(Kejadian 3 & 4)
Kejadian – Permulaan dan Kepemilikan: Pelajaran 4
Copr. 2006, Bruce N. Cameron. Semua referensi Alkitab dikutip dari Alkitab Terjemahan Baru ©1974 Lembaga Alkitab Indonesia, kecuali disebutkan lain. Saran jawaban terdapat di dalam tanda kurung. Pengajar diasumsikan menggunakan papan tulis atau alat peraga lainnya dalam membawakan pelajaran. Pelajaran ini dapat dilihat di http://www.GoBible.Org/indonesian
Pendahuluan: Ada sebuah ujaran tua dalam bahasa Inggeris yang berbunyi: “You get one shot at the king; either you kill him or he kills you.” Terjemahan bebasnya kira-kira seperti ini: Tembaklah seorang raja; engkau akan membunuhnya atau ia yang akan membunuhmu. Bayangkan apa yang ada dalam pikiran Setan: jika saudara diberi satu kesempatan untuk menguji kesetiaan Adam dan Hawa, bukankah saudara akan mengemukakann argumen terbaik, godaan terbaik? Segalanya tergantung pada “satu tembakan” tersebut. Mari mulaikan pelajaran kita dan pikirkan cara apa yang Setan putuskan untuk digunakan dalam menguji kesetiaaan manusia yang baru saja diciptakan oleh Allah!
1.
Tembakan
1.
Baca Kejadian 3:1.
Sejauh ini, saya telah memperlihatkan bahwa cerita Alkitab tentang Penciptaan
itu harfiah adanya. Apakah ayat ini juga harfiah? Apakah ular benar-benar
berbicara pada Hawa?
1.
Mengapa Alkitab
mengatakan bahwa ular adalah yang terpaling cerdik dari segala binatang yang
ada? (Di sini terkandung arti bahwa jika ada binatang yang bisa berbicara, maka
yang dimaksud adalah ular.)
2.
Semata-mata ular yang
sangat cerdik? (Sebuah cerita Perjanjian Baru memberikan petunjuk kuat. Markus
5 mencatat cerita tentang sejumlah iblis yang disebut “Legion” yang pada
awalnya merasuki seseorang dan kemudian merasuki sekawanan babi. Para iblis ini
berbicara melalui orang tersebut, menurut catatan Alkitab, dan mereka bisa saja
berbicara melalui kawanan babi tersebut. Menurut saya itulah yang terjadi di
sini. Setan mengendalikan ular. Karena ular sangat cerdik, Hawa tidak kaget
sewaktu mendengar ular berbicara.)
3.
Mengapa Setan
menanyakan soal makan buah dari pohon-pohonan yang ada? (Ingat, ini merupakan
“ujian,” dalam “satu tembakan.” Saudara tidak ingin kelak ada yang berdalih
bahwa Hawa “tidak hadir dalam rapat” yang membahas tentang makan buah dari
pohon-pohon yang ada [lihat pelajaran pekan lalu]. Setan tidak mau ada
perdebatan ihwal Hawa mengerti perintah Allah atau tidak.)
2.
Baca Kejadian 3:2-3.
Ingat-ingat apa yang kita pelajari pekan lalu. Apakah Hawa menjawab dengan
betul? (Ia keliru serta mendua. Tinjau ulang Kejadian 2:16-17. Allah tidak
menyebutkan tentang “menjamah” buah tersebut. Menurut Alkitab Ia semata
mengatakan “Jangan makan.” Pula, ada dua pohon di tengah taman tersebut: Pohon
Pengetahuan tentang yang Baik dan yang Jahat serta Pohon Kehidupan. (Kejadian
2:9))
1.
Apakah menahan diri
supaya tidak menjamah buah tersebut merupakan gagasan yang baik? (Jika saudara
tak hendak memakan buah tersebut, lebih baik saudara tidak menjamahnya.)
2.
Apakah Hawa bertindak
benar manakala ia mengatakan bahwa jika menjamah buah tersebut ia akan mati?
