Hidup
Melalui Roh Kudus
(Roma 8)
Roh Kudus: Pelajaran 10
Copr. 2006, Bruce N. Cameron. Semua referensi Alkitab dikutip dari Alkitab Terjemahan Baru Ó1974 Lembaga Alkitab Indonesia, kecuali disebutkan lain. Saran jawaban terdapat di dalam tanda kurung. Pengajar diasumsikan menggunakan papan tulis atau alat peraga lainnya dalam membawakan pelajaran. Pelajaran ini dapat dilihat di http://www.GoBible.Org/indonesian
Pendahuluan: Pernahkah saudara melihat sebuah karya yang indah? Mungkin mobil. Mungkin sebuah karya seni yang terbuat dari kaca. Mungkin perhiasan. Mungkin setangkai bunga. Jika memang benar-benar indah, saudara menatapnya dari segala sudut untuk menikmati setiap aspeknya. Senang rasanya bisa menikmati keindahan! Saya merasa seperti itu dengan seri pelajaran kita tentang Roh Kudus. Kita telah menengok karunia-karunia Roh Kudus. Kita telah menengok buah Roh Kudus. Pekan lalu kita pelajari bagaimana Roh Kudus menuntun hidup kita – dengan menekankan tuntunanNya secara badani. Pekan ini pelajaran kita bergeser ke bagaimana Roh Kudus menuntun kita secara rohani. Ayo selami Alkitab agar bisa memeriksa lebih dekat!
1.
Kebenaran Pertama:
Tidak Ada Penghukuman
1.
Baca Roma 8:1-2. Jika
saudara telah bertobat dari dosa-dosa saudara dan menerima Yesus sebagai
Juruselamat, apa status saudara di hadapan Allah? (Saudara telah selamat.
Saudara tidak akan dihukum.)
1.
Menurut Roma 8:2,
mengapa hal ini benar adanya? (Roh yang memberi hidup memerdekakan kita dari
maut.)
2.
Apakah “Roh yang
memberi hidup” itu?
2.
Mari baca lebih lanjut
agar dapat memahami “Roh yang memberi hidup” itu. Baca Roma 8:3-4. Berdasarkan
tambahan ayat-ayat ini, apa yang saudara pahami sebagai “Roh yang memberi
hidup?” (The New Bible Commentary menjelaskan: “Kelepasan ini
dilaksanakan oleh tiga oknum ke-Allah-an: Bapa mengirim Anak sebagai korban
penghapus dosa kita. Atas dasar itu Roh melepaskan kita dari kuasa dosa dan
maut serta menjadi ganti kita dalam menjalankan hukum itu sepenuhnya. Roh yang
memberi hidup mempunyai makna bahwa Roh Kudus sanggup membebaskan kita dari
kuasa dosa.)
3.
Bagaimana, tepatnya,
saudara memandang pekerjaan Roh Kudus yang membebaskan kita dari kuasa dosa dan
maut? (Jika saudara tengok Roma 8:1-4 saudara akan dapati bahwa Paulus mengawali
penjelasannya dengan Yesus. Dari sini dapat kita simpulkan bahwa pekerjaan
paling pertama (“kebenaran pertama”) dari Roh Kudus adalah meyakinkan kita
bahwa Yesus adalah Allah yang mengambil wujud manusia serta mati dan bangkit
sebagai ganti kita.)
1.
Bagaimana caranya
kebenaran pertama ini membebaskan kita dari maut? (Yesus menerima hukuman
menggantikan kita. Ia menjalani derita sebagai hukuman atas kegagalan kita
memelihara hukum. Lihat 2 Korintus 5:21)
2.
Jika hal ini benar
adanya, apa yang pertama-tama akan saudara cari dalam upaya menentukan apakah
suatu ajaran berasal dari Roh Kudus atau roh lain. (Apakah Yesus yang menjadi
fokus keselamatan kita. Jika suatu ajaran menyimpang dari gagasan bahwa Yesus
adalah sepenuhnya Tuhan dan sepenuhnya manusia, maka ajaran tersebut tidak
berasal dari Roh Kudus. Jika suatu ajaran mengemukakan bahwa kita dapat
mengupayakan keselamatan, maka ajaran tersebut tidak berasal dari Roh Kudus.)
