<-- Homes of Peace and Healing

Rumah Tangga yang Penuh Damai dan Kesembuhan
(Amsal 12 & 29, Efesus 4, Matius 5)
Keluarga dalam Keluarga Allah: Pelajaran 9

 

Copr. 2006, Bruce N. Cameron. Semua referensi Alkitab dikutip dari Alkitab Terjemahan Baru Ó1974 Lembaga Alkitab Indonesia, kecuali disebutkan lain. Saran jawaban terdapat di dalam tanda kurung. Pengajar diasumsikan menggunakan papan tulis atau alat peraga lainnya dalam membawakan pelajaran. Pelajaran ini dapat dilihat di http://www.GoBible.Org/indonesian

 

Pendahuluan: Bagaimana caranya memiliki rumah tangga yang bahagia? Ini terkadang bukan hal yang mudah, kadang kala nggota keluarga membuat keadaan jadi sulit. Namun, sebagaimana hal lain, Allah memberi kita arahan untuk menjadikan rumah kita menjadi tempat yang lebih menyenangkan untuk ditinggali. Mari selami Alkitab dan temukan bagaimana caranya meningkatkan kehidupan keluarga kita!

 

1.      Damai yang Direncanakan

1.      Baca Amsal 12:20. Menurut saudara apa langkah pertama untuk memperoleh kedamaian dalam rumah tangga saudara? Bagaimana caranya saudara “menasehatkan kesejahteraan?” [Alkitab Terjemahan Lama menyebutkan “membicarakan perdamaian”.] (Saudara harus mengambil keputusan bahwa saudara ingin memiliki kedamaian.)

1.      Bagaimana caranya saudara mengambil keputusan tersebut? Akankah saudara mengadakan rapat keluarga dan mendiskusikan apa kedamaian itu pantas dikejar?

2.      Apa langkah berikutnya? (Saudara perlu melakukan sesuatu. Saudara perlu rencana tindakan. Amsal 12:20 mengatakan bahwa sukacita menanti orang-orang yang menasehatkan kesejahteraan – membicarakan perdamaian. Itu artinya kita perlu mengambil keputusan lalu membuat suatu rencana tindakan.)

2.      Baca Efesus 4:3. Kepada apa damai itu dibandingkan? (Sebuah ikatan. Jika sudara ingin menjaga keutuhan keluarga, saudara perlu memiliki rencana tindakan lalu kemudian mengupayakan agar memperoleh damai sejahtera.)

3.      Baca Efesus 4:2. Bilamana kita menggunakan istilah “ikatan,” kita berpikir tentang sesuatu yang mengikat kita bersama-sama – semacam tali. Apa yang menjadi helai-helai “tali damai” yang menyatukan keluarga kita? (Sabar. Rendah hati. Lemah lembut. Saling membantu dalam kasih.)

1.      Menurut saudara, bagaimana reaksi keluarga saudara apabila saudara menjelaskan bahwa hal-hal ini adalah sebagian dari elemen tali damai? Siapkah mereka untuk jadi rendah hati, lemah lembut, sabar dan mengasihi? Atau, adakah hal ini hanyalah fantasi semata?

2.      Ayat tadi sepertinya mengutarakan bahwa kasih merupakah unsur dasar yang memungkinkan adanya kesabaran, kerendahan hati dan kelemahlembutan. Dapatkah kita sekedar memutuskan untuk jadi pengasih? Dapatkah kita sekedar memutuskan untuk jadi rendah hati, sabar dan lemah lembut?

4.      Baca Filipi 2:12-13. Dalam ayat-ayat sebelumnya dari Filipi pasal 2, Paulus baru saja membicarakan bagaimana kerendahan hati membantu terciptanya kesatuan. Bagaimana caranya memperoleh kerendahan hati? (Allah bekerja dalam diri kita untuk melakukan kehendakNya. Jika saudara terganggu dengan ide tentang adanya tongkat sim-sala-bim yang sekonyong-konyong menjadikan saudara rendah hati, sabar atau lemah lembut, Paulus mengutarakan bahwa adalah Allah yang dapat merubah hati kita. Adalah pekerjaan Allah yang merobah kesombongan, tidak sabar dan hati batu kita menjadi hal lain.)

2.      Nasehat Khusus

1.      Baca Amsal 29:17. Amsal memberi kita beberapa nasehat khusus agar tercipta damai dalam keluarga. Ayat ini mengatakan agar mendidik anak-anak kita supaya kita memperoleh ketenteraman. Hubungan apa yang dapat saudara lihat antara mendisiplin anak-anak kita dan memperoleh kedamaian?

