara berkendara, pengaturan lampu lalu lintas dan derajat inteligensi dari pengemudi yang lain – dan tak terhitung berapa kali dia telah mendengar kuliah yang sama! Mengapa saya melakukan hal ini? Sebagaimana kata istri saya, tindakan saya tersebut tidak berguna. Apa yang sedang diluruskan oleh istri saya dan Roh Kudus adalah kesalah-pengertian saya akan waktu. Bergegas dalam segala hal! Pelajaran kita pekan ini adalah tentang waktu, karenanya mari segera mulai!

 

1.      Musim

1.      Baca Pengkhotbah 3:1. Senangkah saudara menikmati musim atau akankah sesegera mungkin saudara membatalkan suatu musim? (Istri saya menyukai musim gugur dan awal musim dingin. Ia senang temperatur yang lebih dingin, keindahan musim gugur, dan saat Thanksgiving hingga Natal. Saya suka musim panas dan benci musim dingin.)

1.      Jika saudara sepakat dengan saya untuk membatalkan musim dingin, bagaimana dengan kegiatan yang saudara gemar lakukan di musim dingin? (Itulah inti yang Salomo sedang utarakan. Musim-musim tertentu dalam hidup kita membuat kita melakukan hal-hal yang berbeda.)

2.      Apa bisa kita membandingkan hidup kita dengan musim-musim sepanjang tahun? (Kita kerap mendengar: musim semi adalah saat kita muda usia, musim panas saat kita berusia 20-40 tahun. Musim gugur 40-60. Musim dingin 60-80.)

1.      Sebagaimana musim-musim sepanjang tahun, apakah kegiatan tertentu lebih cocok dilakukan pada musim tertentu dalam hidup kita?

2.      Baca Pengkhotbah 3:2-3. Apakah kita benar-benar punya kendali atas waktu kita? (Saat saya membicarakan tentang berkendara dan waktu di bagian pendahuluan, satu alasan utama mengapa saya frustrasi adalah karena saya benar-benar hanya punya sedikit kendali atas waktu berkendara saya. Saya tidak bisa mengendalikan pengemudi lain atau lampu lalu lintas. Ayat ini menunjuk kepada hal-hal lain di mana hanya sedikit kendali yang kita punyai atas terjadinya hal-hal tersebut.)

3.      Baca Pengkhotbah 3:4. Pekan lalu kita belajar tentang tertawa dan apakah tertawa itu baik ataukah buruk. Apa yang terkandung dalam ayat ini soal tertawa? (Salomo menyimpulkan hal yang sama dengan yang kita simpulkan – bahwa tertawa ada saat dan tempatnya. Tertawa bukanlah tujuan, namun hasil dari menghidupkan kehidupan yang baik.)

1.       “Aktivitas” yang disebutkan dalam ayat ini berupa emosi. Seberapa besar kendali kita atas emosi kita dan saat timbulnya emosi tersebut?

4.      Baca Pengkhotbah 3:5-8. Beberapa dari aktivitas ini membuat saya bertanya-tanya. Kapan saat yang tepat untuk membuang batu, atau merobek atau membenci? (Setidaknya beberapa dari kata-kata ini simbolis. The Wycliffe Bible Commentary menyebutkan bahwa “membuang batu” adalah kiasan dalam bahasa Ibrani untuk hubungan suami-istri. “Merobek” merujuk kepada tindakan merobek pakaian karena berduka. Menjahit merujuk kepada saat di mana rasa duka sudah berlalu.)

1.      Kendali apa yang kita miliki atas saat terjadinya aktivitas-aktivitas ini dalam hidup kita?

2.      WBagaimana dengan membenci? Benarkah ada saat yang tepat untuk itu?

1.      Baca Amsal 6:16-19. Jika Allah membenci suatu perkara, maka bolehkah kita juga membenci perkara tersebut? (Baca Wahyu 2:6. Sepertinya jawabannya adalah ya.)

2.      Di Atas Matahari

1.      Kritik kita terhadap Salomo sejauh ini terkait dengan fokusnya terhadap perkara-perkara di dunia ini, sementara perkara surgawi jarang ia singgung. Baca Pengkhotbah 3:9-11. Apa yang jadi beban bagi manusia, menurut Salomo? (Bahwa keinginan untuk hidup selamanya, untuk mengetahui perkara-perkara dibalik dunia ini, hadir dalam hati manusia – tetapi kita tidak dapat memahami kekekalan.)

