<-- What Have They Seen In Your House

Apa yang Dilihat Orang di Dalam Rumah Anda?
(Yesaya 38 & 39, Ulangan 6)
Keluarga dalam Keluarga Allah: Pelajaran 11

 

Copr. 2006, Bruce N. Cameron. Semua referensi Alkitab dikutip dari Alkitab Terjemahan Baru Ó1974 Lembaga Alkitab Indonesia, kecuali disebutkan lain. Saran jawaban terdapat di dalam tanda kurung. Pengajar diasumsikan menggunakan papan tulis atau alat peraga lainnya dalam membawakan pelajaran. Pelajaran ini dapat dilihat di http://www.GoBible.Org/indonesian

 

Pendahuluan: Bertahun-tahun lalu saya diundang untuk makan malam dengan salah seorang klien yang saya bela kebebasan beragamanya. Ia memiliki banyak anak namun acara makan malamnya sungguh hening dibanding acara makan malam di rumah dengan dua anak saya. Anak-anaknya tidak bertengkar, sungguh, mereka bahkan tidak saling bicara. Ketika saya tanyakan mengenai hal ini, klien saya berkata mereka punya aturan di mana saat makan tidak boleh bicara kecuali jika diajak bicara. Saya pulang dan berpikir dalam-dalam soal kemungkinan kurang ahlinya saya menjadi orang tua. Sampai hari ini saya masih kurang yakin. Saya ingin tahu bagaimana jadinya anak-anak klien saya ini ketika dewasa nanti. Rumah tangga klien saya ini menarik perhatian saya. Bagaimana rumah tangga saudara dalam pandangan orang lain? Apakah menjadi saksi atas nilai-nilai kekristenan saudara? Atau, menjadi saksi atas sifat mementingkan diri saudara? Mari selami pelajaran kita mengenai topik tersebut!

 

1.      Penyakit Hizkia

1.      Baca Yesaya 38:1. Tempatkan diri saudara pada posisi Hizkia. Apa yang menjadi pemikiran saudara?

1.      The New Bible Commentary menyebutkan usia Hizkia 39 tahun. Ini menambahkan apa ke dalam pemikiran saudara? (Jika saudara pernah menjalani tes untuk suatu penyakit yang mematikan atau didiagnosa menderita penyakit tersebut, saudara mungkin punya gagasan soal pemikiran yang seliweran di benak Hizkia.)

2.      Baca Yesaya 38:10-11 di mana Hizkia menceritakan pemikirannya.

2.      Baca Yesaya 38:2-3. Sikap macam apa yang Hizkia punyai? (Saya layak hidup. Saya orang baik.)

1.      Benarkah Hizkia dengan sikapnya ini? (Sikapnya dapat dimengerti. Tak ayal saya pun akan berdoa seperti itu, namun intinya adalah bahwa Allah tidak berhutang apa pun pada kita. Kita berhutang segala hal padaNya. Selain itu, kita perlu percayakan pada Allah untuk melakukan hal yang tepat. Sebuah uraian yang saya baca menjelaskan tentang sikap Hizkia dengan menyatakan bahwa ia sekedar meminta Allah memberinya waktu agar ia bisa terus mengadakan pembaharuan di negeinya.)

3.      Baca Yesaya 38:4-6. Apa yang hal ini ajarkan soal Allah kita? (Ia sangat berpengasihan terhadap kita. Ia mendengarkan kita.)

1.      WhaHubungan macam apa yang terjalin antara Hizkia dan Allah? (Kelihatannya mereka mengadakan kontak secara regular melalui nabi Yesaya.)

4.      Baca Yesaya 38-7-8. Ada yang bisa menjelaskan bagaimana Allah melakukan hal ini? (Uraian-uraian yang ada mengutarakan bahwa hal ini mungkin terjadi karena refraksi khusus dari sinar matahari atau  pembalikan rotasi bumi.)

1.      Tapak-tapak itu adalah sejenis jam matahari. Apa arti tanda ini? (Allah mengubah waktu untuk Hizkia.)

2.      Mengapa ada tanda luar biasa dari Allah? (Karena ia bisa! Pikirkan pengasihan Allah dan kuasaNya yang tiada tara saat saudara menghadapi situasi yang sulit.) 

5.      Baca Yesaya 38:21. Sobat, coba jelaskan hal ini pada saya. Tanda bahwa Allah akan menyembuhkan Hizkia secara teoritis menyangkut perubahan rotasi planet kita. Namun penyembuhan sesungguhnya berupa tapal sederhana terbuat dari buah ara. Tolong jelaskan hal ini! (Kita bisa saja tau banyak tentang karakter Allah. Namun, memprediksi tindakan Allah itu lain soal.)

1.      Haruskah saudara pergi ke dokter bila saudara sakit dan butuh mujizat? (Ya. Ada contohnya di sini.)

2.      Rumah Hizkia

1.      Baca Yesaya 39:1-2. Apa yang menyebabkan Raja Babel menghubungi Hizkia dan mengirim utusan? (Kabar tentang kesembuhannya.)

1.      Mungkinkah bahwa orang-orang Babel memperhatikan bahwa matahari bergerak mundur?

2.      Tempatkan diri saudara pada posisi Hizkia. Apa yang seharusnya saudara bicarakan dengan para utusan dari Babel? “Di rumahmu” apa yang seharusnya ditonjolkan? (Alasan khusus bagi kunjungan tersebut adalah mujizat kesembuhan Hizkia. Itulah yang nyata-nyata menonjolkan apa yang telah Allah perbuat.)

