(Pengkhotbah 1)
Pengkhotbah: Pelajaran 2
Copr. 2007, Bruce N. Cameron,. Semua referensi Alkitab dikutip dari Alkitab Terjemahan Baru ©1974 Lembaga Alkitab Indonesia, kecuali disebutkan lain. Saran jawaban terdapat di dalam tanda kurung. Pengajar diasumsikan menggunakan papan tulis atau alat peraga lainnya dalam membawakan pelajaran. Pelajaran ini dapat dilihat di http://www.GoBible.Org/indonesian.
Pendahuluan: Selama 30 tahun terakhir atasan saya tetap bekerja sekalipun umurnya sudah lebih dari 80 tahun. Saya yakin ia tidak bekerja karena cinta uang atau butuh uang. Namun, ia bekerja karena itulah pilihannya. Pernahkah terpikir kegiatan apa yang paling membawa sukacita bagi kehidupan saudara? Saya mulai memikir-mikirkan hal ini dan menimbang-nimbang barangkali pilihan yang diambil atasan saya merupakan pilihan yang tepat bagi saya. Salah satu dari sekian perkara yang memberi saya sukacita adalah membuat perubahan, mempunyai arti bagi orang lain. Salomo mau meyakinkan kita bahwa tak suatupun dalam hidup ini punya arti. Benarkah ia ataukah ia sedang tertekan? Mari selami pelajaran kita dan putuskan!
1.
Pekerjaan Tak Berarti
1.
Pekan lalu kita membaca
ayat ini sebagai bagian dari tinjauan kita atas kitab Pengkhotbah. Seusai
kelas, salah satu anggota kelas saya menemui saya dan mengatakan bahwa ia agak
tidak setuju dengan cara Alkitab New International Version(NIV) menerjemahkan
kata Ibrani “hebel.” Kebanyakan Alkitab menerjemahkan hebel sebagai “vanity”
[sia-sia], namun dalam ayat ini NIV menerjemahkannya sebagai “meaningless”
[tak berarti]. Anggota kelas saya tersebut mengatakan ia pikir kata itu
memiliki makna seperti meniup debu dari telapak tangan. Apakah hebel dalam
arti seperti ini yang lebih pas dengan keseluruhan ajaran Alkitab? (Menurut
saya ya. Napas, uap, meniupkan adalah arti yang diterima secara luas dari kata hebel.
Kita semua sepakat bahwa kehidupan di dunia ini fana adanya. Sulit untuk
menerima bahwa hidup itu tak berarti.!)
2.
Baca Pengkhotbah 1:3.
Apakah jawaban paling jitu dari saudara atas pertanyaan ini?
1.
Saya pernah dengar
bahwa tak seorang pun pengusaha sukses yang menjelang ajalnya berkata, “Coba
kalau saya menghabiskan lebih banyak waktu di kantor.” Setujukah saudara?
Setujukah Salomo?
2.
Berapa banyak orang
memasuki masa pensiun dengan mengatakan, “Coba kalau saya menghabiskan lebih
banyak waktu di kantor (atau mencari uang)?” (Apa yang kebanyakan dari kita
pikir akan diperoleh dari pekerjaan adalah uang.)
3.
Selain uang, apa yang
bisa kita dapatkan dari pekerjaan? (Menopang keluarga. Kemashyuran.
Penghargaan. Menjadikan hidup orang lain lebih baik. Tercatat di buku sejarah.)
1.
Mengapa penting untuk
tercatat dalam buku sejarah? (Karena saudara sudah mati – inilah menurut saya
yang dimaksud Salomo tentang pekerjaan tak berarti.)
2.
Dunia Tanpa Arti
1.
Baca Pengkhotbah 1:4-6.
Bilamana saudara memandang hidup saudara, adakah yang berubah ataukah tetap
sama?
1.
Bagaimana dengan tempat
di mana saudara dibesarkan? Sudah berubah ataukah tetap sama?
2.
Apa yang Salomo
sodorkan soal perubahan? Setujukah saudara dengannya? (Salomo mengatakan bahwa
siklus hidup, siklus alam semesta, dan pola iklim semuanya tetap sama. Hal ini
benar adanya, namun kebanyakan dari kita tidak tinggal di tempat seperti itu.
Hidup kita terkait dengan rincian, bukan dengan pergerakan yang biasanya
terjadi pada bumi dan langit.)
3.
Kebenaran apa yang bisa
saudara dapatkan dalam pernyataan Salomo soal alam semesta yang tetap sama?
(Bahwa saudara dan saya tidaklah begitu penting dalam keseluruhan rancangan
peristiwa. Kita datang dan pergi, namun bumi tetap sama.)
4.
Masyarakat modern
mendesakkan gagasan mengenai pentingnya individu. Kita berupaya membangun harga
diri. Apakah ini suatu gagasan yang baik? Apakah gagasan ini Alkitabiah? (Dunia
ini penuh dengan cecurut yang merasa diri penting. Pada waktu yang bersamaan,
ada individu-individu yang mencelakakan diri karena mengira diri mereka
tidaklah penting. Obat bagi kedua kesalahan pikir ini adalah bahwa hanyalah hubungan
kita dengan Allah yang memberi arti penting bagi kita. Ciptaan Allah sangat
lebih besar dari keberadaan kita dan sangat tidak bergantung pada aktivitas
manusia.)
2.
Baca Pengkhotbah 1:7.
