<-- The Meaning of the Judgment Today

Makna Penghakiman Masa Kini

(Mazmur 73)

Injil, Pemeriksaan dan Penghakiman: Pelajaran 14

 

Copr. 2006, Bruce N. Cameron. Semua referensi Alkitab dikutip dari Alkitab Terjemahan Baru ©1974 Lembaga Alkitab Indonesia, kecuali disebutkan lain. Saran jawaban terdapat di dalam tanda kurung. Pengajar diasumsikan menggunakan papan tulis atau alat peraga lainnya dalam membawakan pelajaran. Pelajaran ini dapat dilihat di http://www.GoBible.Org/indonesian.

 

Pendahuluan: Kita telah tiba pada pelajaran terakhir dari seri pelajaran tentang “tahun 1844.” Apa yang telah kita pelajari? Kita telah pelajari bahwa Allah menyingkapkan kepada Daniel (dan semua umat yang percaya) bagaimana jalannya peristiwa-peristiwa dunia hingga ke akhir sejarah umat manusia. Allah memberitahu tentang pengaturan waktu kedatangan Yesus. Allah memberitahu bagaimana injil akan menjadi sebuah pekabaran bagi semua orang. Allah memberitahu bahwa padaNya ada penghakiman akhir zaman, dan standar penghakiman tersebut adalah kebenaran oleh iman, iman yang punya arti. Apakah kita berkeinginan agar dunia berakhir dalam penghakiman? Apakah kita berkeinginan untuk dihakimi? Mari selesaikan seri pelajaran ini dengan menyelam ke dalam topik mengenai ingin atau tidak inginkah kita akan apa yang Allah telah singkapkan!

 

1.      Hakimi atau Jangan Hakimi Saya?

1.      Baca Mazmur 73:1. Benarkah pernyataan ini? Apakah “sesungguhnya”  Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya?

2.      Baca Mazmur 73:2-3. Menurut saudara mengapa sobat kita ini hampir “tergelincir?” (Ia mulai ragukan kebenaran dari Mazmur 73:1. Barangkali Allah tidak sebegitu baik bagi orang yang setia.)

1.      Apa yang menyebabkan keraguan membersit dalam benak sobat kita ini? (Ia mendapati bahwa orang congkak hidup makmur.)

2.      Apakah saudara juga mendapati hal demikian? Apakah orang jahat hidup senang?

3.      Perhatikan bahwa ia “cemburu” kepada orang congkak. Apakah itu merupakan pelanggaran terhadap Sepuluh Hukum? (Lihat Keluaran 20:17.)

1.      Baca 1 Petrus 2:1. Apakah “oke-oke saja” untuk cemburu?

4.      Jika sobat kita ini tidak melanggar hukum Allah, akankah ia menghadapi masalah dengan keraguannya?

5.      Perhatikan bahwa ia juga menyebut orang fasik yang kaya itu “pembual.” Menurut saudara mengapa ia melakukan hal tersebut? (Hal ini mungkin muncul sebagai bagian dari kecemburuannya. Mengapa mereka yang jadi kaya bukannya saya? Mereka “memandang remeh saya” dengan kekayaan mereka.)

3.      Baca Mazmur 73:4-5. Benarkah demikian dalam pengalaman saudara? (Hal ini mungkin merupakan kesan yang diperoleh dari seseorang dari luar yang memandang ke dalam.)

1.      Mari baca beberapa ayat mengenai hal ini. Baca Pengkhotbah 7:12, Pengkhotbah 10:19 dan Amsal 10:15. Apa yang diperbuat oleh uang dan kekayaan terhadap saudara? (Alkitab mengatakan bahwa uang adalah sumber perlindungan dari banyak masalah.)

4.      Baca Mazmur 73:6. Apa artinya berkalungkan kecongkakan? (Saudara jelas bangga. Saudara mengenakannya.)

1.      Menurut saudara apakah masalah di sini hanya terletak pada orang fasik yang kaya? (Situasi yang saya baca di sini adalah bahwa sang penulis mencemburui uang, jadi ia memiliki suatu “radar” khusus terhadap kecongkakan orang kaya.)