3.      Malahan apa yang Hizkia tonjolkan? (Dirinya sendiri. Semua kekayaannya menunjukkan bahwa ia adalah raja yang hebat dan sukses.)

2.      Baca 2 Tawarikh 32:31. Di mata Allah, kunjungan para utusan Babel merupakan apa? (Sebuah ujian mengenai isi hati Hizkia.)

1.      Baca ulang Yesaya 39:2 dan jelaskan pada saya mengenai ujian tersebut. (Raja Hizkia mungkin sudah mangkat jika Allah tidak turun tangan. Orang-orang Babel datang dengan alasan khusus untuk mencari tau mujizat yang telah membuat Hizkia sembuh. Raja Hizkia dapat saja berfokus pada apa yang Allah telah perbuat kepadanya atau ia dapat berfokus pada kekayaannya – apa yang telah ia perbuat bagi bangsanya. Perhatikan bahwa dalam Yesaya 39:2 berulang disebutkan “kepunyaannya”: perbendaharaan, persenjataan dan harta benda.)

2.      Bagaimana dengan engkau? Apakah engkau ingin agar orang memperhatikanmu atau memperhatikan Allahmu?

3.      Saya pernah bercerita tentang rumah sederhana yang pertama kali kami beli dan bagaimana tetangga saya bertanya pada saya, “Jika engkau seorang pengacara, bagaimana bisa kamu tinggal di sini?” Untuk bertahun-tahun saya pulang pergi kerja dengan sebuah Honda yang saya beli seharga $200 [kira-kira Rp 2.000.000] dan sebuah truk Isuzu yang saya beli seharga $ 1,000 [kira-kira Rp 10.000.000]. Saat itu, saya pikir Allah menuntun saya kepada transaksi-transaksi ini agar saya belajar rendah hati. Akhirnya, Ia menuntun saya pada sebuah Mercedes tua namun cantik dan saya kira pelajaranya telah usai. Hal yang saya benci pada saat-saat tersebut adalah bahwa rumah sederhana dan kendaraan saya akan menyebabkan orang berpikir bahwa ini merupakan cerminan dari keahlian saya sebagai pengacara. Apakah ini sebuah penerapan dari ujian yang Allah berikan pada Hizkia? (Ya. Ujiannya adalah apakah saudara mencemaskan kemuliaan diri saudara atau kemuliaan Allah. Saya peduli dengan kemuliaan saya. Sikap saya menunjukkan bahwa saya akan gagal dalam ujian yang diberikan kepada Hizkia.)



1.      Baca Yesaya 39:5-7. Bagaimana jadinya ujian tersebut bagi Hizkia?

1.      Renungkan lagi keseluruhan cerita ini. Haruskan kita berdoa agar kehendak Allah berlaku dalam kesakitan kita atau haruskah kita, seperti Hizkia, memohon agar kehendak kita yang jadi?

2.      Baca Yesaya 39:8. Apa yang hal ini ajarkan soal sikap Hizkia pada tahapan hidupnya ini? (Orang ini egois luar biasa.)

1.      Egoiskah bila berdoa agar kehendak kita yang jadi?

2.      Bodohkah bila berdoa agar kehendak kita yang jadi?

  1. Keluarga Hizkia

1.      Baca Ulangan 6:10-12. Pelajaran historis apa yang Allah ingin agar umatNya ingat saat mereka masuk ke tanah yang Allah janjikan kepada mereka? (Untuk ingat bahwa mereka dulu budak dan bahwa Allah sudah membebaskan mereka.)

1.      Keturunan Hizkia sedang menuju kemana? (Yesaya 39:7: perhambaan.)

1.      Terkait anak-anaknya, teladan apa yang Hizkia tunjukkan dalam rumahnya? (Ia tidak menunjukkan kepedulian terhadap mereka. Hasil dari dosany7a adalah bahwa ia membawa anak-anaknya kembali pada petaka perhambaan yang dulu – dan dia kelihatannya tidak peduli.)

2.      Baca Ulangan 6:4-8. Bagaimana seharusnya sikap kita terhadap anak-anak kita?

1.      Jika saudara memiliki anak-anak di rumah, apakah saudara punya program aktif atau pasif untuk mengajar mereka tentang Allah?)

1.      Apakah saudara mengajar mereka secara pribadi, atau apakah kebanyakan saudara membiarkan gereja yang melakukannya? Atau, sekolah gereja?

2.      If Jika seorang asing berada di rumah saudara dua hari lamanya, apa yang ia akan lihat berkenaan dengan pengaruh bagi anak-anak saudara?

3.      Sobat, apa yang orang luar lihat dalam rumahmu bukanlah kebetulah. Apa yang kita lakukan dimulaikan dari sifat dasar hati kita. Hizkia mengatakan kepada Allah (Yesaya 38:3) bahwa ia telah berlaku setia, menuruti Allah dengan sepenuh hati, dan melakukan apa yang benar di mata Allah. Tapi kita lihat virus egois dalam dirinya mekar menjadi rasa bangga akan prestasi yang meruntuhkan segenap kerajaan. Hizkia tiba pada suatu titik di mana ia sepertinya hanya peduli pada dirinya sendiri. Jaga hatimu, sobat, dan itu akan tercermin di rumahmu.  

  1. Pekan depan: Hati yang Berbalik pada Akhir Zaman.