1.      Seberapa banyak yang kita perlukan untuk memahami kekekalan? Seberapa banyak yang kita “perlu tahu?” (Salomo terus-terusan berargumen bahwa segala sesuatu di dunia ini sia-sia. Jika demikian pandangan saudara, maka kekekalan menjadi teramat sangat penting bagi saudara.)

2.      Apakah ada cara lain untuk menafsirkan pernyataan Salomo bahwa kita terbebani oleh ketidak-sanggupan kita untuk memahami “pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir?” (Beberapa perkara dalam hidup ini tidak memiliki makna. Saya ingat pernah berkunjung ke sebuah gereja di mana seorang wanita mengundang saya ke rumahnya untuk menjelaskan kepada sepasang suami istri yang lebih tua mengapa orang tua dan anak-anak mereka semuanya tewas dalam kecelakaan mobil yang sama. Tak guna mengatakan, penjelasan seperti itu di luar jangkauan saya. Memang bagus bila kita bisa memahami pekerjaan Allah dari awal sampai akhir, namun kita perlu menerima “beban” untuk percaya akan Allah sementara kita hidup di dunia yang penuh dosa.)

2.      Baca Pengkhotbah 3:12-14. Banyak orang tidak menemukan kepuasan dalam pekerjaan mereka. Seberapa pentingkah rasa puas dalam pekerjaan? (Karena Salomo mengatakan ini merupakan pemberian dari Allah, kita harus mencari dan mengejar pemberian-pemberian ini. Inilah saat di mana Lukas 12:31 tampil, carilah dahulu kerajaan Allah dan pemberian-pemberian lainnya akan berdatangan.)

1.      Manakala Salomo mengatakan bahwa pekerjaan Allah “tak dapat ditambah” atau “dikurangi,” apakah ia mengikut-sertakan dalamnya pekerjaan manusia? Kita tidak dapat menambah atau mengurangi pekerjaan Allah?

1.      Jika saudara mengatakan, “tidak,” katakan apa yang yang bisa kita tambahkan pada pekerjaan Allah? (Baca Pengkhotbah 3:15. Menurut saya ayat ini memberikan makna bagi pernyataan Salomo: bahwa dalam skema besar dari peristiwa-peristiwa yang terjadi, manusia tidak bisa mengubah apa yang telah dilakukan Allah. Namun, dalam detil kehidupan, menurut saya kita merupakan mitra Allah untuk melaksanakan kehendak-Nya.)

1.      TheSebuah penjelasan Alkitab, “Be Satisfied,” menyebutkan bahwa frasa akhir dari Pengkhotbah 3:15 (“dan Allah mencari yang sudah lalu”) secara harfiah diterjemahkan “Allah mencari apa yang bergegasan.” Apakah Allah menjadi bagian dari detil hidup kita? (Ya. Kita tidak bisa mengubah “gambaran besar”-nya, namun Allah menjadi bagian dari hidup keseharian kita.)

3.      Penghakiman

1.      Baca Pengkhotbah 3:16. Apa yang salah dengan dunia kita? (Bahwa keadilan dan pengadilan telah digantikan oleh kejahatan.)

2.      Baca Pengkhotbah 3:17. Apa yang akan mengatasi masalah tersebut? (Bahwa Allah akan melaksanakan penghakiman dan keadilan.)

1.      Jawaban ini membawa kita pada pertanyaan lama: akankah Allah pengasih akan melaksanakan penghakiman bagi manusia? Apa jawaban Salomo terhadap pertanyaan ini? (Ya! Implikasinya adalah bahwa penghakiman menunjukkan Allah pengasih. Penghakiman tidak berlawanan dengan kasih, namun menjadi bagian dari kasih. Kehidupan tanpa keadilan tidaklah adil. Sebagian dari janji Allah pada manusia adalah bahwa Ia adil adanya – lebih dari adil sebetulnya.)