5.      Sejauh ini, apa sepertinya ada masalah kalau hidup kaya? (Kelihatannya bagus – bahkan penulis Alkitab ini menginginkannya karena ia dipenuhi rasa cemburu.)

1.      Ada sisi gelap dari kekayaan ini. Baca ulang Mazmur 73:6. Apakah melakukan tindak kekerasan berasal dari hidup kaya? (Ini bisa bisa jadi merujuk kepada keuntungan yang diperoleh dengan curang – namun kata bahasa Ibraninya menyatakan “kekerasan,” dan kata itulah yang digambarkan oleh kebanyakan penerjemah [Alkitab].)

6.      Baca Mazmur 73:7-8. Menurut saudara apakah ciri-ciri ini berasal dari hidup kaya? Apakah ciri-ciri ini terpicu oleh memiliki kekayaan? (Ini bukanlah pembicaraan soal kecemburuan semata. Jika uang memberi saudara “kunci” terhadap banyak masalah, maka hal tersebut menimbulkan perasaan bahwa saudara bebas dari aturan-aturan yang berlaku bagi orang lain. Saudara tergoda untuk membengkokkan aturan demi kepentingan diri sendiri.)

7.      Baca Mazmur 73:9. Apa sebenarnya yang membuat berang sang Pemazmur? (Mereka mengaku sebagai orang baik! (Atau, mereka berkata bahwa langit bukan perkara karena merekalah yang berkuasa.) Sang Pemazmur mencemburui mereka, ia terusik oleh kesuksesan dan kejahatan mereka, dan kini mereka bahkan mengaku sebagai orang baik (atau tak perlu jadi baik). Inilah yang menjadi landasan sang Pemazmur untuk merasa lebih unggul dari mereka!)

8.      Baca Mazmur 73:70-11. Terkenalkah orang kaya-fasik itu? (Ya.)

1.      Apa pengaruh yang ditimbulkan oleh orang fasik -- yang kaya, bahagia, terkenal dan (dianggap) benar – terhadap masyarakat umum? (Orang awam bertanya-tanya apakah ada Allah yang memperhatikan. "Adakah pengetahuan pada Yang Mahatinggi?" Apakah Allah kita menyadari apa yang sedang terjadi? Apakah cara hidup kita benar-benar jadi perkara?)

9.      Baca Mazmur 73:12-14. Apa perbandingan yang dikemukakan oleh penulis ini antara hidupnya dan hidup dari orang fasik? (Mereka memiliki semua hal baik, ia memiliki semua hal buruk.)

1.      Apakah ketiadaan-uangnya yang jadi masalah? (Kemungkinan besar. Setidaknya jadi sebagian masalah.)

10.  Ia menyebutkan sebelumnya bahwa kakinya hampir tergelincir. Mazmur 73:13 menjelaskan hal ini. Apa reaksi dari sobat kita ini? (Ia telah berbuat baik tanpa alasan.)

1.      Alkitab yang saya gunakan mencantumkan catatan bahwa penulis mazmur ini adalah seorang yang bernama Asaf. Apa pendapat saudara mengenai Asaf.

2.      Apakah pendapat yang Asaf kemukakan?

3.      Secara sederhana, Asaf menanyakan: “Apa gunanya memiliki Allah, dan menuruti Allah tersebut, jika Allah tidak akan memberi imbalan?”

1.      Setujukah saudara dengan pendapat Asaf?

2.      Ataukah, Asaf hanyalah seorang sinting, pencemburu “kerdil” yang perlu memperluas wawasan, menjalani hidup dan berhenti mengkritik Allah?

11.  Baca Mazmur 73:15. Pernahkah Asaf menyuarakan perasaannya kepada kepada pihak lain selain Allah? (Sepertinya tidak. Ia percaya bahwa jika ia memberitahukan pemikirannya kepada umat Allah, ia akan mencelakakan mereka.)

1.      Apakah yang dikatakan oleh ayat ini mengenai karakter Asaf? (Ayat ini menempatkannya sebagai tokoh yang sangat baik. Ia khawatir akan menyebabkan orang lain kehilangan iman. Karenanya ia bergumul dalam pikirannya sendiri dengan pertanyaan-pertanyannya mengenai Allah.) 