(Baca Ulangan 4:1-2. Menurut saya salah besar jika kita mencampurkan “gagasan
baik” dengan apa yang Allah sebenarnya firmankan. Bilamana saudara mengajar
anak-anak saudara mengenai dosa, jangan mencampurkan dalam pikiran mereka apa
yang benar-benar merupakan dosa dengan apa yang merupakan gagasan baik untuk
menghindar dari dosa. Jika tidak, ketika mereka melanggar “gagasan baik” yang
saudara anjurkan dan tidak celaka, mereka akan mengira bahwa hal yang sama
berlaku juga untuk dosa.)
3.
Baca Kejadian 3:4-5.
Inilah “tembakan” Setan untuk memperoleh kesetiaan manusia. Coba kaji
pendekatan yang Setan lakukan. Apa yang ia lakukan? (Pertama, ia bulat-bulat
membantah apa yang Allah telah katakan. Kedua, Ia mengemukakan bahwa Allah
telah berbohong pada Hawa agar posisi Hawa tetap lebih rendah. Padahal Hawa
bisa jadi seperti Allah.)
1.
Bagaimana saudara
menggolongkan godaan Setan terhadap Hawa? Selera makankah? Kepercayaankah?
Serakahkah? Kesombongankah? Harga dirikah?
2.
Bandingkan Kejadian
3:22 dengan Kejadian 3:5. Apakah Setan mengatakan hal yang benar? (Sebagian.)
3.
Apakah Allah
menyembunyikan fakta bahwa Ia tidak ingin agar manusia mengetahui kejahatan?
(Tinjau kembali Kejadian 2:17. Allah memberi label “pengetahuan tentang yang
baik dan yang jahat” pada pohon tersebut. Ia tidak menjelaskan mengapa mereka
tidak boleh memakannya. Ia semata memberi tahu mereka akan hukumannya.)
1.
Pelajaran apa yang bisa
saudara tarik dari sana? (Kita menertawakan orang-orang tua yang menjawab
pertanyaan “Mengapa?” dari anak-anak mereka dengan kalimat “Karena itulah yang
saya katakan!” Saya memutuskan untuk selalu memberi tahu anak-anak saya alasan
bagi aturan yang saya terapkan. Mungkin tindakan tersebut merupakan pendekatan
yang salah. Dalam beberapa perkara kita perlu mengetahui bahwa Allah tidak
perlu menjelaskan peraturan-Nya pada manusia selain daripada mengatakan, “Saya
Allah, kamu bukan.”)
2.
Apakah
pengkisah-ulangan secara gamblang kejatuhan manusia merupakan penjelasan atas
aturan Allah?
2.
Kejatuhan
1.
Baca Kejadian 3:6.
Mengapa Hawa memakan buah tersebut padahal ia tahu apa yang Allah katakan?
(Ayat ini mengatakan bahwa buah tersebut sedap kelihatannya. Sepertinya baik
untuk dimakan. Buah itu akan memberinya pengertian.)
1.
Mengapa penampilan dari
buah tersebut menjadi faktor utama bagi Hawa dalam mengambil keputusan? (Apa
yang dia lihat bertentangan dengan apa yang ia harapkan dari pohon yang disebut
Allah akan menyebabkan kematian. Sebatang “pohon maut” tentunya akan memiliki
buah yang jelek atau setidaknya buah yang terlihat mencurigakan.)
2.
Apakah dosa Hawa
merupakan dosa gradual (setahap demi setahap)? (Menurut saya problema utamanya
adalah bahwa Hawa salah menjabarkan hukum Allah (Kejadian 3:3). Ia menjamah
buah tersebut sebelum memakannya. Karena ia tidak mati ketika menjamah buah
tersebut, ia dituntun untuk percaya bahwa Allah tidak dapat dipercaya dan ia
akan memperoleh pengertian oleh memakan buah tersebut.)
3.
Berapa banyak kali
saudara mengira bahwa Allah tidak dapat dipercaya padahal problema sebenarnya
adalah saudara gagal membaca dan mengerti firman Allah?
2.
Mengapa ihwal Adam
memakan buah tersebut melanggar perintah Allah? (Baca 1 Timotius 2:14. Paulus
mengatakan bahwa Adam tidak tergoda [Alkitab Bahasa Indonesia Sehari
menggunakan kata “tertipu”])
1.
