(Pengkhotbah 2)
Pengkhotbah: Pelajaran 3
Copr. 2007, Bruce N. Cameron. Semua referensi Alkitab dikutip dari Alkitab Terjemahan Baru ©1974 Lembaga Alkitab Indonesia, kecuali disebutkan lain. Saran jawaban terdapat di dalam tanda kurung. Pengajar diasumsikan menggunakan papan tulis atau alat peraga lainnya dalam membawakan pelajaran. Pelajaran ini dapat dilihat di http://www.GoBible.Org/indonesian.
Pendahuluan: Bisakah saudara mengingat suatu ketika manakala saudara berkata pada diri sendiri, “Saya semata ingin bersukacita?” Jika ya, bagaimana caranya saudara memperoleh sukacita? Jika saudara tidak memperoleh sukacita, apa saudara pikir dengan menjadi orang terkaya membuat sukacita gampang didapatkan? Bagaimana jika saudara bisa memiliki semua yang saudara dambakan? Pekan ini kita akan ikuti jalan pikiran Raja Salomo sementara ia menjabarkan apa yang telah dilakukannya untuk memperoleh sukacita, dan bagaimana kenyataannya. Mari mulaikan pelajaran kita!
1.
Tawa
1.
Baca Pengkhotbah 2:1.
Apakah Salomo mengatakan bahwa ia memutuskan untuk mencari cara memperoleh
sukacita? (Ia katakan bahwa ia akan “menguji” hatinya dengan kesenangan untuk
mencari tahu jika kesenangan itu baik adanya.)
2.
Baca Pengkhotbah 2:2.
Apa yang pertama Salomo coba untuk mendapatkan sukacita? (Tertawa)
1.
Apakah tertawa itu
suatu hal yang diputuskan? Aktifitas yang direncanakan? Atau hasil dari
bersukaria?
2.
Setujukah saudara
dengan Salomo bahwa tertawa itu bodoh dan tiada guna?
3.
Coba tengok beberapa
ayat lain dalam Alkitab. Baca Amsal 17:22. Apakah saudara dapati bahwa tertawa
membuat riang hati saudara?
1.
Baca dan bandingkan
Amsal 14:13. Prinsip apa yang saudara temukan ketika membandingkan kedua ayat
ini? (Tertawa adalah tampilan luar yang tidak akan mengubah kondisi sebenarnya
dari hati. Hati saudara bisa saja perih kendati saudara tertawa.)
2.
Baca Pengkhotbah 7:3.
Dalam cara apa muka muram itu baik bagi hati?
1.
Ataukah ayat ini
merupakan lawan langsung dari Amsal 17:22?
1.
Jika demikian, mana
ayat yang lebih tepat? (Baca Pengkhotbah 7:4. Ayat ini menambahkan lebih banyak
konteks pada pernyataan Salomo soal muka muram “membuat hati lega.” Saat sedih,
saudara serius. Saudara lebih hati-hati memikirkan kehidupan. Dalam cara demikianlah
muka muram itu bisa membuat hati lega.)
3.
Baca Pengkhotbah 7:6.
Apakah artinya? Apakah Salomo mengatakan tertawa itu baik atau buruk dalam ayat
ini?
1.
Berapa dari saudara
yang tahu cara menyalakan api?
1.
Pernahkah saudara
menggunakan ranting untuk menyalakan api ?
1.
Bayangkan bahwa saudara
sedang menyalakan api dengan duri kering. Berapa lama apinya akan bertahan?
(Saya pikir yang Salomo maksudkan adalah bahwa jika saudara menyalakan api
dengan ranting kecil, ia akan terbakar, menyala, dan kemudian habis. Apa yang
ada di dalam kuali tidak akan matang.)
2.
Jadi, apa inti yang
Salomo maksudkan perihal tertawa? (Bahwa dengan tertawa saudara segera lepas
dari problematika kehidupan namun kelepasan tersebut sifatnya sementara belaka
dan tak berarti banyak.)
4.
Baca Lukas 12:19-20.
Apakah di mata Allah kita ini bodoh jika kita bersukacita (sedang ingin
tertawa)? (Baca Lukas 12:15. Kata Yesus inti dari kehidupan bukanlah pada apa
yang kita kita miliki. Dengan demikian inti dari kehidupan bukanlah tawa dan
sukacita semata.)
5.
Baca Yakobus 4:7-10.
Gereja “Selebrasi” [Celebration] masih merupakan hal yang kontroversial
di beberapa tempat. Saya pernah membaca sebuah artikel yang menyebutkan bahwa
kita seharusnya ke gereja untuk merenungkan dosa-dosa kita bukannya melakukan
perayaan (to celebrate). Saya tidak begitu suka artikel tersebut, namun
adakah Yakobus mendukungnya?
6.
Baca Pengkhotbah 8:15.
Apakah Salomo berubah pikiran? Yakobus 4:8 berbicara tentang “mendua hati.”
Apakah demikian yang terjadi pada Salomo dengan pernyataannya tentang tawa dan
kesukaan?
4.
Menurut saudara apa
ajaran menyeluruh dari Alkitab perihal tawa dan bersukacita? (Putri saya
mengomentari beberapa beberapa anak muda yang ia kenal yang tidak meneruskan
kuliah. Mereka bekerja namun karir mereka sudah “mentok.” Tiap akhir pekan
mereka berpesta. “Tujuan” hidup mereka sepertinya adalah pesta akhir pekan.