Salomo mengemukakan satu pokok sebagai tambahan atas argumennya dalam
Pengkhotbah 1:4-6. Apakah itu? (Ketika ia berkata bahwa laut tidak pernah penuh
sekalipun sungai-sungai terus-menerus melimpahkah air ke dalamnya, yang ia
maksudkan adalah bahwa bumi itu mengatur diri sendiri (atau Allah mengaturnya)
tanpa perlu ada masukan apapun dari manusia.)
1.
Setujukah saudara? Jika
demikian, pemikiran apa bagi hidup saudara yang Salomo sedang utarakan? (Hal
ini menegaskan pemikiran bahwa dalam skala besar hidup ini tidaklah begitu
penting.)
3.
Saat Salomo menulis
tentang aktivitas matahari, angin dan air, kesamaan apa yang ia temukan dengan
perkerjaan saudara ? (Ada banyak aktivitas, namun tak pernah menghasilkan
perubahan. Karenanya, Salomo berkata pekerjaan saudara tak berarti dan
aktivitas alam juga tak berarti karena tak ada yang berubah.)
3.
Hidup yang Membosankan
dan Tak Berarti
1.
Baca Pengkhotbah 1:8.
Jika engkau tidak puas melihat dan mendengar, mengapa jadi bosan? (Salomo
mengatakan bahwa kita kita senantiasa tertarik mendengar dan melihat hal-hal
baru, namun semuanya pada akhirnya akan membosankan.)
1.
Bosankah saudara dengan
“hal-hal baru?”
2.
Baca Pengkhotbah
1:9-10. Demikiankah yang terjadi kini? (Saya ini “penyuka mobil.” Baru-baru ini
saya menyaksikan lelang atas mobil-mobil berusia 30 tahun dan harus saya akui
bahwa mobil-mobil tersebut sangat mirip dengan mobil baru. Beberapa pabrik
mobil Amerika secara khusus berupaya menjadikan mobil-mobil baru mereka
terlihat seperti mobil-mobil yang mereka buat 30 tahun yang lalu. Namun, apa
yang Salomo katakan tidak berlaku pada barang-barang elektronik. Seratus tahun
yang lalu tidak ada telepon atau televisi. Empat puluh tahun lalu tidak ada
mesin fotocopy, scanner, mesin fax atau internet. Kini saya punya
telepon yang saya masukkan ke dalam saku saya yang bisa meng-akses internet dan
menerima dokumen dan gambar. Ini hal baru!)
1.
Apakah ada gagasan baru
sekarang ini mengenai cara hidup?
3.
Baca Pengkhotbah 1:11.
Seberapa jauh ke belakang saudara dapat melacak keluarga saudara? Berapa banyak
yang saudara ketahui tentang kakek-nenek saudara?
4.
Bagaimanakah saudara
meringkaskan argumen Salomo sejauh ini dalam satu atau dua kalimat? (Hidup
saudara tidak akan membuat perubahan: saudara tidak merubah bumi atau
siklusnya, saudara tidak menciptakan sesuatu yang baru, dan dengan segera
orang-orang tidak akan ingat bahwa saudara pernah ada, atau melakukan sesuatu
yang penting.)
1.
Benarkah demikian bagi
saudara?
1.
Jika demikian,
bagaimana perasaan saudara?
5.
Baca Pengkhotbah
1:12-15. Apa lingkup penelitian Salomo? Apa perspektifnya? (Lingkupnya terbatas
pada “di bahwa langit” dan “di bawah matahari.” Ini mengandung arti bahwa ia
melihat dari sudut pandang manusia semata.)
1.
Jika saudara tidak
memperhitungkan Allah, setujukah saudara dengan Salomo bahwa yang rusak tidak
dapat diperbaiki dan segalanya bak mengejar angin?)
1.
Baca Pengkhotbah 1:16.
Apa tolok ukur kebijaksanaan Salomo? (Penguasa lain di Yerusalem. Katanya,
“Saya orang paling cerdik yang memerintah kerajaan ini. Saya tahu banyak,
karenanya saya cukup punya dasar untuk mengatakan pada saudara bahwa tak ada
sesuatu pun yang benar-benar penting.”)
2.
Baca Pengkhotbah
1:17-18. Pernahkah saudara membaca ujaran, “lebih banyak yang engkau tahu,
engkau makin tidak tahu?” Apakah ini pendapat Salomo?
1.
Saya tinggal di daerah
yang menjadi daerah layanan harian Washington Post. Dari waktu ke waktu
sikap dari para wartawannya terhadap orang Kristen konservatif merembes ke
dalam halaman-halaman koran tersebut: Orang Kristen itu tidak terdidik, dungu
dan bahagia. Jika orang-orang Kristen tahu lebih banyak mereka akan tidak
sedemikian yakin dengan politik atau iman mereka. Setujukah Salomo dengan hal
ini? (Setidaknya sebagiannya. Ia sepertinya mengatakan, “lebih banyak yang
engkau tahu, lebih banyak masalah yang engkau temukan;”)
1.
Mengapakah salah satu
orang terpintar ini sepakat dengan Washington Post? (Karena mereka
melihat kehidupan dari perspektif segala sesuatu di bawah langit, bukan dari
perspektif langit. Bandingkan dengan apa kata Paulus perihal ini dalam 1 Korintus
1:20-31.)
3.
Sobat, engkau lebih
suka bahagia ataukah sedih? Lebih suka berpikir bahwa hidupmu berarti ataukah
tidak berarti? Salomo mengingatkan kita bahwa jika kita menginginkan damai,
kebahagiaan dan hidup yang berarti, kita harus berjalan di jalan Allah. Jika
tidak, segalanya akan tidak berarti.