2.
Kebenaran Kedua: Hidup
Menurut Roh.
1.
Setelah kita mantap
dengan kebenaran pertama, bahwa Yesus sajalah yang menjadi sumber keselamatan
kita, menurut saudara apa tujuan Roh Kudus yang berikutnya bagi kita? Atau,
apakah berakhir pada pengakuan akan pengorbanan Yesus sebagai ganti kita?
2.
Ketika Roma 8:4
membicarakan tentang hidup sesuai Roh dan bukan hidup menurut “daging,” apa
yang dimaksudkannya? (Baca Roma 8:5-7. Artinya bahwa Roh Kudus memiliki peran
dalam mengajari kita tentang bagaimana kita hidup. PekerjaanNya yang pertama
adalah membawa kita kepada Kristus dan pekerjaanNya yang kedua adalah mengubah
hidup kita.)
1.
Apa ini sekedar cara
untuk membawa kita kembali kepada situasi lama: bahwa kita perlu memelihara
Sepuluh Hukum agar hidup? (Sepuluh Hukum bukanlah gagasan dungu yang sekarang
disesali Allah. Sebaliknya, gagasan dungunya adalah bahwa kita tidak
membutuhkan Allah. Kita sangat cerdas, sangat terdidik, sangat halus budi,
sangat berbudaya, sangat tekun sehingga kita dapat membaca dan memahami
rancangan Allah dan menempatkanya dalam hidup kita. Kita ini amat dungu, lemah,
bingung, tidak berbudi dan tidak berbudaya untuk melakukan hal itu. Hanyalah
oleh kuasa Allah (Roh Kudus) maka kita bisa menghidupkan suatu kehidupan yang
berkenan kepadaNya.)
1.
Apa yang hal ini
katakan tentang logika manusia? (Jika saudara membaca pelajaran-pelajaran ini
secara reguler, maka saudara cukup tahu bahwa pendekatan saya umumnya bersifat
logika. Kita baca Alkitab untuk dapatkan apa yang Allah telah katakan. Kemudian
kita bertanya, “Secara logika, apa artinya hal itu?” Namun, sobat, logika
bukanlah pengganti tuntunan Roh Kudus. Logika hanyalah kuasa manusia semata.
Roh Kudus membukakan bagi kita pemikiran Allah!)
2.
Pada akhirnya, haruskan
kita (Roma 8:7) “takluk kepada hukum Allah?” (Roma 8:5-7 merangkaikan bahwa
kita hidup sesuai dengan Hukum Allah karena inilah cara Roh Kudus bertindak
dalam hidup kita jika pikiran kita tertuju pada Roh Kudus.)
3.
Roma 8:6 menjanjikan
bahwa pikiran yang dituntun oleh Roh Kudus itu damai sejahtera. Mengapa kita
tidak menginginkan kehidupan seperti itu? (Kita tidak menginginkan kehidupan
seperti itu jika kita tidak bisa hidup seperti itu. Roma 8:5-7 juga
menggambarkan sekelompok orang yang pikirannya didominasi oleh dorongan hati
yang berdosa. Kelompok ini tidak dapat takluk kepada hukum Allah dengan pola
pikir yang ada. Itu mustahil bagi mereka.
1.
Apa harapan bagi
manusia yang pikirannya dikendalikan oleh keinginan daging mereka? (Baca Roma
8:9-11. Mereka dapat memilih untuk bertobat, menerima Yesus dan menghidupkan
kehidupan yang dituntun Roh.)
3.