1.      Bukannya bahwa memberlakukan disiplin menumbuhkan amarah?

2.      Perhatikan hasil paling akhir nantinya dari disiplin: sukacita!

2.      Baca Matius 18:15. Dapatkah hal ini diterapkah pada konflik dengan anak-anak kita?

1.      Pernahkah saudara mendengar orang tua yang mengeluh di muka umum tentang anak-anak mereka?

1.      Menurut saudara, apa dampak hal ini bagi anak-anak kita?

2.      Petunjuk apa yang Matius 18:15 berikan kepada kita soal ini, jika ada?

2.      Dapatkah hal ini diterapkan kepada “kesalahan” di antara suami dan isteri?

1.      Pernahkah saudara mendengar isteri-isteri (suami-suami) yang mengeluh kepada orang lain tentang pasangan mereka?

3.      Baca Filipi 2:3. Berikan beberapa contoh tentang bagaimana suami-suami dan isteri-isteri dapat melanggar nasehat Alkitab ini?

1.      GiBerikan beberapa contoh tentang bagaimana mereka dapat mematuhi arahan ini?

4.      Baca Kolose 3:12-14. Apakah prinsip-prinsip ini harus diberlakukan juga dalam rumah tangga kita?

1.      Jika demikian, apa artinya “mengenakan” belas kasihan, kemurahan, dst.?

2.      Apa hubungan pengampunan dengan mengenakan belas kasihan dan kemurahan?

1.      Perhatikan bahwa kita harus “mengampuni sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu.” Bagaimana caranya Yesus mengampuni kita?

2.      Baca Ibrani 8:12. Apa ini juga berlaku pada pengampunan kita? Atau, apakah ini suatu sikap yang hanya akan berlaku di surga?

  1. Amarah

1.      Baca Matius 5:22. Selain marah, apa lagi yang dilarang?

1.      Saya ingat pernah berbicara dengan seorang wanita yang telah bercerai dan dia mengatakan salah satu dari problema paling sukar dalam perkawinannya adalah bahwa mantan suaminya secara verbal biasa menyerang kecerdasannya dan menjadikannya merasa bodoh. Apakah perlakuan seperti itu dilarang oleh Matius 5:22?

2.      Baca Efesus 4:26-27. Apa boleh marah sejenak? Apakah amarah hanya akan berubah menjadi “kesempatan bagi Iblis” [Alkitab Terjemahan Lama menyebutkan “tempat bagi Iblis”] jika membiarkannya menggelegak lebih dari satu hari?

 

1.      Atau, apakah ayat ini sedang mengatakan hal lain?

7.      Bagaimana kita mempertemukan Matius 5:22 dengan Efesus 4:26? Yang satu mengatakan “jangan marah” dan yang lainnya berkata, “jika marah, jangan berdosa?” (Penting bahwa Matius 5 mengaitkan amarah dengan pembunuhan. Amarah adalah gerbang menuju pembunuhan. Ayat tersebut cenderung mengatakan “Jangan biarkan amarahmu lepas kendali.”)

8.      Baca Markus 3:1-5. Ayat ini dengan gamblang menyebutkan bahwa Yesus marah. Karena Yesus tidak pernah berbuat dosa, bagaimana kita menjelaskan hal ini? (Baik ayat ini dan Efesus 4:26 menolong kita memahami bahwa boleh saja marah sedikit. Gusar terhadap pelanggaraan hukum Allah dapatlah diterima. Gusar karena pelanggaran area pribadi kita adalah suatu hal yang perlu diselesaikan sebelum malam.)

  1. Aborsi dan Kekerasan

1.      Baca 2 Raja-raja 16:1-3. Kesamaan apa yang ada antara mengorbankan anak saudara dalam api dan aborsi? (Alasan mengorbankan anak adalah untuk mendorong “para dewa” agar bersikap baik pada saudara. Alasan mengorbankan anak dengan aborsi adalah pikiran bahwa hidup akan lebih baik bagi saudara. Dua hal ini sangat mirip.)

1.      Apakah aborsi merupakan suatu bentuk kekerasan terhadap anak? (Pada dasarnya – saudara mencabut sang anak dari kesempatan untuk hidup.)

2.      Bagaimana aborsi dapat melukai kehidupan keluarga? (Rasa sesal yang dalam dapat menimbulkan masalah lanjutan dalam keluarga.)

2.      Saya kerap mendengar tentang orang dewasa yang melakukan tindak kekerasan terhadap anak-anak di mana orang dewasa tersebut mengalami kekerasan pada masa anak-anaknya. Mengapa hal ini harus terjadi?

1.      Jika ini menjadi cobaan bagi saudara, pikirkan besarnya rasa sakit dan dosa yang dibawa dari generasi kepada generasi. Sekaranglah saatnya untuk menghentikan rantai kepedihan itu.

3.      Baca Roma 1:26-27. Adakah larangan ini menyangkut juga kekerasan terhadap anak?

4.      Sobat, keluarga bahagia tidaklah terjadi begitu saja. Itu adalah pekerjaan yang terus-menerus. Maukah hari ini engkau menetapkan untuk menuruti aturan Allah bagi kebahagiaan keluargamu?

  1. Pekan depan: Keluarga yang Beriman.