Menurut saya inilah yang sedang Salomo dan Yakobus tuliskan. Sukacita sejati
timbul jika hati dan hidup saudara benar. Sekali saudara membina hubungan yang
benar dengan Allah, maka saudara akan memperoleh sukacita dan tawa tanpa sakit
hati tersembunyi. Tertawa bukanlah pengganti pertobatan. Maka, manakala saudara
datang ke gereja sebaiknya saudara merayakan apa yang Allah telah perbuat untuk
melepaskan saudara dari dosa!)
1.
Baca Pengkhotbah 2:3.
Selanjutnya apa yang Salomo coba lakukan untuk memperoleh sukacita? (Menghibur
diri dengan anggur dan merengkuh kebodohan.)
2.
Manakala ia berkata
bahwa akal budinya masih memimpin dengan hikmat, menurut saudara apa yang ia
maksudkan?
1.
IApakah ia mengatakan
bahwa ia tidaklah bodoh dalam anggur dan kebodohannya?
3.
Dapatkan saudara
menghibur diri dengan anggur dan kebodohan? (Inti yang Salomo kemukakan di sini
sama halnya dengan apa yang dikatakannya tentang tertawa. Perkara-perkara ini
adalah hal-hal luar yang tidak berarti yang tidak bisa mengubah hati.
Orang-orang yang hadir di pesta akhir pekan pada akhirnya sadar bahwa menjadi
mabuk dan bersukaria pada saat pesta tidak dapat menggantikan kehidupan yang
dibangun dengan dasar Alkitabiah.)
1.
Baca Pengkhotbah 2:4.
Apakah saudara senang membangun?
1.
Apakah membangun
memberi sukacita bagi saudara?
2.
Bagaimana dengan
bercocok-tanam, apakah saudara senang bercocok-tanam?
1.
Jika ya, mengapa?
2.
Baca Pengkhotbah 2:5-6.
Apa yang juga termasuk dalam ayat ini sebagai tambahan dari menanam dan
membangun? (Merencanakan.)
1.
Apakah saudara senang
melakukan hal ini?
3.
Salomo tidak bisa
menemukan makna dalam tawa, anggur atau pun kebodohan. Sanggupkan ia menemukan
makna dalam membangun, menanam dan merencanakan?
1.
Ingat contoh saya
tentang anak-anak muda yang hidup untuk pesta akhir pekan? Bagaimana jika hidup
mereka diisi dengan pekerjaan yang produktif? Diisi dengan kuliah dan
memperoleh nilai bagus?
4.
Kita loncati beberapa
ayat. Baca Pengkhotbah 2:17-18. Apakah saudara setuju bahwa inilah masalah yang
dihadapi dengan menanam dan membangun?
5.
Baca Pengkhotbah
2:19-21. Manakala kita mengira-ngira untuk meninggalkan pekerjaan kita kepada
orang lain, kita (saya menduga demikian) umumnya berpikir tentang bagaimana
mereka akan menikmati pekerjaan kita. Apa pendapat Salomo mengenai orang-orang
yang akan “menikmati” pekerjaannya?
6.
Menurut saudara, apakah
membangun, merencanakan dan menanam sama tingkat kesia-siaannya dengan
berpesta? (Baca Lukas 12:29-34. Yesus berkata bahwa makan, minum, bekerja,
harta benda semuanya sementara. Fokus hidup kita haruslah kerajaan Allah – jika
kita menjadikan kerajaan itu sebagai fokus, maka harta kita akan disimpan di
surga – untuk selamanya.)
1.
Baca Pengkhotbah
2:12-13. Dalam hidup ini apakah hikmat itu merupakan suatu keuntungan?
1.
Jika ya, mengapa? (Kata
Salomo hikmat itu seperti kesanggupan untuk “melihat” jalan dalam hidup
saudara. Orang bijak dapat menghindar dari lubang perangkap)
2.
Baca Pengkhotbah
2:14-15. Apakah argumen yang Salomo ajukan bahwa pada akhirnya hikmat tidak
memberi keuntungan pada saudara? (Kata Salomo baik orang bijak maupun orang
bodoh akan mati. Jadi, apa untungnya menjadi bijak?)
1.
Apa jawab saudara atas
argumen Salomo? (Ia berfokus pada masa depan, bukan masa kini. Dengan tidak
terperosok ke dalam lubang hidup kita lebih baik sekarang.)
3.
Baca Pengkhotbah
2:24-26. Setelah mengemukakan argumen mengenai kesenangan, menanam, membangun
dan hikmat, kesimpulan apa yang Salomo tarik? (Allah memberi kita pemberian
makanan, minuman dan pekerjaan – dan kita seharusnya menikmati
pemberian-pemberian ini selagi bisa.)
4.
Sobat, sudah cukupkah
kesimpulan Salomo ini bagimu? Engkau bisa saja sepakat dengan apa kata Salomo
dalam Pengkhotbah 2:24-26, namun Alkitab mengajarkan bahwa kita dapat berbuat
lebih baik. Maukah engkau memperoleh harta yang kekal? Maukah engkau memiliki
sukacita dan gelak tawa sejati? Maka palingkanlah fokusmu dari segala sesuatu
“di bawah langit” – yang menjadi fokus Salomo pada sebagian besar masa hidupnya
– dan arahkan fokusmu untuk meninggikan surga. Maka engkau akan mendapatkan
pemberian-pemberian ini untuk selama-lamanya!