<-- The Gospel and Judgment

Injil dan Penghakiman

(Matius 21 & 22, Zakharia 3)

Injil, Pemeriksaan dan Penghakiman: Pelajaran 13

 

Copr. 2006, Bruce N. Cameron. Semua referensi Alkitab dikutip dari Alkitab Terjemahan Baru ©1974 Lembaga Alkitab Indonesia, kecuali disebutkan lain. Saran jawaban terdapat di dalam tanda kurung. Pengajar diasumsikan menggunakan papan tulis atau alat peraga lainnya dalam membawakan pelajaran. Pelajaran ini dapat dilihat di http://www.GoBible.Org/indonesian.

 

Pendahuluan:  Selama dua minggu terakhir ini kita telah berkutat dengan topik “Antiokhus vs. 1844”; bahwa jika berbicara tentang keselamatan maka topik ini adalah soal usaha versus pembenaran oleh iman. Jika bait suci yang yang diperbincangkan adalah bait suci yang di surga bukannya yang di bumi, jika gambaran Daniel 7 & 8 mengenai pilihan antara Yesus dan “Tanduk Kecil” adalah soal kasih karunia versus usaha dalam penghakiman terakhir, maka kita patut bertanya pada diri kita masing-masing: apakah pembenaran oleh iman merupakan sebuah doktrin yang berlandaskan Alkitab? Ataukah hanya angan dan khayal dari sejumlah orang Kristen pemalas semata? Apakah sebenarnya yang menjadi standar bagi penghakiman? Mari temukan jawabannya dalam Alkitab!

 

1.      Penghakiman dan Perkawinan

1.      Baca Matius 22:1-2. Kata Yesus apa yang Ia hendak ajarkan kepada kita? (Ia hendak mengajarkan tentang “Kerajaan Surga” dan ajaranNya berbentuk simbolis.)

2.      Baca Matius 22:3-4. Berapa banyak kali sang raja mengundang tamu-tamu istimewanya?

1.      Seberapa besar keinginan sang raja agar para tamu istimewa, undangannya datang hadir?

3.      Baca Matius 22:5-6. Apa sikap yang ditunjukkan oleh para tamu istimewa ini terhadap raja dan undangannya? (Kita dapati beberapa reaksi terhadap undangan tersebut. Beberapa orang semata lebih memprioritaskan pekerjaannya daripada datang menghadiri pesta perkawinan. Yang lain dengan terang-terangan menunjukkan sikap bermusuhan dan menganiaya serta membunuh hamba-hamba sang raja.)

4.      Baca Matius 22:7. Apa yang dilakukan oleh raja yang pengasih dan penyayang ini kepada para tamu istimewanya? (Tergantung pada sikap mereka sepertinya. Jika mereka terlalu sibuk, ia membiarkan mereka dengan upaya mereka. Jika mereka terlalu memusuhiNya (“pembunuh-pembunuh itu”) ia melaksanakan penghakiman besar-besaran atas mereka.)

1.      Apa ajaran Yesus mengenai penghakiman terakhir dan Kerajaan Surga?

5.      Baca Matius 22:8. Mengapa Yesus mengundang tamu-tamu yang tidak layak berada di surga?

1.      Kata “layak” kedengarannya seperti penghakiman berdasarkan jasa baik tamu-tamu yang diundang. Dalam hal apa mereka tidak layak dan oleh karenanya gagal dalam penghakiman?

2.      Apa tepatnya yang mereka lakukan atau tidak lakukan agar bisa memasuki Kerajaan Surga? (Ini merupakan bagian yang paling menentukan. Yang perlu mereka lakukan adalah datang.)

6.      Apa yang sudah kita pelajari mengenai Kerajaan Surga dan penghakiman sejauh ini?

7.      Baca Matius 22:8-9. Siapa yang kini diundang ke pesta perkawinan?

1.      Apa yang dikatakan di sini mengenai gagasan Calvinistis mengenai takdir – bahwa hanya orang-orang yang Allah pilihlah yang akan masuk surga? (Para hamba pergi ke sudut-sudut jalan dan mengumumkan undangan terbuka untuk datang ke pesta perkawinan.)

