<-- The Rise and Fall of the House of Solomon

Kebangkitan dan Kejatuhan Kerajaan Salomo

(Pengkhotbah 1)

Pengkhotbah: Pelajaran 1

 

Copr. 2006, Bruce N. Cameron, diterjemahkan oleh Debbie Jacobs. Semua referensi Alkitab dikutip dari Alkitab Terjemahan Baru ©1974 Lembaga Alkitab Indonesia, kecuali disebutkan lain. Saran jawaban terdapat di dalam tanda kurung. Pengajar diasumsikan menggunakan papan tulis atau alat peraga lainnya dalam membawakan pelajaran. Pelajaran ini dapat dilihat di http://www.GoBible.Org/indonesian.

Pendahuluan: Pekan ini kita mulaikan pelajaran perihal sebuah kitab dalam Alkitab – Pengkhotbah! Saya bergairah mempelajari kitab ini karena dalamnya terdapat begitu banyak nasihat praktis dan menarik bagi kita. Kita sadar bahwa Alkitab mengajar kita dalam beragam cara. Terkadang Alkitab membentangkan di hadapan kita kesalahan orang lain – bukan untuk dijadikan contoh, namun lebih sebagai ilustrasi tentang perkara yang tidak boleh dilakukan. Di lain ketika, Alkitab memberi kita nasehat langsung tentang cara hidup. Tantangan dalam kitab Pengkhotbah adalah bagi kita untuk mengetahui apa yang Salomo, salah satu pemikir terbesar, tuliskan di bawah tuntunan Roh Kudus sebagai buah pikiran seseorang yang tertekan yang menyadari bahwa ia telah menyia-nyiakan sebagian dari “potensi pemberian Allah” yang dimilikinya dan memisahkan buah pikiran tersebut dengan buah pikiran yang diinspirasikan untuk memberi kita nasehat positif dan langsung bagi kehidupan. Mari kita mulai!

  1. Sang Penulis – Yang Buruk

    1. Baca Pengkhotbah 1:1. Siapakah yang menulis kitab Pengkhotbah? (Disebutkan dalam kitab tersebut bahwa penulisnya adalah “Pengkhotbah” [Alkitab Bahasa Indonesia Sehari-hari menyebutnya “Sang Pemikir”], anak Daud, dan Raja di Yerusalem. Ini mengarahkan kita pada Raja Salomo.)

    2. Baca 1 Raja-raja 2:1-4. Instruksi terakhir apa yang Rada Daud berikan kepada Salomo?

    3. Seberapa setiakah Raja Salomo dalam menjalankan instruksi yang diterimanya dari Raja Daud?

      1. Baca 1 Raja-raja 3:1-3. Problema apa yang kita lihat mulai muncul dalam kehidupan Salomo? (Bahwa ia berkompromi dengan penyembahan ilah-ilah lain.)

      2. Baca 1 Raja-raja 11:1-6. Perbuatan kompromi ini membawanya ke mana? (Hatinya dicondongkan kepada ilah-ilah lain dan ia tidak sepenuhnya setia kepada Tuhan.)

  2. Sang Penulis – Yang Baik

    1. Baca 1 Raja-raja 3:5-14. Apa yang Allah janjikan kepada Salomo tanpa melihat perilakunya di masa mendatang? (Kebijaksanaan yang lebih besar dari manusia manapun. Kemuliaan dan kekayaan lebih dari raja manapun semasa hidupnya. Rentang umur hidupnya bergantung pada kesetiaannya.)

    2. Baca 1 Raja-raja 4:29-34. Apa yang bisa kita pelajari dari Raja Salomo? (Banyak nian!)

  3. Apa Yang Kita Bisa Pelajari dari Sang Penulis

    1. Baca Pengkhotbah 1:2. Mengapa Salomo mengulang-ulangi kata “sia-sia?” (Untuk memberi penekanan. Seperti penyebutan “yang suci dari yang suci” dalam bait suci sebagai penanda derajat. Segala sesuatu sungguh sia-sia.)

      1. Jika segala sesuatu adalah sia-sia, apakah kitab Pengkhotbah termasuk?

        1. Jika demikian, apa gunanya mempelajari kitab Pengkhotbah? Ataukah, ini cara sang penulis mengatakan “Jangan dilanjutkan, berbaliklah sekarang?”

    1. Baca Pengkhotbah 12:8-10. Melompat ke bagian akhir buku Pengkhotbah kita dapati bahwa pernyataan awal tadi disebutkan lagi. Apakah merupakan kebenaran dari Allah bahwa segala sesuatu adalah sia-sia? Ataukah sekadar menjelaskan sikap buruk yang harus kita hindarkan? (Pengkhotbah mengatakan bahwa Sang Pemikir (Salomo) benar adanya ketika mengucapkan perkataan ini.)