Kelihatannnya Paulus
menyimpulkan bahwa Adam berhak memperoleh pujian karena tidak tertipu sementara
Hawa tertipu. Bagaimana pandangan saudara? (Semua dosa adalah dosa, namun saya
memandang ketidak-patuhan yang disengaja sebagai hal yang sangat lebih buruk.
Perhatikan bagaimana saudara membandingkan dua anak saudara yang tidak mematuhi
saudara.)
3.
Seandainya saudara
boleh memberi saran bagi Hawa, apa yang akan saudara sarankan? (Ia seharusnya
waspada penuh ketika sang ular membantah apa yang Allah katakan (Kejadian 3:4).
Ia seharusnya lebih akrab dengan firman Allah. Ia seharusnya mempercayai Allah
bukan kepintarannya sendiri. Ia seharusnya puas dengan pengetahuan yang Allah
telah karuniakan kepadanya.)
4.
Apa saran saudara bagi
Adam? (Dengan Hawa, sepertinya ada ada ruang untuk memperbaiki hal ini “lain
kali.” Dengan Adam, sepertinya ia tidak mematuhi Allah sama sekali.)
3.
Janji itu
1.
Mari baca hasil akhir
dari kisah ini. Baca Kejadian 3:14-15. Apakah perkataan Allah bersifat harfiah,
ataukah kiasan?
1.
Jika saudara mengatakan
“harfiah,” siapa “keturunan” Setan?
2.
Apakah ini semata
berarti bahwa kita tidak akan suka pada ular, bahwa mereka akan mematuk kita
dari bawah sana dan kita akan menginjak kepala mereka kalau kita bertemu
mereka?
3.
Jika saudara mengatakan
“kiasan,” jelaskan pada saya:
1.
Apa artinya “meremukkan
tumit” versus “meremukkan kepala?”
2.
Apa artinya permusuhan
dengan ular dan keturunannya?
3.
Kita biasa mengatakan,
“kasihilah orang berdosa dan bencilah dosa.” Jika saudara mengatakan bahwa
“keturunan” secara kiasan berarti pengikut Setan, maka bukankah kita diharapkan
untuk mengadakan permusuhan dengan “orang-orang tersebut?” (Wahyu 12:17 dengan
jelas menyatakan bahwa kita sedang berperang dengan Setan. Secara logika,
termasuk pengikut-pengikutnya.)
1.
Bagaimana saudara
mempertemukan Lukas 6:35 (“kasihilah musuhmu”) atau Roma 5:8 (“Kristus telah
mati untuk kita, ketika kita masih berdosa”) dengan gagasan tentang permusuhan
antara keturunan? (Mengasihi musuh merupakan senjata perang melawan mereka
(Roma 12:20).)
4.
Apakah yang dikatakan
oleh “meremukkan kepala” tentang hasil dari perang melawan Setan? (Kita akan
menang. Ia akan kalah.)
4.
Buah dari Kejatuhan
1.
Kejadian 4:1-2.
Bagaimana sikap Hawa terhadap putra-putranya?
2.
Baca Kejadian 4:3-7.
Apa yang menjadi problema Kain? (Ia tidak “berbuat baik” manakala ia memilih
korban persembahannya.)
1.
Perhatikan lebih dalam
lagi. Mengapa hal ini menjadi persoalan yang serius? (Mengorbankan seekor domba
memandang kepada kematian Yesus ganti kita. Membawa kepada Allah apa yang logis
– misalnya hasil kerja saudara – merupakan upaya mencapai keselamatan
menggunakan “usaha.” Seperti ibunya, Kain memutuskan bahwa ia dapat membuat
pertimbangan sendiri dalam hal menuruti Allah.)
1.
Baca Kejadian 4:8. Apa
motif Kain membunuh Habel?
1.
Apa yang kisah ini
sampaikan kepada kita tentang Setan? Apa sikapnya terhadap manusia? Sikapnya
terhadap saudara?
2.
Bayangkan apa yang Hawa
dan Adam pikirkan mengenai pembunuhan ini. Akankah mereka menyalahkan diri
sendiri?
2.
Sobat, renungkan sifat
dosa. Diawali dengan penipuan sederhana, ketidak percayaan dan keinginan untuk
menjadi serupa dengan Allah, sampai pada pembunuhan terencana..