2.      Apakah ada pelajaran yang bisa kita tarik dari sini? (Sudah tentu baik jika kita tidak mencederai iman orang lain. Namun saya rasa lebih baik kita mencari seseorang yang kuat dalam iman dan berbagi pertanyaan mengenai Allah dengan orang tersebut.)

2.      Jawabannya: Penghakiman

1.      Baca Mazmur 73:16-17. Bagaimanakah bait suci Allah menjadi jawaban atas apa yang tidak bisa Asaf pecahkan? (Bait suci adalah mengenai rencana Allah menangani dosa. Bait suci itu menggambarkan jalannya pengampunan dan jalannya penghakiman. Asaf diingatkan oleh bait suci bahwa sebuah penghakiman sedang mendatangi.)

1.      Seberapa cocok jawaban ini terhadap seri pelajaran kita kuartal ini? (Pelajaran kita adalah mengenai lintasan sejarah yang berakhir pada penghakiman Allah.)

2.      Baca Mazmur 73:18-20. Mengapa kabar ini amat baik?

1.      Bagaimana dengan Asaf dan rasa cemburunya? Haruskah ia menghadapi penghakiman?

2.      Adakah Asaf, dengan dosa “kecil” yakni rasa cemburunya, lebih benar daripada orang fasik kaya yang melakukan kekerasan? (Saudara ingin penghakiman diberlakukan bagi orang lain, bukan bagi saudara sendiri.)

3.      Berdasarkan pembahasan kita pekan lalu, menurut saudara mengapa Asaf yang berdosa diselamatkan, sementara orang fasik kaya tidak? (Ia berpaling kepada Allah! Seluruh Mazmur 73 merupakan permohonan agar Allah meluruskan persoalan. Esensi dari pembenaran oleh iman bukanlah pada karakter yang sempurna namun pada kebersandaran pada Allah!)

3.      Mengapa penghakiman penting bagi rencana keselamatan? (Kita bisa memiliki keyakinan bahwa Allah akan meluruskan segala sesuatu dalam penghakiman. Kita mungkin dapati bahwa hidup tidak berlaku adil bagi kita kini. Namun jika kita berpaut pada Allah, Ia telah berjanji untuk menjadikan segala sesuatu lebih dari adil bagi umatNya.)

4.      Baca Mazmur 73:23-24. Jika Allah tidak perlu memberi kita kekayaan dan keberhasilan di dunia ini, apa yang Ia berikan? (Ia memberi kita kehadiranNya. Bertahun-tahun lalu sekretaris yang bekerja dengan saya memberi saya lukisan yang menggambarkan Yesus sedang bercakap-cakap dengan seorang pengacara (atau seorang pengusaha) dan di bagian bawah lukisan tersebut sekretaris saya mencantumkan kata-kata dari Mazmur 73:24. Kini lukisan itu tergantung di kantor saya. Allah akan menuntun orang-orang yang bersandar padaNya, yang menuruti nasihatNya selagi masih di dunia ini, dan pada akhirnya Ia akan membawa mereka ke surga!)

5.      Baca Mazmur 73:25-26. Sobat, inilah kunci menghadapi penghakiman. Sementara perkara-perkara dalam hidupmu mungkin tidaklah sempurna, Allah berjanji untuk meluruskan segala sesuatu. Ia akan membinasakan orang jahat dalam penghakiman. Ia akan menyelamatkan orang-orang yang bertobat dari dosa dan oleh iman menerima kehidupan dan kematian Yesus menggantikan mereka. Maukah engkau mengatakan, bersama-sama dengan Asaf, “Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau?” Yesus sekarang ini berada di surga sebagai Imam Besar bertindak sebagai wakil kita dalam bait suci surgawi. Bersandarlah padanya, bukan pada sistem “Tanduk Kecil” yang bersandar pada usahamu sendiri, dan engkau akan memperoleh kehidupan kekal!

 

  1. Pekan depan: Kita mulaikan seri pelajaran baru tentang buku Kejadian.