      1. Mengapa Salomo mengatakan kita harus mempercayai apa yang tertulis dalam buku Pengkhotbah? (Ia seorang yang bijak – sesuatu yang tadi kita lihat sebagai pemberian yang khusus dikaruniakan kepadanya oleh Allah. Ia “merenungkan” (atau mempertimbangkan dengan hati-hati), menguji, dan menyusun apa yang ditulisnya. Ia memilih kata-kata yang menyenangkan untuk menyampaikan kebenaran. The Wycliffe Bible Commentary mengatakan bahwa “kata-kata yang menyenangkan,” artinya bahwa seorang guru harus menjadikan ajarannya menarik tanpa mengorbankan kebenaran.)

    2. Baca Pengkhotbah 12:11. Bagaimana caranya kita belajar dari kata-kata yang tertulis dalam kitab Pengkhotbah?

      1. Apakah “kusa” itu? (Semacam pecut berupa tongkat yang tajam yang disorongkan ke dalam kulit lembu agar ia bergerak ke arah yang betul. Bandingkan dengan Ibrani 4:12.)

      2. Mengapa kata-kata bijak itu seperti paku-paku yang tertancap? (Kata-kata bijak melekatkan kebenaran dalam pikiran kita. Maka akan terpancang sebuah pemahaman akan kebenaran yang tidak akan terus-terusan berubah wujud.)

      3. Siapakah sang “Gembala,” sumber kebijaksanaan dalam kitab Pengkhotbah? (Lihat Mazmur 23:1. Salomo mengatakan Allahlah sumber perkataan ini.)

  1. Tinjauan terhadap Kebenaran Sang Pemikir

    1. Pentingnya kitab Pengkhotbah dan kebenaran kitab Pengkhotbah telah memperoleh pengesahan yang sangat kokoh. Namun kitab tersebut diawali dan diakhiri dengan “Kesia-siaan… kesia-siaan… segala sesuatu adalah sia-sia.”  Bagaimana sampai kata-kata ini seperti kusa? (Kata-kata ini memacu pikiran. Kesimpulan saya secara umum adalah bahwa hampir segala sesuatu penting. Yang ini mengatakan hal sebaliknya.)  

    2. Baca Pengkhotbah 12:11-12. Bagaimana ayat-ayat ini menolong mendefinisikan apa yang dimaksudkan Salomo dengan “segala sesuatu” adalah sia-sia?

      1. Apakah firman Allah sia-sia? (Manakala Salomo mengatakan “segala sesuatu”, firman Allah tidak termasuk dalamnya.)

      2. Baca Ulangan 4:2. Apa yang terkandung dalam ayat ini dan Pengkhotbah 12:12 mengenai pelajaran-pelajaran yang terdapat situs GoBible dan khotbah-khotbah yang saudara dengarkan di gereja? Tak perlu dihiraukan karena sia-sia? (Tujuan dari setiap pelajaran Alkitab yang baik, tujuan dari setiap khotbah yang baik, adalah untuk mengarahkan pelajar kepada Firman Allah. Pandangan manusia sia-sia dan menjemukan adanya. Firman Allah adalah kebenaran.)

    3. Baca Pengkhotbah 12:13. Kita telah mengetahui definisi lebih lanjut dari apa yang dimaksud dengan “segala sesuatu adalah sia-sia.” Kata Salomo apa yang berarti? (Takut akan Allah dan berpegang pada perintah-perintahNya.)

      1. Apakah ini sebuah kebenaran yang berhasil melewati salib? Apakah ini sebuah pekabaran yang sejalan dengan kebenaran oleh iman? (Baca Yohanes 14:15. Jesus mengatakan bahwa jika kita mengasihi (takut akan) Dia, kita akan menurutiNya.

    1. Baca Pengkhotbah 12:14. Apakah penghakiman itu sesuatu yang sia-sia? (Tidak! Dalam dunia kita yang sia-sia, apa yang harus kita tetap ingat adalah penghakiman. Gagasan tentang penghakiman haruslah menjadi penggerak tindakan kita.)

      1. Apakah ini kebijaksanaan, ataukah taktik menakut-nakuti? (Saya baru saja membaca artikel pendek yang menakjubkan yang mana akan saya gunakan sebagai landasan khotbah saya yang mendatang. Dikemukakan bahwa jika kita menjadi orang Kristen karena mengira hidup kita akan lebih menyenangkan dan lebih sejahtera, maka manakala kesenangan dan kekayaan berkurang kita akan angkat kaki. Namun, jika kita menjadi orang Kristen karena itulah satu-satunya jalan untuk tetap hidup dan terhindar dari kematian kekal, maka kita akan berpegang teguh pada injil tak peduli apapun yang terjadi.)

      2. Apakah artinya semua perbuatan kita yang “tersembunyi” dibawa ke pengadilan? (Tindakan kita umumnya terlihat, namun buah pikiran kita tersembunyi adanya. Allah menghakimi baik tindakan maupun buah pikiran kita. Lihat Matius 5:27-28)

    2. Sobat, apakah hidup itu sia-sia atau punya arti? Salomo mengatakan bahwa hubungan dengan Allah menjadikan hidup berarti. Maukah engkau menetapkan hari ini untuk memberi hatimu kepada Allah dan memulaikan hubungan dengan-Nya?

  1. Pekan depan: Tak Ada yang Baru di Bawah Matahari