2.      Jika saudara sepakat bahwa penghakiman baik adanya (kecuali, tentunya, bila diberlakukan pada saudara), pelajaran praktis apa yang bisa kita tarik dari ucapan Salomo bahwa ada “saat” bagi penghakiman? (Dalam Pengkhotbah 3:16 Salomo mengatakan bahwa ia mendapati kejahatan di tempat keadilan dan di tempat pengadilan. Sekalipun kita dapati bahwa ada ketidak-adilan sekarang ini, akan ada saat bagi penghakiman. Allah akan mengadakan pembenahan.)

3.      Seorang anggota kelas saya mengirimi saya sebuat catatan yang mengomentari masalah “waktu” dan mengatakan bahwa Yesus datang ke bumi pada waktu yang Allah tetapkan. Seandainya saudara Adam dan Hawa, dapatkah saudara memahami penundaan yang terjadi?

1.      Akankah lebih baik jika bisa mengantisipasi saat kedatangan Allah Kali yang Kedua dan pelaksanaan penghakiman terakhir? (Ini merupakan “beban” dari Pengkhotbah 3:10 – hidup Yesus, kematian dan kebangkitan-Nya memberi kita kepastian akan Kedatangan-nya Kali yang Kedua, namun kita tidak tahu kapan. Kita tak paham detil dari seluruh rencana. (Seandainya saudara pikir saya salah, pikirkanlah bagaimana buruknya umat Allah yang salah mengartikan kedatangan Jesus kali yang pertama.))

4.      Baca Pengkhotbah 3:18-19. Anjing kesayangan saya (usianya 12 tahun) mati beberapa bulan yang lalu. Apakah peristiwa ini menjadi pelajaran bagi saya?

1.      Salomo menyebutkan “tujuan anjing” saya sebagai sebuah ujian. Apakah yang diujikan kepada saya? (Pengkhotbah 3:12 mengatakan agar kita melakukah hal yang baik dan bergembira selagi kita hidup.Dalam beberapa hal, ini merupakan ujian untuk mengetahui bahwa hidup saudara yang berbahagia akan tiba pada akhir yang tidak begitu bahagia. Akhir hidup anjing saya menyedihkan. Di lain sisi, tanpa hidup kekal pemberian Allah, kita akan berakhir sama persis dengan anjing. (Omong-omong, karena Alkitab bilang ada binatang di surga, saya berharap bahwa anjing saya tujuannya sama dengan saya – surga!))

5.      Baca Pengkhotbah 3:19-21. Saya mau agar saudara menengok ulang ayat 19. Kata Salomo manusia tak mempunyai kelebihan atas binatang. Apakah pernyataan ini selaras dengan seluruh Alkitab?



1.      Gabungkan ayat 21 dengan ayat 19. Apa yang dikatakan Salomo? (Pertama ia berkata tidak ada kehidupan di balik kematian, kemudian ia meperlunak pernyataannya tersebut dengan mengatakan “Siapakah yang mengetahui?”)

2.      Baca Pengkhotbah 9:5. Banyak orang yang memercayai bahwa kematian merupakan tidur tak sadarkan diri hingga saat kebangkitan, mendasari keyakinan mereka pada ayat ini. Apakah Salomo merupakan penuntun yang dapat diandalkan untuk mendapatkan kebenaran tentang kehidupan setelah kematian? (Jika saudara mengandalkan Salomo untuk mendapatkan pandangan mengenai kehidupan setelah kematian, saudara perlu mencari sumber lain. Salomo mengajarkan dalam ayat yang sama ini bahwa tidak ada “upah lagi” setelah kematian. Orang-orang yang meyakini “tidurnya jiwa” tidak memercayai ajaran tersebut!)

3.      Sobat, baca 1 Korintus 15:12-22. Apakah pengharapan mulia kita? (Paulus sepakat dengan Salomo bahwa tanpa pengharapan akan hidup kekal iman kita sia-sia. Lebih buruk dari sia-sia, karena kepada kita diberikan pengharapan palsu bahwa ada kehidupan setelah kematian. Karena Yesus telah dibangkitkan dari kematian, sobat, janji hidup kekal ada padamu jika engkau memutuskan untuk berada “di dalam Kristus.” Maukah engkau mengambil keputusan itu hari ini?

  1. Pekan depan: Kehidupan di Bawah Matahari.