8.      Baca Matius 22:10. Ceritakan bagaimana karakter orang-orang yang sekarang diundang ke pesta perkawinan?

1.      Menurut saudara, mengapa Yesus memberi penekanan bahwa ada orang “jahat” hadir dalam pesta perkawinan?

2.      Apa yang menjadi standar untuk bisa menghadiri pesta perkawinan tersebut? (Sudah pasti bukan karakter saudara, namun lebih kepada kesediaan saudara untuk datang hadir.)

9.      Baca Matius 22:11. Sang raja nampaknya memeriksa para tamunya. Apa yang terkandung di sini mengenai kerajaan surga? (Bahwa, sebagaimana yang sudah kita pelajari, ada sebuah penghakiman yang mendahului kedatangan Yesus yang kedua kali.)

1.      Orang baik atau orang jahatkah tamu yang tidak mengenakan pakaian pesta ini? (Alkitab tidak mengatakan apa-apa.)

1.      Pentingkah informasi ini? Jadi soalkah jika yang ada di balik pakaian pesta tersebut orang baik atau orang jahat? (Kelihatannya tidak!)

1.      Jadi, standar bagi penghakiman ini adalah jubah, bukannya karakter?

2.      Ada ujaran lama dalam bahasa Inggeris yakni “clothes make the man” yang jika diartikan secara bebas maksudnya adalah bahwa “manusia ditentukan oleh pakaiannya.” Ternyata ujaran tersebut Alkitabiah?

2.      Sebelum melangkah terlalu jauh, apa tepatnya pakaian pesta itu?

3.      Sebuah komentar Alkitab yang saya baca menyebutkan bahwa gagasan bahwa sang raja membagikan pakaian pesta bersumber dari Agustinus – namun tak ada ayat yang mendukung gagasan tersebut. Apa bedanya jika para tamu hadir dengan baju yang bersih dan layak atau jika sang raja memberi mereka baju yang layak untuk dikenakan? (Sungguh sangat berbeda. Jika saudara diminta mengenakan pakaian pesta saudara sendiri, pakaian putih bersih, maka yang menjadi standar penghakiman adalah usaha saudara. Jika sang raja menyiapkan pakaian khusus, maka keselamatan merupakan pemberian Allah.)

1.      Dengan membaca secara cermat cerita ini, apa yang tersirat dalamnya mengenai sumber dari pakaian pesta tersebut?

2.      Baca ulang Matius 22:9-11. Apa yang tersirat di sini mengenai kesanggupan dari tamu-tamu baru ini untuk menyiapkan pakaian mereka? (Mereka berasal dari jalanan. Bagaimana bisa mereka menyediakan sendiri pakaian pesta yang layak? Apakah saudara pergi berbelanja dan bekerja dengan mengenakan pakaian pesta? Tidak.)

3.      Baca Wahyu 7:9, 13-14. Pengertian lebih lanjut apakah yang kita dapatkan di sini mengenai sumber dan hakikat dari pakaian pesta? (Jubah putih merupakan hasil dari “mencuci” di dalam Anak Domba.)

1.      Kita telah mempelajari tentang kaabah – apa artinya (dalam konteks kaabah) “dicuci” dalam darah domba?

4.      Baca Yesaya 61:10. Siapakah yang menyediakan “pakaian pesta” di sini?

5.      Apakah yang diajarkan oleh ayat-ayat ini dan pelayanan bait suci mengenai sumber dan hakekat dari pakaian pesta? (Menurut saya apa yang disebutkan Agustinus benar adanya!)

10.  Baca Matius 22:12. Bagaimana sikap raja terhadap orang ini? Apakah raja marah seperti sebelumnya (Matius 22:7)?

1.      Apa yang terungkap dari reaksi orang ini mengenai kelalaiannya mengenakan jubah pesta? (Jika ia memiliki alasan, saya kira ia akan mengemukakannya. Kelihatannya, ia mengira bahwa pakaiannya sendiri lebih dari cukup untuk acara pesta perkawinan ini.)