Baca Roma 8:12-14. Jika
ternyata akhirnya kita harus hidup sejalan dengan Sepuluh Hukum, apa yang
berubah dibandingkan saat sebelum Yesus mati ganti kita? (Kita tidak menurut
Sepuluh Hukum karena Sepuluh Hukum menyelamatkan kita. Sebaliknya, karena
tuntunan Roh Kudus dalam hidup kita maka kita ingin berkenan kepada Allah dan
kita dituntun serta dikuatkan dalam kerinduan kita untuk menghidupkan kehidupan
yang berkenan kepada Allah.)
3.
Pertempuran yang
dituntun Roh.
1.
Jika saudara seperti
saya, saudara sementara membaca ayat-ayat ini dan berpikir, “Saya senantiasa
memiliki dorongan hati yang jahat. Jika orang yang ingin melakukan hal jahat
‘tidak berkenan kepada Allah’ (Roma 8:8), maka tamatlah saya. Saya sudah lalui
tahap pertobatan serta tahap percaya pada Yesus dan saya masih memiliki dorongan
hati yang jahat.” Bersediakah saudara bila pikiran saudara ditakar untuk
melihat apakah pikiran buruk mendominasi pikiran baik?
2.
Mari mundur sedikit dan
baca sesuatu yang mungkin dapat memberi dorongan pada saudara. Baca Roma
7:14-24. Apakah kedengarannya Paulus sedang menulis tentang saudara?
3.
Baca Wahyu 3:17. Jemaat
apa yang sedang digambarkan? (Laodikia – jemaat zaman akhir. Jadi, Paulus
berkata bahwa dorongan hatinya yang jahat membuatnya merasa celaka, dan Wahyu
mengatakan bahwa anggota-anggota jemaat di zaman akhir itu celaka. Jadi, tak
usah heran jika kata-kata ini bergaung dalam benak kita.)
1.
Menurut saudara apa
perbedaan antara sikap orang Laodikia dan Paulus? (Paulus tahu Ia mempunyai
masalah yang membuatnya merasa celaka. Orang-orang Laodikia tidak.)
4.
Baca Roma 7:25. Harapan
apa yang ada pada kita? (Hidup Yesus yang benar. Pengorbanan Yesus sebagai
ganti kita.)
1.
Baca Roma 7:26. Apakah
ini merupakan konflik yang terus terjadi dalam hidup umat Kristiani yang
memiliki Roh Kudus dalam hidupnya? (Menurut saya demikian. The Bible
Knowledge Commentary mengatakan, “Sementara menanti kebebasan dari hadirnya
dosa [artinya manakala kita sudah diangkat ke surga], umat percaya tetap
menghadapi konflik antara pikiran mereka yang sudah di-regenerasi (atau sifat
atau kapasitas yang baru) dengan sifat atau kapasitas mereka yang berdosa.)
5.
Bagaimana kita
menangani konflik ini? (Baca ulang Roma 8:12-14. Kita tidak bisa “menangani”
konflik tersebut. Yang dapat kita lakukan dan yang harus kita lakukan adalah
mengambil keputusan untuk menghidupkan kehidupan yang dituntun Roh. Sifat jahat
kita tetap ada. Kita akan ingin melakukan kejahatan. Namun, “oleh Roh kamu
[sanggup] mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu.”)
6.
Baca Roma 8:15-17.
Apakah kita menderita dalam pergumulan untuk memilih apa yang benar ini?
(Menurut saya itulah yang Paulus maksudkan. Tengok kembalik Roma 8:6. Tatkala
kita memilih untuk dituntun Roh Kudus, kita memperoleh damai sejahtera. Namun,
tetap ada pergumulan antara keinginan daging kita dan keinginan Roh.)
7.
Sobat, engkau memiliki
dua tujuan. Pertama, maukah engkau berhenti mencoba turuti hukum dengan upayamu
sendiri? Kedua, maukah engkau, dengan rahmat Allah, berhenti turuti keinginan
dagingmu? Maukah engkau hari ini bertobat, menerima Yesus sebagai Juruselamat
dan mohon Roh Kudus untuk menuntun pikiran dan tindakanmu?
4. Pekan depan: Sang Pemulih.