11.  Baca Matius 22:13-14. Apa yang terjadi kepada orang yang tidak mengenakan jubah kebenaran Yesus ini?

1.      Perhatikan Matius 22:14. Setelah membaca seluruh kisah ini, menurut saudara siapakah yang menetapkan pilihan?

12.  Mengenai perumpamaan Kerajaan ini, empat golongan orang yang bagaimanakah yang disebutkan di dalamnya? (Mereka yang terlalu sibuk untuk berurusan dengan Allah, mereka yang memusuhi Allah, mereka yang menerima undangan kerajaan namun bergantung pada usaha mereka sendiri dan mereka yang menerima undangan dan jubah kebenaran Anak Domba.)

1.      Apa yang menjadi standar bagi penghakiman terakhir Allah?

2.      Penghakiman dan Dua Anak Laki-laki

1.      Kita tak hendak mengabaikan konteks dari perumpaan Yesus tentang pesta perkawinan. Mari baca sebuah cerita yang terkait erat. Baca Matius 21:28-31. Apakah ini merupakan kisah penghakiman? (Yesus berbicara tentang “Kerajaan Allah.”)

1.      Anak yang manakah yang mendapat perkenanan dari sang ayah?

2.      Apa yang diajarkan di sini mengenai arti dari menerima undangan pesta perkawinan? (Tentunya bahwa menerima undangan pesta perkawinan bukanlah soal perkataan.)

3.      Usaha dan Penghakiman

1.      Baca Zakharia 3:1-3. Apakah ini merupakan sebuah adegan penghakiman?

2.      Baca Zakharia 3:4-5. Kembali kita melihat suatu kesesuaian “baju pesta.” Apakah gunanya “pakaian pesta.” (Menunjukkan bahwa Yesus telah mengambil dosa-dosa Yosua.)

1.      Adakah alasan untuk meyakini bahwa Yosua memiliki jubah bersih dalam kopernya? (Pakaian Yosua “kotor.” Agustinus benar tentang Allah yang menyediakan jubah kebenaran.)

3.      Baca Zahkaria 3:6-7. Apa yang Allah tuntut dari Yosua karena kini ia telah diselamatkan oleh kasih karunia? (Usaha! “Hidup menurut jalan yang Kutunjukkan dan melakukan tugas yang Kuberikan.”)

4.      Baca Zakharia 3:8-9. Siapakah “Sang Tunas” dan “batu [permata]” itu? (Baca Yeremia 23:5 dan 1 Petrus 2:6. Ini merupakan janji kepada Yosua bahwa Yesus akan datang dan “dalam satu hari saja” mengangkut dosa kita.)

5.      Baca Yakobus 2:17-24. Bagaimana saudara menjelaskan Yakobus 2:24. Apakah ini bertentangan dengan segala apa yang kita telah pelajari mengenai jubah kebenaran pemberian Allah? (Jika saudara melihat kepada ayat yang satu ini, akan bertentangan. Kita dapati dalam kelompok ayat-ayat ini suatu pokok yang penting: usaha muncul dari iman. Konsep ini nyata bagi saya dari proses litigasi perkara agama yang saya tangani yang berpayung pada hukum federal di negara Amerika Serikat. Logika atau kemasuk-akalan dari keyakinan agama yang dipegang seseorang tidak perlu dibuktikan di hadapan majelis pengadilan. Hanyalah kesungguh-sungguhan terhadap keyakinan agamanya yang perlu dibuktikan. Bagaimana saya membuktikan dengan sebaik-baiknya apa yang ada dalam hati orang tersebut? Saya membuktikan hal itu dengan menunjukkan perbuatannya.)

6.      Sobat, maukah engkau berada pada sisi yang benar dalam penghakiman terakhir yang sedang berlangsung di surga? Maka terimalah jubah kebenaran yang ditawarkan oleh Yesus. Usahamu sudah pasti tidak akan cukup untuk melewati penghakiman terakhir. Namun, menerima jubah kebenaran tersebut bukanlah masalah perkataan semata – engkau harus sungguh-sungguh. Engkau harus jujur. Engkau harus melakukannya dari hati. Engkau harus mengijinkan imanmu merubah karaktermu. Apakah engkau sungguh-sungguh soal mengenakan pemberian cuma-cuma akan kebenaran Kristus atau tidak, hal itu akan terpantul dalam hidupmu sehari-hari.

4.      Pekan depan: Makna Penghakiman Masa Kini.